Cahaya Senja Part 1

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

 

Akhirnya packing sudah beres. Tinggal angkut barang ke kosan baru Aya. Tapi masih harus tunggu sampai hujan reda. Ya sambil menikmati hari terakhir disini. Hihi, sepertinya terlalu berlebihan.

Aya pindah ke dekat sekolah, karena sebentar lagi Opay akan sibuk, Aya tidak bisa mengandalkan Opay lagi untuk antar jemput ke sekolah. Aya harus mulai mandiri saat Opay sudah mendekati ujiannya. Aya tak mau jadi pengganggu belajarnya Opay.

Aya tinggal dengan keluarganya Opay hampir 10 tahun lamanya. Ayahnya meninggal karena kecelakaan. Dan ibunya menghilang tanpa kabar. Untungnya Orang tua Opay dengan senang hati mengurusnya. Sampai saat ini, Aya dan Opay berstatus sebagai adik dan kakak di dalam catatan kartu keluarganya.

Akhirnya setelah nunggu 1 jam hujan pun reda. Sudah saatnya pergi.

“Aya, kamu yakin mau pindah dari sini? Ayah ngga keberatan kok kamu tinggal di sini lebih lama. Ayah juga kan ngga ngelarang kamu tinggal disini. Kamu beneran mau ninggalin Ayah sama Opay? ” tanya Ayah sekali lagi untuk meyakinkan hati Aya lagi. Dari kemarin Ayah selalu berulang kali menanyakan hal ini. Mungkin dia khawatir karena sebelumnya Aya tak pernah jauh dari keluarga ini.

“Iya Ayah. Aya yakin mau pindah. Kita masih bisa berhubungan. Aya juga bakal dateng ke cafe kok. Pokoknya Ayah tetep Ayah Aya.” Kata Aya meyakinkannya.

“Ya sudah kalau begitu. Itung-itung kamu belajar mandiri. Inget ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan dateng ke rumah atau ke cafe. Gimana pun Ayah sudah menganggap kamu seperti anak Ayah sendiri.”

“Ayah juga udah Aya anggep Ayah sendiri ko.”

“Oke kalo gitu, angkut semua barang nya ke mobil. Kita berangkat sekarang. Mumpung hujannya reda.” Ajak Opay.

Satu persatu barang diangkut ke mobiĺ. Hanya sedikit barang yang Aya bawa karena di sana sudah ada lemari dan tempat tidur.

“Makasih Ayah, Opay. Biar beres-beresnya Aya yang terusin. Ayah sama Opay pulang aja. ”

“Ayah pulang aja. Opay nemenin dulu Aya. Opay malah ragu hari ini Aya bisa tidur nyenyak. Tau sendiri aya itu ngga bisa tidur ditempat baru. Mana besok masuk sekolah kan. ” kata Opay.

Benar juga sih. Bahkan saat liburan pun kalau malam Aya tidak bisa tidur. Walaupun itu di hotel. Aya baru bisa tidur di siang hari atau pas di mobil.

“Ya udah kalo gitu. Ayah pulang dulu ya Aya. Besok dateng aja ke cafe sepulang sekolah. ” kata Ayah. Mereka memiliki cafe keluarga. Cafe ini merupakan cafe yang cukup ternama di kota ini. Sudah dikelola selama 6 tahun oleh Ayah.

“Pasti Yah. Besok Aya ke cafe bareng Opay sama Laras”

“Opayku. Ternyata Opayku baik banget ya” kata Aya sambil memeluk Opay dengan erat.

“Hadeh. Kemana aja sih kamu. Aku kan emang selalu baik. Masa kamu baru nyadar? ”

“Udah ah jangan dipuji mulu. Entar idungnya terbang. Aku beresin dulu barang nya”

Setelah berjam-jam, akhirnya selesai juga pertempuran pindah rumah ini.

“Sekarang kamu tidur gih. Biar aku temenin kamu dulu sampe tidur.” Kata Opay.

“Opay pulang sekarang aja. Nggak apa-apa kok. ”

“Alah, aku ga yakin kamu bisa langsung tidur. Aku bakal pulang abis kamu tidur. Okey. Kalo kamu nggak tidur, aku nggak pulang-pulang nih.”

“Hah, lelaki macam apa kau yang masih keluyuran malam-malam dan berada di kamar perempuan?”

“Alah, lebay ah. Buruan tidur” kata Opay sambil mengusapkan tangannya ke muka Aya.

Dengan terpaksa Aya pun memejamkan mata. Sebenarnya Aya belum ingin tidur tapi karena Opay memaksa mau tak mau Aya pura-pura tidur. Tak lama Opay pulang ke rumahnya. Aya bangun dan memainkan HP nya. Aya selalu kesulitan untuk tidur ditempat baru, dan lagi, setiap Aya sendiri terlalu banyak hal yang melintas dipikirannya. Sampai akhirnya Aya tidak tidur sampai pagi.

“Cahaya Senja! ” terdengar suara gadis mungil cantik dari kejauhan memanggil Aya. Dengan rambut panjangnya, kulit putih dan suaranya yang menggelegar, pasti itu Laras. Dia adalah teman dekat Aya dari SMP.

“Hei.. udah aku bilang jangan panggil aku dengan nama itu. ” ucap Aya dengan tenaga yang minim. Aya tidak suka nama panjangnya disebut. Kalau bisa sih ingin ganti nama.

“Kamu kenapa, Ay? Sakit? Kok dateng sendiri? Nggak di anter Opay? ” tanya Laras sambil memegang jidat Aya.

“Aku pengen tidur. Semalem aku baru pindah ke kosan. Alhasil aku semaleman ga bisa tidur. Lemes banget ini rasanya. ” kata Aya sambil menguncir rambutnya ala kuncir kuda. “Segeran ngga?” tanyanya.

“Tetep aja kamu keliatan ga fit. Jangan-jangan kamu ngga mandi lagi?”

“Enak aja. Aku tuh mandi tau.” Jawab Aya ketus.

“Sory kemaren ngga ikut bantu ya. Ujan sih. Kamu pulang lagi aja gih. Kalo nggak, tidur aja di ruang UKS ya.”

“Nggak usah ah. Aku mau sarapan dulu. Biar agak segeran. Mau ikut ke kantin? ”

“Yuk. Aku temenin. Bahaya kalo kamu asmpe pingsan. Opay tau? ”

“Opay ga tau. Jangan bilang dia ya!” Aya memohon kepada Laras. Kalo Opay tau, Aya bakal dimarahi abis-abisan. Terkadang sikap Opay terlalu berlebihan. Kalo Opay ngambek bisa mogok ngomong dua hari dua malam.

“Hmmm. Yaudah kamu makan dulu. Kalo kamu sampe pingsan aku bilangin Opay loh.”

“Huuu, dasar tukang ngadu.”

Laras itu sudah seperti mata-matanya Opay. Sedikit-sedikit ngadu. Kalo Aya diamkan, dia pasti nempel-nempel tidak jelas. Bikin geli-lah, berbuat konyol-lah, pokoknya Aya paling tidak tahan ngambek sama dia.

Berhubung sebentar lagi Upacara Bendera, akhirnya Aya hanya membeli roti dan susu kotak. Bagi Aya itu sudah cukup. Karena yang paling Aya inginkan hanya tidur.

“Haaaaah. Rasanya ingin membantingkan diri ke kasur. ” Pikir Aya.

Upacara Bendera telah di mulai. Aya merupakan murid kelas 1 SMA. Sayangnya Aya tidak satu sekolah dengan Opay. Opay masuk ke SMA favorit. Yaa karena dia pintar. Sedangkan Aya, hanya bisa masuk ke SMA yang letaknya berdekatan dengan sekolah Opay. Tentunya bukan SMA favorit. Untungnya Laras mau bareng bersama Aya. Padahal dia anak yang pintar juga. Tapi dia memilih sekolah yang sama dengan Aya.

SMA ini terkenal dengan banyak Atlet Olahraga. Awalnya Opay melarang Opay masuk kesini. Karena dia khawatir tidak bisa memantau Aya. Opay sudah menawarkan untuk melobi staf sekolah Opay untuk menyelipkan nama Aya diberkas penerimaan murid baru, tapi Aya tidak mau karena tau dengan kemampuannya. Dia tidak mau terlalu memaksakan otaknya. Untungnya juga Laras mau satu sekolah lagi dengan Aya.

“Mengheningkan cipta, mulai. ” Pembina Upacara memberikan tanda kepada paduan suara.

Suara dari paduan suara terasa merdu. Ditambah angin sepoi-sepoi dan bunyi dedauan dari pohon di sekitar lapangan membuat Aya semakin mengantuk. Aya tertunduk semakin dalam, semakin dalam, semakin dalam dan semakin dirasakan, badan Aya semakin lemas. Lalu akhirnya…. GEDEBUG!!!

 

Oleh: Vani Cahaya Lestari

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s