Cahaya Senja Part 11

Setelah berhari-hari tidak ada kabar dari Ibeng. Nampaknya dia memang tidak ada niat untuk mengembalikan HP nya Aya.

“Bagi murid yang merasa dirinya lumayan jago di bidang matematika, silahkan angkat tangan” ucap Ibu Guru Matematika yang sedang merencanakan membuat kelompok belajar.

Mendadak kelas menjadi hening seperti berada di kuburan tengah malam. Tidak ada yang mengangkat tangannya seorang pun. Padahal banyak murid yang mahir matematika.

“Tidak ada yang mau? Kalau begitu akan Ibu tunjuk saja” ujar Ibu Nasti.

Ibu Nasti membuka rekap nilai yang sudah dibawanya. Dia membolak balik lembaran kertasnya satu persatu. Murid-murid terdiam dengan wajah tegangnya dan jantungnya berdegup kencang seperti suara genderang mau perang. Dipilih menjadi murid yang pintar dalam hal matematika sama dengan menjadi ketua kelompok yang harus bertanggung jawab atas anggotanya. Itu artinya juga harus selalu berhubungan dengan guru yang super killer ini.

“Oke, akan ibu sebutkan satu persatu murid yang akan jadi ketua kelompok. Akan Ibu pilih 7 orang yang nilainya tertinggi. Yang pertama Jaka Prawiryo”

“Ditya Andini”

“Arini”

“Ari Permana”

“Doni Rukmana.”

“Tiara Satya Putri”

“Dan satu lagi….” semua orang terdiam memperhatikan Ibu Nasti setelah tadi ramai saat disebutkannya 6 orang yang terpilih menjadi ketua kelompok. Kelas kembali hening untuk menunggu orang terkhir yang akan disebutkan. “Cahaya Senja” Lanjut Ibu Nasti.

Seketika Aya lemas mendengar namanya disebut. Dia menundukkan kepalanya dan menempelkannya ke meja.

“Bagi yang terpilih silahkan maju ke depan.”

Dengan berat hati Aya maju ke depan. Murid yang menjadi anggota kelompok disuruh memilih ketua kelompoknya sendiri dengan tujuan agar belajarnya sesuai dengan yang diharapkan.

“Semua sudah memilih. Jadi untuk sekarang dan seterusnya kalian akan belajar seperti ini. Diharapkan akan ada peningkatan nilai untuk semuanya. Nanti ibu minta rekapan kelompoknya. Tolong di antar ke kantor. Pelajaran hari ini cukup sampai disini.”

Aya berbalik kebelakang untuk melihat anggota kelompoknya. Dia melihat ada Wildan, ya tentu dia pasti memilih menempel kepada Aya. Lalu ada Mira, tentu saja karena mereka sebangku. Ada Rio dan juga Hera. Ahhh…. kenapa harus Rio sih?? Bisik Aya dalam hati.

“Temen-temen. Biar lebih semangat nih belajarnya. Kita kompetisi mau nggak? Nanti pas ulangan umum yang rata-rata kelompoknya berada di urutan 2 terakhir, teraktir makan untuk sekelas. Setuju nggak? Biar lebih ringan nabung aja perkelompok. 1000 perhari juga kan lumayan. Masih ada 6 bulan menuju ulangan umum” kata Ari sang ketua kelas. Semua anggota kelas setuju dengan rencana ketua kelas.

“Dan satu lagi, nanti kan ada event di sekolah kita. Rencananya dari setiap kelas harus ada yang tampil dalam pertunjukan seni dan nanti juga setiap kelas dikasih 1 stand untuk berjualan ke dua hal ini nanti dinilai dan masuk ke nilai akademik. Untuk yang mahir di seni nanti bisa mendaftar dan untuk yang mahir memasak juga tolong untuk ikut berpartisipasi karena diwajibkan ada makanan yang langsung dimasak. Untuk lebih lanjut nanti saya umumkan lagi.” Lanjut ketua kelas.

“Aya, katanya kamu jago main gitar kan?” tanya Wildan.

“Stttt. Aku nggak bisa. Aku demam panggung. Biar yang lain aja. Lagian kalo band kan biasanya cowok-cowok yang main. Nanti kalo aku yang naik panggung banyak orang yang terpukau kan repot” ucap Aya dengan narsisnya.

“Beuh. PD banget sih jadi anak. Entar kalau kamu udah tinggi, putih, cantik, baru deh orang-orang terpukau sama kamu. Ini mah apaan? Tinggi aja jauh dari standar. ” Ejek Wildan sambil tertawa kecil.

“Heh, awas ya kalo kamu suka sama aku. Aku bakal tolak kamu mentah-mentah. Nggak tau apa kalau waktu SMP banyak yang suka sama aku.” Ujar Aya sambil meninggalkan Wildan.

Tak lama hp Aya yang jadul itu bergetar tanda ada pesan masuk.

Tumben ada yang sms. Ucap Aya dalam hati. Aya membuka pesan dan membacanya. Seketika mata Aya melotot dan berteriak.

Kamu lagi apa Ay? Vian

Dia tak sadar telah berteriak dan tersenyum kegirangan. Aya tak menyangka kalo Vian benar-benar mengirimi nya pesan. Aya berlari secepat mungkin keluar kelas menuju kelasnya Laras.

Tapi….

Bruuuuk..

Aya menabrak seseorang di depan kelasnya.

“Aduh maaf ya.Nggaka sengaja. Maaf banget.” Kata Aya tanpa melihat wajahnya dan langsung beranjak pergi. Saking girangnya Aya hanya fokus menuju kelas Laras.

“Laraaas.” Panggil Aya dengan senyumnya yang sumringah.

“Liat deh. Vian sms aku.” Kata Aya sambil memperlihatkan pesannya.

“Waaah. Udah dibales belum? Bales cepetan.” Ujar Laras. Laras pun jadi ikut antusias, ikut heboh, ikut jingkrak-jingkrak kegirangan.

Aya mengetik pesan secepat kilat. Lalu dihapus lagi, diketik lagi, dihapus lagi. Aaah bingung.

“Cepet ketik yaaa. Gemes deh.” Ujar Laras.

Aya sedikit berfikir dan mulai mengetik lalu langsung dikirim. Aya menggenggam HPnya dan didekapnya dalam dada. Jantung Aya berdegup kencang menunggu sms dari Vian.

Dipandangnya HP Aya. 1 menit, 2 menit, 5 menit, tak kunjung ada balasan. Yaaah mungkin Vian lagi istirahat juga.

“Ya udah mending kita makan dulu aja ya. Sambil nunggu sms dari pujaan hati kamu itu.” Ajak Laras.

“Mmmm. Kamu aja deh. Aku nggak mau ke kantin lagi. Bener-bener trauma deh.”ujar Aya.

“Sini ke kantin sama aku.” Kata pria yang berada di belakang Aya. Aya menoleh kebelakang dan langsung kaget ketika melihat pria yang ada di hadapannya itu.

“Saya nggak mau.” Ucap Aya singkat dan langsung berbalik arah berniat pergi meninggalkan Ibeng and the gank.

Namun Ibeng dengan sigap menarik tangan Aya. “Lo 2x nabrak gue. Untung aja gue tadi nggak lagi megang HP. Kalau enggak, mungkin lo harus ganti HP nya untuk yang ke 2x nya. Udah nabrak, nggak liat dulu lagi siapa orang yang lo tabrak.” Ibeng menatap tajam ke arah Aya. Aya kaget setengah mati mengetahui orang yang dia tabrak itu ternyata Ibeng lagi.

Jadi yang aku tabrak tuh Ibeng lagi? Dan dari tadi juga dia nungguin aku? Oh my God! Berarti dari tadi dia ngeliatin aku dong ngobrol sama Laras. Pikiran Aya berkecamuk menyalahkan dirinya.

“Iya aku liatin kamu dari tadi. Berharap kamu bakal balik lagi, ternyata kamu asyik melihat sms dari….. siapa tadi? Eemmmm” Ibeng terdiam mengingat nama yang tadi Aya sebut. “Aaah..Vian.” Lanjut Ibeng. Aya kaget lagi setengah mati ketika tahu Ibeng mendengar semuanya.

HP Aya kembali bergetar. Aya melirik HP nya yang dia genggam. Berharap Ibeng tidak menyadari getaran HP nya itu.

“Ok. Lepasin dulu tangan aku.” Pinta Aya. Ibeng pun langsung melepaskan genggamannya.

“Jadi sekarang Kaka ingin apa? Bahkan HP saya pun masih ada di Kakak.” Ucap Aya berusaha tenang menghadapi Ibeng.

 

Oleh: Vani Cahaya Lestari

Gambar: Google Search

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s