Cahaya Senja Part 13

“Beuh, kamu ini. Terus aja ngeledek. Udah ah. Aku mau siap-siap dulu.” Kata Aya.

“Mau aku jemput?” Tanya Opay.

“Emmmm. Nggak usah deh. Aku ada payung kok. Daaah Opay” Aya mengakhiri pembicaraan dan bergegas mandi.

Hujan deras berganti menjadi gerimis. Aya berjalan menuju sekolah diiringi gerimis. Sepanjang jalan dia mendengarkan musik sambil menghitung langkahnya. Aya terbiasa menghitung langkah saat dia berjalan pelan. Kadang dia menghitung saat menunggu seseorang. Musik malaysia dengan judul gerimis mengundang membuat Aya terbawa suasana. Namun suasana tersebut dirusak dengan bersin yang tak kubjung berhenti.

“30..31..32.. hatchih.. Aaaaah.. 33.. 34.. hatchih.. Aaaaah.” Aya mulai kesel dengan alergi nya ditambah dia yang lupa membawa jaket dari rumah Opay dan ditambah obatnya yang sudah habis.

Aya langsung menuju UKS untuk meminta obat. Di sana sudah ada Laras yang sebelumnya ditelpon oleh Aya.

“Aya, barusan Bu Nasti juga baru dari sini loh minta obat alergi juga. Jangan-jangan dia Ibu kamu yang selama ini pergi.” Ucap Laras dengan hebohnya.

“Masa? Jadi selama ini bu Nasti itu Ibu aku?” Kata Aya dengan ekspresi kagetnya. “Emangnya kita ini main sinetron?” Lanjut Aya yang ekspresinya berubah.

“Siapa tau kan kaya di film High School Love On. Woo Hyun ketemu Ibunya di sekolah dan mereka sama-sama punya alergi. Jangan-jangan Ibu Nasti juga punya anak dari suaminya. Lalu jangan-jangan kamu juga punya saudara tiri Ay.” Ucap Laras dengan antusiasnya.

“Laraaaaas. Kamu itu bener-bener demam drama Korea ya. Sebelas dua belas sama Opay. Kita itu di dunia nyata. Bukan di dunia drama. Udah ah, mana obatnya?”

Aya langsung bergegas keluar UKS setelah menerima obat dan Laras masih berusaha meyakinkan Ibu Nasti itu Ibu kandungnya Aya yang menghilang 9 tahun yang lalu.

“Aya, kamu sakit?” Tanya  Diaz dengan khawatir saat berpapasan di koridor menuju kelasnya.

“Cuma alerginya aja Kang lagi kumat.” Jawab Aya sambil tersenyum.

“Beuh. Nggak elit banget sih punya penyakit. Udah gitu nggak pake jaket pula. Nih pake jaket aku.” Kata  Diaz sambil menyerahkan jaketnya yang sedang dia pakai.

“Nggak usah Kang. Aku udah minta obat kok. Entar juga alerginya sembuh.” Tolak Aya dengan halus.

“Ih. Ini anaknya ngeyelnya minta ampun. Cepet pake.” Paksa Kang Diaz yang langsung memakaikan jaket nya kepada Aya. Dia langsung pergi menuju kelasnya.

“Kang Diaz kayanya perhatian banget sih Ay.” Ucap Laras.

“Entahlah. Tapi kayanya dia mirip Galih.” Kata Aya sambil memandang jauh ke arah  Diaz.

“Kamu masih nunggu Galih, Ay? Udah tujuh tahun loh dia ga ada kabar.”

“Tentunya aku masih nunggu dia, Ras. Selama tujuh tahun aku nahan semua ini. Kamu tau kan perjuangan aku nunggu dia.”

“Kamu percaya kalo Galih pergi gara-gara kamu cengeng? Kamu percaya kalau kamu nangis bikin dia nggak balik lagi? Kamu percaya kalau kamu nggak nangis dia bakal dateng lagi?” Tanya Aya bertubi-tubi.

“Opay bilang gitu. Dulu dia bilang, ‘kamu sih jadi anak cengeng banget. Jadinya Galih pergi kan? Makanya jangan nangis mulu. Biar Galih balik lagi kesini’. Dan sampai sekarang aku masih nunggu dia. Sesakit apapun aku, aku berusaha untuk nggak nangis.”

“Dulu kan kamu masih bocah Ay. Dibilangin kaya gitu biar kamu nggak cengeng lagi. Kenapa masih percaya aja sih.” Ucap Laras dengan nada kesal.

“Nggak ada salahnya kan aku percaya Opay?” Aya meyakinkan dirinya kembali bahwa suatu saat teman kecilnya itu akan datang kembali.

***

9 tahun lalu saat Ibunya Aya pergi dari rumah, Opay dan Galih menemani Aya bermain. Bahkan saat sesekali Aya menangis karena menginginkan Ibunya kembali, Galih lah yang menenangkannya.

“Udah dong Ay, jangan nangis lagi. Aku nggak mau main lagi kalau kamu nangis terus” bujuk Galih. “Kamu itu harusnya berdoa biar Ibu kamu balik lagi. Bukannya menangis kaya gini. Berisik tau.” Lanjutnya.

Seketika Aya berhenti menangis. Selama 2 tahun Aya bermain ditemani Opay dan Galih. Sampai suatu saat Galih pindah dari rumahnya.

“Kamu jangan cengeng lagi ya. Aku pergi dulu. Kakekku meninggal. Aku harus menemani Nenek ku yang tinggal sendirian. Nanti kita main lagi ya?” Ucapan terakhir Galih kepada Aya.

***

Aya mengingat saat-saat terakhir ketika Galih pergi. Saat hujan datang, hati Aya selalu berubah melow. Selalu flashback mengingat kenangan yang menyakitkan. Sampai terkadang Aya merasakan sesak di dadanya.

“Ayaaa, ayo kita main bola.” Ajak Rio.

“Aku lagi nggak mood ah.” Ucap Aya singkat.

“Aaaaah. Kamu nggak asik ah. Ayo kita main bola. Dari pada ngelamun. Mending kita gerakkan badan.” Paksa Rio sambil mengguncangkan badan Aya.

“Iiih. Apaan sih. Aku lagi nggak mau main.” Kata Aya dengan nada kesal.

“Ini bolanya beneran loh. Bukan buatan lagi. Ayo main.”

“Masih ada yang lain kan? Kenapa harus aku sih? Aku lagi nggak mau main. Awas ah, aku mau keluar.” Aya beranjak dari tempat duduknya menuju ke luar kelas.

“Ayaaaaa. Tangkap bolanya!!” Teriak Rio saat Aya tepat berada di depan pintu. Rio menendang bola nya dan…..

Praaaaang!!!

Rio salah sasaran dan bola nya malah mengenai kaca kelas yang ada di atas pintu.

Semua orang terpaku kaget melihat kejadian itu.

Aya yang berada tepat dibawah kaca menunduk dan ikut terdiam.

“Ayaaa.” Wildan bergegas menghampiri Aya. Ketua kelas Rio dan teman lainnya ikut menghampiri Aya.

“Aya. Sorry. Aku nggak sengaja. Kamu ada yang luka ga?” Tanya Rio dengan dipenuhi rasa bersalah.

“Aya… Aya..” panggil Wildan. Namun Aya diam tak bereaksi.

Rio melihat tangan Aya terluka terkena kaca. Luka memanjang akibat goresan kaca yang jatuh. Darah menetes dari tangannya.

“Aya. Tanganmu berdarah. Ayo kita ke UKS.” Ajak Rio.

“Jangan sentuh aku.” Ucap Aya. Sekujur tubuh Aya terasa lemas mengingatkan trauma yang pernah dialaminya. Aya berbalik dan pergi keluar kelas ditemani Wildan. Wildan membopong badan Aya yang mulai lemas. Diluar sudah banyak murid yang penasaran dengan apa yang terjadi. Lama-lama Aya yang makin lemas pun terjatuh. Wildan tak sempat menahan tubuh Aya.

 

Oleh: Vani Cahaya Lestari

Gambar: Google Search

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

5Hawa-Crush_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s