Cahaya Senja Part 20

“Akhirnya putus juga, Ay?” Tanya Laras. Aya hanya mengangguk. Dia tak mapu untuk mengucapkan satu patah kata pun. Dia berasa mendapatkan zonk!! Berulang kali. Udah diselingkuhin, didatengin ceweknya, disuruh mainin lagu yang menyayat hati pula. Aya sudah menahan tangisannya sekuat mungkin.

“Kamu nggak nangis sedikit pun?” Tanya Laras lagi. Dan Aya hanya menggelengkan kepala.

Matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis. Wildan datang membawakan minuman kesukaan Aya kalo lagi galau. Ice chocolatte yang super manis.

Segera mungkin Aya meminumnya. Aya merasakan seperti diberi oksigen melalui minuman itu. Sesak di dadanya sedikit lebih ploong. Aya menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.

“Aaaaahhh. Seger banget sih minumannya. Thanks Wil.” Ucap Aya. Aya merasa seperti vampire yang baru menemukan minuman darahnya.

“Jadi?” Tanya Wildan singkat.

“Ya begitu lah. Hidup Jojoba. Welcome jomblo-jomblo bahagia.” Kata Aya dengan wajah ceria.

“Eeeemmm sebenernya aku nggak jomblo loh, Ay.” Ucap Laras.

“Eeeemmm Aku juga baru jadian loh sama Hera.” Ucap Wildan.

Aya yang baru mendengarnya langsung melotot dan bertanya seakan tak percaya. “Yang bener, Wil?”

“Kemana aja sih kamu? Aku jadian 2 minggu lalu loh, Ay. Gosipnya juga udah ditayangin di acara gosip TV tau.” Ucap Wildan dengan candaannya.

“Kamu tau sendirikan aku nggak tertarik sama gosip apapun kecuali kalo orangnya yang langsung ngomong ke aku. Kalo gitu selamat aja lah.” Ucap Aya kecewa.

“Pulang sekolah aku mau nonton, ada yang mau ikut ga?” Tanya Aya.

“Aku ada tugas kelompok, Ay. Sorry ya.” Tolak Laras. Aya menoleh ke arah Wildan.

“Aku harus bilang Hera dulu.” Jawab Wildan dengan senyuman.

“Oke fix. Aku nonton aja sendiri. Bye.” Ucap Aya sambil meninggalkan mereka berdua. Namun langkah nya terhenti dan kembali bertanya. “Tapi kalo ke bioskop yang deket naik angkot apa sih?”

“Nggak tau Ay, Aku tau nya naik motor” Jawab Laras dan Wildan menjawab dengan anggukkan.

Aya bertanya kepada seluruh temannya dan akhirnya Hera memberikan jawaban yang Aya inginkan.

“Kalo kesana harus dua kali naik angkot. Naik ke terminal, terus lanjut naik angkot 05. Entar berhenti pas didepan mall nya.” Terang Hera.

“Oke makasih ya Her.” Ucap Aya dengan segera bergegas meninggalkan kelas.

Aya keluar sekolah bareng dengan Laras. Katanya dia mau pulang ke rumah dulu sebelum pergi belajar.

“Ayaaaa…” Panggil seorang pria didepan gerbang sambil melambaikan tangan.

“Mau apa sih dia kesini lagi?” Bisik Aya. Laras mengangkat bahunya menandakan dia tidak tau. Mereka masih berjalan menuju gerbang.

“Ada apa Vian?” Tanya Aya sinis.

“Kemarin pembicaraan kita kan belum selesai, Ay.” Jawab Vian kecewa.

“Kayaknya aku udah ngomong sejelas-jelasnya deh. Aku pergi ya.”Kata Aya meninggalkan Vian. Namun Vian tak menyerah. Dia terus mengejar Aya dan menarik tangan Aya.

“Tapi aku nggak mau, Ay. Aku kan dah bilang aku nggak mau putus sama kamu. Biar cewek itu yang aku putusin. Lagian sama cewek itu kan cuma main-main.” Ucap Vian.

“Lepasin nggak?” Ancam Aya. Vian masih tetep menggenggam tangan Aya. “Walau kamu main-main, tapi perasaan cewek itu ga main-main. Tolong dong jangan kaya gini. Bikin malu tahu.” Lanjut Aya. Aya melihat murid-murid yang hendak pulang sekolah melirik ke arah mereka. Aya menjadi tidak nyaman dan berusaha menutupi mukanya dengan buku yang dia pegang.

“Aku nggak mau ngelepasin kamu sebelum kamu nerima aku lagi Ay.” Ancam Vian. Aya berpikir keras dan dia langsung mengambil HP nya untuk menelepon Opay. Namun dengan sigap Vian merebut HP nya Aya.

“Jangan gini dong, Vian. Aku mohon. Jangan bikin aku malu. Dan cepet balikin HP aku.” Pinta Aya.

Tak lama Diaz lewat. Diaz menghampiri Aya dan bertanya “Kenapa Aya?”

Aya melirik Vian dan menutupi mukanya sendiri. Dalam hatinya berteriak “Tolong aku dong. Ini orang bikin malu setengah mati.”

Aya berusaha melepaskan genggaman tangan Vian. Tapi dia malah menggenggam lebih erat. Sampai Aya meringis kesakitan. “Vian, sakit. Please jangan gini dong.” Pinta Aya dengan lebih sabar. Vian tetap menggenggam tangan Aya.

“Bro, jangan gini dong sama cewek. Kasian tuh dia udah meringis gitu.” Bujuk Diaz dengan sabar.

“Gue ga ada urusan ya sama lo. Lagian jangan so akrab deh.” Ucap Vian nyolot. Vian menarik tangan Aya berjalan menjauhi Diaz.

Vian membawa Aya ke tempat yang lebih sepi dari sebelumnya. Sebuah jalan menuju rumah disamping sekolah. Pastinya hanya tuan rumah yang akan lewat situ.

“Vian, mending lo pergi aja deh. Jangan siksa Aya kaya gini.” Ucap Laras berusaha membujuk Vian.

“Jangan ikut campur deh.” Bentak Vian. “Aya, aku beneran udah putus sama dia. Kemarin aku langsung mutusin dia.” Ucapnya kepada Aya.

“Vian, sekarang aku bener-bener takut sama kamu. Aku nggak kenal kamu yang kaya gini. Yang aku tahu tuh senyum kamu yang bikin aku tenang. Tapi semua itu hilang. Jangan bikin hati aku patah untuk ke dua kalinya.” Pinta Aya. Aya menatap tajam penuh harap kepada Vian.

“Tenang aja. Opay nggak akan gangguin kamu. Karena dia nggak ngeliat luka di hatiku. Aku pastikan kamu nggak akan kena urusan sama dia. Tapi kumohon, berhenti sampai sini aja ya.” Suara Aya lirih penuh keputusasaan. Aya berusaha menebak apa yang sedang Vian pikirkan. Aya memasang muka memelas berharap Vian melepaskan genggamannya.

Tapi Aya salah. Vian malah makin menjadi dan mendorong Aya ke tembok tinggi yang terbentang dibelakang Aya. Aya sedikit menjerit karena kepalanya terbentur tembok. Vian mencengkram bahu Aya sekuat tenaga agar Aya tidak memberontak. Aya melongo kaget tak percaya apa yang Vian lakukan. Dia pun bingung apa yang harus ia lakukan. Aya hanya bisa terdiam menatap Vian.

“Lo udah keterlaluan Vi.” Ucap Laras seraya pergi mencari bantuan.

Kini Aya benar-benar sangat ketakutan. Jantung Aya berdegup kencang. Napasnya tersengal-sengal menahan rasa takutnya.

“Denger ya Ay. Aku sama sekali nggak takut sama Opay. Aku nggak peduli dengan apa yang Opay bakal lakukan kepadaku. Yang aku pengen sekarang kamu balik. Lagi sama aku.” Ucapnya penuh dengan ancaman.

Diaz yang sedari tadi mendengarkan di balik tembok, kini keluar menghadapi Vian. “Aku bisa panggil orang-orang dateng kesini loh. Kamu nggak mikir kalau kamu ada di wilayah siapa? Gimana-gimana juga kamu berada di area sekolah orang lain. Teman-temannya bisa ngamuk loh. Apalagi adegannya lagi kaya gini.” Ucap Diaz santai namun mengancam.

Diaz berhasil melepaskan Aya dari cengkraman Vian. Vian menyerahkan HP Aya dan berkata “Mungkin sekarang aku udah keluar batas. Besok aku bakal kesini lagi. Aku pastikan nggak akan kejadia kaya gini lagi. Aku mohon terima aku lagi ya. Aku pergi.” Pamit Vian tanpa rasa malu dan bersalah.

 

Oleh: Vani Cahaya Lestari

Gambar  : Google Search

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

1

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s