Cahaya Senja Part 22

“Aya….Aya…. udah nyampe nih. Nanti pulangnya masih bisa meluk lagi kok.” Canda Diaz mengusir ketakutan Aya. Aya jadi salah tingkat dibuatnya.

“Apaan sih. Aku meluk tuh biar hatiku merasa aman aja. Aku biasa meluk kalau dibonceng Opay. Maaf deh.” Ucap Aya malu.

“Ya udah sekarang kita buru-buru masuk aja yuk.” Ajak Diaz.

Mereka bergegas masuk ke dalam mall dan menuju bioskop. Disana tidak terlalu ramai karena hari ini weekday. Biasanya bioskop ramai pada akhir pekan.

“Untung keburu ya.” Ucap Diaz setelah membeli tiket.

“Aku ke kamar mandi dulu ya.” Kata Aya.

Aya celingukan mencari kamar mandi karena ini pertama kalinya nonton di bioskop ini. Namun pandangannya terhenti pada seorang pria yang dia kenal. Dia bersama seorang wanita . Terlihat sangat akrab dan mesra layaknya orang pacaran. Tapi baru pertama kali Aya melihat wanita itu. Aya tersadar saat pria itu memandang Aya dan tersentak kaget. Aya meneruskan tujuannya pergi ke kamar mandi seolah tidak melihat apapun.

Aya mencuci tangannya dan memandang ke arah kaca. Dia sedikit tak percaya apa yang barusan dia lihat.

Mungkin saudaranya. Pikirnya. Aya segera keluar kamar mandi setelah mendengar pintu bioskop yang akan Aya tonton telah dibuka.

“Aya.” Panggil seorang pria yang terlihat menunggu Aya keluar dari kamar mandi. Aya menatap tajam pria itu baik-baik.

“Anggap aja aku nggak liat apa-apa.” Ucap Aya sambil memalingkan wajahnya.

“Maaf Ay.” Katanya singkat.

“Pak dokter salah alamat kayanya. Harusnya Pak dokter minta maaf ke Laras. Bukan ke aku. Aku nggak akan ngomong tentang apa yang aku liat sekarang karena ini masalah kalian. Bukan urusanku. Aku harap Pak dokter milih salah satu diantara kalian. Jangan kaya gini.” Ucap Aya. Dada Aya seketika sesak. Membayangkan betapa sukanya Laras kepada pacarnya tapi nyatanya pacarnya malah jalan dengan wanita lain. Aya berlalu meninggalkan Pak dokter yang terdiam.

Selama menonton, Aya tidak bisa fokus. Banyak hal yang mengganggu pikiran Aya. Aya hanya melamun selama film diputar.

“Kamu mikirin apa sih? Kayanya dari tadi pandangan kamu tuh kosong. Sayang tau filmnya nggak kamu tonton. Udah jauh-jauh kesini.” Tanya Diaz sesaat setelah keluar dari studio.

“Eeeemmm. Aku nggak mikirin apa-apa kok. Aku tadi terlalu asyik perhatiin filmnya. Filmnya rame banget ya.” Ucap Aya menutupi segala kegelisahaannya.

“Kalo ada apa-apa kamu boleh kok ngomong sama aku. Aku nggak akan laporin siapa-siapa. Kapanpun kamu mau cerita, aku bakal siap denger semua yang bakal kamu omongin.” Kata Diaz. Aya tersenyum kepadanya menyetujui apa yang dia ucapkan.

“Kalo gitu, kita langsung pulang aja ya. Udah malem. Kamu suka bawa syal kan? Sini syalnya aku pakein. Kalo kamu sakit bisa repot.” Ucap Diaz sambil memakaikan syal di leher Aya.

***

“Kemarin jadi nontonnya?” Tanya Wildan.

“Jadi doooong.” Jawab Aya.

“Bareng siapa?”

“Idiiih kepo banget sih. Siapa aja boleh deh.”

“Oh Iya, waktu kamu nggak masuk, ada pengumuman penting. Acara Pentas Seni tanggalnya udah ditetapkan. Acaranya sekitar satu setengah bulan lagi dari sekarang. Nah dari satu kelas dibagi tiga kelompok. Buat penanggung jawab bazzar, band sama buat bantu-bantu. Semua orang harus ikut partisipasi. Kamu mau ikut mana?” Tanya Wildan.

“Aku ikut bantu-bantu aja deh. Kayanya lebih banyak waktu senggangnya pas hari H. Kan enak bisa nonton yang main Band.” Jawab Aya dengan pasti.

“Beuh, pengen enaknya aja. Cepet lapor kalo gitu. Entar kamu ga dapet nilai loh.”

“Oke kalo gitu.” Kata Aya sembil beranjak dari tempat duduknya. Aya lapor dan langsung keluar kelas karena Laras sudah menunggu.

“Kamu sakit Ras?” Tanya Aya memperhatikan Laras yang tampak lesu.

“Nggak kok. Aku cuma lagi nggak mood aja.” Jawab Laras dengan lunglai.

Aya teringat dengan kejadian kemarin saat bertemu Pak dokter.

“Kamu baik-baik aja kan sama Pak dokter?” tanya Aya penuh rasa penasaran.

“Kita baik-baik aja kok.”sangkal Laras. Sorot matanya tidak bisa membohongi Aya. Apalagi Aya orangnya peka sekali sama perasaan orang lain.

“Eeeemmm. Terakhir kali waktu ketemu Pak dokter di cafe, kayaknya Pak Dokter nggak kaya biasanya deh Ras. Bahkan dia sangat sedikit berbicara padaku. Biasanya kan dia nggak kaya gitu.” Curhat Aya mengungkapkan yang dia rasakan terhadap Pak Dokter.

“Dia masih sama kok dari yang dulu. Kamu jadi orang sensitif banget sih. Nggak usah ngomong yang aneh-aneh deh. Kamu kalo patah hati nggak usah ngajak-ngajak orang.” Ucap Laras dengan nada marah.

“Kamu kok marah sih? Nggak usah kaya gitu juga kali. Siapa juga yang mau ngajakin kamu patah hati. Udah ah. Kamu hari ini nyebelin banget. Aku ke kelas dulu.” Pamit Aya dan berlalu meninggalkan Aya.

Aya menduga kalau Laras sudah tahu semuanya. Tapi Laras masih menyangkalnya karena rasa sukanya yang terlalu besar. Aya merasa bersalah karena tidak bisa membicarakan apa yang terjadi kemarin. Tapi Aya juga tidak bisa terlalu jauh mencampuri hubungan orang.

Aya kemudian masuk kelas setelah mendengar orang-orang di dalam kelai mulai ramai menyanyi sambil tatalu.

“Oke, Miss patah hati, kita nyanyikan lagunya dunia belum berakhir dari……..siapa ya?” Tanya Rio.

“Beuh. Kamu mah. Nggak usah bikin pengumuman kaya gitu juga kali. Itu lagunya punya Shaden kalo ga salah.” Jawab Aya.

“Ya pokoknya itulah. Mulai.”

Dunia belum berakhir, bila kau putuskan aku, masih banyak teman-temanku disini, menemaniku.

“Oke, lagu selanjutnya lagunya Karma dari coklat.” Ajak Wildan untuk menyanyikan lagu itu. Suara riuh meja yang dipukul dan suara nyanyian seisi kelas terdengar begiti selaras.

“Hey, lagu dangdut atuh.” Pinta Doni.

“Pacar lima langkah… Kalo nggak lagu nya Inul yang Masa lalu.” Kata Eza.

Anak-anak kemudia menyanyika kedua lagu itu dengan ceria. Hingar bingar suara gaduh terdengar sampai ujung koridor.

“Ssssstttt ada guru dateng.” Teriak Mira dari depan pintu yang sedari menjadi penjaga pintu. Semua murid yang terlibat langsung bubar ketempat duduknya masing-masing.

“Siapa yang tadi pukul-pukul meja sambil nyanyi?” Tanya Pak Teguh guru BK. Semua murid terdiam tidak ada yang mengaku.

“Tidak ada yang mau mengakui? Mana Ketua kelas?” Tanya nya kembali.

Ketua kelas berdiri dan menatap Pak Teguh.

“Siapa yang tadi pukul-pukul meja?” Tanya ulang Pak Teguh.

 

Bersambung

Oleh: Vani Cahaya Lestari

Gambar: Google Search

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

1

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s