Cahaya Senja Part 23

“Semuanya Pak.” Jawab Ketua Kelas dengan lantang.

“Kalo gitu, semua turun ke lapangan.” Perintah Pak Teguh.

“Panaaas Pak.” Ucap salah satu siswi.

“Siapa yang barusan bicara?” Sentak Pak Teguh. “Kalian mau melimpahkan semua nya ke Ketua Kelas? Kalo gitu, ketua kelas nyanyi di lapangan sendirian sampai jam pelajaran habis. Kalau tidak, Ketua kelas kena poin hukuman 50 poin. Saya tunggu di lapangan.” Lanjut Pak Teguh meninggalkan kelas.

Ketua kelas pergi mengikuti Pak Teguh. Aya ikut turun mengikuti ketua kelas.

“Ngapain kamu kesini?” Tanya Pak Teguh kepada Aya.

“Ya saya nemenin Ketua Kelas dong Pak. Kasian kalo dia nyanyi sendiri.” Jawab Aya.

“Baik kalau gitu. Nyanyikan lagu yang tadi kalian nyanyikan dengan keras.” Perintah Pak Teguh.

Aya dan Ketua kelas mulai menyanyikan lagu yang tadi dinyanyikan. Tak lama Wildan menyusul, diikuti Jaka, Mira, Rio dan akhirnya semua ikut turun ke lapangan. Mereka menjadi tontonan seluruh kelas.

Seluruh murid kelas Aya begitu menikmati nyanyiannya, bahkan saat menyanyikan lagu dangdut, semuanya berjoget mengikuti irama lagu. Saking semangatnya, suara Aya sampai serak dibuatnya karena harus menyanyikan lagunya dengan keras.

“Kalian begitu menikmati. Tidak ada yang menyesal?” Tanya Pak Teguh.

“Tidak Pak.” Jawab Rio dengan lantang. Pak Teguh langsung melotot ke arah Rio.

“Kamu ini ya. Malah senang dihukum begini. Kalau kalian ulangi lagi, lain kali hukuman fisik yang akan diberikan. Mengerti?” Tanya Pak Teguh.

“Mengerti Pak.” Jawab semua murid. Lalu mereka membubarkan diri dan kembali ke kelas.

Laras kali ini benar-benar marah. Dia bahkan pulang lebih dulu. Aya pulang sendiri berjalan ke luar gerbang.

Sekilas Aya melihat Opay sedang berbincang dengan Diaz. Lalu tak lama Opay pergi. Apa mereka saling kenal ya? Pikir Aya. Seingat Aya, pertama kali Diaz melihat Opay, dia sepertinya tidak kenal dengan Opay. Ah sudahlah. Biarkan saja.

“Aya… Aya… gawat.” Teriak Rio sambil berlari terengah-engah.

“Apaan sih?” Tanya Aya kaget.

“Hati aku kebawa sama kamu.” Ucap Rio.

“Beuh. Kirain ada apa. Dasar tukang gombal.” Ucap Aya kesal. Rio nyengir atas kelakuannya.

“Sendirian? Laras mana? Tumben. Biasanya kalian sepaket kaya sendal swallow.” Canda Rio.

Meuni nggak elit ih. Sepatu Adidas atau sepatu Nike gitu biar rada keren, disamain sama sendal swallow. Laras lagi ngambek tuh. Dia udah pulang duluan.” Jelas Aya.

“Aya… Aya… gawat.” Kini giliran Wildan yang teriak.

“Apaan lagi sih? ini dua orang rempong banget.” Tanya Aya kesal.

“Si Vian … Si Vian, Ay.” Wildan terengah-engah dan tidak melanjutkan ucapannya.

“Dia datang lagi? Gawat dong.” Aya panik mendengar ucapan Wildan.

“Dia dibawa ke basecamenya Ibeng barusan.” Lanjut Wildan.

Aya seketika berlari menuju basecame tempat kumpulnya Ibeng and the gank. Namun Aya kembali berbalik ke tempat semula. “Basecamenya di mana?” Tanya Aya panik.

“Itu di sebelah. Di belakang kebun jagung.” Jawab Wildan.

Aya kembali berlari ke arah tempat yang dimaksud.

“Kamu nggak boleh masuk!” Hadang Doni dan Geri di depan pintu. Aya sedikit takut menghadapi kedua orang itu karena badannya yang besar seperti algojo.

Aya menenangkan diri dan bersikap semanis mungkin. “Aku mau ketemu Ibeng. Masa nggak boleh?” Tanya Aya semanis mungkin.

Lalu Doni mengkonfirmasi keadaan di dalam dan mempersilahkan Aya masuk basecame. Jantung Aya berdegup kencang seperti layaknya drum band. Suasana gelap dalam basecame membuat Aya semakin takut. Hampir saja Aya ingin berbalik, tapi dia memikirkan nasib Vian. Aya bakal merasa bersalah sekali kalau sampai terjadi sesuatu kepadanya. Aya memantapkan hati dan meneruskan langkahnya ditemani anggota gank-nya Ibeng yang tidak Aya kenal. Benar saja. Vian berada dihadapan Ibeng sedang berlutut dengan paksaan dua orang yang memegang pundaknya.

Di sana dipenuhi oleh anggota gank nya Ibeng. Mungkin sekitar 10 orang atau lebih. Bahkan Ratna juga ada disana bersama teman-temannya. Aya berasa masuk kandang singa.

“Wah… wah.. Ngapain kamu ke sini?” Tanya Ratna kepada Aya. Namun Aya tidak menggubris pertanyaan Ratna dan to the point ke tujuan utama.

“Ada masalah apa Kakak sama Vian?” Tanya Aya kepada Ibeng.

“Kamu ada masalah apa sama dia?” Tanya balik Ibeng kepada Aya.

“Aku nggak ada masalah apapun sama dia.” Jawab Aya menutupi yang sebenarnya.

Ibeng mendekat ke arah Vian dan memukul keras mukanya Vian. Aya menjerit dan berlari ke arah Vian yang jatuh tersungkur. “Kamu ini apa-apaan sih? Jangan gini dong.” Teriak Aya.

“Kamu itu….” Ibeng melotot ke arah Aya dan menahan ucapannya. “Kamu udah disakitin, udah diselingkuhin, bahkan perlakuan dia kemarin kepadamu, kamu masih ngebelain dia?” Ucap Ibeng kesal dan heran terhadap sikapnya Aya.

“Seburuk apapun dia, sebrengsek apapun dia, walaupun dia pernah nyakitin aku, selingkuhi aku, dia itu orang yang pernah aku suka. Aku nggak bisa tutup mata gitu aja.” Jelas Aya dengan suara seraknya sisa hukuman.

“Kamu bahkan tidak menangis sama sekali saat patah hati. Apa kamu benar-benar suka si brengsek itu?” Tanya Ibeng sinis.

“Aku sangat suka dia sebelumnya. Untuk apa aku menangis? Kita jadian baik-baik dengan bahagia tanpa air mata, putus pun harus baik-baik pula tanpa air mata. Aku sangat marah. Aku patah hati. Tapi cukup hati aku aja yang tau. Bahkan kalau aku menunjukkan sakit hatiku, orang lain tidak akan merasakan sakitku, kan? Aku sangat ingin membalasnya. Tapi tidak begini caranya. Suatu saat hari nanti dia akan merasakan apa yang aku rasakan. Apa yang kau tebar, itulah yang kau tuai.” Ucap Aya. Aya kemudian membatu Vian untuk berdiri.

“Selama aku kenal Aya, tidak ada di kamusnya yang namanya menangis. Sesakit apapun dia, dia akan menahan air matanya keluar.” Ucap Ratna. “Oke, sudah diputuskan. Tahun ini, objek penderitaan dan misi game sekolah akan jatuh kepadamu.” Lanjut Ratna meninggalkan basecame.

“Apa kamu akan membiarkan dia pergi begitu saja tanpa melakukan apapun? Aku bisa membalaskan rasa sakit hatimu” kata Ibeng.

“Nggak perlu. Aku mohon, biarkan dia pergi.” Pinta Aya.

“Bagaimana jika dia melakukan sesuatu yang lebih gila dari kemarin?” Tanya Ibeng penasaran.

“Masih ada polisi. Cukup lapor polisi. Selesai urusan.” Ucap Aya simple. Aya lalu membopong Vian pergi meninggalkan basecame. Sementara Ibeng masih terdiam dengan pernyataan Aya yang sangat simple itu. Ibeng tertawa kecut memikirkannya.

“Aaaaww… sakit.” Jerit Vian saat Aya menempelkan Es Batu di tempat bekas tonjokan Ibeng.

“Memar tuh muka kamu. Apa yang mau kamu bilang sama orang tua kamu? Udah aku bilang kan, nggak usah dateng lagi kesini. Jadi ribet kan urusannya.” Ucap Aya kesal.

 

Bersambung

Oleh: Vani Cahaya Lestari

Gambar: Google Search

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

1

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s