Vice Versa: Antara Benci & Cinta 1

“Aaaaaargh …!”

Kinar melirik sahabatnya sekilas, lalu kembali asyik dengan komik Detective Conan di tangannya. Yang barusan adalah teriakan frustasi Usy yang kelima dalam satu hari ini. Kinar sendiri tidak terlalu paham dengan apa yang sebenarnya dilakukan sahabatnya sejak dua jam yang lalu. Begitu memasuki kamar Usy tadi, Kinar langsung mendarat di atas kasur dan tenggelam dalam bacaannya.

“Nar!” Kasur terasa bergoyang akibat massa yang tiba-tiba dihempaskan di atasnya.

“Hm?”

“Lo bantuin gue dong ….”

“Bantuin apa?” Tanya Kinar, masih dengan nada acuh tak acuh yang sama.

Ditanggapi dengan kadar kepedulian mendekati nol, Usy menatap Kinar dengan sengit. Sudah numpang di kasur orang, asal mencomot komik, Kinar masih tega-teganya mengabai-kannya. Usy mulai bertanya-tanya, sebenarnya bagian Kinar sebelah mana yang diakuinya sebagai sahabat?

Tak tahan lagi—stress yang menindihnya sejak tadi ditambah kekesalannya pada Kinar—Usy merampas komik di tangan sahabatnya.

“Lho?” Kinar melongo mendapati komiknya tiba-tiba melayang. Dia baru akan protes ketika dia melihat ekspresi wajah Usy dan segera mengurungkan niatnya.

Kinar memejamkan mata. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan lewat mulut sebelum membuka mata dan menatap Usy. “Oke, jadi masalah lo sekarang apa?”

Alih-alih menjawab, Usy malah memutar bola mata. Kinar semakin bingung. “Lah, masa lo nggak lihat gue dari tadi ngapain? Jelas-jelas gue lagi menghadapi mimpi buruk penulis manapun. WRITER’S BLOCKITIS, NAR! Lo denger gue?!”

Oke, gue nggak tau sebenarnya itu apaan, but it doesn’t sound good, gumam Kinar dalam hati sambil menekan-nekan tulang rawan di dekat lubang telinganya, berusaha kembali waras setelah diteriaki Usy. Kalau seorang Usy yang terkenal kalem dan bisa menghadapi masalah dengan kepala dingin saja sampai berteriak, berarti bukan hanya tidak bagus. Tapi sangat, sangat buruk.

“Terus apa yang bisa gue lakuin buat bantu lo?” Tanya Kinar. Di hadapannya, Usy sedang cemberut dengan napas memburu.

“Ya bantuin mikir atau apa kek. At least lo nggak cuma nongkrong dan bikin gue makin stress hanya dengan ngelihat lo.”

Kinar mendesah. Meski sudah satu tahun mengenal Usy, Kinar tetap tidak pernah tertular bakat mengarang sahabatnya itu. Jika ada tugas menulis cerpen atau sekadar artikel untuk majalah dinding di kampus, orang pertama yang Kinar mintai pertolongan adalah Usy. Jadi, sekarang ketika posisinya dibalik, Kinar tidak tahu harus berbuat apa.

“Eh, lo ada cerita nggak?” Kinar melirik Usy. Sahabatnya itu terlihat sudah lebih tenang.

“Cerita? Apa ya …?” Kinar mendongak, menatap langit-langit kamar Usy. Dalam kepa-lanya dia sedang berusaha mengorek-korek memorinya, mencari-cari siapa tahu ada yang cukup menarik untuk diceritakan pada Usy.

Ah! Kinar seperti tersentak oleh satu memori. Kenangan yang selama ini selalu muncul seperti screen saver monitor laptop. Kenangan yang sungguhan ingin Kinar hapus dari benaknya.

“Gue ada satu cerita. Ini cerita zaman gue SMA.”

Kinar melirik sahabatnya lagi. Usy beringsut mendekat. Ekspresinya tertarik, siap mendengarkan. Kinar melirik Usy untuk ketiga kalinya, kali ini sedikit gugup.

“Jadi ….” * * *

 

Aku merasa menjadi satyr yang bisa ‘membaui’ kehadiran monster.

Seorang gadis menyusuri lorong sekolah dengan langkah besar-besar. Rambut sepunggung-nya dikuncir ekor kuda asal-asalan, menyisakan anak rambut yang melambai-lambai seiring gerakannya. Ransel hitamnya tersampir di sebelah bahu. Dan seolah ingin melengkapi kesan terburu-burunya, dia melirik arloji setidaknya lima detik sekali.

Dalam hati dia mengutuk, mengapa kegiatan klub begitu cepat dimulai. Tahun ajaran baru yang berawal seminggu lalu bahkan tidak memberinya waktu untuk sejenak menikmati masa-masa menyandang gelar kelas sebelas.

Kelas sebelas memang istimewa. Rasanya masa SMA yang sesungguhnya seluruhnya berada di tahun kedua itu. Tidak perlu pusing memikirkan ujian nasional, tapi tidak perlu juga merasa tertindas oleh senior—golongan kelas dua belas bisa dibilang sudah tidak memeduli-kan junior-junior. Selain itu, pasti murid kelas sebelas yang menguasai jabatan-jabatan penting di setiap klub. Kebebasan mengemukakan pendapatan juga semakin terasa. Intinya, kelas sebelas adalah saatnya mengekspresikan diri.

Selama liburan kenaikan kelas, dia sudah sibuk menyusun daftar apa saja yang ingin dia lakukan di tahun keduanya ini. Mulai dari bergabung dalam jajaran panitia OSIS sampai bergabung dalam klub Jelajah Alam yang selalu punya kegiatan menyenangkan di akhir setiap semesternya. Dia juga ingin menjadi panitia pensi sekolah. Dan masih banyak lagi.

Sayangnya, sepertinya semua itu tidak bisa terlaksana.

Setelah menapaki sekian anak tangga menuju lantai tiga, dia meraih gagang pintu laboratorium dan menekannya hingga pintu terbuka.

“Oh, Kinar!”

Seluruh perhatian otomatis tertuju pada dirinya yang kini berdiri di ambang pintu, membungkuk terengah, kelelahan.

“Sorry …. Pelajaran terakhirku … olahraga,” balas Kinar di sela napasnya.

Gadis yang tadi menyapanya—senior yang membantu di klub—mengangguk mengerti. Sehabis pelajaran olahraga, murid-murid memang biasanya mandi sebelum mengikuti pelajaran selanjutnya, kecuali yang mendapat pelajaran olahraga di jam terakhir karena bisa langsung pulang. Seharusnya Kinar bisa saja mandi di rumah. Namun karena jadwal klubnya, dia terpaksa harus mandi di sekolah.

“Nggak apa-apa. Kita juga belum mulai kok,” kata Rara, senior tadi, sambi mengedar-kan pandangan kepada anggota lain yang mengangguk setuju. “Cuma ngobrol-ngobrol sambil kenalan,” tambahnya.

Wajah Kinar menunjukkan kelegaan. Namun hanya dia dan Tuhan yang tahu betapa menyesal dirinya. Jika tahu kegiatan hari ini tidak penting, lebih baik dia tidak datang. Kalau bisa, tidak datang sekalian sampai dia lulus.

Jujur saja, Kinar membenci klub yang diikutinya itu. Atau lebih tepatnya, terpaksa diikutinya. Terlebih lagi setelah pihak sekolah memutuskan untuk memulai kegiatan klub itu lebih dulu dan menghancurkan rencana mahaindah Kinar.

Klub olimpiade fisika.

Gadis itu melangkah menuju sebuah bangku di barisan terdepan yang kosong. Klub itu hanya beranggotakan enam orang termasuk dirinya tahun lalu dan tampaknya akan berkurang tahun ini. Selain tiga orang senior yang akan pensiun tahun ini, hanya ada tiga orang termasuk dirinya.

“Rangga belum datang?” Kinar bertanya.

Rangga adalah satu-satunya anggota klub yang satu angkatan dengan Kinar. Berkeba-likan dengan Kinar, pemuda yang tahun ini akan satu kelas dengan Kinar itu tampak menikmati kegiatan-kegiatan klub. Menikmati, namun juga cenderung kurang peduli. Rangga bahkan tidak pernah memusingkan pesan-pesan guru pembina padanya. Baginya, yang penting datang dan berpartisipasi. Kinar terkadang sampai bingung dengan anak satu itu.

“Dia belum kasih tahu kamu?” Rara balik bertanya.

Kinar menanggapi dengan dahi berkerut.

“Rangga nggak gabung tahun ini. Katanya dia mau fokus karate.”

Kata-kata Rara barusan sukses membuat mulut Kinar menganga. Keluar? Fokus karate? Diam-diam dia mengumpat. Kinar berjanji akan membuat perhitungan dengan sahabatnya besok di sekolah. Keluar dan meninggalkannya sendiri, apa maksud tukang cengir itu?

Kinar baru akan bertanya lagi ketika Rara mengalihkan topik pembicaraan. “Kamu udah kenal mereka belum?” Gadis kurus berkulit putih itu menunjuk dua wajah baru yang duduk berdekatan di bangku baris kedua. Tampaknya keduanya sudah saling mengenal.

“Aku kenal Kak Kinar!” Salah satu dari dua pemuda itu lebih dulu menyahut. Pemuda itu mengangkat sebelah lengannya tinggi-tinggi. Meski berperawakan tinggi besar, tampak jelas dia lebih muda dari Kinar berkat tingkah kekanak-kanakan dan senyum lebarnya itu.

Melihat wajah yang tak asing, senyum lebar terkembang di wajah Kinar. “Hai!”

Dino mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, nyengir ke arah Kinar. Dino adalah adik kelas Kinar zaman SMP. Dia pertama kali tahu Dino masuk di SMA yang sama saat mereka bertemu di MOS dua minggu lalu. Meski cukup terkenal, tidak banyak adik kelasnya yang masuk SMA Maritim. Salah satu alasannya—alasan yang klise—adalah bahwa sekolah itu berstatus sekolah swasta, sementara banyak sekolah Negeri di kotanya yang terbilang sebagai sekolah favorit. Selain itu, biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar semua tagihan satu murid di SMA Maritim selama tiga tahun setara dengan harga dua mobil keluarga keluaran terbaru.

“Hai, Kak,” Dino membalas sapaan Kinar.

“Meski udah nebak, kaget juga ketemu kamu di sini. Mau balas dendam ya?”

Dino nyengir lagi, seolah memberi konfirmasi bahwa tebakan Kinar tepat sasaran. Itu kisah lama masa SMP mereka. Kinar memutar bola mata.

Di antara sekian banyak adik kelas, Dino bisa dibilang sebagai salah satu adik kelas yang cukup dekat dengan Kinar. Dulu mereka juga bergabung dalam klub yang sama—agak tidak mungkin jika Kinar mengenal Dino yang benar-benar asing begitu saja. Meski awalnya sebal karena anak itu tiba-tiba saja mengoceh ini itu dengan gaya bicaranya yang kumur-kumur, tapi Dino bisa jadi teman ngobrol yang menyenangkan. Terutama saat kebetulan hanya mereka yang datang untuk kegiatan klub sementara yang lainnya hilang entah ke mana.

 

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

7

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s