Cahaya Senja Part 29

“Udah nyampe. Entar aku ngambil payung dulu ya.” Opay turun dari mobil dan mengambil payung ke dalam cafe. Secepat mungkin ia kembali lagi ke mobil.

Tapi ia membuka pintu belaKang dan membawa tasnya. “Laptopku nggak boleh kena basah. Bahaya kalo sampe kena basah, trus mati. Sama aja aku gantung diri kalo gitu.” Bisik Opay.

“Trus aku?” Tanya Aya.

“Kamu lari aja ya.” Kata Opay sambil menutup pintu belaKang dan kembali ke dalam cafe.

“Opaaaaaay. Nyebelin banget sih lu. Apa susahnya balik lagi ke sini bawain payung.” Ucap Aya dengan kesalnya. Aya buru-buru turun dari mobil dan berlari ke dalam cafe.

“Ayaaaah. Opay nyebelinnya nggak ada duanya ih. Selalu yang terdepan. Juara bikin orang kesel.” Curhat Aya sambil mengelap rambut dan badannya dengan handuk.

“Manja banget jadi anak. Cuma situ sini doang masa harus pake payung.” Ujar Opay.

“Tapi kan ujannya deres. Mana mau perform pula. Liat nih baju aku basah semua. Awas aja kalo besok aku sakit. Opay harus tanggung jawab loh.”

“Entar juga kering. Diem aja deket kompor. Jangan lupa makan dulu. Kamu belum makan kan?”

“Entar aja deh. Belum pengen.” Ucap Aya.

“Selamat sore pengunjung setia. Hari ini tugasnya saya, Noval dan adik saya Aya yang akan menghibur para pengunjung sekalian. Lagi ujan gini enaknya makan yang berkuah dengan air hangat dam diiringi lagu yang slow mellow. Untuk lagu pertama, saya akan menyanyikan lagu dari Negara tetangga. Lagu dulu tapi masih ngehits di rumah saya. Judulnya Gerimis Mengundang dan akan diteruskan lagu Mencari Alasan dan Suci dalam debu. Silahkan saksikan kami and enjoy.” Opay membuka perform dengan baik. Seperti biasa Aya memainkan gitar dan Opay yang bernyanyi.

Pengunjung larut dalam alunan musik.

Suatu hari nanti, langit kan bercahaya, pintu akan terbuka, kita langkah bersama.

Disitu kita lihat, bersinarlah hakikat, debu jadi permata, hina jadi mulia.

Lagu suci dalam debu yang sedikit diaransemen oleh Aya jadi sedikit lebih cepat.

“Oke, pengunjung sekalian, berhubung seberntar lagi adzan magrib akan berkumandang, jadi kita istirahat dulu ya. Nanti kita sambung lagi.” Pamit Opay mengawali istirahatnya.

Opay pergi ke dapur meminta untuk dibuatkan makanan. “Makan nih. Aku pesen nasi goreng mau nggak.” Opay menawarkan sepiring nasi goreng yang dia bawa.

Aya masih merasa sedikit mual dan menutup mulutnya seperti menahan muntah.

“Nggak deh. Belum pengen.” Kata Aya sambik meninggalkan Opay. Dengan sigap Opay menahan Aya pergi. Opay menggenggam tangan Aya dengan erat.

“Mau kemana? Kamu pasti dikerjain pake jurus utek-utek ya? Udah nggak makan berapa hari?” Tanya Opay penuh curiga dan kekhawatiran.

“Aku mau ke depan. Aku nggak apa-apa kok.” Jawab Aya dengan senyumnya yang terpaksa.

“Kamu itu nggak bisa bohong. Kalo bohong tuh keliatan banget. Liat tuh idung kamu kembang kempis, mata kamu jadi jereng.” Canda Opay.

“Idiiih. Nggak nyampe jereng juga kali matanya. Serem banget.” Ucap Aya.

“Apapun yang terjadi, kamu harus makan dulu. Oke?” Paksa Opay.

“Aku udah minta dibikinin jus jeruk stoberi. Makannya nanti aja abis perform ya.” Pinta Aya. Opay melepaskan genggamannya. Aya beranjak pergi mengambil jusnya.

“Halo. Aya kenapa?” Tanya Opay kepada seorang pria di sebrang telepon.

***

Alarm Handphone Aya sudah berbunyi semenjak 30 menit yang lalu. Rasanya berat sekali untuk bangun. Kepala Aya terasa berat. Pusing disertai mual, lemah, lesu, lunglai merasuki tubuh Aya.

Gara-gara Opay nih nyuruh aku ujan-ujanan. Bisik hati Aya.

Aya terdiam dan perlahan bangun dari tidurnya. Inginnya hari ini tidak berangkat sekolah, tapi mengingat pelajaran yang penting dan guru yang killer juga, jadi Aya terpaksa harus berangkat sekolah.

Aya memegang dahinya. Sepertinya sedikit demam. Ujarnya dalam hati.

“Pagi Aya.” Sapa  Diaz dengan tak lupa menebarkan senyuman mautnya. Aya ikut tersenyum seperti ada energi yang masuk ke dalam tubuhnya.

“Pagi Kang.” Sapa Aya.

“Kamu kayanya kurang sehat. Kamu sakit?” Tanya  Diaz seraya menempelkan tangannya di dahi Aya. “Badan kamu anget. Kenapa masih berangkat sih?” Lanjutnya.

“Ah, perasaan Kang Diaz aja. Tangan Kang Diaz yang dingin banget tahu. Badan aku mah normal.” Ngeles Aya.

“Emang iya ya?” Tanya  Diaz sambil melihat telapak tangannya.

“Iya Kang Diaaaazz. Aku masuk sekarang ya.” Kata Aya sesampainya di depan kelas.

Aya duduk dan membenamkan mukanya di atas meja.

“Kamu sakit?” Tanya Mira yang baru datang.

“Nggak. Aku cuma cape aja.” Ucap Aya.

“Yang sabar ya, Ay. Kamu kuat banget sih. Kalo aku mungkin udah nangis loh.” Kata Mira yang kagum dengan kuatnya Aya.

“Nahan nangis itu nyesek banget di dada. Emang lebih baik jangan ditahan. Kalo mau nangis, nangis aja.” Ucap Aya yang masih membenamkan mukanya.

“Oiya, hari ini kamu harus ngasih laporan kemajuan kelompok belajar kita ke Ibu Nasti. Dibawa kan bukunya?” Tanya Mira.

“Ada di kolong kok.” Ucal Aya sambil merogoh kolong mejanya. Namun secepat kilat Aya menarik tangannya kembali.

“Kenapa Aya?” Tanya Mira heran.

Aya bangkit dari duduknya dan menggulingkan mejanya. Semua isi yang ada di kolong meja keluar semua. Banyak sampah yang keluar dan termasuk buku yang dicari Aya.

“Aaaaaahh. Menyebalkan.” Aya menghela napas panjang dan mengeluarkan perlahan.

Dengan berat, Aya membersihkan semua sampah yang dia keluarkan dibantu Mira dan Wildan. Lalu Aya pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Di sana ada Hera yang sedang mencuci tangannya juga.

“Gimana rasanya?” Tanya Hera sinis.

“Biasa aja.” Jawab Aya singkat.

“Kamu itu cepet-cepet punya cowok deh yang sekelas. Dikit-dikit Wildan, dikit-dikit Wildan. Jangan ganggu hubungan orang deh.” Ucap Hera dengan sinis dan tatapan tajam penuh aura kemarahan yang terpendam.

“Aku nggak ada maksud ngerebut Wildan kok. Tenang aja. Kita cuma berteman dengan selayaknya aja.” Kata Aya dengan datar yang masih mencuci tangannya.

“Temenan sih temenan. Tapi bikin risih tahu. Wildan jadi ikutan nggak tenang karena kamu jadi OP. Jadian aja gih sama Rio. Dia juga udah suka kan sama kamu.”

“Heeeemm. Kayanya aku juga tahu siapa yang memasukkan sampah ke mejaku. Mau jadian sama Rio, Jaka, atahu sama Wildan sekalipu, bukan urusanmu. Urus aja urusan kamu dengan baik. Oke.” Ucap Aya yang kemudian berlalu pergi.

Aya tak menyangka Hera yang begitu pendiam ternyata punya pikiran picik seperti itu. Namun Aya tidak meneruskan pikirannya itu.

Bersambung

Oleh: Vani Cahaya Lestari

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

7

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s