KAREN & SAY PART 8

“Baiklah nona banyak akal. Aku sudah tidak kawatir lagi.” ucap Alka.

Karen tiba-tiba memeluknya. Alka malah bingung.

“Kenapa?” tanya Alka.

“Terimakasih sudah khawatir sama aku.” ucap Karen tulus.

“Apa harus mengekspresikannya dengan berlebihan gini?” tanya Alka.

“Aku sedang sensitif belakanan ini. Kalau aku meluk Kakak kamu pasti kamu bakal murka.” jawab Karen santai.

“Lakukan saja kalau kamu berani.” tantang Alka.

“Kenapa aku harus takut?” tanya Karen.

“Karena kamu sudah bilang nggak akan menghancurkan hubungan orang” ucap Alka.

“Dasar otak cerdas” gerutu Karen.

“Kenapa kalian malah berpelukan gitu?” tanya kak Bimo mengagetkan mereka.

Langsung saja Karen melepas pelukannya.

“Maaf tadi Karen sedikit terharu melihat anak kucing yang sedang berantem. Hatinya sangat halus”  Alka mengarang dengan berlebihan.

“Aku rasanya ingin memeluk kamu lagi Al kalau inget kucing itu lagi.” ucap Karen tidak mau kalah.

Say menatap kelakuan mereka berdua sambil bersandar di pintu dengan tatapan datar.

“Hei, anak kecil sampai rumah jangan harap kamu bisa keluyuran lagi. Mama bilang kamu nggak pamit sama mama.” ucap Say marah.

“Aku bilang sama Mama mau pergi sama Karen kok.” bela Alka.

“Tapi kamu nggak bilang kemana tujuannya” ucap Say.

“Aku yang salah. Aku nggak bilang ke Alka kita mau kemana” bela Karen.

“Tolong, aku sedang bicara sama Adikku” ucap Say dingin.

“Ah, maaf.” ucap Karen sambil masuk ke rumah.

“Apa kakak harus sekejam itu sama temenku?” tanya Alka kesal.

“Masuk dan makan sekenyang kamu.” ucap Say marah.

 

“Kamu dihukum?” tanya Karen di telfon saat mereka sudah pulang.

“Nggak kok. kalau Mama sama Papa asalkan jelas main sama siapa nggak masalah kok. Lagian di rumahku yang paling galak itu Kak Say bukan Papaku” jawab Alka santai.

“Ya sudah.” ucap Karen sambil menutup telfonnya.

“Aku bingung. Sebenernya kamu naksir Kakaknya atau sama Alka. Kamu bahkan lebih sering bersama Alka daripada sama Kakaknya” ucap Daniel.

Karen menyandarkan badannya di kursi dan mengaduk jusnya.

“Bisa dibilang Alka orang pertama dalam hidupku. Pertama dengan beraninya menantangku, pertama yang dengan seenaknya mengucapkan hal tidak penting padaku serta pertama memiliki temen cewek.”

“Bukankah menyenangkan rasanya punya temen?” tanya Daniel.

“Tentu.”

“Kalian masih backstreet temenannya?” tanya Daniel.

Karen mangangguk.

“Memangnya kenapa kalau kalain temenan? Kalau ada masalah, bisa dihadapi bersama, kan?” tanya Daniel penasaran.

“Apa kamu nggak memikirkan perasaan temen-temen Alka?” tanya Karen balik.

“Kenapa memangnya mereka? Temenan kan bisa sama sapa aja. Nggak harus sama satu orang. Makin banyak makin bagus” jawab Daniel bingung.

“Secara stratifikasi aku ini ada di atas alias nggak terjangkau. Kalau aku temenan sama Alka itu artinya kaya cowok super kaya dan terkenal mendekati upik abu. Akan terjadi kehebohan. Apalagi kita adalah musuh selama ini.” ucap Karen.

“Alasan tidak masuk akal” ucap Daniel.

“Emang. Itu hanya egois kita saja kok.” ucap Karen.

“Kenapa tiba-tiba kamu ngajak aku kesini?” tanya Daniel mengalihkan topik.

“Aku kangen kamu.” ucap Karen.

“Aku nggak punya receh.” balas Daniel.

Karen menerawang sebentar.

“Menurut kamu aku orang yang kaya apa?” tanya Karen.

Daniel mengerutkan keningnya bingung.

“Jahatkah? Nyebelinkah?” ucap Karen.

“Kamu baik.” jawab Daniel.

“Apa ini? Kenapa jawaban kamu main aman begini?” tanya Karen tidak terima.

“Kamu yang tiba-tiba menanyakan hal aneh ini sama aku. Ada apa sebenernya?” tanya Daniel.

“Aku selalu saja mendengar kalau orang bilang aku cantik. Tapi aku nggak pernah denger orang bilang aku baik,  jahat, keras kepala atau karakter apapun yang mereka sebutkan. Hanya cantik. Mereka mendekatiku karena cantik. Mereka baik karena aku cantik. Semua memberiku kelonggaran karena aku cantik. Tapi kecantikanku tidak bisa membuat ortuku mau membesarkanku, kecantikanku tidak membuatku mendapatkan temen yang tulus sama aku,  serta kecantikanku tidak membuatku mendapatkan cowok yang aku suka” ucap Karen menjelaskan.

“Kamu mau jadi biasa saja?’ tanya Daniel.

“Tentu saja tidak. Aku ingin juga dibilang baik atau jahat atau apapun asalkan tidak hanya wajahku.” ucap Karen.

“Apa sesakit itu rasanya patah hati?” sindir Daniel.

Karen menatap Daniel dengan luka.

“Aku malah menjadi mak comblang bagi cowok yang aku suka. Aku melihat Kak Nindya. Dia cewek yang punya kecantikan dari dalam yang sempurna. Dia baik, murah senyum serta gambaran cewek keibuan yang lain. kalau dibanding sama Kak Nindya aku ini kaya kuman. Aku adalah sisi negatif dari Kak Nindya. Itu yang selalu ada di pikiranku. Aku selalu bertanya apa yang salah sama aku. Aku tahu aku menyebalkan. Aku sudah berusa sedikit demi sedikit untuk memperbaikinya. Tapi, tetap saja orang berfikir aku menyebalkan. Aku tahu pasti kalau aku harus menyerah. Tapi, rasanya tidak semudah itu.” ucap Karen.

“Berubahlah menjadi lebih baik. Suatu saat pasti ada yang menerima usaha kamu. Kamu sudah berusaha keras.” ucap Daniel sambil membelai rambut Karen

Karen malah terisak. Daniel langsung shock.

“Ini bukan karena kamu. Aku sedang mengalami masa emosional akhir-akhir ini.” jelas Karen.

Oleh    : Natalia Tri Utami

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

6

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s