Cahaya Senja Part 34

 

“Entahlah, kalau aku ketemu Galih, apa aku akan memukul Galih, apa aku akan mengusirnya, apa aku yang akan lari, apa aku akan mogok bicara? Aku belum tahu. Kalo Ibuku….. ” Aya terhenti dan sedikit berfikir.

“Aku belum tahu alasan dia pergi. Sejujurnya aku takut akan terjadi seperti dalam drama korea pinnochio, healer atau film High School Love On. Mungkin kalau dalam film Healer aku masih beruntung karena Ibunya bisa menerima anaknya ketika dewasa. Tapi kalau kenyataannya seperti filmnya Woohyun aku sungguh takut. Mengusir pergi anaknya karena sudah menikah lagi itu sangat menyakitkan.”

“Makanya jangan kebanyakan nonton drama Korea, jadi parno sendiri kan?” Ucap Opay.

“Aku kan dapet filmnya juga dari Opay. Opay sih suka drakor pake ngajak-ngajak segala. Oiya, habis Opay ujian, kita ke Karimun Jawa yuk. Nanti kita berangkat nya naik kereta aja.” Ajak Aya.

“Oke. Entar kita kesana sama Laras juga trus temen kamu juga yang suka nempel terus sama kamu itu ajak juga.”

Tak terasa hari sudah sore. Saatnya menunggu sunset dan pulang kembali ke Bandung.

***

“Temen-temen, acara pentas seni dan bazzar-nya tinggal seminggu lagi. Segera buat rencana kerjanya ya. Jangan lupa lapor ke saya.” Kata ketua kelas.

Aya sebagai penanggung jawab bazzar harus membuat laporan rencananya. Dia berkumpul bersama seluruh anggota tim.

“Aku udah tulis semua yang kita butuhkan. Jangan sampai ada yang terlewat. Cari tempat dengan harga yang lebih murah. Satu lagi nanti tolong siapkan ember untuk cuci tangan ya. Progress meeting kita cukup sampai sini dulu. Aku tunggu laporan kalian selanjutnya.” Aya menutup meeting-nya.

Laras sudah menunggu di luar kelas. “Kamu milih tim apa Ras?” tanya Aya.

“Aku pilih tim bantu-bantu.” Jawab Laras. Tumben agak tenang? Apa udah genjatan senjata?” Tanya Laras sambil menyelidiki keadaan.

“Nggak tahu deh. Mudah-mudahan aja udah pada bosen ngerjain aku.” Kata Aya penuh harap.

Namun, baru saja berucap, sudah dimulai lagi serangan dari para murid.

“Cahaya.” Panggil seseorang di belakang Aya. Aya menoleh tanpa rasa curiga.

“Aaaaaaaaa” Aya teriak dan lari secepat kereta api setelah melihat ulat yang dibawa Tora anak kelas sebelah. Aya paling takut sama yang namanya ulat. Jangankan liat wujudnya, denger namanya atahu liat gambarnya aja udah bikin Aya merinding dan badannya gatel-gatel tanpa sebab.

Dia lari ke arah UKS berharap aman disana. Tapi Aya salah, disana juga sudah ada yang menunggu Aya ditemani ulat bulu besar berwarna hitam di dalam toples. Semua anak yang membawa ulat bulu berusaha mengejar Aya.

Aya lari tanpa tujuan. Dia tak pedulikan apapun yang penting terhindar dari serangan ulat bulu itu. Sampai dia terhenti kehabisan napas di dekat ruang kesenian. Dia berhenti sejenak dibalik tembok. Bersandar sejenak untuk menenangkan diri.

“Kenapa harus ulat sih?” Bisiknya. Mending dikasih ular sekalian dari pada dikasih ulat. Pikirnya.

Aya berusaha tidak menimbulkan suara.

“Cahaya.” Bisik seseorang disampingnya dengan membawa ulat berwarna hijau.

“Aaaaaa.” Aya kembali teriak dan berlari.

“PLEASE JANGAN ULAT.” teriaknya. Aya berbelok dan tak sengaja menabrak jendela kelas yang terbuka. Dia terjatuh dan kesakitan saking kerasnya benturan.

Aya memegang dahinya dan menahan teriakan kesakitannya. Kepalanya pusing akibat dari dahinya yang menabrak jendela kelas. Aya berusaha bangkit lagi setelah mendengar ada yang datang.

Aya lari sekuat tenaga mencara tempat persembunyiannya lagi yang dianggap aman.

Kini dia pergi ke belakang sekolah yang kata orang ada penghuninya. Namun Aya tak peduli. Yang dia pikirkan sekarang untuk menghilang dari pandangan siapapun yang membawa ulat.

Hal gaib itu tidak keliatan. Ulat jelas-jelas keliatan sama mata telanjang. Pikirnya.

Aya terdiam memandang pohon keramat yang dibicarakan orang sambil terengah-engah kehabisan napas. Kali ini Aya benar-benar ingin menangis.

Aya menengadahkan kepalanya berharap air mata nya tidak tumpah. Dia memegangi dadanya yang sesak menahan tangis. Namun ia terperanjat saat Ibeng ada dihadapan mukanya.

“Aaaaa. Bikin kaget aja. Kamu nggak bawa ulat juga kan?” Tanya Aya dengan ketidak berdayaannya.

“Nih minum dulu.” Ibeng menyodorkan minuman kepada Aya.

Aya yang sedari tadi kehausan menerima nya dengan ikhlas.

“Makasih banyak.” Ucap Aya.

“Kalo mau nangis, nangis aja.” Kata Ibeng.

Sorry ya, aku ga akan nangis karena hal kaya gini.”

“Kamu tuh keras kepala banget ya jadi anak. Kalo gitu, ikut aku sekarang juga.” Ajak Ibeng sambil menarik tangan Aya.

“Kemana?” Tanya Aya penasaran.

“Pokoknya ikut aku aja. Selama sama aku, kamu bakalan aman. Tenang aja.” Ibeng meyakinkan Aya bahwa dia tidak akan memberikannya kepada pasukan pembawa ulat.

Ibeng menarik Aya ke parkiran motor.

“Cepet naik.” Perintahnya.

“Nggak mau.” Kata Aya singkat.

“Ikut aku, kalo ngga, aku kirim kamu ke anak-anak yang bawa ulat.” Ancam Ibeng.

“Kenapa sih orang-orang ahli banget bikin ancaman?” Tanya Aya kesal. Dengan terpaksa Aya naik motor Ibeng. Ibeng memakaikannya helm dan memastikan helmnya sudah terpasang dengan benar.

“Pegangan.” Ucap Ibeng.

Ibeng memacu motornya dengan kecepatan yang luar biasa kencangnya.

“Kamu mau bunuh aku?” Tanya Aya. Namun Ibeng tidak menjawab dan fokus memacu kendaraannya dengan lebih cepat. “Ini lebih buruk dari pada lari dikejar ulat. Tolong berhenti di sini.” Pinta Aya.

Ibeng tetap memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi dengan tujuan yang tidak Aya ketahui. Tanpa sadar Aya memeluk Ibeng dengan erat. Aya mulai ketakutan dengan sikap Ibeng.

Sampai akhirnya mereka berhenti di tengah tanah lapang yang dipenuhi rumput.

Aya turun dari motor dan terjatuh di samping motor. Kaki Aya terasa sangat lemas. Akhirnya Aya menangis karena ketakutannya.

“Apa kamu benar-benar mau bikin aku mati? Kamu nggak tahu betapa takutnya aku?” Aya menangis makin keras. Aya bersujud dan membenamkan muka nya di atas rumput. “Opaaay…. Opaaaaay….. aku lelah. Aku Takut, Opaaaay. Tolong aku Opaaaaay…. ”

Ibeng membangunkan Aya dari sujudnya, membukakan helm yang masih menempel dikepalanya dan memeluknya. “Maafkan aku udah bikin kamu takut.” Ucap Ibeng dengan rasa bersalah. “Kamu udah banyak mengalami kesulitan. Nggak baik kalau dipendam.” Lanjutnya. Iya menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Ibeng. Ibeng mengusap lembut rambut Aya.

 

Bersambung

Oleh: Vani Cahaya Lestari

Gambar: Google Search

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s