Cahaya Senja Part 35

 

Setelah beberapa lama mengeluarkan tangis yang terpendam, Aya terdiam dan baru sadar dia berada dalam pelukan Ibeng. Dia menjauh dari Ibeng dan sedikit mendorong pelan tubuhnya Ibeng. “Ah, benar-benar memalukan.” Ucap Aya sambil merapikan rambutnya dan mengusap sisa air matanya.

“Ternyata kamu belum lupa cara menangis.” Ledek Ibeng.

“Kamu itu emang jago nya bikin orang takut. Aku kira aku sudah mati kehilangan jantung.” Ucap Aya kesal sambil masih sedikit terisak dari sisa tangisannya.

“Udah lega kan? Setidaknya usahaku membuahkan hasil.” Ucap Ibeng sambil tersenyum.

“Maksudnya? Jangan-jangan kamu foto aku pas lagi nangis? Wah, ternyata ada udang di balik batu.”

“Jangan menuduh sembarangan. Aku nggak sepicik itu membuatmu takut demi memenangkan misi. Aku hanya ingin melepaskan beban dalam dadamu saja. Selama ini kamu sudah mengalami kesulitan, pastinya dalam hati kecilmu kamu ingin menangis. Adikku selalu menangis kalau dia sangat marah atahu kesal. Pasti kamu juga merasakan itu.” Jelas Ibeng membela diri. Aya terdiam mendengarkan ucapan Ibeng. Aya tak menyangka di balik muka sangarnya ada kebaikan dalam hatinya.

Dering Handphone terdengar dari saku Ibeng “Oke Bro, gue kesana.” Ucap Ibeng kepada orang di seberang telepon. “Ayo pulang” Ajaknya.

“Ogah. Mending pulang sendiri deh.” Kata Aya yang masih trauma.

“Emang kamu tahu ini dimana?” Tanya Ibeng dengan tatapan tajam. Aya menggelengkan kepalanya. “Aku nggak akan ngebut lagi kok. Lagian kamu juga harus cepet-cepet ngobatin jidatmu itu. Jendela kok ditabrak.” Ucap Ibeng meledek lagi.

Aya baru sadar dengan dahi nya yang tadi menabrak jendela. Dia memegang dahinya dan membuka mulutnya hendak berteriak namun tak mengeluarkan suara.

“Sedikit saja kamu mamacu kecepatan, aku akan memukul kepalamu dengan sakuat tenaga” Ucap Aya dengan ancaman.

“Terserah.” Kata Ibeng singkat.

Kemudian, Aya dengan terpaksa ikut lagi naik motor Ibeng. Kali ini Ibeng mengendarai motornya dengan perlahan. “Nggak meluk lagi?” Tanya Ibeng dengan jahil.

“Apaan sih? Maunya.” Kata Aya sambil memukul punggung Ibeng. Ibeng tersenyum dibuatnya.

Akhirnya setelah penantian panjang, Aya sampai di depan kostnya dengan selamat. Aya tidak mau kembali lagi kesekolah karena khawatir masih akan ada anak yang menyerang dengan ulat. Aya meninggalkan semua barang-barang nya di sekolah. Aya mendapatkan pesan dari Laras kalau tasnya sudah dititipkan kepada  Diaz.

Aya masuk kedalam kamarnya untuk mengoleskan salep thrombopop dijidatnya yang lebam dan langsung bergegas mencari  Diaz

“Nenek, Kang Diaz ada?” Tanya Aya kepada nenek pemilik kost.

“Ada Neng. Coba ketuk aja kamarnya.” Kata nenek sambil mempersilahkan Aya masuk.

“Kang Diaz” panggil Aya. Namun tidak ada jawaban. Aya hendak mengetuk pintu kamarnya  Diaz, tapi pintu sedikit terbuka.

“Kang Diaaaaz.” Panggil Aya sekali lagi. Masih belum ada jawaban.

Aya sedikit mengintip kedalam kamarnya  Diaz. Dia melihat ada tulisan gravity di dinding kamar. Aya membaca berulang kali tulisan itu. Aya membuka lebar pintu kamar  Diaz. Tidak percaya apa yang tertulis di dinding kamar itu.

Aya merogoh Handphone-nya dan memencet salah satu nomor yang ada di dalam kontak.

“Nama panjang Galih siapa?” Tanya Aya kepada Opay di sebrang telepon.

“Diaz Galih Anggara. Kenapa?” Tanya balik Opay. Opay tersentak sesaat setelah mengucapkan nama tersebut. “Jangan-jangan kamu…..” tak sempat menyelesaikan ucapannya, telepon sudah ditutup terlebih dulu oleh Aya.

“Hah, jadi selama ini Galih…..” Aya terdiam tak meneruskan ucapannya. Tertulis besar tulisan gravity nama Diaz Galih Anggara di tembok kamarnya  Diaz. Aya melihat di pojok dindingnya ada origami love bertuliskan nama Aya, Opay dan Galih dengan tulisan yang tidak rapi. Seperti tulisan anak SD yang baru belajar menulis. Origami itu seperti origami yang Aya dan Opay miliki.

“Aya.” Panggil  Diaz di depan pintu kamarnya.  Diaz sedikit kaget saat melihat Aya di dalam kamarnya.  Diaz baru saja mandi dengan telanjang dada dan handuk yang melingkar di pinggang nya.

“Apa maksudnya ini?” Tanya Aya sambil menunjuk kertas origami yang bertuliskan namanya itu. Aya memalingkan wajahnya dari  Diaz saat sadar  Diaz tidak memakai baju.

Diaz hanya menatap Aya. Dia bingung harus menjelaskan mulai dari mana.

“Kenapa nggak dijawab?” Tanya Aya ulang dengan tatapan tajam.

“Itu origami yang aku buat dulu dan kamu yang tulis nama-nama itu.” Jawab  Diaz.

Aya speechless dan bingung harus bersikap bagaimana. Dia tersenyum kecut dan pergi dari kamarnya  Diaz.

Aya masuk kamarnya dan duduk dibalik pintu kamarnya. Dia terdiam membayangkan apa yang barusan terjadi. Aya tak percaya bahwa selama ini  Diaz itu merupakan Galih yang selama ini dia tunggu.

Tok…. tok…. tok….

“Aya.. buka dong. Kita ngobrol dulu yuk.” Bujuk  Diaz setelah memakai pakaiannya.

Aya masih berdiam diri. Dia bingung apa yang harus dia katakan. Apa yang harus dia lakukan.

“Ayaaaa. Jangan gini dong.” Pinta  Diaz.

“Emang mau bicara apa?” Tanya Aya yang masih bergulat dengan kebingungannya.

“Buka dulu dong. Masa kita ngobrol kaya gini. Kan nggak enak.”

Aya kemudian membukakan pintu kamarnya. Mereka saling tatap. Mereka sama-sama terdiam bingung dengan apa yang harus dibicarakan terlebih dulu.

“Bukankah banyak pertanyaan yang ingin kau tanyakan kepadaku?” Tanya  Diaz yang bingung memulai pembicaraan.

“Apa selama ini kamu…… ” Aya terhenti sejenak, dia bingung apa dulu yang perlu dia tanyakan. “Apa kamu beneran Galih teman kecilku dulu? Apa kamu nggak tahu kalau dulu kita itu dekat? Apa kamu ga ingat aku dan Opay? Apa kamu ga sadar aku menunggu kamu selama ini?” Aya melayangkan beberapa pertanyaan sekaligus.

Diam sedikit berpikir dan mulai menjawab satu persatu pertanyaan Aya. “Ya, aku Galih si pendek yang selalu memanggil kamu cengeng. Nama kamu unik, mana mungkin aku lupa sama kamu. Ingatanku tentang kamu dan Opay sangat melekat diingatanku. Aku bahkan langsung mengenalmu sejak pertama kali bertemu denganmu. Sebenarnya tahun kemarin aku pergi ketempat tinggal yang dulu berharap kamu masih ada disana. Tapi penghuni yang baru bilang kalau kamu pindah tak lama setelah aku pindah.” Ujar Diaz.

“Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu itu Galih?” Tanya Aya kemudian.

“Kamu nggak nanya.”

“Aku nggak nanya karena aku nggak tahu. Kenapa selama ini kamu menyembunyikannya dari ku? Apa kamu tak tahu sampai sekarang aku masih nunggu kamu?” Aya sedikit menaikkan nada suara nya setelah mendengar jawaban Diaz yang mengesalkan.

“Aku tahu dari Opay kalau kamu masih nunggu aku. Tapi Opay menyuruhku untuk mencari waktu yang tepat menceritakan semuanya kepadamu.” Ucap Diaz berusaha tenang.

“Alasan.” Kata Aya sambil tertawa sinis.

“Bukankah kamu bertanya karena ingin mendapatkan jawaban? Bukankah jawaban yang kuberikan merupakan alasan bagiku? Bukankah alasan ini juga yang akan menjawab rasa penasaranmu kan?”

Aya terdiam lagi mendengarkan ucapan Diaz.

“Jujur, aku sangat mengharapkan kamu kembali. Tapi kalau kaya gini, aku pun bingung harus bagaimana. Tinggalkan aku sendiri dulu ya. Aku mohon.” Kata Aya sambil menutup pintu kamarnya.

 

Bersambung

Oleh: Vani Cahaya Lestari

Gambar: Google Search

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s