Cahaya Senja Part 36

 

Handphone Aya tak berhenti berdering. Aya mengangkat telepon nya dan merebahkan diri diatas tempat tidur nya.

“Apa Pay?” Tanya Aya kepada Opay di seberang telepon.

“Jadi kamu udah tahu?” Tanya Opay dengan hati-hati.

“Ya. Terima kasih karena sudah ‘menutupinya’.” Sindir Aya. “Kamu tahu dari kapan kalo Kang Diaz itu Galih?”

“Waktu menunggu kamu didepan sekolah. Dia menyapa aku saat itu. Dia tidak langsung bilang kalo dia itu Galih. Tapi aku tahu saat dia menyebutkan nama kamu. Cara dia menyebutkan nama kamu itu masih sama seperti dulu.”

Aya tidak mengingat secara jelas. Namun memang cara Galih menyebutkan nama Aya itu berbeda dari orang lain.

“Lalu aku harus gimana?” Aya tiba-tiba menangis. Perasaannya campur aduk antara senang, marah dan bingung.

“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, dan ucapkan lah apa yang ingin kau ucapkan. Okey.” Kata Opay mengakhiri pembicaraannya.

Aya pergi ke atas loteng seperti biasanya. Di sana Diaz sedang menatap jauh ke langit yang mendung.

“Sayang banget langitnya mendung.” Ucap Diaz yang menyadari kedatangan Aya. Aya ikut memandang langit yang mendung itu.

Kaya hati aku yang mendung. Ucap Aya dalam hati.

“Iya kaya hati kamu yang lagi mendung.” Kata Diaz seakan membaca pikirannya Aya. Aya memandangnya kaget.

Ngomong dari mana ya. Bingung. Bisik hati Aya lagi.

“Omongin aja apa yang ingin kamu omongin. Mau marah juga silahkan.” Ucap Diaz lagi. Aya kembali melihat Diaz dengan aneh.

Bener-bener dukun kali ya ini orang. Ucap lagi Aya dalam hati.

Diaz kini menatap Aya baik-baik. “Kalo kamu mau marah, marah aja. Aku bakal terima kok.”

“Iya, aku pengen marah, aku pengen mukul kamu, aku pengen lemparin kamu ke sawah, aku pengen cincang kamu. aku sebel sama kamu, aku benci sama kamu. Kamu itu nyebelin banget. Kamu tega banget jadi orang.” Ucap Aya sambil memukul dada Diaz dan menangis. Diaz membiarkan Aya memukulnya. “Kamu jahaaat, tapi dari semua itu masih besar rasa rindu aku sama kamu.” Pukulan Aya melemah dan tangisannya makin kenceng.

Diaz memeluknya dengan erat. “Maafin aku ya. Selama ini kamu pasti sangat kesulitan.” Ucap Diaz sambil mengusap lembut rambutnya.

“Sebesar ini rasa kangen kamu sama aku?” Ucap Diaz sambil senyum-senyum. Aya melepaskan pelukannya Diaz dan menatap nya sambil melotot.

Sambil masih terisak, Aya memprotes ucapan Diaz yang sebenarnya memang dirasakan Aya. “Apaan sih? Kepedean banget jadi orang.” Aya mengusap mukanya yang meninggalkan bekas air mana. Ia lalu merapikan rambutnya.

“Emang benerkan? Kamu sampai rela bertahun-tahun ngga nangis berharap aku dateng lagi ketemu sama kamu.” Ucap Diaz dengan nada iseng.

“Udaaah. Jangan bahaas.” Seketika muka Aya memerah saking malunya. Diaz tertawa melihat Aya yang malu dan salah tingkah.

“Kenapa sih dulu kamu dipanggil Galih? Kan aku nggka tahu. Coba kalau dulu kamu dipanggil Diaz, pasti kan aku langsung ngeh kalo kamu tuh orang yang aku harapkan datang.” Ucap Aya penuh protes.

“Tuh kan, akhirnya kamu ngaku juga kalo kamu mengharap kedatangan aku.” Ucap Diaz dengan senangnya. Aya baru sadar kalo dia salah ngomong yang bikin Diaz kege-eran. “Kan kamu sendiri yang pengen manggil aku Galih. Lupa?” Aya terdian mengernyitkan dahinya sambil berpikir keras mencari ingatan masa lalunya. “Dulu kamu bilang gini ‘nama kamu susah banget sih. Diazzzz. Aku nggak bisa ngomong huruf jet. Udahlah aku panggil kamu Galih aja yang gampang’ .” Ucap Diaz yang menyepertikan ucapan Aya ketika masih kecil.

“Emang? Nggak ah. Aku nggak inget.” Sangkal Aya.

“Dasar pikun. Ingatan kamu jelek banget sih. Kayanya memori ingatan kamu cuma 2 giga ya? Untung juga masih ada tempat tersisa buat inget aku.”

“Sembarangan. Walaupun ingatan aku tinggal 100 mega byte sekalipun dan harus ada memori yang aku hapus, aku nggak akan pernah ngehapus kamu diingatan aku. Setidaknya nama kamu tersisa diingatan aku.”

“Waaah. Aku terharu mendengarnya. Sebegitu pentingnya kah aku bagi kamu?” Tanya Diaz dengan nada bercandanya.

“Penting banget.” Jawab Aya singkat. Jawaban Aya membuat Diaz jadi salah tingkah. “Nggak usah salah tingkah gitu deh. Udah mau magrib. Aku masuk duluan ya.” Pamit Aya.

Aya dan Diaz menghabiskan waktu semalam penuh untuk berbincang di ruangan tengah. Mengenang masa kecil mereka, menceritakan segala hal saat mereka berpisah dan membicarakan segala hal mengenai kehidupan mereka masing-masing.

“Jadi aku panggil kamu Diaz apa Galih nih?” Tanya Aya.

“Terserah kamu. Mau panggil ‘sayang’ juga boleh kok.” Ucap  Diaz sambil tersenyum.

“Idiiih. Maunya. Udah jam 2 malem nih. Aku tidur dulu ah. Kalo diterusin nggak akan beres-beres. Besok kita sambung lagi.” Kata Aya sambil bangkit dari duduknya hendak menuju kamarnya.

“Jadinya mau manggil apa nih?” Tanya Diaz lagi dengan senyum isengnya. Aya terdiam dan sedikit berpikir.

“Eeeemmm. Biar beda dari yang lain aku panggil Galih aja deh sebagai panggilan sayang aku sama kamu.” Jawab Aya sambil senyum dan meninggalkan Diaz yang melongo mendengar jawaban Aya. Kini Aya sukses membuat jantung Diaz berdegup kencang. Diaz memegang dadanya yang merasa seperti akan pergi dari tempatnya.

 

Bersambung

Oleh: Vani Cahaya Lestari

Gambar: Google Search

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s