Cahaya Senja Part 37

 

Aya terbangun dari tidurnya. “Ah, mimpi buruk lagi.”

Aya mengambil Handphone-nya. Jam menunjukkan angka pukuk 03:03. Aya mengetik sebuah nama dan menelpon nomor itu.

“Halo?” Suara orang disebrang telepon.

“Galih, kamu belum tidur?” Tanya Aya sambil memejamkan matanya.

“Baru aja mau tidur. Kamu kok belum tidur? Masih Kangen aku?”

“Baru aja kebangun.”

“Mimpi buruk?”

“Iya.” Jawab Aya singkat.

“Makanya berdoa dulu sebelum tidur.”

“Kamu nggak akan pergi lagi kan?”

“Emang aku mau pergi kemana lagi? Selama ini hati aku udah capek merantau mencari hati kamu.” Ucap Galih penuh gombalan.

“Aduh Galih. Pasti sekarang kamu nggak punya hati ya?”

“Emang kenapa?” Tanya Galih heran.

“Soalnya aku udah ngambil hati kamu.” Kata Aya sambil tersenyum.

“Idiiih. Ikutan ngegombal. Udah tidur sana. Aku udah ngantuk nih. Jangan lupa berdoa ya. Jangan lupa mimpiin aku.”

“Emang mau ngapain masuk ke mimpi aku?”

“Mau lanjut ngegombalin kamu.”

“Ogah deh kalo gitu. Nice dream ya.” Ucap Aya mengakhiri telepon nya.

Aya mengingat jelas mimpi nya itu. Dia bermimpi ditinggalkan seseorang pergi. Dalam mimpinya, Aya menangis histeris ditinggalkan orang itu. Tapi Aya tidak tahu siapa yang dia tangisi.

Satu jam berlalu namun Aya masih tidak bisa tidur. Aya melihat jam di handphonenya menunjukkan pukul 04:16. Aya bangun dari tidur kemudian menuju dapur kostnya. Dia mengecek bahan-bahan yang ada di dapur.

Oke, kita bikin pancake aja deh. Ucap Aya dalam hati.

“Opay, aku bikin pancake nih, kamu mau ga?” Tanya Aya di telepon.

“Mau dong, bentar lagi aku lewat kostan kamu.”

“Ini kan masih jam setengah enam. Tumben udah berangkat.” Ucap Aya yang keheranan.

“Aku ada pemantapan. Bentar lagi kan UN. Pemantapannya mulai jam enam. Cepet keluar, aku udah di depan nih. Kebetulan aku belum sarapan.”

Aya bergegas membungkus pancake-nya dan berlari keluar.

Thanks ya.” Kata Opay singkat.

“Iya. Yang rajin belajarnya. Jangan males-malesan.” Pesan Aya untuk Opay.

“Eh, aku kan selalu rajin. Kamu tuh yang jangan males-malesan.” Protes Opay.

“Iya bawel. Sana pergi.”

Di sekolah Laras sudah menunggu di depan gerbang setelah ditelepon Aya membawa pancake buat Laras.

“Akhirnya dibikinin lagi pancake sama kamu. Tumben hari ini kamu keliatan cerah banget. Lagi seneng? Dapet hadiah dari minuman gosok? Apa dapet mobil dari bungkus kopi?” Tanya Laras yang mencurigai adanya keanehan pada diri Aya. Aya senyum-senyum bikin Laras penasaran.

“Malah senyam senyum lagi ini anak. Kamu kenapa? Lama-lama aku takut deh sama kamu. Katanya kemaren kamu diajak kabur sama Ibeng. Apa kamu jadian sama Ibeng?” Tanya Laras penasaran.

“Idiiih. Enak aja. Nggak gitu Laras.” Aya kembali senyam senyum sendiri.

“Tuh kan, senyam senyum sendiri. Ayo kenapa? Cerita dooong.” Laras makin penasaran dibuatnya. Sampai suara laki-laki yang menyapa Aya memecahkan rasa penasarannya.

“Selamat pagi Aya.” Sapa Galih dengan senyumnya.

“Selamat pagi Galih.” Aya balik menyapa Galih.

Laras melotot kaget mendengar nama yang baru Aya sebutkan. “Apa? Galih? Kang Diaz itu Galih?”

Aya tersenyum kembali.

“Aya jangan senyam senyum mulu dong. Kan jadi penasaran. Jadi bener? Kang Galih itu Diaz? Eh maksudnya Kang Diaz itu Galih?” Laras menatap Diaz alias Galih. Saking semangatnya Laras sampai belepotan saat bicara. Tapi sama halnya dengan Aya, Galih hanya tersenyum menjawab rasa penasaran Laras.

“Ooooh. Bisa gila aku gara-gara kalian berdua ini. Sana senyam senyum berdua, biar aku panggil orang rumah sakit jiwa buat kalian berdua.” Kata Laras sambil berlalu ke dalam kelasnya.

Pancake-nya enak. Thanks ya.” Ucap Galih.

“Nih aku bawa lagi.” Kata Aya sambil mengangkat kotak makanannya.

“Eiiiittss. Yang ini bagian aku ya.” Ucap Wildan yang entah dari mana datangnya menyambar kotak makanan Aya dan langsung berlari ke dalam kelas.

“Heeey……” Teriak Aya yang terhenti oleh Galih yang menghentikan Aya.

“Udah biarin aja. Entar kan kamu bisa buat lagi buat aku. Special.” Ucap Galih. “Kalo gitu aku ke kelas dulu ya. Sampai nanti.”

Aya memasuki kelasnya. Daaaan…..

“Aaaaah kenapa ulat nya ditinggalin dimeja sih?” Teriak Aya. Teman-teman kelasnya membiarkan toples berisi ulat kemarin berada dimejanya Aya.

“Sorry ya Aya, Kakak kelas tadi yang nyimpen benda itu bilang kalau ada yang mindahin satu aja toplesnya, nanti bakal jadi OP berikutnya setelah kamu. Jadinya kita ngga ada yang berani buat mindahin semua itu. Harus kamu sendiri yang mindahin.” Ucap Rista yang diberi pesan oleh Kakak kelasnya.

“Mending pulang deh kalo gitu.” Kata Aya sambil berbalik melangkah pergi.

“Eh Aya, kamu beneran pulang?” Tanya Wildan.

“Iya. Aku mau ke cafe aja.” Kata Aya tanpa memandang Wildan.

“Terus belajar kita gimana?” Tanya lagi Wildan kepada Aya.

“Aku tunggu di cafe.” Teriak Aya dan berlalu pergi.

 

Bersambung

Oleh: Vani Cahaya Lestari

Gambar: Google Search

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

7

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s