KAREN & SAY PART 16

“Kenapa Kakak di sini?” tanya Karen. Jantungnya berdegub kencang memerhatikan sosok lelaki itu.

Say seperti tersadar dari lamunannya. Say menatap Karen lama.

“Apa ada yang salah?” tanya Karen hati-hati

Say tetap diam dan menatap Karen.

“Kalau Kakak hanya diam saja lebih baik aku masuk.” Ucap Karen berjalan ke mobilnya.

“Sial!” teriak Say sambil membanting helm yang dipegangnya dan berjalan ke arah Karen. Say membalik badan Karen ke hadapannya dan menciumnya tepat di bibir. Hal ini membuat Karen kaget.

Karen mendorong Say. “Apa ini?! Apa maksudnya ini?” tanya Karen menatap Say.

Say juga tampak shock dengan kelakuannya.

“Aku pasti sudah gila.” Ucap Say.

“Apa ini?” tanya Karen .

“Tunggu tunggu tunggu  jangan menangis.” Ucap Say panik ketika melihat air mata di wajah Karen.

“Cepet bilang apa ini? Apa setelah ini kamu akan bilang untuk melupakan kamu?” Ucap Karen.

Say hanya menggeleng sambil mencoba menghapus air mata Karen.

“Lepas!! Berhenti terus-terusan memberiku harapan.” Teriak Karen.

Say hanya diam saja.

“Beritahu aku apakah aku harus mukul kamu sekarang atau menangis patah hati di sini.”  Ucap karen.

“Berhentilah menangis.” Pinta Say.

“Kenapa?” tanya Karen.

Say hanya menatap Karen.

“Kenapa?!” teriak Karen

“Karena setiap kamu menangis rasanya aku sudah menjadi penjahat di dunia ini. Tubuhku mati rasa setiap melihat kamu menangis. Membuatku ingin lari ke arah kamu dan memeluk kamu.” ucap Say.

Karen menatap kaget ke arah Say.

“Apa ini maksudnya? Aku nggak secerdas Alka jadi jelaskan padaku.” Ucap Karen.

“Intinya aku jadi kehilangan ketika kamu pergi. Aku makin gila ketika kamu makin menjauh dariku.” Ucap Say.

“Katakan dengan jelas. Aku tidak suka berbelit-belit.” Ucap karen.

“Aku sayang sama kamu.” ucap Say.

Karen langsung terdiam dari isakan dan kemarahannya. Semua indranya coba dia tajamkan untuk mendengar apa yang dikatakan Say.

“Telingaku sedang bermasalah kelihatannya.” Ucap Karen mencoba menolak semua yang dia dengar.

“Aku sayang sama kamu.” ulang Say.

“Apa kakak sedang bercanda?” tanya Karen.

Say meraih kedua tangan Karen dan menggenggamnya.

“Itu kata paling serius yang aku ucapkan sama kamu.” ucap Say.

“Jadi semua ucapan Kakak yang menyakitkan itu bercanda? Apa Kakak tahu aku menderita karena ucapan Kakak itu?!” ucap Karen marah.

“Semuanya serius. Aku bukan orang yang humoris.” Ucap Say.

“Apa sekarang Kakak sedang melucu?” tanya Karen sebel kemudian kembali terisak.

Say buru-buru menghapus air mata Karen.

“Kenapa kamu berubah jadi cengeng gini.” Ucap Say.

“Tolong berkaca siapa yang membuatku cengeng begini.” Ucap Karen terisak.

“Apa yang harus aku lakukan untuk membuat kamu berhenti menangis?” tanya Say putus asa. Karen malah makin kenceng nangisnya. Say langsung memeluk Karen.

“Maaf selama ini sudah menyakiti kamu. Aku terus berkutat dengan masa laluku dan mimpiku.” Ucap Say.

“Apakah saat ini aku merebut kamu dari seseorang? Aku tidak suka dianggap merebut pacar orang.” Ucap Karen.

Ingatan Say kembali saat bersama Nindya.

***

“Apa kamu tahu aku sedang berjalan sama patung?” tanya Nindya.

“Aku nggak seganteng itu kok.” Canda Say.

“Penyakit membohongi diri kamu belum sembuh, ya.” Ucap Nindya.

Say tertawa.

“Ada apa? kenapa kamu kaya anak ABG yang sedang mengalami kegalauan.” Ucap Say.

“Sebenernya hubungan kita itu apa?” tanya Nindya.

“Pacar.” Ucap Say.

“Apa rencana kamu soal hubungan kita ini?” tanya Nindya.

“Kita lulus abis itu kerja terus nikah. Programku menjanjikan, kan?” ucap Say senang.

“Nikah sama siapa?” tanya Nindya.

“Sama kamu, lah. Emangnya mau sama siapa lagi.” Ucap Say enteng.

“Bagaimana kalau kamu bangun pagi dan melihat Karen di sisi kamu?” tanya Nindya.

“Jangan bilang kamu cemburu sama Karen? Astaga, Nin, dia anak kemarin sore. Masa iya kamu cemburu sama dia.”

“Aku nggak bilang kalau aku cemburu. Aku cuma nanya kalau ternyata Karen di sisi kamu bukan aku.” Ucap Nindya.

“Pasti akan sangat merepotkan.” Ucap Say menerawang.

“Kenapa?” tanya Nindya.

“Melihat gaya hidup serta kelakuannya saja membuatku repot. Dia selalu saja mengangguku.” Ucap Say.

“Dia melakukan itu karena dia cinta sama kamu.” ucap Nindya.

“Tapi aku sayang sama kamu, Nin.” Ucap Say.

“Tapi aku tidak merasa seperti itu.”

“Maksud kamu?” tanya Say

“Kenapa kamu tiba-tiba ngajakin aku pacaran? Selama ini kita baik-baik saja dengan hubungan kita.” Ucap Nindya.

“Aku pikir hubungan kita selama ini tidak jelas.” Ucap Say.

“Bukan karena permintaan orang lain?” tanya Nindya.

“Orang lain?”

 

Oleh    : Natalia Tri Utami

Gambar: Google Search

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s