Cahaya Senja Part 41

Mamanya Ibeng menangis dan menatap wajah Aya. Meraba wajahnya. “Kamu tumbuh dengan baik Nak. Kamu juga cantik.” Ucapnya. Aya yang tidak mengerti keadaan ini hanya melirik Ibeng dengan penuh makna.

“Ini kado dari aku Aya. Maaf kalo selama ini aku merebut Ibu kamu.” Ucap Ibeng.

Aya terpaku melirik Ibeng dan Ibunya secara bergantian. “Hah? Sinetron macam apa ini?” Ucap Aya yang masih tak percaya.

“Kamu tahu apa tentang aku?” Tanya Aya kepada Ibeng.

“Tidak banyak. Hanya membaca catatanmu dan melihat foto seorang wanita di handphonemu.” Jawab Ibeng dengan nada datarnya. Aya memang selalu menyimpan keluh kesahnya di memo handphone dan juga Aya menyimpan satu foto Ibunya yang dia ambil dari foto album. Maksudnya biar dia tahu wajah ibunya itu seperti apa. Tapi dia malah lupa setelah bertemu beberapa kali.

Aya langsung mencari handphone-nya dan mencari gambar foto ibunya. Aya memandang bergantian kepada foto dan kepada wanita yang ada di hadapannya itu.

Aya tersenyum kecut. “Sungguh memalukan. Aku tak tahu ibuku sendiri padahal aku selalu membawa fotonya.” Ucapnya. Kali ini dia benar-benar sangat malu pada awal dia bertemu Ibunya.

“Maaf Mama nggak cepet-cepet menyapa kamu. Mama bingung harus menyapanya bagaimana.”

“Aku pun bingung sekarang. Apa aku harus sedih atahu harus marah atau harus kecewa. Yang pasti kekecewaan yang pertama, Tante… maksudku ….. ” aya terhenti sebentar karena bingung harus memanggilnya dengan panggilan apa. “Sudah tahu dari awal tetapi tidak ada satu pun yang memberi tahuku. Kedua….” Aya menarik napas dalam seperti ada yang mengganjal saluran napasnya.” Aku kecewa orang yang selama ini mendapat kasih sayang dari Anda itu Ibeng yang menyebalkan. Sungguh kau sangat beruntung.” Ucap Aya sambil melirik ke arah Ibeng.

Semua orang diruangan itu terdiam. Bahkan Hani yang hendak menyapa Aya mengurungkan niatnya.

“Sepertinya saya harus pergi dari sini.” Ucap Aya.

“Biar aku antar.” Kata Ibeng.

“Nggak usah. Aku pulang sendiri aja.” Tolak Aya dan melangkah pergi.

Handphone Ibeng berbunyi tanda ada orang yang menelepon. “Halo? Aya ada disini.” Aya terhenti saat Ibeng menyebut namanya. “Oke, biar nanti gue anter ke sana. Sip.” Ibeng menutup telepon nya. “Maaf, tapi kamu nggak bisa pulang sendiri.” Ucapnya kepada Aya.

Apa lagi sekarang? Bisik Aya dalam hati.

“Ayo, Opay minta aku buat anter kamu.” Ucap Ibeng sambil menarik tangan Aya. “Kita pergi dulu ya Ma. Jangan lupa nanti datang ke sana.” Ujar Ibeng kepada mamanya dengan sangat sopan dan sambil tersenyum pula. Aya yang melihat kejadian tersebut sampe eneg dibuatnya.

Dengan terpaksa Aya mengikuti kemanapun Ibeng pergi kalau urusannya berhubungan dengan Opay.

Aya diantarkan ke tempat Opay berada. Aya terdiam melihat Opay yang berdiri di bawah pohon di ujung bukit. Ini merupakan taktik Opay agar Aya bisa lebih tenang. Biasanya cara ini selalu berhasil membuat Aya relaks.

“Bagaimana hadiahnya?” Tanya Opay.

“Waaaah. Ternyata sebelumnya juga kamu sudah tahu. Disini cuma aku saja yang tidak tahu?” Ucap Aya dengan sinisnya menandakan kalau dia merasa dikhianati.

“Kita berharap ini menjadi kado yang terbaik untuk kamu. Tapi ternyata aku menghancurkannya.” Kata Opay dengan raut wajah sedih.

“Sejujurnya aku sangat senang sekali. Sampai aku tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Mungkin kalo bisa aku pengen salto saat itu juga. Tapi yang aku tak bisa terima, selama ini dia membesarkan anak orang lain dengan baik. Sedangkan anaknya sendiri…… ” Aya menghentikan ucapannya. Dia tidak kuasa menahan tangisnya. “Aaaah. Kenapa ini nggak mau berhenti.” Ucap Aya sambil mengusap air matanya yang tak berhenti keluar.

Ibeng dan Opay membiarkan Aya menangis sampai tangisannya berhenti. Ibeng lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Udah nangisnya?” Tanya Opay sesaat setelah isak tangis Aya tidak terdengar lagi.

“Siapa yang nangis? Di sini tuh dingin tahu, hidung aku sampai meler gini. Kalo milih tempat ngadem tuh mikir dulu. Udah tahu adiknya alergi dingin. Malah pilih tempat yang begini.” Protes Aya menutupi tangisannya. Opay tersenyum mendengar Aya sudah seperti biasa lagi. Selalu ngeles kalo merasa malu. Opay melepaskan jaketnya dan memakaikannya kepada Aya.

“Come on kita pergi dari sini. Kita pergi ke tempat yang lebih hangat. Kita juga harus merayakan ulang tahun kamu.” Ajak Opay sambil tersenyum. Melihat Opay tersenyum, Aya sudah membayangkan tempat yang indah.

“Emang kita mau kemana?” Tanya Aya penasaran.

“Tempat yang hangat…. Kita ke dapur cafe?” Canda Opay.

“Masa ke dapur sih? Nyebelin banget ah.” Aya kontan teriak protes.

“Haha. Ya engga lah. Yang pasti kamu harus dandan dulu yang cantik. Hari ini kita nge-date. Come on sister.”

“Oke brother.”

Mereka menuju ke butik, ke toko baju dan tentunya ke salon juga. Aya menggunakan dress berwarna putih dengan sepatu high heel dan rambutnya yang dibiarkan terurai secara alami membuat kesan lebih anggun. Sedangkan Opay menggunakan kemeja polos dengan perpaduan warna biru putih dan celana jeans. Rambut yang ditata memakai gel membuat kesan Opay dewasa dan bijaksana.

“Hari ini kamu cakep banget Pay, lebih cerah dari biasanya.” Puji Aya.

“Tuan putri juga hari ini sangat bercahaya. Matahari aja kalah sama kamu sampe dia malu tuh sembunyi di balik gelapnya malam.” Ucap Opay membalas pujian.

“Itu mah emang udah waktunya malem Opay. Nggak usah memuji aku sampe ke awang-awang deh kalo ujung-ujung nya ngejatohin juga.” Ucap Aya dengan sedikit ngedumel. “Jadi hari ini kita kemana?”

“Oke. Dengan syarat kamu harus tutup mata.” Kata Opay sambik menunjukkan syal untuk menutup mata Aya.

“Ngapain pake tutup mata segala sih? Kalo pake syal entar maskara aku rusak doong.” Protes Aya

“Ya udah, nggak pake syal tapi kamu tetep hatus tutup mata kamu ya. Janji?” Ucap Opay sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

“Oke, Aku janji.” Kata Aya sambil mengaitkan jari kelingkingnya di kelingking Opay.

Akhirnya sampai ditempat yang dituju. Aya tetap menutup matanya sesuai janji. “Jangan dulu dibuka ya matanya.” Pinta Opay.

“Trus harus sampe kapan aku tutup mata kaya gini?” Tanya Aya yang mulai kesal.

Tiba-tiba pintu mobil terbuka dan Aya dibimbing turun dari mobil menuju ke suatu tempat. Seorang pria membantunya berjalan memasuki cafe.

“Sekarang buka matanya.” Aya membuka mata nya dan terkejut melihat kejutan yang diberikan keluarga dan teman-temannya. Cafe terlihat berbeda kali ini. Cafe dihias minimalis dengan bertuliskan spanduk ‘Selamat Bertambah Tua Cahaya Senja’ di tengah Cafe. Aya tersenyum saat melihat sekeliling cafe.

“Waaah, kalian nggak modal banget. Hampir setiap hari aku datang ke cafe dan ulang tahun pun kalian adakan di cafe ini juga.” Ucap Aya sambil tersenyum senang.

“Selamat bertambah tua Aya.” Ucap Teman-teman Aya secara bergantian. Di sana juga hadir Mama, Ibeng, dan Hani juga.

Bersambung

Oleh: Vani Cahaya Lestari

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s