Cahaya Senja Part 44

“Nanti juga tahu kalau udah sampai.” Kata Aya sambil beranjak naik Bis.

Galih dengan pasrah mengikuti Aya kemanapun dia pergi. Setelah naik bis, perjalanan masih dilanjutkan dengan naik speed boat.

“Nah, kalo sekarang bener-bener udah nyampe. WELCOME TO KARIMUN JAWA!” Teriak Aya. Galih tidak berdaya setelah turun dari speed boat karena mengalami mabuk laut.

“Apa segitU senangnya kamu datang kesini? Aku masih mual nih.” Ucap Galih.

“Seneng banget. Kita senang-senang sampe besok. Come on brother.” Ucap Aya yang biasa ia tujukan kepada Opay.

Galih yang mengharapkan lebih dari sekedar saudara, tersenyum tipis dan mengikuti Aya pergi.

“Kamu koK bisa kenal sama om-om itu?” Tanya Galih yang melihat Aya sebelumnya berbincang dengan seorang pria.

“Dia itu kaya agen travel gitu. Cuma dia dari penduduk lokal. Aku dapet nomor nya dari internet. Ada yang nge-share gitu. Katanya dia ramah, baik dan yang paling penting lebih murah dari agen travel yang lain. Apalagi sekarang harus bayar buat dua orang.” Kata Aya sambil memandang tajam ke arah Galih dengan candaannya.

“Aku ganti…. nanti langsung aku ganti… begitu sampe bandung aku bakal langsung ganti. Salah kamu sendiri yang nekat dateng kesini sendiri. Apa jadinya kalo kamu sendiri terus kamu kontak om-om itu sendiri. Bagaimanapun dia itu orang asing. Tempat ini pun asing buat kamu. Gimana kalo kamu dijual, terus kamu diiket, terus kamu dibawa pake bambu, digotong kaya kambing guling, terus kamu ditaruh di atas api. Kamu nggak takut?” Ucap Galih yang membayangkan kejadian dalam film horror.

“Kamu tuh kebanyakan nonton film horror. Yang penting kita udah sampe sini. Nggak usah ngomong yang aneh-aneh deh. Ayo kita snorkeling.” Ucap Aya dengan penuh semangat.

Sampai sore tiba, Aya dan Galih baru menghentikan aktifitasnya.

“Aaaah. Lelahnya. Sungguh indah pemandangannya.” Ucap Aya di pinggir pantai sambil menunggu sunset.

“Kamu seneng?” Tanya Galih.

“Seneng banget. Setidaknya hari ini aku melupakan beban yang sedang ku pikul.”

“Bagaimana dengan besok? Kamu tidak berniat di sini selamanya kan? Jangan lari seperti ini. Apa orang rumah tahu kamu pergi? Apa temanmu tahu kamu pergi? Mereka pasti khawatir.” Galih mengomel seperti Ibu yang kehilangan anaknya di mall.

“Biarkan besok datang seperti yang seharusnya. Aku nggak tahu besok akan datang baik atau buruk, tapi aku akan berusaha hidup lebih baik dari hari ini. Aku nggak akan lari kok. Aku bakal ngadepin hari besok mau baik atahu pun buruk. Aku hanya bingung harus bagaimana. Aku nggak mau Opay pergi jauh ….. ” Aya mulai terisak menangis. “Baru aja aku senang dengan kedatangan kamu dan Mama, tapi kenapa dia harus pergi sejauh itu? Aku nggak siap. Galiiihh. Aku nggak siaaaap.” Aya menunduk, membenamkan mukanya diantara kedua lututnya.

Galih diam mendengarkan semua keluh kesah Aya. Dia mengerti begitu beratnya Aya melepaskan kepergian Opay.

“Kenapa Opay begitu baik kepadaku kalau akhirnya akan pergi dariku juga? Dasar pria jahat.” Ucap Aya lagi.

Galih akhirnya membuka suara berharap Aya akan lebih tenang. “Ayaaa. Ini kesempatan yang bagus untuk Opay. Pendidikan itu prioritas utama. Dia memang mampu melanjutkan sekolah di sini dengan biaya sendiri, tapi mendapatkan beasiswa keluar negeri itu suatu kebanggaan. Apalagi dia itu laki-laki. Dia harus sekolah setinggi-tingginya dan bekerja untuk menafkahi anak istrinya kelak. Opay itu pria yang pintar. Sayang banget kalo dia melewatkan kesempatan ini. Dia cuma sekolah aja di luar negeri. Dia pasti balik lagi. Dan kamu juga masih bisa berkomunikasi via telepon atahu media sosial. Sekarang juga bisa video call juga kan. Coba lah kamu mengerti posisinya dia. Jangan hanya memandang dari posisi kamu aja. Dia juga pasti berat dengan keputusan ini. Dia juga pasti berat jauh dari kamu dan keluarga. Jangan sampai kamu mengurungkan niatnya. Jangan sampai kamu bikin dia makin berat mengambil keputusan ini.” Ucap Galih panjang lebar. Kata-kata Galih membuat Aya berpikir dan tertegun.

“Apa kamu mau ninggalin aku juga seperti Opay?” Tanya Aya dengan pandangan kosong jauh memandang matahari yang akan segera selesai bertugas.

“Aku nggak tahu karena posisi aku tidak dalam keadaan itu. Tapi yang pasti, aku nggak akan ninggalin kamu kaya dulu. Aku akan selalu ngabarin kamu kemana pun aku pergi.” Ucap Galih dengan penuh keyakinan. Aya menatap Galih dan tersenyum.

“Apa kamu tersentuh sampe-sampe ngeliat aku kaya gitu?” Tanya Galih yang membalas tatapan Aya.

“Aku sangat tersentuh. Awas aja kalo kamu pergi tanpa ada kabar lagi. Aku bakal cingcang kamu kalau ketemu kami lagi. Jangan harap keadaannya bakal kaya gini.” Ancam Aya. “Kita ke penginapan dulu yuk. “Ajak Aya.

Mereka menyewa dua kamar untuk menginap. Mereka menghabiskan waktu esoknya untuk jalan-jalan, snorkling, dan makan seafood. Sampai pada sore hari Aya baru ingat kalo besok adalah hari H Pensi.

“Kamu kenapa nggak ingetin sih?” Omel Aya kepada Galih.

“Lah, aku juga nggak inget Aya. Kamu sih mainnya pake jauh-jauh segala.” Galih balik mengomel kepada Aya.

Mereka bergegas pulang ke Bandung dan baru sampai pagi hari.

***

“Jadi kamu belum mandi?” Tanya Laras setelah menceritakan kisah Aya selama berlibur.

“Ya udahlah. Apa mandi juga harus aku ceritakan? Nih cium tangan aku. Wangi kan?” Kata Aya yang sibuk memasak kwetiaw pesanan pelanggan.

“Iya wangi, wangi kwetiaw.” Ucap Laras.

“Aya. Kwetiaw satu spesial buatan Aya katanya.” Kata Rista membacakan pesanan pelanggan.

“Spesial buatan aku kaya gimana?” Tanya Aya yang masih sibuk memasak kwetiaw.

“Nggak tahu nih. Tulisan nya gitu. Katanya yang biasa kamu bikin.” Ujar Rista.

Aya terdiam dan melihat orang yang memesannya. Aya tersenyum saat Opay berdiri di depan stand bazzar.

“Iya pelanggan. Nanti saya buatkan.” Ucap Aya sambil tersenyum.

Aya menyerahkan tugasnya kepada Rasti setelah mengajarkan caranya dan dia pergi untuk istirahat sebentar. Aya pergi menghampiri Opay yang masih menunggu Aya sambil menonton band di atas panggung.

“Nggak sekolah?” Tanya Aya.

“Ngga. Hari ini aku ijin mau ke kantor polisi. Mau ngelaporin orang hilang. Udah dua hari nggak ada kabar.” Ujar Opay dengan nada kesal.

“Maaf.” Ucap Aya singkat

“Buat apa minta maaf? Aku mau laporin hilangnya Galih kok.”

“Idih. Jadi Galih lebih penting nih dari aku?” Aya seketika melotot ke arah Opay.

“Jadi, dua hari ini kamu kemana?”

“Liburan dong sama Galih, ke Karimun Jawa.”

“Hah? Beneran? Kamu ngapain aja di sana sama dia? Nginep di mana? Sekamar?” Tanya Opay yang sudah berpikir aneh-aneh.

Bersambung

Oleh: Vani Cahaya Lestari

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s