Vice Versa: Antara Benci & Cinta 2

Kinar baru akan memutar tubuhnya kembali menghadap depan saat matanya tertumbuk pada sesosok manusia yang duduk di samping Dino. Sejak masuk laboratorium tadi, baru kali ini Kinar benar-benar memperhatikan sosok itu. Dino yang menyadari hal itu segera angkat bicara.

“Oh ya, Kak, ini Mas Emir.”

Oh, jadi bukan anak kelas sepuluh.

Kinar menatap pemuda yang lebih kecil dari Dino itu. Gadis itu tidak segera menyahut atau balik memperkenalkan dirinya. Ada sesuatu yang membuatnya hanya menatap Emir dalam diam selama beberapa detik, seperti sedang menerka-terka.

“Mm … Kak?”

Teguran Dino seperti menyadarkannya.

“Oh, hai, Emir.”

Mendengar gadis itu menyapanya, Emir tersenyum tipis. “Hai …,” dia melirik Dino, memberi kode supaya pemuda itu memberitahunya siapa nama gadis itu.

Dino langsung paham. “Kak Kinar. Bukannya tadi aku udah sebut namanya, ya?”

“Uhm, sorry,” Emir menyahut pelan.

Setelah Dino mengatakannya, Emir baru benar-benar ngeh dengan nama teman barunya itu. Teman, agak aneh menyebutnya jika mengingat bagaimana gadis itu memandanginya tadi. Meski sama-sama tahu bahwa Emir manusia, Kinar menatapnya dengan tatapan yang seolah mengisyaratkan bahwa yang ada di hadapannya adalah makhluk asing. Mungkin semacam alien yang datang dari Mars.

Saat ini, gadis itu masih menatapnya dengan tatapan yang sama.

Emir balas menatapnya. Kinar jadi bisa melihat matanya dengan lebih jelas. Tidak ada yang aneh dengan sepasang iris coklat gelap itu. Hanya saja, lipatan pada kelopak matanya sangat tipis hingga nyaris tidak ada, meski Kinar sangat yakin pemuda itu bukan keturunan Tionghoa.

Walaupun tidak terlalu tinggi, Emir bisa dikategorikan well-built. Kulitnya coklat gelap, sampai-sampai Kinar—walaupun tidak seputih Rara—yakin kulitnya akan membentuk kontras jika dijejerkan dengan Emir. Rambutnya yang dipangkas pendek sedikit ikal, membuat Kinar berasumsi. Mungkin alih-alih Tionghoa, sebenarnya Emir adalah keturunan dari suatu tempat di Indonesia bagian timur. Atau, jangan-jangan campuran keduanya?

Abstrak, tapi … untuk alasan yang tidak jelas, Kinar merasakan pipinya memanas.

Emir bingung melihat perubahan ekspresi Kinar. Bahkan sekarang gadis itu mengerut-kan dahi.

Kinar mengalihkan pandangan dari sosok Emir ke buku-buku yang tersebar di meja pemuda itu. Kegiatan klub bahkan belum resmi dimulai, pemuda itu sudah menyebar buku-buku yang menurut Kinar mungkin tebalnya mencapai lima ratus halaman. Dan sesuatu membuat Kinar curiga, jadi dia memicing, berusaha untuk melihat lebih jelas ke sampul samping buku-buku itu.

David Morin. Kinar seketika merasa kepalanya pening.

“Lho, kalian nggak saling kenal?”

Kata-kata Dino mengalihkan perhatian Kinar. Entah karena apa, Emir menghela napas lega.

“Kenal? Kok bisa?” Kinar terlihat bingung.

“Bukannya Kakak sama Mas Emir sama-sama ikut OSN tahun 2012?”

OSN tahun 2012. Ingatan Emir berputar kembali pada salah satu peristiwa tak terlupa-kan dalam hidupnya itu. Dua tahun yang lalu, ketika untuk pertama kalinya dia mengikuti ajang bergengsi tingkat nasional itu dan berhasil meraih medali emas. Tapi kali ini yang sedang berusaha diingatnya adalah keberadaan Kinar dalam memorinya itu.

“Kalian berdua kan, sama-sama dapat emas.”

Kalimat Dino seperti petunjuk. Medali emas fisika hanya ada lima. Seharusnya bukan hal yang sulit untuk mengingat siapa saja yang berdiri di panggung bersamanya saat itu. Emir kembali mengingat-ingat.

“Ah!” Kinar lebih dulu memekik.

Emir menatapnya. Wajah itu …. “Kamu …. Jangan-jangan ….”

Lupakan soal pipinya yang memanas. Kinar menelan ludah yang seolah berubah menjadi biji salak. Orang yang dulu berdiri di sampingnya adalah orang yang sama dengan yang kini berada di hadapannya. Dan karena suatu alasan, Kinar lebih memilih mereka adalah dua orang yang berbeda. Atau, semua ini mimpi yang akan hilang saat Kinar membuka mata.

Sayangnya, sebesar apapun harapan Kinar, kenyataan tetap tidak berubah. Emir tetaplah Emir. Lalu yang Kinar ketahui dengan jelas, orang ini seketika menjadi top three blacklistnya. Aturan nomor satu baginya adalah berada sejauh mungkin dari orang-orang dalam daftar itu. Sebisa mungkin tidak melakukan kontak apapun.

Sejak awal, Kinar tahu ini tidak akan mudah. And it’s gonna be much harder.

* * *

 

Menyingkir darinya seperti berusaha memisahkan kutub U dan S.

Emir menyesap teh manisnya perlahan. Di sampingnya, seorang pelayan sedang menyiapkan sarapan. Spaghetti. Pemuda itu tidak tahu harus merasa senang atau sedih dengan menu sarapannya pagi ini.

Dia mengangkat wajah saat mendengar suara langkah kaki. Terlihat ayahnya melangkah menuruni tangga, sebelah tangan menenteng tas kerjanya. Bram, yang meski telah cukup berumur—awal lima puluh tahun—tampak segar dalam balutan kemeja biru muda lengkap dengan dasi yang dipadu celana kain warna hitam.

“Selamat pagi, Emir,” sapa pria itu, meletakkan tasnya di atas salah satu kursi yang kosong. Seorang pelayan lain segera menuangkan teh untuknya.

Emir segera mengambil tempat di sebelah kanan ayahnya. “Pagi, Pa.”

Sementara para pelayan masih menyiapkan sarapan, Emir kembali menikmati tehnya. Meski begitu, matanya terus bergerak mengikuti pelayan yang menyendokkan spaghetti ke piring Bram dan piringnya sendiri. Pemandangan yang masih belum bisa membuatnya terbiasa meski sudah hampir satu bulan tinggal di rumah itu.

“Bagaimana sekolahnya?” Tanya Bram sambil meraih garpu.

Pertanyaan yang sama setiap harinya, namun masih terasa asing, seasing duduk di kursi dengan meja makan sepanjang meja ruang rapat di kantor Bram. Emir tidak tahu alasannya, tapi kebersamaannya dengan Bram akhir-akhir ini masih terasa aneh.

“Baik-baik aja,” jawab Emir singkat. Dia tidak punya banyak pilihan jawaban.

Bram mengangguk-angguk, kemudian menyuapkan spaghetti ke mulutnya.

“Oh ya, kata Pak Darno, kemarin kamu pulang sore.”

Emir mengangguk, namun menunda untuk menjawab karena mulutnya sedang sibuk mengunyah makanan. Setelah menelan makanannya, barulah dia menjawab. “Iya. Kemarin ada kegiatan klub.”

Mendengar putranya membicarakan soal klub, Bram mengangkat sebelah alisnya. Setahunya, Emir bukan termasuk anak yang aktif mengikuti kegiatan klub resmi sekolah. Dia tahu, putranya itu lebih suka berkumpul dengan teman-temannya untuk bermain futsal atau berjam-jam menghadapi game komputer.

Mungkin Emir sudah berubah. Lagipula, Emir yang duduk di sampingnya saat ini bukan lagi seorang anak kecil yang hobinya keluyuran sepulang sekolah hingga kulitnya gosong terbakar matahari.

Terkadang Bram merasa lucu juga jika membandingkan Emir dalam dua sosok yang berbeda. Dia ingat saat sepulangnya dari kantor, dia harus berputar-putar kompleks rumah demi mencari putranya yang terlalu asyik bermain sampai lupa waktu. Belum lagi menyuruh anak itu mandi, yang sama susahnya dengan memandikan kucing. Tapi pemuda di sebelahnya ini berbeda. Bram bahkan bisa mencium parfum beraroma maskulin yang disemprotkan Emir setiap selesai mandi.

Bram memang tidak perlu lagi memaksanya mandi, tapi dia malah jadi seperti tidak mengenal Emir yang sekarang.

“Kalau ada masalah, jangan segan-segan bilang ke Papa,” Bram berkata dengan nada serius.

Lagi-lagi Emir mengangguk.

Dia sebenarnya kurang yakin dengan kata-kata ayahnya, walaupun ekspresi di wajah pria itu tidak sedikit pun menunjukkan bahwa dia hanya main-main. Tapi Emir cukup mengenal ayahnya. Bram sangat sibuk, terlebih saat dia memutuskan untuk mendirikan perusahaannya sendiri.

Tapi mungkin ayahnya sudah berubah. Melihat kondisi rumah ini, lengkap dengan pelayan-pelayannya, Emir yakin perusahaan Bram dalam kondisi baik-baik saja. Dan siapa tahu itu membuat Bram punya lebih banyak waktu luang.

Bram sudah selesai dengan sarapannya. Dia meraih serbet dan mengelap bibirnya, menyingkirkan bekas minyak di sana. “Oh ya, Papa mau tanya satu hal sama kamu.”

Emir hanya mengerutkan dahi. Dia sedang sibuk meneguk air minum. Dalam hati dia bertanya-tanya, pertanyaan klise yang mana dari sekian pilihan dalam benaknya yang akan dilontarkan Bram.

“Kamu sudah betah, tinggal di sini?”

Kerongkongannya seperti tersumbat. Tidak ada pertanyaan seperti itu dalam benaknya, membuat Emir sedikit kesulitan menemukan jawaban. Dia sampai harus menghabiskan minumnya demi mendapat waktu tambahan untuk berpikir.

Cukup lama sampai akhirnya Emir meletakkan gelas dan menjawab.

“Lumayan, Pa.”

 

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

7

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s