Vice Versa: Antara Benci & Cinta 3

 

“Rangga!”

Sekelompok anak laki-laki yang terlihat sedang asyik membicarakan pertandingan sepak bola dini hari tadi di pojok ruang kelas XI IPA 2 otomatis menoleh ke arah suara. Rangga sendiri kini menatap Kinar dengan sebelah alis terangkat, tidak mengerti apa yang terjadi hingga pagi-pagi dia sudah diteriaki Kinar.

Kinar menarik sebuah kursi secara acak dan kemudian duduk di dekat Rangga. “Maksud lo apaan sih?” Tembaknya langsung, lengkap dengan wajah memberengut.

Rangga, yang masih tidak mengerti, melongo mendengar kata-kata Kinar. “Ha? Maksud gue yang mana?”

Bukannya menjawab, Kinar malah menyipitkan mata dengan penuh kekesalan. Rangga semakin bingung.

Setelah beberapa saat adu pandang—tatapan sengit Kinar dengan sorot mata bingung Rangga—akhirnya Kinar menghela napas. Lebih baik mengatakannya langsung.

“Kenapa lo keluar? Fokus karate? Sejak kapan lo gabung klub yang setahu gue isinya bukan orang yang hobinya cengar-cengir kayak lo?”

“Oh, itu.” Rangga mengangguk paham. Detik berikutnya dia tersadar, lalu memasang tampang datar. “Maksud lo bilang gue hobinya cengar-cengir apa?”

“Udah ah. Cepetan.” Kinar menolak mengganti topik.

Rangga menarik napas panjang sebelum bicara. “Kalau lo belum tahu, dan kayaknya emang lo beneran belum tahu, gue sejak tahun lalu ikut karate. Tahun ini, rencananya gue bakal ikut turnamen. Jadi, daripada gue tambah capek, jadi gue pilih keluar dari Fisika.”

Kinar tidak segera menyahut. Dinilai dari sisi manapun, jawaban Rangga terdengar masuk akal. Dan bagaimana nada Rangga saat membicarakannya, Kinar tahu pemuda itu memang menyukai kegiatannya. Jadi, jika Rangga keluar dengan alasan ingin melakukan hal yang benar-benar ingin dia lakukan, atas dasar apa Kinar boleh melarangnya?

Tanpa sadar Kinar menggigit bibir bawahnya. Mengingat siapa saja anggota klub Fisika saat ini, Kinar tahu-tahu bergidik. Pasti keadaannya akan lebih baik jika ada Rangga.

“Ngga, gue nggak punya teman kalau lo nggak ada …,” Kinar setengah merengek.

“Memangnya nggak ada adik kelas yang masuk?”

Kinar lebih dulu memberi Rangga sebuah pukulan ringan di lengan yang membuat pemuda itu meringis. “Adik kelas, lain lagi ceritanya lah, Ngga!”

Walaupun ada Dino, tetap saja pemuda itu adik kelas. Mengobrol dengan Dino soal kegiatan sekolah, atau angkatan, pasti tidak akan nyambung. Berbeda jika dengan Rangga. Terlebih lagi setelah mereka satu kelas sekarang.

“Tapi dengar-dengar, ada anak baru yang masuk. Anak kelas sebelas.” Kinar tahu, Rangga sedang membicarakan Emir. “Dia anak kelas sebelah, kan? Katanya baru masuk sekolah kita tahun ini.”

Yang satu ini, Kinar baru tahu.

Kinar tahu, Emir bukan anak kelas sepuluh jika mengingat Dino yang memanggil pemuda itu dengan sebutan ‘Mas’. Tapi soal Emir adalah anak baru di sekolah mereka, Kinar tidak tahu menahu. Dia bukan termasuk golongan murid yang update berita-berita terbaru seputar sekolah—kecuali hal-hal yang berhubungan dengan akademik. Lagipula dia juga tidak benar-benar tahu siapa saja teman-teman seangkatannya kecuali yang pernah sekelas dengannya atau yang dikenalnya lewat kegiatan-kegiatan lain. Yang benar saja, menghapal isi delapan kelas yang masing-masing beranggotakan setidaknya dua puluh lima orang. Lebih baik dia menggunakan ruang memorinya untuk menghapal pelajaran.

Kinar tersadar ketika tiba-tiba Rangga menyeletuk.

“Anak baru. Tapi kalau lo sering ketemu dia di klub, paling lama-lama juga kenal, kayak sama gue dulu.”

“Iya. Itu karena orangnya lo,” kata Kinar dengan nada menyindir.

Rangga hanya nyengir.

“Tapi itu kan berarti lo punya teman.”

Kinar sudah mengangkat tangannya yang terkepal, bermaksud memukul pemuda itu sekali lagi. Tapi kali ini Rangga terlebih dahulu menghindar.

Satu tahun mengenal Kinar, Rangga tahu gadis itu mempunya definisi yang berbeda mengenai ‘teman’. Bagi Kinar, ‘teman’ bukan sekadar seseorang yang bisa diajak mengobrol seru. Tetapi juga seseorang yang Kinar tahu benar takkan mengkhianatinya. Sayangnya, lagi-lagi definisi ‘mengkhianati’ bagi Kinar berbeda dengan definisi yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bagaimana tidak, ‘saingan’—sesportif apapun kompetisinya—di lubuk hatinya yang terdalam, Kinar tidak bisa menganggapnya teman. Dan jika mengingat kembali track record Rangga selama di klub, Rangga tahu Kinar menganggapnya teman baik. Kabar baiknya, Rangga sama sekali tidak tersinggung karena dia juga tidak punya niatan sedikit pun untuk bersaing dengan Kinar.

“Kenapa sih?” Tanya Rangga, tidak mengerti.

Kinar memejamkan mata dan menghela napas sebelum menjawab. “Jadi ya Rangga, dia itu … dapat … medali … emas … waktu … OSN SMP … bareng gue dulu …,” Kinar mengatakannya dengan ritme pelan, seperti ingin memberi penekanan pada setiap katanya.

“Oh.” Paham. Jadi si anak baru itu tidak mungkin jadi teman yang benar-benar bagi Kinar. Setidaknya dalam waktu dekat ini. Rangga mengangguk-angguk karena pemikirannya sendiri.

“By the way, lo kok tahu kalau Emir anak baru?” Malas memikirkan hal yang seolah sudah menjadi mimpi buruk di siang bolong itu, Kinar mengalihkan pembicaraan.

“Dengar-dengar aja sih.” Rangga mengedikkan bahu. “Dengar-dengar juga, dia pindahan dari Malang.”

“Malang?”

“Kata Iput sih,” Rangga menyebut nama kekasihnya yang satu kelas dengan Emir.

“Jadi kalian kalau kencan, isinya cuma gosip?” Kinar memasang ekspresi yang seolah mengatakan ‘please deh’.

“Ya nggak apa-apa lah. Dari pada lo, nggak pernah kencan,” balas Rangga, menjulur-kan lidah mengejek Kinar.

Gadis itu mengangkat sebelah tangannya, bersiap memukul Rangga. Namun belum sempat, bel tanda pelajaran dimulai berbunyi. Rangga buru-buru ngeloyor ke bangkunya sementara Kinar berdecak sebal.

 

* * *

Dalam seminggu ada jadwal dua hari untuk satu klub. Kinar membereskan barang-barangnya dengan malas. Wajahnya sudah ditekuk bahkan sejak dua jam pelajaran terakhir. Moodnya langsung terjun bebas begitu ingat dia harus mengikuti kegiatan klub lagi. Dan dia yakin seratus persen hari ini kegiatan yang sesungguhnya akan dimulai.

Kinar bisa saja tidak datang dan memilih langsung pulang. Namun melakukannya sama saja dengan memulai penderitaan yang lebih menyebalkan. Ibunya pasti akan menceramahi-nya panjang lebar mendapatinya membolos kegiatan klub. Mengatakan sedang tidak jadwal sebagai alasan tidak akan berguna karena ibunya hapal di luar kepala hari apa saja jadwal kegiatan klubnya.

Dia melangkah keluar kelas dengan langkah gontai. Arlojinya menunjukkan pukul dua kurang dua puluh menit. Kegiatan klub baru akan dimulai pukul setengah tiga. Kinar masih punya banyak waktu.

Untuk sejenak dia hanya berdiri diam di depan kelasnya. Ada beberapa tempat yang bisa dia tuju, untuk sekadar mengisi waktu. Langsung menuju ke laboratorium dan menjadi yang pertama tiba di ruang klubnya, itu otomatis dia coret dari daftarnya. Dia bisa ke perpustakaan, berharap menemukan novel seru untuk bacaan. Tapi jika ingat perpustakaan yang terletak di lantai tiga, dia buru-buru mencoret kemungkinan itu. Mungkin sebaiknya dia duduk di ayunan di taman. Namun gerimis yang sempat turun tadi tentunya membuat ayunan basah. Kinar tidak ingin roknya basah dan jadi tidak nyaman.

Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke UKS. Sudah beberapa minggu terakhir ini dia tidak mengecek berat badannya. Berharap saja timbangannya turun drastis sehingga dia punya alasan untuk banyak makan snack. Selain itu, UKS sekolahnya dijaga oleh seorang suster yang seru untuk teman mengobrol.

UKS bisa dibilang menjadi tempat paling nyaman yang ada di lingkungan sekolah. Di saat udara sedang panas-panasnya, pendingin di sana membuat ruangan menjadi sejuk. Atau jika sedang hujan deras dan hawa dingin, UKS bisa menjadi tempat berlindung yang cukup hangat. Ada sofa panjang dan tentunya ranjang, yang biasanya ditempati Rangga jika dia sedang menunggu jam kegiatan klub.

Kinar mendorong pintu UKS dan melangkah masuk. Sepi. Dia mendongak. Pendingin-nya menyala, meski dengan suhu normal karena udara tidak terlalu panas di luar. Mungkin suster penjaga sedang ke toilet.

Kinar melepas ransel dan meletakkannya di lantai. Dia membanting tubuh di atas sofa panjang sambil menghela napas panjang. Tanpa dia sadari, tubuhnya sangat lelah. Tenaganya terkuras saat pelajaran musik tadi. Meniup rekorder selama dua jam pelajaran kali empat puluh menit bisa jadi sangat melelahkan.

Dia baru akan memejamkan mata ketika tanpa sengaja matanya melihat sepasang sepatu di samping ranjang. Kinar tidak sendirian. Dia mengerutkan dahi. Jika ada yang sakit, seharusnya sudah diangkut pulang karena pelajaran berakhir sejak tadi. Kemungkinannya hanya anak yang sekadar beristirahat sebelum kegiatan klub. Bukan Rangga. Kinar kenal sepatu Rangga dan cukup yakin pemuda itu belum menggantinya dengan yang lain karena pagi ini dia melihat Rangga masih mengenakan sepatu yang sama.

Penasaran, Kinar bangkit dari sofa. Dia berjalan perlahan mendekati ranjang yang ditutupi tirai warna pastel.

Kinar sedikit menyingkap tirai untuk mengintip, namun segera melepasnya ketika matanya bertatapan dengan sepasang mata milik pemuda yang berbaring di atas ranjang.

Dia tahu sepatu siapa itu.

 

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s