Vice Versa: Antara Benci & Cinta 4

Emir tahu dirinya menahan napas saat mereka bertatapan. Namun, siapa pun yang menying-kap tirai tadi, setidaknya bukan kemungkinan terburuk yang sempat muncul dalam kepalanya. Karenanya dia menghela napas lega.

Mendapati dirinya tidak sendirian, Emir mendudukkan dirinya. Dia tidak merasa nyaman untuk berbaring sekarang. Kemudian dia membuka tirai hingga kini dia bisa dengan jelas melihat siapa yang bersamanya di UKS.

Kinar sendiri kini sudah duduk kembali di sofa. Punggungnya disandarkan pada sandaran sofa sementara matanya terpejam. Dia butuh waktu sejenak untuk mengembalikan ritme detak jantungnya. Dia sendiri tak tahu mengapa tadi dia mengendap-endap, yang berakhir dengan membuatnya terkejut mendapati Emir di balik tirai.

Emir menarik sebelah earphone yang menyumpal telinganya. “Kamu sakit?”

Mungkin ini akan menjadi percakapan ‘betulan’ mereka yang pertama. Namun, merasa tidak yakin, Kinar balik bertanya.

“Kamu ngomong sama aku?”

Emir memutar bola mata. Ternyata adegan ‘memandang dengan sorot seperti melihat alien’ kemarin hanya permulaan. “Memangnya ada orang lain selain aku dan kamu?”

Dilihatnya Kinar ber-oh tanpa suara. “Nggak sakit apa-apa.”

Sunyi. Sampai akhirnya Kinar memutuskan untuk balik bertanya.

“Kamu sendiri, sakit apa?”

Emir menggeleng. “Nggak sakit apa-apa.” Kemudian dia menambahkan, “Cuma cari tempat tidur sambil menunggu.”

“Oh,” hanya itu yang dikatakan Kinar. Memangnya mau bilang apa lagi?

Sunyi lagi. Kinar mengutuk dalam hati. Dia datang ke UKS untuk sekadar menghabis-kan waktu, dengan atau tanpa suster yang menjaga. Dan apa yang didapatnya sungguh di luar dugaan. Dia malah terjebak dengan anak baru yang membuat rekor dengan menjadi tiga besar daftar hitam Kinar sejak pertama kali kenal. Lebih baik dia sendiri.

Sendiri, atau dengan siapa pun selain Emir.

Lima menit. Kinar merasa dirinya akan meledak jika berada di sana lebih lama lagi. Dengan satu gerakan dia meraih ranselnya.

“Aku … duluan,” ujarnya, kemudian segera membuka pintu dan berlalu sebelum Emir sempat mengucapkan sepatah kata pun.

 

* * *

Hari ini Dino tidak datang. Kata Rara yang sempat ditemuinya tadi, anak itu izin karena mendadak ada acara kelas yang mengharuskannya datang apapun yang terjadi. Klub jadi terasa begitu sepi karena dua senior lain pun tidak datang.

Kinar duduk di tempatnya yang kemarin. Dia mengeluarkan buku catatan dan alat tulisnya. Dengan tenang dia menunggu Rara yang sedang membuka buku teks, memilih-milih materi untuk membuka kegiatan klub secara resmi.

“Hm, aku tulis silabus kita dulu aja ya. Ini apa aja yang harus kalian pelajari. Aku bakal bantu sebisaku, mungkin sampai sebelum aku sibuk sama UN.” Rara mulai menulis beberapa judul materi, lengkap dengan submateri yang ada di dalamnya.

Untuk SMA ini, Kinar hanya perlu berputar-putar dengan materi mekanika—dan sedikit electricity. Gerak lurus, gerak dua dan tiga dimensi, gaya, usaha dan energi, momentum, gravitasi, osilasi. Materinya tidak jauh berbeda dengan mekanika zaman SMP dulu. Tapi jangan bandingkan seberapa jauh tingkat kesulitannya melejit, antara SMP dan SMA. Meski tidak sejauh jarak permukaan bumi ke eksosfer, tapi setidaknya seperti bumi-stratosfer. Miris mengakuinya, tapi Kinar tahu jago mengerjakan soal SMP bukan jaminan bisa mengerjakan soal SMA.

“Kalian perlu mengulang dari turunan, nggak?” Tanya Rara setelah selesai menulis silabus.

Kinar menatap seniornya itu sejenak sebelum menggeleng. Turunan adalah materi pertama yang dipelajarinya di klub tahun lalu, bersama dengan pasangannya si integral. Dua konsep matematika itu sering digunakan—setelah tambah-kurang, kali-bagi, dan akar-pangkat. Bagaimana bisa Kinar lupa.

Seperti baru teringat sesuatu, dia menoleh ke arah Emir yang duduk di baris kedua. Anak itu baru pindah dan Kinar tidak tahu sudah sampai sejauh mana dia belajar. Kinar tidak boleh egois dengan memutuskan sendiri.

Tapi jika mengingat buku-buku yang dibawa Emir kemarin, Kinar yakin jawabannya ‘tidak’. Dalam hati, dia bersyukur tadi dia segera menyingkir dari UKS.

“Nggak usah, Kak,” sadar Rara dan Kinar menunggu responnya, Emir menjawab.

“Ya udah, kita latihan soal aja.”

Untuk satu setengah jam berikutnya, hampir tidak ada yang bicara. Hanya sesekali Rara yang menjelaskan soal sebelum dikerjakan atau meminta salah satu dari Kinar dan Emir untuk mengerjakan di papan tulis untuk kemudian dibahas bersama.

“Kinar.”

Kinar yang baru selesai mengerjakan satu soal di papan tulis tersentak mendengar namanya dipanggil. Dia urung melangkah ke bangkunya dan berhenti sambil menghadap Emir. Sungguh, orang itu membuatnya merasa tidak nyaman. Kak Ra lama banget sih ke kamar mandinya. “Apa?”

“Bukannya yang itu,” Emir menunjuk ke arah papan tulis dengan ujung pulpennya, “Seharusnya seperti ini?”

Ini baru hari pertama kegiatan klub resmi dimulai dan dia sudah diprotes. Sejak awal tahu siapa Emir, Kinar langsung melabelinya sebagai ‘saingan’. Diprotes oleh ‘saingan’ tentu menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Tanpa Emir ketahui, Kinar mengerang pelan. Rara yang meraih medali emas tahun lalu sudah cukup membuatnya merasa terbebani. Tidak perlu lagi seseorang berlabel ‘saingan’ untuk menambah bebannya.

Kinar harus jauh-jauh dari Emir jika tidak ingin kehilangan akal sehatnya karena stres.

Terlepas dari segala konflik dalam dirinya, Kinar mengerutkan dahi. Dengan jarak lebih dari tiga meter, dia tidak tahu benar bagian mana yang ditunjuk Emir. “Yang mana?”

“Yang itu. Yang  2x kali dx per dt, dan seterusnya.”

“Oh.” Kinar meneliti pekerjaannya sekali lagi, mencari kesalahan yang dimaksud Emir. “Oh, iya,” ujarnya kemudian, lantas kembali ke papan tulis untuk membetulkannya.

“Terus ….” Emir membaca catatannya sendiri. Kinar melangkah kembali ke bangkunya, meski pandangannya sesekali tertuju pada Emir, menunggu apa yang akan dikatakan pemuda itu. “Aku ada cara yang lebih simple sih.”

“Gimana?”

“Setelah persamaan satu di punyamu itu, gunakan—“

“Lihat,” Kinar memotong kata-kata pemuda itu. Dia bukan pendengar yang baik soal mendengarkan seseorang mendikte rentetan variabel. Lebih baik dia melihatnya sendiri.

Emir mengulurkan buku catatannya. Sambil menunggu, dia memperhatikan Kinar yang tengah mencermati halaman buku catatannya sambil sesekali mengerutkan dahi.

Dua hari ini hanya ekspresi datar yang ditunjukkan Kinar padanya. Bukan berarti Emir tidak pernah melihatnya tersenyum atau bagaimana. Gadis itu tampak cukup ceria saat sedang mengobrol dengan Dino. Dia tersenyum mendengar cerita Dino, bahkan tertawa mendengar betapa garing lelucon junior itu.

Baginya, semua itu membingungkan. Lebih membingungkan daripada Kinar memberi semua orang ekspresi datar.

“Oh, iya.” Emir segera mengalihkan perhatian ke bukunya ketika tiba-tiba Kinar meng-angkat wajah. “Bisa sih, pakai caramu. Tapi aku lebih suka cara yang runtut. Supaya nggak susah jika ada kesalahan nantinya,” ujar Kinar sambil mengulurkan buku Emir.

Emir mengangguk-angguk sementara sebelah tangannya menerima kembali bukunya. Kinar sudah kembali menghadap depan, tampak sedang meneliti buku catatannya.

Bosan, Emir diam-diam memandangi Kinar. Belum lama, dia tersadar oleh satu pemikiran yang muncul dalam benaknya.

Kinar menelitinya sebelum memutuskan untuk menyapanya.

Meneliti mungkin bukan kata yang tepat. Tapi kata itu cukup untuk mendeskripsikan apa yang sedang dilakukannya sekarang, dengan memperhatikan gadis itu dari tempatnya.

Emir nyaris kehilangan keseimbangan, kaget ketika tahu-tahu Rara membuka pintu.

“Udah selesai?”

Kinar mengangguk sekilas.

Untuk sejenak Rara meneliti pekerjaan Kinar di papan tulis, mencocokkannya dengan yang ada di kertasnya sendiri. Tidak lama sampai akhirnya dia berkata, “Benar.”

Kinar menghela napas lega. Rasanya seperti mendengar keputusan hakim bahwa dia tidak bersalah. Namun, meski begitu, ada perasaan kesal dalam dirinya. Kinar kesal pada dirinya. Jawaban itu benar setelah Emir memberitahunya bagian yang salah.

Kinar merasa dikalahkan. Jujur saja, dia tidak terima.

Rara menatap arlojinya, kemudian serta merta dia menyeletuk. “Eh, pulang yuk!”

Kinar segera melihat arlojinya sendiri sementara Emir memilih mengecek lewat jam dinding di dinding bagian belakang laboratorium. Jam empat hanya tinggal beberapa detik lagi. Berpusing-pusing ria dengan beberapa soal rupanya membuat waktu berjalan begitu cepat. Mereka berdua segera mengemasi barang masing-masing.

“Oh ya!” Kinar dan Emir sama-sama menghentikan gerakan mereka saat mendengar Rara. Senior itu kemudian mengeluarkan selembar kertas dari tasnya. “Tadi aku dapat dari guru pembina,” katanya sambil mengulurkan kertas itu pada Kinar.

Emir mendekati Kinar yang tengah membuka lipatan kertas itu. Lebih tinggi dari Kinar, pemuda itu tidak mengalami kesulitan untuk membacanya lewat bahu Kinar. Rupanya itu adalah sebuah poster lomba.

“Satu kelompok dua orang.”

Kinar menelusuri tulisan yang tercetak pada poster itu. Seperti yang dikatakan Rara, salah satu syarat pesertanya adalah satu kelompok berisi dua orang.

“Masih lama sih, sekitar sebulan lagi. Kalian bisa ikut,” kata Rara. “Berdua.”

Kinar baru akan menoleh untuk menatap Emir ketika dia melihat sesosok manusia berkemeja putih dengan lambang OSIS SMA berdiri tepat di belakangnya. Tanpa sadar dia menahan napas. Kinar mendongak. Jantungnya seperti berhenti saat mendapati wajah Emir hanya berjarak tiga puluh senti dari wajahnya.

Spontan Kinar melangkah mundur dan tanpa sengaja membuat kursinya terguling.

 

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s