Vice Versa: Antara Benci & Cinta 5

 

Walau bukan Remigius Aditiya, aku punya seseorang yang tidak jauh berbeda darinya.

Kinar mengetuk kepalanya sendiri dengan ujung pensil di tangannya.

         Apa yang dipikirkannya tadi, sampai-sampai bertingkah begitu bodoh? Dia hanya kaget mendapati Emir begitu dekat dengannya. Dia tidak suka. Sekali lagi Kinar tekankan, dia harus jauh-jauh dari Emir. Sayangnya, ketika dia ingin menjauh, kursi sial itu berada tepat di belakangnya sehingga terguling oleh gerakan tiba-tibanya.

         Entah mengapa hari ini dia sial sekali. Pelajaran hari ini sebagian besar tidak membuat-nya bersemangat—diawali dengan pelajaran bahasa asing, extra subject di sekolahnya, yang  membuatnya mengantuk dan diakhiri dengan pelajaran PKn yang memang sepertinya tidak pernah sinergis dengan Kinar. Begitu ingin beristirahat di UKS, ternyata tempat itu sudah lebih dulu ditempati Emir. Dia terpaksa menyingkir ke kantin yang sudah tutup. Dan kejadian di klub tadi, Kinar bertanya-tanya apakah harinya bisa lebih buruk dari ini.

         Kinar sedang asyik mengulik sebuah soal—PR Matematika—ketika perhatiannya teralih oleh ponsel yang berbunyi. Kinar meraihnya. Sebuah pesan. Dan melihat nama pengirimnya, otomatis sebuah senyuman terkembang di bibirnya.

         Kinar membuka pesan di ponselnya, masih dengan senyuman di bibirnya.

From : BimBim

Hai J

 

Namanya Bimajaya, tapi semua orang memanggilnya Bim Bim. Cenderung terdengar lucu, karena itu nama panggilannya sejak kecil. Tapi jangan bayangkan Bim Bim sebagai seorang pemuda dengan baby face, rambut yang sedikit panjang, dan kulit putih mulus. Well, kulitnya memang putih. Namun, alih-alih baby face, Bim Bim punya wajah oval bergaris tegas dengan bibir berlekuk pas. Hidungnya mancung, dengan tulang hidung yang samar-samar mencuat pada pangkalnya. Sorot matanya tajam, yang setiap saat dapat berubah lembut dan membuat Kinar seperti meleleh.

Gadis itu menekan-nekan ponsel layar sentuhnya, membalas pesan. Kemudian dia menekan icon send.

Di kamarnya, Bim Bim melompat menghampiri meja belajar begitu mendengar ponselnya berbunyi. Sambil membuka kunci ponselnya, dalam hati berharap pesan yang masuk bukanlah dari operator. Di saat-saat tertentu, operator bisa jadi sangat menyebalkan dengan pesan-pesan berisi promo. Namun kali ini dia mendesah lega begitu mendapati siapa yang mengiriminya pesan.

 

From : Kinar

Hai juga,

 

Sangat Kinar. Singkat, tanpa embel-embel emoticon. Tetapi pesan berisi dua kata itu mampu membuat Bim Bim tersenyum dengan kehangatan yang mendadak menyebar ke sekujur tubuhnya.

Bim Bim tidak ingat kapan tepatnya dia mulai tertarik pada Kinar. Setelah MOS tahun lalu, entah bagaimana, tidak bertemu dengan Kinar menjadi sesuatu yang aneh baginya. Jam istirahat menjadi saat-saat yang ditunggunya, karena dia ingin cepat-cepat keluar kelas sehingga bisa memandangi kelas Kinar di lantai satu, siapa tahu gadis itu akan keluar. Hanya melihatnya keluar kelas—mungkin akan ke kantin—sambil mengikat rambut mampu membuat Bim Bim tak berhenti tersenyum.

Sebagian besar temannya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dia lihat pada Kinar. Jika dibandingkan dengan beberapa teman perempuannya, Kinar kalah cantik, kalah imut, atau apalah itu. Wajahnya biasa saja, namun bisa terlihat sangat manis saat dia tersenyum. Tingginya rata-rata, dengan postur rata-rata pula—tidak kurus, tidak juga gendut. Namun di antara semua ke-biasa-biasa-saja-annya itulah yang membuat Kinar semakin mencolok di mata Bim Bim.

Ada sesuatu yang membuat gadis itu begitu bersinar. Bahkan Bim Bim sendiri tidak tahu. Yang dia tahu, dia menyukai gadis itu.

 

* * *

“Bim, lo aja deh, yang kasih hukuman.”

Hari itu adalah hari terakhir MOS. Menurut jadwal yang sudah disusun, kegiatannya adalah berkeliling untuk meminta tanda tangan beberapa orang di lingkungan sekolah. Bisa senior, guru, petugas administrasi, atau bahkan cleaning service. Kali itu tugasnya individu dan setiap anak baru diberi daftar yang berbeda-beda.

Mencari orang yang harus dimintai tanda tangan bukanlah hal yang sulit. Yang sulit adalah mendapatkan tanda tangan itu sendiri. Biasanya sebelum bisa mendapat tanda tangan, anak-anak baru itu diberi tugas terlebih dahulu. Tugasnya terserah, bisa apa saja. Mulai dari yang serius seperti menyanyikan mars SMA Maritim sampai yang paling tidak masuk akal seperti mencarikan semut betina. Namun di antara semua tugas yang terpikirkan oleh orang-orang itu, ide tugas paling konyol dan menyebalkan datangnya dari para senior. Kinar curiga, mereka melibatkan dendam lama dari event yang sama.

Cerita dari seorang tetangganya yang alumni SMA Maritim, Kinar tahu kegiatan ‘berburu’ tanda tangan sudah seperti tradisi. Dan dari cerita saja, Kinar sudah tahu betapa menyebalkannya hal itu.

Secara general, Kinar benci MOS. Meski event itu hanya terjadi dua kali sepanjang hidupnya—atau tiga jika ditambah dengan OSPEK masa kuliah nanti—dia seperti mempunyai dendam kesumat pada MOS dan event lain semacamnya. Di matanya, MOS tak ubahnya suatu ajang di mana para senior membully anak-anak baru secara legal, dengan izin sekolah. Zaman sudah banyak berubah sehingga MOS tidak terlalu kejam saat ini. Bullying secara fisik memang telah dihapuskan, tapi secara mental tidak. Dan sepertinya tidak ada pihak yang menyadari hal itu.

Kinar tidak tahu, dia harus merasa sial atau beruntung kali ini. Tadi dia sempat mencibir—bagian dari caranya meluapkan kekesalan—yang sialnya tanpa sengaja didengar oleh salah satu senior. Dan sialnya lagi, senior yang mendengar itu bisa dibilang yang paling ganas. Jika memandang, matanya sering menyipit, tampangnya sengit, dan bicaranya nyelekit. Tanpa basa-basi, Kinar ditarik keluar barisan dan serta merta dinyatakan akan diberi hukuman. Hukumannya apa, sampai saat ini Kinar masih belum tahu. Tapi terlepas dari kenyataan dia akan menerima hukuman, dia terbebas dari kewajiban ‘berburu’ tanda tangan.

Kegiatan dimulai. Sekarang teman-temannya sedang membagikan lembar yang harus ditandatangani. Bim Bim menghela napas. Alih-alih ikut bersenang-senang dengan menyaksikan adik-adik kelasnya dikerjai, dia harus berhadapan dengan seorang gadis yang kini duduk santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Bim Bim tahu siapa dia. Namanya Kinar. Ketua kelompok Kaki Seribu, kelompok yang menjadi tanggung jawabnya. Namun melihat Kinar yang saat ini menjadi satu-satunya yang akan dihukum, Bim Bim tidak mengerti bagaimana bisa anak itu terpilih menjadi ketua kelompok.

“Berdiri!” Bim Bim seperti membentak.

Kinar dengan patuh berdiri, menghadap penanggung jawab kelompoknya.

Bim Bim tidak segera melanjutkan. Sebagai gantinya, dia menatap Kinar dari ujung kepala hingga ujung kaki, sementara otaknya memikirkan hukuman yang pas. Jujur saja, urusan hukum-menghukum seperti ini bukan keahliannya. Tapi jika ingin meminta yang lain menggantikan, sepertinya sudah tidak ada orang.

Selama lima hari ini, bisa dibilang Kinar adalah orang yang paling diperhatikan Bim Bim. Bukan karena dia cantik, imut, atau semacamnya. Yah, gadis itu punya wajah oval dibingkai rambut lurus-sedikit-bergelombang yang menggantung hingga sekitar sepuluh senti dari bahunya. Meski tidak gendut, pipinya agak tembam. Hidung mancungnya sangat serasi dengan sepasang bibir mungil berlekuk manis itu. Tapi di antara semua fitur wajahnya, yang paling memberi kesan adalah sepasang mata yang selalu tampak berbinar itu. Kulitnya sewarna kopi susu, dengan tambahan madu yang memberi kesan kekuningan. Kinar mungil, Bim Bim menaksir paling tingginya tidak lebih dari seratus lima puluh lima senti. Namun tetap saja, Kinar tidak lebih cantik dibandingkan beberapa temannya. Jadi Bim Bim sebenarnya tidak punya alasan untuk memberinya perhatian lebih. Tapi jika melihat tingkah-nya yang cukup sering membuat para senior naik pitam, Bim Bim jadi kecipratan tanggung jawab untuk menasihatinya sekaligus menenangkan teman-temannya.

Bim Bim mengalihkan pandangan ke sekitarnya, mencari ide untuk hukuman Kinar. Dia tidak melihat manfaat dari menghukum Kinar dengan mengerjainya. Kemudian matanya tertumbuk pada setumpuk piring dan gelas yang rencananya akan digunakan dalam acara penutupan nanti malam. Semuanya baru keluar dari gudang. Dan tentunya, kotor.

“Sebagai akibat dari perbuatan lo, gue kasih tugas lo buat bantuin gue cuci piring.”

Walaupun bersyukur tidak harus melakukan hal-hal konyol, Kinar menatap seniornya dengan tatapan bingung. “Serius, Kak? Cuci piring?” Dikiranya gue pembantu rumah dia apa, tambahnya dalam hati. Melihat tumpukan piring yang jumlahnya tidak kurang dari dua ratus lima puluh biji membuat Kinar menelan ludah.

“Iya, gue ditugasi cuci piring buat acara penutupan. Dan berhubung hukumannya terserah gue, sekarang gue bilang lo harus bantuin gue.”

Kinar terdiam sementara dia memilin-milin ujung kain bertuliskan namanya yang dikenakan seperti nomor pelari maraton. Tak lama kemudian, dia melangkah mengikuti Bim Bim yang sudah lebih dulu menghampiri piring-piring itu.

 

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s