VICE VERSA: ANTARA BENCI & CINTA PART 6

 

Mencuci piring sebanyak itu sungguh menguras tenaga. Terlebih lagi yang memiliki noda membandel akibat didiamkan terlalu lama di gudang. Bim Bim bersyukur menemukan cara terbaik untuk menghukum Kinar.

Mereka mencuci di sumur yang berada di halaman belakang. Dan setelah sepuluh menit bekerja dalam diam, Bim Bim memutuskan mengajak bicara.

“Gue tau nggak sedikit junior yang benci ikut MOS, tapi nggak ada yang seekstrem lo kayaknya,” kata Bim Bim sambil menimba air.

Kinar yang sedang menggosok piring menggunakan spons menyahuti tanpa mengalihkan pandangan. “Gue nggak suka aja kalau disuruh ngelakuin hal-hal konyol. Maaf aja kalau cara gue ekstrem.”

Lima hari, dan itu cukup bagi Bim Bim untuk mengetahui beberapa sifat gadis itu. Kinar yang sungguh-sungguh menjaga imagenya, yang hanya difoto dalam pose ala Cherrybelle sudah membuatnya ingin melempar sepatu pada siapa pun itu yang memotret. Dan karena temperamennya itulah Bim Bim—meski merasa keberatan—harus lebih memperhatikannya, terlebih jika Kinar sudah menunjukkan tanda-tanda akan melepas sepatu dan melayangkannya entah ke kepala siapa.

“Gue bisa lihat dari tampang lo, setiap ada teman gue yang kasih tugas konyol. Dan itulah kenapa gue nggak nyuruh lo ngelakuin hal-hal aneh.”

Gerakannya menggosok seketika terhenti. Kinar mendongak, menatap Bim Bim yang kini tersenyum sambil melanjutkan kegiatannya menimba air. Jarak usia mereka berdua paling hanya dua tahun, tapi saat ini Kinar seperti melihat sosok Remigius Aditiya pujaannya dalam diri Bim Bim, yang selalu dibayangkannya lebih tua delapan tahun darinya seperti perbedaan usia Remi-Kugy dalam novel Perahu Kertas.

Entah sengaja atau tidak, Bim Bim berdeham. Kinar kembali menggosok piring-piring di hadapannya.

“Yah, setidaknya gue menemukan cara yang lebih baik buat manfaatin lo,” kata pemuda itu, nyengir.

“Makasih, lho!” balas Kinar, sarkastis.

Bim Bim terkekeh.

 

* * *

Sampai sekarang, terkadang Kinar masih bertanya-tanya. Seperti kata anak-anak perempuan di sekolahnya, Bim Bim bagaikan Prince Charming—atau jika mau versi Indonesia, ‘Arjuna yang namanya Bima’. Dan baginya, Prince Charming hanya ada dalam novel-novel remaja yang sering dibacanya. Terlebih lagi, kenyataan bahwa Prince Charming itu menunjukkan tanda-tanda—aneh—yang bisa diartikan sebagai ‘suka’ kepadanya yang biasa-biasa saja. Itu benar-benar hanya terjadi dalam novel.

Kinar sendiri tidak menganggap Bim Bim serius mendekatinya. Dia cukup sadar diri, karena bahkan orang buta pun tahu dirinya tidak lebih cantik dari gadis-gadis yang mengincar Bim Bim. Dan bukannya tidak tahu, Kinar hanya tidak peduli dengan bagaimana orang-orang mengatakannya tidak cukup pantas untuk Bim Bim. Kinar hanya pernah berpikir, mungkin cukup menyenangkan memiliki seorang Bim Bim sebagai kekasih, tanpa benar-benar pernah mengharapkannya.

Kinar adalah seseorang yang sangat berhati-hati jika berurusan dengan perasaan. Mendapati Bim Bim begitu baik dengan sering menawarinya pulang bersama—yang lagi-lagi menurutnya hanya ada dalam novel—tidak lantas membuatnya berpikir pemuda itu menyukainya. Baginya, semua perhatian Bim Bim itu adalah efek samping dari peristiwa selama MOS sebelumnya.

Pemikirannya tidak berubah bahkan saat Bim Bim—setelah bersusah payah mengum-pulkan keberanian—meminta nomor ponselnya. Juga ajakan-ajakan nonton bersama yang mengiringinya.

Sampai tiba suatu hari di mana Bim Bim akhirnya menyatakan perasaannya pada Kinar. Awalnya pernyataan itu hanya ditanggapi dengan datar oleh Kinar, seolah-olah dia tidak percaya dengan pendengarannya. Namun mendapati wajah serius Bim Bim, saat itulah dia tahu semuanya bukan hanya dalam novel. Dan Kinar mempercayainya.

Kinar yang kini sudah beralih membaca buku pelajaran Sejarah segera meraih ponsel saat benda itu bergetar lama. “Halo ….”

“Hai, Kinar.”

“Hai, Kak.”

“Lagi belajar?”

“Baca-baca doang sih. PR-nya udah kelar semua.”

“Wuih, keren.”

“Apaan sih, biasa aja.”

Tanpa sepengetahuan Kinar, Bim Bim tersenyum. Begitulah mereka. Tidak ada sebutan ‘sayang’, ‘dear’, atau semacamnya. Mereka tidak memerlukan itu. Mereka berdua sama-sama tahu perasaan mereka tidak bertepuk sebelah tangan. Dan obrolan ringan semacam itu sudah cukup untuk membuat keduanya merasa dekat.

“Kamu hari Sabtu ini, ada kegiatan?”

Kinar memutar kursinya menghadap papan tulis kecil di mana dia biasa menulis daftar kegiatannya. “Sejauh ini sih, nggak ada.”

“Nonton yuk. Ada film bagus tayang di bioskop.”

Soal kegemaran menonton film, Kinar sama dengan Bim Bim. Keduanya menyukai film-film fantasi, meski Bim Bim cenderung menyukai yang banyak action sementara Kinar lebih fokus pada jalan ceritanya. Namun mereka berdua sama-sama tidak bisa menampik daya tarik film animasi yang sedang booming.

“Tunggu. Kakak sekarang di mana sih?”

Setelah menyelesaikan masa SMA, Bim Bim memutuskan untuk melanjutkan studinya di salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Dia hanya mengambil libur beberapa hari setelah ujian nasional sebelum kembali sibuk belajar demi menghadapi SBMPTN. Selain itu dia juga mengikuti sederet ujian internasional seperti SAT dan TOEFL. Bim Bim memang tidak main-main. Dia selalu menjawab bahwa dia tidak sepintar Kinar dan harus rajin belajar jika ditanya mengapa dia jadi jarang  mampir ke rumah Kinar. Dan saat ini, meski pengumuman ujian sudah keluar, dia masih harus mengurus segala keperluannya masuk universitas.

“Aku di Semarang. Ada beberapa barang yang harus aku ambil.” Beberapa mungkin bukan kata yang tepat. Awal bulan depan, setidaknya dua koper akan dia bawa ke Bandung.

“Oh.” Hanya itu respon Kinar, setiap kali dia tidak tahu harus mengatakan apa.

“Jadi?”

“Nggak mengganggu persiapan Kakak?” Kinar balik bertanya. “Semuanya udah siap? Atau masih ada yang belum kelar?”

Tahu-tahu Bim Bim mendesah. Terkadang meyakinkan Kinar bahwa semuanya akan baik-baik saja bisa menjadi hal yang sangat sulit dilakukan. Gadis itu, entah kenapa, terlalu banyak berpikir sehingga membuatnya mudah khawatir. Menyenangkan, mengetahui Kinar mengkhawatirkan dirinya. Tapi dia sesekali ingin melihat Kinar lepas dari semua kekhawatirannya.

“Ada,” jawab Bim Bim akhirnya.

“Mending Kakak selesaikan urusan itu dulu, baru nan—“

“Urusanku yang belum selesai adalah ketemu kamu,” potong Bim Bim.

Sunyi. Kata-kata Bim Bim barusan membuat Kinar membisu.

Kini Kinar dengan jelas mendengar pemuda itu menghela napas. Perlahan tapi pasti, perasaan bersalah menelusup ke dalam dirinya. Bim Bim pasti tidak suka diceramahi, terlebih lagi oleh anak kecil sepertinya.

Mengambil barangnya yang tertinggal mungkin memang jadi prioritas nomor satu dalam kepulangannya kali ini. Tapi hal terpenting kedua yang membuatnya semakin ingin pulang adalah rencananya meluangkan waktu bersama Kinar, setelah sekian lama dia sibuk dengan segala urusan universitas. Kinar ingin semuanya beres dan baik-baik saja, namun tanpa disadarinya segala kekhawatirannya justru malah akan mengubah menjadi sebaliknya, jika agenda Bim Bim yang satu itu tidak terlaksana.

“Maaf,” Kinar berkata pelan, nyaris berbisik.

“Nggak apa-apa. Thanks udah memperhatikanku. Tapi tolong, jangan pernah mengang-gap kamu nggak penting buatku.” Bim Bim tidak mendengar tanda-tanda Kinar akan bicara, jadi dia melanjutkan. “Ya udah. Kamu lanjutin belajar aja. Aku mau cek lagi nggak ada yang kelupaan, kalau itu jadi syarat sebelum aku bisa ketemu kamu.”

 

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

5Hawa Share Friends

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s