Vice Versa: Antara Benci & Cinta 7

Kamu bisa jadi orang paling ambisius yang pernah kutemui.

Lomba tinggal beberapa hari lagi. Sejak memutuskan untuk ikut—yang mana sekitar tiga minggu lalu—Kinar dan Emir sibuk mempersiapkan diri. Mereka memperbanyak latihan soal. Dan bahkan akhir-akhir ini mereka merencanakan kegiatan belajar bersama sepulang sekolah meski sedang tidak ada jadwal kegiatan klub—awalnya Kinar keberatan dengan rencana ini, tapi akhirnya dia setuju karena toh, Emir jadi teman satu kelompoknya.

Kinar melangkah cepat sepanjang koridor lantai satu. Tadi, saat jam istirahat terakhir, Emir menghampirinya di kelas untuk memberitahu ruangan kosong yang bisa mereka gunakan. Mereka beruntung, ada satu ruangan kosong di lantai satu.

Ruang yang akan mereka pakai berada nyaris di ujung koridor, tepat di samping ruang musik. Kinar tanpa sadar memperlambat langkah dan menatap anak-anak anggota klub musik yang berkumpul di depan ruang musik, tampaknya masih menunggu kedatangan pelatih. Beberapa di antara mereka ada yang asyik memainkan alat musik, bermain basket sebentar, atau sekadar mengobrol dengan yang lain.

Kinar tersenyum miris.

Bukan Kinar yang ingin bersekolah di sekolah elite ini. Sejak awal dia hanya ingin melanjutkan ke sekolah negeri, salah satu yang terfavorit di kotanya. Setelah menyelesaikan pendidikan di sebuah SMP berasrama, keinginannya hanyalah memiliki masa SMA yang normal, yang diisi dengan melakukan hal-hal yang dia suka.

Sebagai peraih medali di ajang nasional, tawaran beasiswa berdatangan kepadanya. Salah satunya dari SMA Maritim. Orang tuanyalah yang membuat Kinar akhirnya terdampar di SMA Maritim.

Bunda dan ayahnya tidak pernah secara terang-terangan menyuruhnya masuk ke sana. Hanya kata-kata yang secara implisit menunjukkan masuk-ke-sana-apapun-yang-terjadi.

“Kan kamu tahu, SMA Maritim itu memiliki kualitas pendidikan yang bagus. Sayang juga, beasiswa dari sekolah seelite itu. Dan di sana, kamu mendapat keuntungan dengan adanya pembinaan yang terjadwal,” kata ibunya suatu hari.

“Teman-teman Ayah juga mendukung. Katanya, sayang kalau dilepas. Wong SMA Maritim itu sudah terkenal bagus,” ayahnya menimbrung.

Kinar sendiri sebenarnya tidak terlalu peduli di SMA mana dia akan bersekolah. Selama itu adalah SMA berkualitas, dengan sederet kegiatan ekstrakulikuler dan organisasi yang bisa diikuti, Kinar oke saja. Ya, dengan catatan Kinar bisa memilih apa yang ingin dan tidak ingin dia lakukan.

Tidak seperti di SMA Maritim.

Kinar tahu dari salah seorang seniornya. SMA Maritim dengan semua olympiad-scholarship-things-nya. Semua orang tahu, SMA Maritim—dengan biayanya yang sebegitu menggila—memberikan beasiswa yang tidak sedikit bagi siswa-siswa berprestasi. Dan di sana, akan ada pembinaan bagi siswa-siswa itu untuk bisa mengikuti ajang-ajang bergengsi lainnya dan ditargetkan menjadi juara.

Such a big opportunity? Indeed.

Sayangnya, semua itu malah membuat Kinar setengah menyesal menjadi peraih medali saat SMP dulu. Dia rasanya rela memberikan apa saja asalkan bisa memiliki masa SMA yang normal. Normal, karena dia ingin pensiun dari apapun yang disebut dengan ‘olimpiade’ itu.

Kinar tanpa sengaja ‘tercebur’ ke dunia olimpiade saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sebagai salah satu aset sekolah, Kinar sudah ditargetkan untuk mengikuti lomba ini itu. Dia ikut lomba Pramuka, Dokter Kecil, Siswa Teladan, bahkan lomba cipta puisi dan tari tradisional. Dan saat kelas lima, polos dan tidak tahu apa-apa, Kinar diikutkan penyisihan olimpiade. Posisinya menjanjikan, hingga dia terus melaju ke tingkat nasional—yang sebenarnya dia lakoni lebih karena di mana lomba itu diadakan. Dan tidak disangka-sangka, akhirnya dia berhasil menyabet satu medali.

Padahal saat mengerjakan, Kinar merasa dirinya lebih mengandalkan insting—dan keberuntungan—ketimbang kemampuan otaknya.

Zaman SD, olimpiade rasanya seperti taman bermain yang menyenangkan. Terlebih lagi jika Kinar sedang malas ikut pelajaran. Pembinaan-pembinaannya lebih menyenangkan karena di sana dia bisa bermain-main dengan eksperimen yang ada.

Sampai akhirnya Kinar sadar seperti apa dunia olimpiade yang sesungguhnya saat dia masuk SMP. Itu alasan Kinar ingin benar-benar lepas tangan dari itu semua.

Namun melawan sekuat apapun, Kinar tetap tidak bisa melampaui otoritas kedua orang tuanya.

Kinar membuka pintu dengan menekan gagangnya perlahan, masih menatap ke arah anggota klub musik. Di dalam, Emir sudah sibuk dengan sebuah buku.

Mendengar suara pintu dibuka, pemuda itu mendongak. “Kamu ngapain berdiri di situ?”

Ditegur, Kinar menoleh. Sedetik kemudian dia melangkah masuk dan menutup pintu. Mengabaikan pertanyaan Emir, Kinar balik bertanya, “Kamu udah lama?”

“Belum.” Emir memutar tubuhnya untuk menatap jam dinding. “Baru sekitar sepuluh menit.”

Kinar mengangguk-angguk. Lalu gadis itu mengambil tempat duduk di bangku terdepan baris pertama yang paling dekat dengan pintu. Dia meletakkan tasnya di atas meja, mengeluarkan sebuah buku tebal dan kertas coret-coretan, lalu menggeser tasnya ke samping.

Dia membuka buku pada halaman yang sudah ditandainya dengan pembatas buku. Sebuah soal tentang gerak. Sebuah gulungan pita bergerak menggelinding pada sebuah bidang miring, dan selama gerakannya, pita terurai. Dengan beberapa variabel diketahui, Kinar diminta mencari berapa panjang pita.

Gadis itu menghela napas sebelum mulai mengerjakan.

Ini adalah tahun keduanya. Kurang dari dua tahun lagi dan semuanya akan selesai.

 

* * *

Mungkin agak berlebihan, tapi Kinar sudah hampir lupa kapan terakhir kalinya dia bersemangat masuk sekolah. Hari ini bukan hari jadwal kegiatan klub fisika. Kegiatan belajar dengan Emir untuk persiapan lomba tetap ada. Tapi akhirnya, setelah berhari-hari menahan rasa bosan, Kinar punya alasan untuk mangkir.

Klub Jelajah Alam.

Sudah dua minggu sejak angket pilihan klub dibagikan. Kinar langsung memilih klub jelajah alam. Klub yang diikutinya sejak kelas sepuluh itu adalah satu-satunya kesempatan Kinar untuk merilekskan sejenak dirinya dari aktivitasnya sehari-hari. Dan setelah menunggu cukup lama—dengan tidak sabar—akhirnya kegiatan klub akan dimulai.

Kesepakatan terakhir di klub Jelajah Alam salah satunya berbunyi jika Kinar bergabung tahun depan, dia akan mendapat bagian dokumentasi. Karena itu, dia sudah membawa kamera yang akan digunakan untuk mendokumentasikan pembukaan resmi klub.

Kinar sedang asyik melihat-lihat lagi foto-foto di kameranya ketika mendengar suara gurunya menyapa di depan kelas.

“Selamat pagi, anak-anak!” Suara Dwi, guru Sejarah, membuat Kinar buru-buru mematikan kamera dan memasukkan kembali ke wadahnya. “Nah, sekarang tutup buku kalian.” Sebenarnya Dwi tidak perlu repot-repot melakukannya, karena hampir semua murid sama sekali belum membuka tas apalagi mengeluarkan buku. “Kita adakan mini quiz pelajaran minggu lalu.”

Mini quiz. Agak berlebihan menyebutnya dengan kata ‘mini’, karena apa yang akan dilakukan Dwi tidak jauh berbeda dengan ulangan harian, hanya saja soalnya lebih ringan. Kebanyakan berupa pertanyaan dengan jawaban nama-nama iconic seperti siapa nama raja terbesar kerajaan Majapahit. Tapi tetap saja, saking banyaknya nama yang ada di buku Sejarah, sangat susah menentukan jawaban yang benar.

Sambil mengeluarkan tempat pensil dari tasnya, Kinar bertanya-tanya dalam hati. Kenapa sepertinya tidak ada yang membiarkannya sehari saja bersenang-senang?

Dwi berjalan membagikan dua carik kertas berukuran sepuluh kali sepuluh sentimeter persegi kepada setiap murid. “Gampang,” ujarnya, sambil terus membagikan soal dan lembar jawab.

Dua puluh soal dan mereka hanya diberi waktu sepuluh menit. Ada yang lembar jawabnya masih putih bersih meski waktu sudah setengah jalan. Ada pula yang menggaruk-garuk kepala seolah itu akan membantu mengorek kembali ke dalam memori pelajaran minggu lalu. Kinar sendiri hanya duduk tenang di kursinya.

Waktu habis. Dwi berkeliling lagi untuk menarik lembar jawab.

“Kalian akan menonton video dokumentasi sejarah sementara Bapak mengoreksi jawaban kalian,” kata Dwi sambil menyalakan komputer.

Lupakan mini quiz barusan. Seketika suasana kelas berubah riuh. Menonton adalah kegiatan favorit mereka, meski yang diputar hanyalah video dokumentasi sejarah.

Meski terlihat tenang selama menonton, Kinar tidak bisa berhenti melirik ke arah Dwi. Saat gurunya menarik lembar jawab di tangannya, ada satu soal yang Kinar belum yakin dengan jawabannya. Apa arti nama dari putra Tribhuwanatunggadewi? Entah apa maksud Dwi dengan membuat soal yang harus dipikir dua kali itu.

Putra Tribhuwanatunggadewi, itu mudah. Jawabannya Hayam Wuruk. Tapi arti namanya, Kinar bahkan tidak yakin jawabannya ada di buku teks. Seingatnya, dia hanya pernah menemukannya di buku kelas sepuluh, atau saat sedang iseng Googling. Mungkin memang sudah saatnya Kinar mencantumkan bahasa Sansekerta ke dalam daftar bahasa yang harus dipelajarinya.

Waktu dua puluh menit berlalu dengan cepat. Videonya belum selesai sehingga diputuskan untuk dilanjutkan di jam pelajaran kedua. Dan sekarang, Dwi akan membagikan hasil mini quiz. Satu per satu murid dipanggil. Setelah menerima lembar jawab yang sudah dinilai, beragam ekspresi terlukis di wajah murid-murid XI IPA 2 . Tersenyum puas, datar tanda biasa saja, atau cemberut karena hasil yang tidak sesuai harapan.

“Dan yang terakhir, sekaligus yang tertinggi,” Dwi mengumumkan. “Kinar, selamat!”

Murid-murid lain memandangnya dengan tatapan kagum sementara Kinar berjalan untuk mengambil lembar jawabnya. Melihat nilai yang digoreskan dengan tinta merah, Kinar tersenyum samar. Kecut.

Walau meraih nilai tertinggi, nilainya bahkan lebih buruk dari yang diperkirakannya.

Kinar menekankan dalam hati, dia harus mulai belajar bahasa Sansekerta.

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

1Hawa Smart Calendar

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s