Vice Versa: Antara Benci & Cinta 8

“Nar, lo denger nggak?”

Begitu bel tanda pelajaran berakhir berbunyi, Kinar segera memberesi barang-barangnya. Lalu seperti sepeda motor di tengah kemacetan, dia menyelip di antara murid-murid yang membanjiri koridor. Setelah keluar dari lautan manusia itu, dia memacu kakinya untuk bergerak ke ruang dia biasa belajar dengan Emir.

Jarang-jarang Kinar punya tenaga untuk melakukan itu semua. Biasanya baru melihat koridor yang penuh sesak, dia lebih memilih kembali ke tempat duduknya, membaca novel atau sekadar terkantuk-kantuk sambil menunggu sepi. Namun hari ini Kinar seperti diberi dopping. Dan dia baru tersadar ketika mendapati ruangan itu masih diisi beberapa anak XI IPS 3. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Emir di sana.

“Lo nggak masuk?”

Suara bariton yang terdengar begitu dekat membuat Kinar terlonjak. Dia mengumpat dalam hati sementara Emir hanya meliriknya sekilas, tidak peduli.

“Masih ada orang?” Emir melihat isi kelas melewati puncak kepala Kinar.

“Eh, Mir, aku nggak bisa belajar bareng hari ini. Aku mau ikut klub Jelajah Alam,” tidak mempedulikan pertanyaan Emir, Kinar segera menyampaikan maksudnya.

“Oh, terus? Kenapa kamu bilang ke aku?”

“Cuma mau kasih tau. Tapi ya udah sih, kalau kamu nggak peduli.” Kinar mengibaskan tangan dengan sikap tak acuh. “Ya udah, aku duluan,” katanya sambil berlalu.

Dan sekarang, di sinilah Kinar. Di ruang klub Jelajah Alam di pojok lantai tiga. Cukup bersenang-senang hingga bisa melupakan mini quiz Sejarah. Dia sibuk dengan kameranya dan tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang dibicarakan oleh teman-temannya.

“Woi, Nar!” Kini bahkan dia mendapat bonus tisu bekas pakai yang sudah diremas menjadi bola.

Berkat hembusan angin, tisu itu tidak mengenainya dan mendarat hanya beberapa senti dari tempatnya berdiri. “Ih, jijik banget sih lo. Tisu siapa nih?”

“Jadi lo setuju nggak, buat pembukaan, kita cabut ke Gunung Kidul?” Mengabaikan kata-kata Kinar, Diandra yang merupakan ketua klub kembali ke topik semula.

Sama seperti klub-klub lain yang langsung memulai kegiatannya, klub Jelajah Alam pun langsung membahas kegiatan pertama mereka untuk periode ini setelah selesai dengan susunan organisasi atau semacamnya. Dengan anggota tidak lebih dari delapan orang, pergi ke tempat wisata alam di luar kota bukanlah suatu masalah.

Kinar sudah sering mendengar tentang daerah Gunung Kidul yang memiliki deretan pantai wisata. Bahkan ada beberapa yang masih belum banyak diketahui masyarakat umum. Kata ‘tempat seru’ langsung muncul di benak Kinar, yang mengakibatkan ledakan antusiasme. “Setuju! Setuju!”

Tahu sudah ada rencana jalan-jalan, Kinar menarik sebuah kursi dan duduk. Detik ini dan setelahnya, dapat dipastikan Kinar akan memperhatikan baik-baik.

Kinar punya beberapa alasan yang membuatnya begitu menyukai kegiatan di klub Jelajah Alam. Pertama kali mendengar nama klubnya saja sudah membuat Kinar tertarik. Di kepalanya langsung muncul bayangan dirinya bersama anggota lain menjelajah hutan, mengunjungi tempat-tempat wisata alam yang belum banyak diketahui wisatawan, atau bahkan mengeksplor tempat yang sama sekali baru. Meski bukan tipe yang akrab dengan binatang—yang cukup erat kaitannya dengan alam liar—Kinar sangat suka suasana alam yang masih alami. Dikelilingi pepohonan hijau atau duduk di pantai berpasir putih bertemankan suara deburan ombak.

Alasan lainnya adalah, Kinar tertarik dengan fotografi. Dia bisa saja mengikuti klub Fotografi. Tapi jika ada kesempatan untuk mengabadikan pemandangan-pemandangan yang tentunya jarang dia lihat sehari-hari, Kinar tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.

Kegiatan klub Jelajah Alam juga tidak terbatas hanya pada kegiatan internal saja. Tidak jarang klub itu memiliki proker kerja sama dengan OSIS dalam mengadakan acara bagi murid lain. Salah satunya adalah kegiatan lintas alam yang sudah menjadi agenda wajib MOS.

“Emang rencananya, kita bakal pergi kapan sih?” Tanya Kinar setelah tidak bisa menemukan tulisan kapan tepatnya mereka akan pergi di papan tulis.

“Senin depan kita libur. Rencananya kita cabut Sabtu ini. Malam Minggu ….”

Kinar sudah tidak bisa mendengar kelanjutan kata-kata Diandra. Fokusnya seperti dipasak pada ‘Sabtu ini’ yang diucapkan Diandra. Kobaran api dalam dirinya seperti disiram air dingin.

Sabtu ini ….

Lalu bagaimana dengan lombanya …?

* * *

“Dengardengar, kamu dapat nilai tertinggi waktu mini-shocking quiz Sejarah kemarin.”

Setelah selesai dua soal, Emir merasa perlu untuk beristirahat sejenak. Terlalu keras berpikir malah membuatnya lama-kelamaan mengantuk. Daripada jatuh tertidur dan paling tidak akan mengonsumsi waktu lebih dari lima belas menit, dia lebih memilih untuk mengajak Kinar bicara. Setidaknya lima menit akan cukup untuk mengusir kantuk.

Bingung memilih topik pembicaraan, Emir membicarakan mini quiz Sejarah yang juga dilaksanakan di kelasnya. Dia masih ingat bagaimana teman-temannya mengeluh dan mengerang meminta Dwi membatalkannya. Memang tidak ada jalan lain. Hari sudah siang dan pikiran anak-anak itu sudah cukup penat dengan pelajaran Kimia sebelumnya. Tapi demi keadilan dengan kelas lain yang juga diberitahu secara mendadak, Dwi tetap mengadakan mini quiz.

Emir masih ingat kata-kata Dwi saat berusaha meredakan keriuhan di kelasnya. Kata-kata yang tampaknya sama sekali tidak menenangkan bagi teman-temannya.

“Tenang, soalnya gampang-gampang. Kinar saja dapat nilai bagus sekaligus yang tertinggi di kelasnya,” kata Dwi, yang disambut dengan ‘yaaaahh …’ oleh teman-temannya.

Menjadi murid baru, awalnya Emir tidak paham mengapa teman-temannya merespon begitu. Sampai salah seorang temannya menyeletuk dari pojok kanan belakang kelas.

“Kinar kan, dewa, Pak. Ya nggak bisa disamakan dengan kita-kita, dong.”

Saat itulah Emir baru menyadari. Selain jago Fisika, sepertinya teman satu klubnya itu pun menguasai mata pelajaran lainnya.

“Pak Dwi, ya?” Kinar bertanya, tanpa menoleh.

“Iya.”

“Nggak kok. Biasa aja,” kata Kinar. “Jelek malah,” tambahnya pelan.

Sebenarnya Kinar kurang suka jika Emir membahas soal mini quiz Sejarah kemarin. Mengingatkannya pada lembar jawabannya yang kini menghuni tempat sampah di kamarnya dalam keadaan teremas.  Dwi yang membanggakannya membuatnya merasa menang-gung beban lebih berat lagi. Nilainya memang tertinggi di kelasnya, tapi tidak sempurna. Masih ada kemungkinan anak kelas lain mendapat nilai lebih tinggi.

Dan itu membuat Kinar tidak tenang.

“Memangnya kamu dapat berapa?” Tanya Emir akhirnya.

“90.”

Emir tidak segera menyahut. Dia masih sempat mendengar Kinar mengatakan nilainya jelek. Lalu jawaban anak perempuan itu barusan, Emir melongo parah, menatap Kinar tak percaya.

* * *

Berhubung besok lomba, Emir dan Kinar sepakat meminta izin tidak masuk kelas hari Sabtu supaya mereka bisa melakukan persiapan akhir sebelum lomba.

“Tahun lalu, lombanya dibagi jadi tiga babak. Penyisihan, semi final, final.”

Sejak pagi, mereka berdua menempati laboratorium Fisika yang tidak gunakan di hari Sabtu. Hanya berdua, karena Dino yang diberitahu agak akhir tidak bisa menemukan partner sehingga batal ikut.

Kinar mengangguk pelan sementara Emir berbicara. Setelah beberapa minggu latihan soal, rencananya mereka akan melakukan simulasi hari ini.

“Soal untuk babak penyisihan berupa soal pilihan ganda. Jumlah soalnya, belum diketahui. Babak semi final, pilgan sama esai. Oh ya, untuk semi final diambil lima puluh besar. Nah, dari lima puluh, diambil enam kelompok dengan nilai tertinggi.” Di kalimat terakhir, sebelah alis Emir terangkat. Ngeri juga, dari lima puluh cuma diambil enam. Tapi dia segera kembali ke topik pembicaraan. “Finalnya, eksperimen dan cerdas cermat untuk menentukan urutan juara.”

Lagi-lagi, Kinar hanya mengangguk-angguk. Dia tetap tak bersuara saat tatapannya bertemu dengan milik Emir.

Satu menit, lalu tahu-tahu Emir mengerutkan dahi.

“Apa?” Kinar protes.

“Tunggu. Tahun lalu, kamu ikut lomba ini nggak?”

Kinar mengangguk mantap. “Iya, sama Kak Ra.”

“Masuk final?”

“Harapan satu.”

Kerutan di dahi semakin rapat. Kinar tidak tahu apa penyebabnya. “Jadi, kamu udah tahu dong, mekanisme lombanya?”

“Iya. Emangnya kenapa?” Dengan nada polos Kinar balik bertanya.

Emir melempar kepala ke belakang sampai tubuhnya condong ke belakang. “Haduh, Kinar.” Pemuda itu turun dari meja lab yang sedari tadi didudukinya. “Kenapa kamu diam aja waktu aku jelasin panjang lebar kalau kamu udah tau?” Dia melangkah menghampiri Kinar dan duduk di sampingnya. “Kalau gitu kan, aku nggak perlu buang-buang tenaga.”

Apa yang dilihat Emir selanjutnya membuat kekesalannya seketika menghilang. Kinar nyengir. Dan kini Emir merasa laboratorium tiba-tiba berubah menjadi freezer, membeku-kannya di tempat, saking terkejutnya.

“Yah habisnya, kamu semangat banget jelasin itu semua,” kata Kinar. “Ya udah, mending buruan mulai simulasinya. Keburu pelajaran selesai dan kita harus pulang telat.”

Emir tidak segera bergerak untuk mengeluarkan soal-soal tahun lalu dari tasnya.

“Mir?” Kinar melambaikan tangan di depan wajah partnernya.

“Ah, sorry.” Pemuda itu tersadar dan segera meraih tasnya. Dia tidak menyadari dirinya malah jadi melamun setelah terkejut dengan apa yang dilihatnya barusan.

 

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

7

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s