Vice Versa: Antara Benci & Cinta 9

 

Sementara Emir memilih-milih di antara tumpukan kertas soalnya, giliran Kinar yang terdiam. Dia tidak benar-benar mengerti mengapa Emir memandanginya seperti tadi, seolah melihat manusia bertingkah layaknya alien dari Venus.

Detik kemudian Kinar merasa dirinya mengerti. sebagai gantinya, dia bertanya-tanya pada dirinya, ke mana sikap antinya terhadap ‘saingan’? Apa kebersamaan selama beberapa Minggu terakhir ini telah menyingkirkan segala hal yang membuat Kinar alergi terhadap Emir?

Tuhan, apa yang terjadi? Bahkan sampai saat ini Kinar belum seratus persen berhasil menyingkirkan ke-anti-annya terhadap Dhisya, saingannya semasa SD. Tapi ini …. Kinar merasa ada yang salah dengan dirinya.

Ini tidak boleh berlanjut. Detik berikutnya dia memunculkan sosok Bim Bim dalam benaknya. Cara itu selalu berhasil menenangkannya.

“Nih.” Emir menyodorkan beberapa lembar kertas berisi soal. “Besok kita split soal, baru habis itu diteliti bareng.”

Kinar berdeham, menyingkirkan sejenak pikirannya. Dia harus fokus. Dipandanginya sejenak lembaran di hadapannya.

Kemudian, dengan nada datarnya yang biasa, dia berujar. “Oke.”

* * *

Kinar berjalan mondar-mandir di kamarnya. Dia menggigit sebelah telunjuk, sementara tangannya yang lain memegangi ponsel yang ditempelkan ke telinga.

Akhir-akhir ini dia sering lepas kendali. Kinar takut. Apalagi dengan seseorang seperti Emir yang memancarkan aura mengerikan.

Kinar butuh Bim Bim. Sekarang.

Semenjak kuliah—sekitar sebulan yang lalu—intensitasnya berhubungan dengan Bim Bim semakin sedikit. Jika dulu Bim Bim pasti menelepon atau main ke rumah di malam Minggu, sekarang pesan singkat saja paling hanya satu dua. Mungkin Bim Bim sibuk kuliah. Tapi bukannya Bim Bim baru semester satu? Kinar bertanya-tanya dalam hati. Biasanya semester-semester awal tidak terlalu menyita waktu. Atau mungkin Bim Bim ikut klub?

Sebenarnya Kinar sudah tidak punya hak apa-apa. Tapi jika mengingat bagaimana Bim Bim bersikap terakhir kali mereka bertemu, rasanya tidak ada yang berubah.

Setelah entah dering keberapa, akhirnya telepon dijawab.

“Halo, Kinar,” terdengar suara Bim Bim di ujung sana. Kinar menghela napas lega.

“Halo, Kak,” balas Kinar. “Lagi sibuk?”

Di kamar kosnya, Bim Bim melirik sketsanya yang masih setengah jadi. Dia masih punya waktu sekitar dua hari untuk menyelesaikannya. “Nggak juga sih,” jawab pemuda itu akhirnya.

“Maaf kalau aku ganggu.”

“Nggak kok.” Bim Bim berdeham. “Aku juga minta maaf, akhir-akhir ini jarang hubungi kamu. Masih adaptasi sama kehidupan univ.”

“Nggak apa-apa kok. Kamu … baik-baik aja?”

Bim Bim bisa mendengar nada khawatir dalam suara Kinar. “Iya. Maaf kalau bikin kamu khawatir.”

Kinar tidak menyahut. Giliran Bim Bim yang khawatir. Kinar terdengar tidak secerewet biasanya. Suaranya juga tidak menunjukkan nada ceria.

“Kinar, kamu ada masalah?”

Iya. Masalah karena kamu kayak menghilang, sementara ada makhluk horor di sekitarku. “Bukan masalah besar kok.” Kinar urung mengatakannya pada Bim Bim. Mungkin lain waktu, saat mereka bertemu.

“Beneran?” Bim Bim memastikan. “Kamu jarang-jarang kayak gini. Biasanya kalau ada masalah doang.”

“Nanti aja, aku kasih tau kalau kamu pulang,” Kinar setengah berjanji. “Ya udah. Kakak lanjutin aja kalau lagi sibuk. Aku besok juga mau lomba.”

“Oh. Sukses ya.” Dan sambungan terputus setelah Kinar mengucapkan salam.

* * *

Selain alien dari Mars, mungkin aku juga mengeluarkan bau tidak sedap.

Kinar langsung minta dijemput begitu lomba selesai pukul lima sore tadi. Meski berhasil meraih juara tiga—tidak terlalu buruk—dia masih belum bisa menyingkirkan kesedihannya karena ditinggal teman-temannya yang pergi ke Gunung Kidul kemarin. Selain itu, dia juga harus segera menyingkir setelah berjam-jam berdekatan dengan Emir.

Mendapat libur tambahan di hari Senin, Kinar memilih untuk tetap di rumah saat keluarganya mengajak jalan-jalan ke pusat kota. Bahkan saat dibilang mereka akan ke toko buku, dia tetap menolak. Dia lebih memilih menitipkan uang kepada Fajar—kakak laki-lakinya—supaya pemuda itu membelikan beberapa komik pesanannya.

Setumpuk komik Detective Conan tergeletak di dekat kaki ranjangnya. Dengan hanya mengenakan kaos oblong tua yang sudah menipis dan celana gombrong selutut, Kinar menikmati waktunya membaca komik sementara dia berbaring di lantai. Musim kemarau belum berakhir, dan Kinar memilih alternatif lain daripada membuat tagihan listrik Bunda membengkak karena dia menyalakan pendingin di kamar.

Berjam-jam Kinar hanya memuaskan dahaganya akan membaca komik. Dia baru keluar kamar jika merasa lapar, atau perlu ke kamar mandi.

Tanpa dia sadari, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Pasti tidak lama lagi keluarganya pulang. Tapi bukan itu yang dikhawatirkannya. Kinar mengerang kesal karena merasa kehabisan waktu.

Pukul enam keluarganya tiba di rumah. Setelah makan malam dengan lauk yang dibeli di restoran favorit mereka, kegiatan berlanjut seperti hari-hari sebelumnya. Bunda sibuk di dapur membuat makanan ringan sementara Ayah menonton televisi. Fajar naik ke kamarnya, mengunci kamar supaya dia bisa menonton anime kesukaannya. Menjadi seseorang yang sudah bekerja membuatnya terbebas dari segala rutinitas belajar malam atau mengerjakan tugas sekolah.

Hanya Kinar yang terjebak di perpustakaan mini di rumah mereka. Belajar.

Gadis itu mengeluarkan buku-buku dari tas. Satu per satu dia membukanya, memasti-kan semua tugas rumahnya sudah dikerjakan. Dan mendapati tugas Fisika—yang terakhir—sudah  selesai, lengkap dengan berbagai alternatif cara untuk mendapat jawabannya, Kinar tersenyum puas. Dia ingin menonton televisi.

Di ruang tengah, televisi menyala menampilkan acara debat politik. Ayahnya duduk di sofa di depan televisi, terlihat tidak terlalu tertarik. Kinar segera menyambar remote dan menghempaskan diri di sofa. Jarinya sibuk menekan remote, menggonta-ganti channel.

Belum ada lima menit sejak Kinar menemukan saluran yang cukup menarik—memutar film animasi—ketika ibunya melangkah ke ruang tengah. Di tangannya sepiring pisang goreng dengan asap mengepul.

“Kinar, kamu nggak belajar?” Tanya Bunda, seperempat heran, tiga per empat siap mengomel.

Tampang bahagia Kinar saat melihat pisang goreng seketika digantikan ekspresi protes—meski tangannya tetap terulur untuk meraih sepotong. “Tugasku udah selesai semua, Bun.”

“Tugas selesai bukan berarti kamu nggak belajar, kan? Baca-baca materi pelajaran sebelumnya, atau malah mulai mempelajari yang selanjutnya kan juga bisa.”

Kinar cemberut dengan mulut penuh pisang goreng. Tapi sepertinya Bunda sudah kebal dan tidak mempan lagi walau dia cemberut serupa apapun. Salah-salah, ibunya malah jadi kesal dan mulai mengomel panjang lebar—hal yang paling tidak ingin didengar Kinar. Akhirnya, setelah mengambil piring kecil dan mengisinya dengan beberapa potong pisang goreng, Kinar melangkah kembali ke ruang belajarnya.

Bukan Kinar jika tidak berusaha memberontak. Bunda pasti tetap akan menyuruhnya belajar, bahkan jika semua latihan soal di bukunya sudah selesai dikerjakan hingga Kinar tidak tahu lagi akan mengerjakan apa sekalipun. Jika sudah begitu, dia punya trik. Kinar tidak pernah lupa menyelundupkan salah satu komiknya sebelum dia turun ke perpustakaan rumah mereka untuk belajar.

Jadi, saat ini Kinar melanjutkan komiknya yang belum selesai dibaca sambil menikmati pisang goreng.

Kinar bukan anak yang malas belajar. Dia bisa jadi lebih rajin dari siapa pun jika dia mau. Namun ada beberapa hal yang malah membuatnya malas belajar. Disuruh belajar, salah satunya. Kinar tidak suka disuruh belajar, membuatnya terdengar seperti anak pemalas. Dia tidak perlu disuruh, karena dia pasti akan belajar dengan sendirinya.

Kinar hanya ingin orang-orang—siapa pun yang suka menyuruhnya belajar seperti Bunda dan pembina asramanya zaman SMP—membiarkannya dan percaya padanya.

Saat pengumuman peraih medali dulu, Kinar pernah diwawancarai. Walaupun agak enggan dan awalnya menatap seorang teman dengan tatapan memohon supaya menggan-tikannya, akhirnya gadis itu menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan wartawan lokal itu. Di antara pertanyaan-pertanyaan itu, satu yang diingat Kinar benar-benar.

“Kakak ada pesan atau saran buat teman-teman mengenai cara belajar?”

Kinar menyesal, tidak ingat untuk meminta rekaman jawabannya yang itu supaya bisa dia putar di hadapan Bunda dan pembina asramanya.

Tiba-tiba pintu perpustakaan dibuka. Kinar menutup komik dan melemparkannya secara asal ke bawah meja. Lalu dia pura-pura sedang sibuk membaca bagaimana darah digolongkan menjadi Rhesus positif dan negatif yang kebetulan terbuka di hadapannya.

 

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s