Vice Versa: Antara Benci & Cinta 10

 

“Kamu lagi belajar?” Suara Bunda membuat jantung Kinar berdetak dua kali lebih cepat.

“Ng, iya,” jawabnya, sedikit terbata. Dalam hati Kinar berharap Bunda tidak tahu dia membaca komik di jam belajar. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Hanya Bunda yang sering diam saja.

“Belajar apa?” Bunda bertanya, basa-basi. Dia meraih sebuah buku yoga di rak dan membolak-balik halamannya.

“Biologi. Tentang penggolongan darah.”

Bunda mengangguk-angguk, lalu meletakkan buku yoga kembali ke rak. “Oh, ya sudah. Kamu belajar yang rajin, ya.” Wanita itu mencium puncak kepalanya sebelum melangkah menuju pintu.

Lalu ketika hendak menutup pintu, Bunda menghentikan gerakannya. “Kinar.” Anak perempuannya mendongak. “Tidak jarang, demi meraih yang terbaik untuk masa depan, kita dipaksa melakukan sesuatu yang tidak kita suka.”

Ugh! “Iya,” ujarnya pelan.

Setelah pintu benar-benar tertutup, Kinar mendesah. Dia meletakkan kepala di atas meja.

Kinar merasa menjadi seorang pembual. Apa yang dia katakan bukanlah sesuatu yang benar-benar dia lakukan.

“Mm … pesan buat teman-teman, mungkin supaya teman-teman semua nggak terlalu memaksa buat belajar. Kalau pengen belajar, ya belajar. Tapi kalau lagi nggak pengen, ya nggak usah belajar. Lakuin apa yang pengen teman-teman lakuin. Sesekali buat refreshing. Aku yakin teman-teman pasti punya kemauan sendiri buat belajar. Tapi ya itu tadi, jangan terlalu dipaksain karena itu malah bikin nggak masuk materinya.”

***

“Kinar, aku lihat caramu buat soal nomor dua.”

Minggu ini, kegiatan klub tetap berjalan seperti biasa. Tadi, sebelum mereka mulai belajar, Rara dan Dino sempat memberi mereka selamat. Emir dan Kinar mengucapkan terima kasih diiringi senyum—senyum sumringah Emir dan senyum simpul Kinar.

Setelah sering belajar bersama sebelum lomba kemarin, kini Emir tidak lagi segan untuk berada di dekat Kinar. Barusan dia menarik kursi di sisi kanan gadis itu dan duduk. Lagipula selama lomba, mereka selalu duduk bersebelahan. Emir pikir, paling Kinar hanya tidak terlalu pandai bergaul dengan orang baru sepertinya. Hanya masalah waktu dan frekuensi interaksi mereka.

Emir tidak tahu Kinar sedikit berjengit. Tanpa Kinar pahami, jantungnya berdebar dua kali lebih kencang. Tapi gadis itu mengabaikannya. Dia hanya menoleh dengan ekspresinya yang biasa.

“Nggak tau kalau salah,” katanya sambil mendorong bukunya ke arah pemuda itu.

Butuh waktu sekitar lima menit, sampai akhirnya Emir mengembalikan bukunya. “Benar kok, kayaknya. Aku ada salah sedikit.”

Kinar hanya melirik sekilas Emir yang kini sibuk membetulkan jawabannya.

Seperti yang belum-belum, Rara membahas dan menulis cara mengerjakan soal yang diberikannya di papan tulis. Gadis itu kini sedang membaca ulang soalnya sebelum mulai mengerjakan.

“Kamu nggak balik ke kursimu?” Tanya Kinar pelan, namun cukup untuk bisa didengar keduanya.

“Nggak ah. Ternyata dari sini papan tulisnya lebih jelas.”

Kinar mengalihkan perhatian ke papan tulis sambil menghela napas. Setidaknya dia harus bertahan selama sepuluh menit lagi.

Meski caranya sedikit berbeda, jawaban Kinar benar. Emir juga—setelah dibetulkan. Dino mengalami sedikit kesulitan, namun segera paham setelah mendengar penjelasan Rara. Dirasa tidak ada masalah, Rara memutuskan untuk memberikan soal lain.

Selesai menulis soal, Kinar melirik Emir lagi. Pemuda itu terlihat serius mengerjakan, masih duduk di sebelahnya.

“Emir ….”

Sebelum bisa melanjutkan kalimatnya, Emir terlebih dulu menoleh dan menyahut. “Apa?”

“Ng …,” Kinar bergumam, ragu. Rasanya kurang etis jika bertanya lagi kenapa Emir tidak kembali ke tempatnya. Tapi Kinar sudah gatal ingin segera menyingkirkan Emir. Yah, mungkin memang hanya itu satu-satunya cara.

“Nggak jadi deh,” kata Kinar akhirnya, sambil perlahan bergerak ke kursi yang berjarak dua kursi dari tempatnya semula.

* * *

Bersama dengan teman-teman sekelasnya, Emir berlari ke lapangan di belakang sekolah. Pelajaran olahraga kali ini, mereka akan bermain sepak bola.

Mendapat tugas piket hari ini, Emir melangkah untuk mengambil bola di samping ruang administrasi. Kunci rak bola diputar-putar dengan sebelah telunjuk.

Tidak terlalu sulit membawa dua bola sepak. Setelah mengunci kembali rak bola, Emir berjalan kembali ke lapangan. Namun baru beberapa langkah, dia berbalik. Mumpung dekat, dia ingin sekalian melihat jika ada pengumuman baru dipasang di papan pengumuman ruang administrasi.

Ada satu pengumuman baru. Dengan bola sepak di kedua tangan, Emir membacanya. Baru masuk paragraf pertama, sebuah senyuman mengembang di wajahnya.

Camp Olimpiade.

* * *

“Kinar!”

Bel pulang baru saja berbunyi. Koridor masih ramai. Sulit untuk menemukan pemilik suara yang baru saja memanggilnya. Kinar tidak mungkin menemukannya jika orang itu tidak melambai-lambaikan tangan ke arahnya.

Emir melangkah mendekatinya. Senyum sumringah terpampang di wajahnya. “Kamu udah baca pengumuman?”

“Yang mana?” Kinar balas bertanya.

“Yang soal camp itu.”

“Oh, itu. Udah kok,” jawab Kinar.

“It’s gonna be so much fun.” Emir terdengar sangat antusias.

Suasana hati manusia memang seperti wabah penyakit. Menular. Kinar tersenyum tipis.

“Tapi, camp olimpiade itu sebenarnya seperti apa?”

Diingat kembali tentang olimpiade, Kinar segera teringat akan label manusia di hadapannya itu. Dia bergerak-gerak gelisah di atas kedua kakinya. “Yah, gitulah,” ujarnya. Kemudian dia buru-buru menambahkan, “Eh, Mir, aku duluan ya.” Dan gadis itu berlalu, menyelip di antara murid-murid yang masih berada di koridor.

“Lho, Kinar?”

Jika mengira semua sudah berubah, Emir sadar dirinya salah. Tidak ada yang berubah, atau justru bertambah parah. Tadi dia jelas-jelas melihat Kinar mengambil beberapa langkah ke belakang sementara Emir mendekatinya. Hal itu mengingatkannya pada kejadian di klub beberapa hari lalu, saat Kinar bergeser menjauh darinya.

Kinar jelas-jelas menjauhinya. Tanpa alasan yang tidak diketahuinya. Dan Emir sungguhan ingin tahu.

Dia baru akan berbalik ketika menemukan Rangga tengah memandang ke arahnya. Serta merta Emir tahu dari mana dia bisa mulai mencari tahu.

“Rangga, gue mau ngomong sebentar sama lo.”

 

 

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s