Vice Versa: Antara Benci & Cinta 11

 

Aku butuh cadangan kebahagiaan untuk menghadapi ini semua.

Camp bahkan belum resmi dimulai, tapi Kinar rasanya sudah ingin segera pulang.

Kinar duduk di salah satu kursi di ruang tunggu sementara Emir memilih duduk di atas kopernya. Mereka berdua sedang menunggu guru pembina menyelesaikan urusan administra-si dengan panitia.

Camp biasanya identik dengan hal-hal yang menyenangkan, salah satu sarana penghi-lang stres karena pelajaran sekolah. Summer camp, yang menurut novel yang pernah dibaca Kinar diisi dengan kegiatan-kegiatan seperti outbound, wisata alam, tracking, dan api unggun, kedengarannya cukup seru. Atau seperti yang ada di film Camp Rock, starring Demi Lovato and Jonas Brothers. Camp Half-Blood seperti di film Percy Jackson and The Olympians juga terdengar seru, meski hampir setiap musim panas mereka diisi dengan bertarung dan membunuh monster.

Tapi bagi Kinar, camp olimpiade sama sekali tidak terdengar seru, apalagi menyenang-kan. Yah, mungkin ada beberapa orang yang menganggap berpusing-pusing dengan soal yang setara soal universitas itu adalah ‘refreshing’.

Camp olimpiade adalah kegiatan rutin yang diikuti oleh seluruh sekolah yang berada di bawah satu yayasan yang sama dengan SMA Maritim. Totalnya ada delapan sekolah di seluruh Indonesia. Setiap sekolah mengirim dua wakilnya untuk mengikuti camp yang biasanya diadakan di Jawa. Lokasinya beragam, berbeda-beda untuk setiap mata pelajaran, tergantung panitia yang menentukan. Dalam satu tahun, ada dua kali camp, semester ganjil dan semester genap. Dan untuk camp semester genap, biasanya digabung antara kelas sebelas dan kelas sepuluh.

Kelas Fisika kebagian tempat di sebuah penginapan di daerah Bandungan yang masih merupakan teritori Kabupaten Semarang, sekitar dua jam dari downtown Kota Semarang. Daerah itu dipenuhi vila, penginapan dan hotel melati, sebagai fasilitas penunjang dari objek wisata yang ada tak jauh dari sana. Berlokasi di daerah perbukitan, Bandungan memiliki udara yang sejuk dan suhu udara cukup rendah di sana.

Camp kali ini dijadwalkan akan berjalan selama dua minggu. Dari pagi jam delapan sampai pukul sembilan malam, dengan jam istirahat di selanya, untuk hari Senin-Jumat. Hari Sabtu setengah hari, dan Minggu acara bebas. Kinar seketika merasa perutnya mulas saat membaca time table camp.

“Yuk,” Santi, guru pembina, menghampiri mereka berdua. “Sekarang kita ke resepsio-nis, buat ambil kunci kamar.”

Kinar bangkit. Dengan gerakan malas dia menyeret koper mengikuti Emir yang berjalan di depannya. Sambil menyisir rambutnya menggunakan jari, Kinar menatap punggung Emir. Punggung yang tegak dan terus bergerak seolah tanpa beban. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan pemuda itu mengenai ini semua. Yang jelas, berlawanan dari pemikiran Kinar, tapi sepertinya tidak segila Rangga.

Di depan resepsionis, mereka menunggu lagi.

“Kinar, Emir, kalian isi daftar hadir dulu,” kata Santi. Kedua anak itu bergantian mengisi daftar hadir dan membubuhkan tanda tangan.

Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya Santi selesai dengan urusan kamar. Wanita berusia tak lebih dari dua puluh enam tahun itu menghampiri mereka dengan sebuah kunci di tangan.

“Panitia hanya menyewa tiga kamar. Dua kamar besar dengan kapasitas delapan orang dan satu kamar yang jauh lebih kecil.” Saat mengatakan ‘kamar yang jauh lebih kecil’, Santi mengacungkan kunci di tangannya. Kinar dan Emir langsung mengerti bahwa itu adalah kunci dari kamar yang dimaksud. Tapi tetap saja mereka tidak mengerti mengapa pembagiannya seperti itu.

“Kok gitu?” Tanya Kinar akhirnya.

“Karena ternyata di camp kelas sebelas ini terjadi ketimpangan gender.” Kinar mengerutkan dahi, sementara Emir hanya mengangkat sebelah alis. “Ya. Perbandingan peserta perempuan dan laki-laki adalah satu banding lima belas.”

Pantas saja sejak tadi firasatnya tidak enak. Kunci di tangan Santi dan perbandingan itu merupakan petunjuk yang sangat jelas. Kinar adalah satu-satunya peserta perempuan.

* * *

Menurut Emir, camp ini menyenangkan. Banyak cara-cara baru untuk mengerjakan soal yang dipelajarinya. Selain itu, pembinanya juga mengajarkan trik-trik yang kemudian diketahuinya sangat praktis dan membuat soal menjadi lebih mudah dikerjakan.

Emir suka Fisika. Di antara semua mata pelajaran, menurutnya Fisika yang paling menarik. Jika teman-temannya mengatakan Fisika adalah ilmu kurang kerjaan, bagi Emir justru di situ menariknya. Dengan Fisika, dia jadi tahu banyak rahasia di balik kejadian-kejadian yang ada di sekitarnya. Mengapa bola bergerak melengkung saat dilempar—yang ternyata terjadi akibat adanya kecepatan ke atas dan ke samping serta campur tangan gravitasi bumi—mengapa benda bisa hancur atau sekadar memantul jika bertabrakan dengan banda lain, atau bagaimana bisa bumi tetap berputar di orbitnya mengelilingi matahari. Karena Fisika, dia jadi lebih memperhatikan kejadian-kejadian remeh dan menyadari bahwa sebenarnya itu bukanlah hal yang sederhana. Emir jadi benar-benar paham bahwa Tuhan Maha pandai dan menciptakan dunia dengan perhitungan matang.

Dia masih ingat kapan tepatnya dia mulai tertarik dengan Fisika.

Saat itu dia baru duduk di bangku kelas lima SD. Guru IPA sedang menjelaskan materi pesawat sederhana.

“Semakin jauh jarak kuasa ke titik tumpu atau semakin dekat jarak beban ke titik tumpu, akan semakin ringan,” begitu kata gurunya dulu.

Iseng, Emir mencoba. Dia tidak tahu bagaimana, tapi dia sangat takjub mendapati hal sederhana seperti itu ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Penjelasan ilmiah yang sangat mudah dipahami dan dapat langsung dilihat buktinya di dunia nyata.

Meski saat SMP dia mendapati banyak asumsi dan hal-hal yang diabaikan dalam mengerjakan soal Fisika, itu tidak mengurangi ketertarikannya. Dia sadar, itu semua demi memudahkan proses penghitungan. Tapi Fisika yang sebenarnya sangat kompleks dan baginya itu adalah kenyataan yang keren.

Emir sempat takjub saat pembina memberitahu mereka bahwa robot penjelajah yang diluncurkan astronot untuk meneliti suatu jurang di Mars mendarat di tempat yang tepat berkat perhitungan Fisika yang cermat. Padahal jika analogikan, misi itu seperti melempar bola basket dari kota yang jarak berkilo-kilo dari Semarang dan masuk tepat di ring di lapangan SMA Maritim. Itu bukan semata-mata karena faktor keberuntungan.

“Mir, kamu dapat skor berapa?”

Sudah hampir satu minggu. Setelah istirahat jam setengah sepuluh tadi, mereka mengerjakan ujian yang dilaksanakan setiap tiga hari sekali yang kedua. Sekarang sudah hampir jam makan siang, dan hasilnya baru saja dibagikan.

“Lumayan,” jawabnya sambil menunjukkan lembar jawabnya pada Tanjung.

“Kamu salah yang ini ya?” Tanjung menunjuk satu soal. Emir melihat sekilas kemudian mengangguk. “Kalau yang nomor empat, betul?”

“Betul kok,” jawabnya.

“Aku pinjam sebentar,” kata Tanjung, bermaksud membetulkan jawabannya yang salah dengan melihat milik Emir.

Pemuda itu membiarkan Tanjung melihat lembar jawabnya. Dia duduk tenang di kursinya, di baris kedua di lajur yang paling dekat dengan pintu. Teman-temannya yang lain sedang ramai, ribut karena ingin melihat nilai satu sama lain. Namun di antara keriuhan itu, ada satu titik sunyi yang seperti tidak tersentuh oleh yang lain.

Kursi tepat di depannya di mana Kinar duduk.

Saat dibagikan tadi, Kinar mengambil lembar jawabannya dengan tenang. Emir tidak bisa menaksir kira-kira berapa skor Kinar. Ekspresi gadis itu tetap datar, tidak terbaca. Lantas setelah meneliti ulang lembar jawabnya, Kinar membuka buku. Sepertinya gadis itu mencari penyelesaian dari soal yang tidak jauh berbeda. Mungkin itu soal yang jawabannya salah. Lalu setelah beberapa menit, Kinar menutup buku, dan memasukkannya kembali ke tas bersama dengan semua barangnya yang berserakan di meja. Semua gerakannya tadi hampir tanpa suara.

Emir masih menatap ke arah Kinar saat gadis itu berkali-kali melirik arloji. Gelagatnya seperti ingin segera meninggalkan kelas.

“Kamu dapat berapa?”

Spontan Kinar menoleh. “Apa?”

“Ujian barusan, kamu dapat skor berapa?” Emir mengulangi pertanyaannya, kali ini lebih jelas.

“Jelek kok,” jawab Kinar.

Jelek. Ambigu. Emir teringat kejadian saat mereka belajar bersama, saat dia menanya-kan nilai mini quiz Sejarah. Kinar mendapat nilai lebih tinggi darinya, tapi gadis itu masih bilang nilainya jelek. Dan sekarang, Kinar mengatakan skornya jelek. Emir jadi tidak bisa menentukan. Jelek menurut standar Kinar, atau memang jelek? Seandainya jika Emir tahu berapa titik referensi Kinar mengenai nilai jelek itu. Hei, bisa dikatakan semua hal di dunia ini bersifat relatif.

“Berapa?” Tanya Emir lagi, penasaran.

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

7

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s