Vice Versa: Antara Benci & Cinta 12

 

“Memangnya kenapa?” Kinar balik bertanya.

“Ya penasaran aja. Pengen tau skormu berapa,” ujar Emir. “Berapa?” Desaknya.

“Kepo amat sih,” meski kalimat barusan akan terasa lebih menusuk jika dikatakan dengan nada gusar, Kinar tetap mengatakannya dengan nada datar.

Emir menatap gemas gadis di hadapannya itu. Dia sudah ingin bilang ‘ya udah, sebenarnya nggak penting juga sih’. Sayangnya dia sudah terlanjur penasaran. Selama mengikuti kegiatan klub bersama, Emir tidak pernah tahu seberapa kemampuan Kinar. Camp inilah kesempatannya untuk tahu.

“Aku kasih tau skorku, deh,” katanya akhirnya, berusaha bernegosiasi.

“Nggak ah. Nggak tertarik.” Kinar tetap dingin.

“Beneran?”

Sebenarnya Kinar pun sudah penasaran setengah mati dengan nilai Emir, ‘saingan’ nomor satunya di klub olimpiade. Tentu saja dia ingin tahu, demi bisa membandingkan kemampuan mereka. Tapi melihat Emir yang sepertinya santai, Kinar memperkirakan nilai pemuda itu bagus. Dan dia malas jika harus kembali merasa tertekan kalau-kalau ternyata nilainya lebih rendah.

Jujur saja, nilai Kinar tidak bagus-bagus amat. Jika menuruti standar nilainya untuk mapel sekolah, Kinar akan bilang nilai tidak jelek, tapi jeblok.

Jadi, alih-alih menyetujui tawaran Emir, Kinar melirik pemuda itu. Sorotnya tanpa minat.

“Nggak.”

Emir baru akan mengajukan tawaran lain ketika Kinar melihat arloji dan dengan gestur tidak peduli, gadis itu bangkit. “Aku duluan.”

***

Kinar sedang bermalas-malasan di kamar sambil membaca komik Hai! Miiko yang dibawanya ketika tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Ini baru pukul tiga lebih seperempat. Biasanya orang tuanya mengunjunginya di malam hari, pukul delapan setidaknya. Lagipula, ini hari Sabtu. Terakhir Bunda bilang di telepon, mereka akan datang hari Minggu malam. Dia juga tidak terlalu mengenal anak laki-laki teman-temannya itu, sebatas tahu nama. Agak tidak mungkin mereka yang mencarinya.

Dengan berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya, Kinar turun dari kasur dan melangkah untuk membuka pintu.

Kinar sedikit berjengit mendapati Emir di balik pintu.

“Ada apa?” Tanya Kinar. Sebelah tangannya memegang komik sementara yang lain memegangi daun pintu yang dibuka sebatas lebar tubuhnya yang tidak seberapa, menutupi pemandangan apapun dalam kamarnya.

Mungkin nadanya terdengar seperti terganggu, sehingga alih-alih menjawab, Emir malah berujar. “Yaelah, gitu banget sih. Mau dikasih tahu kalau kita ternyata ada acara keluar sore ini, malah gitu sambutannya. Ya udah kalau kamu nggak mau ikut.”

Emir berbicara terlalu cepat. Kinar mengerjap-kerjapkan mata beberapa kali, tidak mengerti. Yang ditangkapnya hanya nada protes pemuda itu. “Sorry, sorry.” Kinar berdeham, kemudian dengan nada yang lebih halus, dia bertanya. “Gimana tadi? Kamu ngomongnya kecepetan.”

“Tadi kita-kita baru dikasih tau Mas Asta—panitia itu—katanya jam setengah empat disuruh kumpul di depan. Ada acara keluar rame-rame.”

“Mau ke mana?” Tanya Kinar. Sebenarnya dia sudah ingin menolak. Hari di mana tidak ada jadwal pembinaan sudah ditunggu-tunggunya. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan berdiam diri di kamar, bermalas-malasan sambil membaca komik atau bermain-main di sosial media. Apalagi jika dia harus melewatkannya hanya karena harus ikut pergi ke tempat yang sama sekali tidak menarik.

“Ke Candi Gedong Songo, katanya. Mereka bilang sunset di sana bagus, jadi pada mau lihat. Terus nanti dinner di luar.”

Kata-kata seperti ‘sunset yang bagus’ atau apapun yang berhubungan dengan peman-dangan alam yang menarik selalu sukses membuat jiwa fotografi Kinar bergeliat. Haus minta dipuaskan. Untung saja dia membawa kamera DSRL, walau awalnya tidak tahu untuk apa. Jadi tanpa berpikir panjang Kinar segera mengatakan bahwa dia akan ikut.

“Tunggu sebentar ya, aku mau ganti baju dulu,” kata Kinar sedetik sebelum menutup pintu tepat di depan wajah Emir.

***

 

Sebagai orang Semarang asli, Kinar merasa agak malu. Banyak tempat wisata lokal yang belum pernah dikunjunginya, sementara dia malah sudah berkelana ke berbagai kota.

Meski tidak termasuk jajaran kota-kota tujuan wisata, Semarang punya pesonanya sendiri. Terbagi dua menjadi kota dan kabupaten, kedua Semarang itu seperti saling melengkapi. Kota Semarang punya laut dengan pelabuhan besar sebagai pintu masuknya. Banyak restoran pinggir laut yang menyajikan pemandang indah di samping menu seafood yang menggoyang lidah. Selain itu juga ada kawasan Kota Lama dengan gedung-gedung tua ala Belanda, yang membuat Semarang dijuluki sebagai Little Netherland dengan salah satu ikonnya yaitu Gereja Blenduk. Kesan ala Belanda juga terbawa hingga ke pusat kota, tepatnya di Tugu Muda dan Lawang Sewu yang terkenal.

Sementara itu, Kabupaten Semarang yang biasa disebut Semarang Atas punya gunung dan sederet objek wisata alam. Air Terjun Semirang, Umbul Sidomukti, dan tentunya Kompleks Candi Gedong Songo yang menjadi ikonnya. Belum banyak yang tahu, tapi justru kesan lengang itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang yang ingin menghabiskan waktu liburan dalam ketenangan.

Kinar menjadi orang pertama yang turun dari angkutan. Tadi sebelum berangkat, dia memaksa untuk duduk di samping pintu. Kinar mengaku tidak bisa duduk bagian belakang karena mabuk darat.

Candi Gedong Songo yang terletak di lereng Gunung Ungaran ini adalah sebuah kompleks candi yang dibangun pada abad kesembilan Masehi. Namanya diambil dari bahasa Jawa, dari kata ‘gedong’ yang berarti bangunan dan ‘songo’ yang berarti sembilan.

Lokasi Sembilan candi yang agak tersebar ini memiliki pemandangan alam yang indah, ditambah hutan pinus yang tertata rapi serta adanya mata air yang mengandung belerang. Terletak pada ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, suhu udara di sana cukup dingin.

Sambil menunggu, Kinar melepas penutup lensa kameranya dan memasukkannya ke kantong jaket. Sejenak dia mengecek memori kamera, tidak mau keasyikannya memotret tiba-tiba harus terhenti karena ruang yang tidak memadai.

Setelah semua siap, mereka mulai melangkah. Untuk menuju ke Candi Gedong I, mereka harus berjalan sejauh dua ratus meter melalui jalan setapak yang menanjak. Bisa saja memanfaatkan jasa transportasi kuda. Tapi daripada harus berhati-hati supaya bisa tetap seimbang di atas punggung kuda, mereka lebih memilih jalan kaki sehingga bisa menikmati pemandangan dengan lebih santai.

Kinar memilih berjalan paling belakang, supaya tidak ada yang protes jika dia berjalan lambat, atau sesekali berhenti karena tertarik untuk mengambil foto.

Tidak hanya pemandangan, sesekali gadis itu juga berhenti untuk mengambil foto teman-temannya. Untuk seru-seruan, walau akhirnya Kinar tahu itu takkan berguna dan hanya akan dia hapus. Namun, siapa tahu juga ternyata ada yang minta foto untuk kenang-kenangan selama camp.

Kinar terlalu asyik dengan kegiatan memotretnya hingga tidak merasa lelah sama sekali. Dia ingin terus melanjutkan perjalanan. Ini pertama kalinya dia ke sana dan targetnya adalah naik sampai candi kesembilan jalan kaki. Walau sebenarnya itu tidak mungkin, melihat matahari yang sudah mulai turun dan teman-temannya yang memilih berhenti.

Sementara teman-temannya beristirahat, Kinar memutuskan untuk memotret. Menjajal berbagai angle demi menghasilkan foto yang unik. Dan jika melihat posisi matahari, sepertinya tidak lama lagi akan ada request foto.

“Nar, fotoin dong!”

Tuh, kan, batin Kinar.

“Backgroundnya sunset ya!” Pesan Tanjung yang sudah bangkit dan berdiri di posisi yang menurutnya bagus.

“Lo mau sendiri, apa rame-rame?” tanya Kinar, dengan sebelah mata tertutup untuk mengintip lewat lensa.

Mendengar pertanyaan Kinar, Bobi dengan antusias bergerak mendekati Tanjung dan berseru. “Oh ya! Eh, semuanya, yuk!”

Para pemuda itu segera mengambil posisi. Panitia serta pembina tidak mau ketinggalan. Mereka ikut bergabung dalam barisan.

Demi menyisakan ruang untuk sunset, Kinar meminta mereka berbaris dalam dua layer, dengan barisan depan berjongkok. Sambil menunggu mereka mengatur barisan, Kinar mengubah setting kameranya. Dengan posisi membelakangi cahaya, tentu wajah mereka akan gelap. Untung saja Kinar rajin mengotak-atik kameranya, hingga tidak butuh waktu lama, kameranya siap.

“Siap ya! Teriak Fisika!” Mungkin pengaruh euforia karena bisa melakukan sesuatu yang disukainya, Kinar berseru dengan nada yang terdengar bahagia. “Satu … Dua … Fisikaaaa …!”

Tiga kali jepretan, baru Kinar menurunkan kameranya.

“Bagus,” komentarnya singkat saat mengecek hasilnya.

“Kamu mau foto juga, Nar?” tanya salah seorang temannya.

Kinar bukan orang yang suka dipotret. Dia lebih suka memotret, entah objeknya orang lain atau pemandangan. Itulah mengapa, fotonya sendiri malah menjadi barang langka dalam kameranya.

Tapi berhubung ini adalah salah satu tempat idamannya, Kinar setidaknya ingin memiliki satu bukti nyata dia pernah ke Candi Gedong Songo.

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s