Vice Versa: Antara Benci & Cinta 13

 

Belum sempat dia menjawab, seorang panitia sudah lebih dulu menyahut.

“Iya, kalian foto rame-rame aja, satu kelas. Biar aku yang ambil fotonya.”

Pemuda-pemuda itu kembali ke posisi mereka. Hanya saja, kali ini barisan yang berdiri menyisakan satu tempat di tengah untuk Kinar. Kinar sendiri melepas tali kamera dari lehernya dan menyerahkannya pada panitia tadi.

“Ini langsung tekan, atau harus disetting lagi?”

“Langsung tekan aja. Tiga kali ya, atau lebih kalau mau pakai ganti pose,” pesan Kinar sambil melangkah ke tengah-tengah barisan.

“Oke! Tiga gaya, ya! Satu gayanya, tiga kali jepret!” Sang panitia berseru, memutuskan secara sepihak. “Teriak Fisika! Satu … Dua … Fisikaaa!”

Kinar memasang senyuman lebar di wajahnya. Dan entah bagaimana, rasanya sangat mudah. Kinar seperti tidak punya keraguan sama sekali untuk melakukannya. Bahkan dia ikut saja saat mereka diminta memasang ekspresi konyol.

Sambil menggembungkan pipi untuk pose ketiga, Kinar menyadari sesuatu. Setidaknya ada detik-detik dalam camp ini yang mampu membuatnya mencicipi kebahagiaan.

***

Seandainya kebahagian bisa dicairkan dan dimasukkan dalam botol, lalu diteguk setiap saat kita merasa sedih.

Mereka baru sampai di penginapan pukul setengah sembilan malam. Setelah puas menikmati sunset di Gedong Songo, mereka melanjutkan dengan makan malam di sebuah restoran yang terletak agak jauh dari penginapan. Makanannya enak, tapi bisa jadi Kinar adalah satu-satunya yang tidak makan banyak. Bagaimana mungkin dia bisa makan di hadapan anak-anak lelaki itu? Bahkan melihat cara makan mereka yang seperti manusia bertahun-tahun tidak makan sudah membuat Kinar kehilangan nafsu makan. Tapi terlepas dari acara makan malam itu, Kinar puas dengan hasil jepretannya.

Setibanya di kamar, dia ingin segera memindahkan foto ke laptop dan melihat-lihat lagi hasilnya. Sayangnya, saat menarik keluar laptopnya dari tas, kertas hasil ujian siang tadi tanpa sengaja ikut tertarik, lalu melayang-layang dengan gerakan lambat hingga akhirnya mendarat di dekat Kinar. Dengan posisi terbuka. Dengan skor yang tercetak dari guratan pensil terpampang jelas.

Lupakan foto-fotonya. Kinar menyambar buku Biologi dan melangkah keluar kamar.

Sudah satu minggu dia tidak sekolah. Kinar harus mengejar ketertinggalannya.

* * *

Sepertinya memang benar jika sebagian besar laki-laki punya perut karet.

Setelah makan malam yang mampu membuat keuangan panitia kembang kempis, Emir dan kawan-kawannya memutuskan untuk membeli aneka makanan yang dijual dengan gerobak yang berjejer di sepanjang pagar depan penginapan. Perjalanan yang cukup panjang membuat mereka kembali lapar. Terlebih lagi, rencananya mereka akan bermain futsal di lapangan tenis di belakang penginapan.

Sambil membawa sebungkus gorengan, setampuk roti bakar, dan sekotak martabak telur, pemuda-pemuda itu kembali ke penginapan.

“Lo belum nonton Marmut Merah Jambu?” Guntur menatap Emir, kaget.

Emir menggeleng.

“Padahal seru lho.”

“Dengar-dengar sih, gitu. Tapi gue malas nonton di bioskop. Tunggu tayang di TV aja.”

Guntur berdecak. “Malas apa bokek?”

Emir nyengir. “Itu juga bisa.”

“Nggak, nggak!” Tiba-tiba Bobi menimbrung ke dalam pembicaraan mereka. “Emir belum nonton karena di jomblo. Jadi nggak ada yang nemenin nonton!” Seru pemuda tambun itu, disambut gelak tawa yang lain.

Tidak tinggal diam, Emir memitingnya, bercanda. Meski begitu, Bobi mengaduh. “Aduh, duh! Ampun, Mir!”

“Kayak lo nggak jomblo aja,” kata Emir sebelum akhirnya melepas Bobi.

“Coming soon deh, gue nggak jomblo.” Bobi nyengir.

“Kurusin dulu itu badan, baru cari pacar!” Tanjung menyeletuk.

Kembali gerombolan itu ramai karena tawa saat memasuki penginapan.

“Kok sekarang malah gue yang jadi korban,” gerutu Bobi. Bukannya mereda, kata-katanya malah membuat tawa yang lain mengeras.

Emir menjadi orang pertama yang menghentikan tawa. Sudut matanya menangkap sosok Kinar, duduk sendirian di ayunan di depan penginapan. Sebelumnya tidak ada yang memperhatikan gadis itu, selain karena terlalu sibuk tertawa juga karena penerangan yang kurang memadai.

“Eh, roti bakarnya gue bawa dulu ya. Entar gue nyusul.” Cekatan, Emir mengambil alih bungkusan roti bakar dari tangan Tanjung. Tanjung belum sempat bereaksi, namun Emir sudah berbalik, hilang di balik tembok depan penginapan.

Seperti efek domino, Tanjung yang berhenti membuat yang lain berhenti. Saat ini semuanya memandang ke arah pintu depan.

“Sebenarnya Emir jomblo nggak sih?”

***

Memangnya aku perlu bilang ya? Aku ini temanmu.

Seleksi tingkat kota masih sekitar lima bulan lagi.

Dibandingkan dengan Tanjung, Kinar nyaris tidak ada apa-apanya. Tahun lalu, di camp yang sama, di saat Tanjung mendapat skor empat puluh dua dari empat puluh lima, Kinar hanya mendapat tiga puluh. Melihat pemuda itu di kelas sekarang, jelas-jelas kemampuannya sudah jauh meningkat.

Belum sempat dia mengejar Tanjung, tahu-tahu muncul Emir. Mengejar Tanjung sesungguhnya bukan prioritas, karena bagaimana pun juga mereka berbeda kota. Kinar masih punya kesempatan. Tapi Emir, pemuda itu tidak hanya satu kota, melainkan satu sekolah dengannya.

Sesungguhnya tidak penting mengurusi semua itu. Seharusnya Kinar hanya perlu fokus pada satu hal.

Belajar.

Sejak masuk TK, kecemerlangan Kinar sudah tampak. Walau tidak pandai menyanyi, dia yang paling pandai membaca, menulis, dan menguasai paling banyak vocab bahasa Inggris. Di hari kelulusan, dia dinobatkan sebagai lulusan terbaik—entah standar seperti apa yang dipakai di sekolah setingkat TK.

Sekolah dasar, Kinar meraih nilai tertinggi dalam ujian masuk. Tulisannya dibilang cukup bagus dan rapi, setidaknya bisa dibaca oleh guru yang mengetes. Bacaannya lumayan lancar, walau terkadang masih terpeleset saat membaca kata-kata baru yang menggunakkan huruf e—karena bingung dengan pembacaannya, seperti elang atau ember. Kesalahannya hanya satu. Dia tidak tahu kalau singa itu mengaum.

Enam tahun di sekolah dasar, hanya satu kali dia tidak meraih peringkat satu. Ketika itu dia sedang sibuk-sibuknya pembinaan olimpiade sehingga jarang masuk kelas. Tapi itu pun tetap peringkat dua.

SMP, prestasinya tidak berubah. Sekali tidak peringkat satu, saat pembagian rapor bayangan setelah mid semester ganjil kelas delapan. Kasusnya sama, sibuk pembinaan. Bedanya hanya terletak pada seberapa besar usaha Kinar mempertahankan prestasinya. Semasa SD, dia hanya belajar jika besoknya akan ulangan. Semasa SMP, jam belajarnya saja nyaris tidak cukup untuk mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk.

Bagi orang-orang, pasti menyenangkan menjadi Kinar. Memang benar, menyenangkan. Teman-temannya iri padanya. Para orangtua berharap bisa memiliki anak sepertinya. Guru-guru senang dan berandai-andai jika semua murid sepertinya. Tapi siapa yang benar-benar tahu gadis itu menyimpan ketakutan yang sangat besar.

Ketakutan akan bayangan dirinya tiba-tiba terjatuh.

Saat SD dulu, Kinar bukan peringkat tertinggi di kelas pembinaan olimpiade. Dia peringkat tiga di antara tiga orang yang akan maju ke tingkat nasional. Malu, tapi cukup membuatnya lega. Menjadi peringkat terbawah membuatnya tidak perlu mempertahankan posisi. Fokusnya hanya satu. Menyaingi teman-teman yang peringkatnya lebih tinggi.

Kinar merasa sangat beruntung bisa meraih peringkat satu paralel tahun lalu. Targetnya tahun ini adalah mempertahankannya. Tapi, sudah terlanjur terkenal karena meraih medali di ajang olimpiade, bebannya bertambah menjadi mempertahankan prestasinya di ajang tingkat SMA.

Kinar merasa dirinya semakin bungkuk karena beban yang berat. Bukan punggungnya, tapi kewarasannya yang bungkuk.

Dan reputasi seperti mata pedang yang ketat menempel di lehernya, siap memisahkan kepala dari tubuhnya jika Kinar oleng sedikit saja.

Itu alasannya ingin resign. Kinar ingin keluar dan terbebas dari kompetisi gengsi yang bahkan lebih menakutkan dari kompetisi olimpiade itu sendiri. Setidaknya dengan begitu bebannya akan berkurang.

Di saat seperti ini, membaca komik sudah tidak mempan. Satu-satunya pengalih perhatian adalah Bim Bim. Memikirkan pemuda itu selalu berhasil membuat Kinar kembali tenang, meski sejenak. Membuat Kinar merasakan kembali rindu pada manusia satu itu. Rindu yang menyesakkan, tapi terasa familiar dan menenangkan.

Sayangnya, sejak tadi ponselnya bergeming. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan pesan singkat ataupun telepon dari Bim Bim.

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

2Tips_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s