Vice Versa: Antara Benci & Cinta 14

 

“Hei.”

Kinar bisa merasakan jantungnya berdebar hanya karena sepotong ‘hei’ dari suara yang dikenalnya. Refleks yang tidak pernah Kinar mengerti, atau pun bisa dia cegah.

Gadis itu menoleh. Emir berdiri tepat di sampingnya. Pemuda itu masih mengenakan baju yang sama dengan yang dipakainya saat pergi tadi. Sebuah kaos warna biru gelap berlengan panjang, yang kini tergulung sampai sebatas siku, dipadu celana jeans gelap. Dengan penerangan yang kurang, Emir hampir terlihat gelap secara keseluruhan, kecuali sepatu ketsnya yang sudah diganti dengan sandal penginapan yang putih bersih.

“Aku duduk di situ ya.” Belum sempat Kinar mengiyakan, pemuda itu sudah lebih dulu duduk di tempat duduk yang berhadapan dengan Kinar.

Kinar mengerang dalam hati. Semakin sulit untuk tidak menatap wajah pemuda itu jika mereka berhadap-hadapan seperti ini.

Menyadari Kinar yang bergerak-gerak gelisah, Emir membuka pembicaraan. “Bahkan di saat-saat seperti ini, kamu belajar?”

Kinar menatap buku yang terbuka di pangkuannya. Sesungguhnya sejak tadi dia lebih banyak melamun daripada belajar. “Oh ini. Memangnya nggak boleh?”

“Boleh siih …. Cumaa ….”

“Eh, kamu tau nggak, kalau orang pertama yang mengerti hieroglif itu Jean Francois Champollion, arkeolog dari Perancis?”

Emir mengerutkan dahi, tidak mengerti mengapa Kinar memotong kata-katanya dengan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya.

“Padahal hieroglif itu kan, abstrak banget. Keren banget ya, Champollion ini,” celoteh Kinar.

Kamu itu yang abstrak, gumam Emir dalam hati. Pemuda itu baru membuka mulut ketika lagi-lagi Kinar menghentikannya.

“Terus, sereal itu ternyata ditemukan secara nggak sengaja. Awalnya dari rumah sakit ‘Western Health Reform Institute’ di Michigan. Yang menemukan Will Kellogg, karena dia kelamaan merebus gandum, yang akhirnya malah kering. Hahaha, lucu ya. Nggak sengaja, tapi malah jadi penemuan bermanfaat, kayak sticky notes,” Kinar mengoceh.

“Kinar ….”

Antara tidak dengar dan tidak peduli, Kinar terus saja berceloteh. “Kamu tau kan, sticky notes itu ditemukan secara nggak sengaja, karena ternyata lemnya nggak benar-benar menempel? Aku lupa siapa penemunya.”

“Nar ….”

Untuk kedua kalinya Kinar mengabaikan Emir. “Oh ya, terus katanya ada yang perekatnya dari putih telur. Agak sayang juga sih, sekarang kan, telur harganya mahal. Nggak kayak zamanku kecil dulu. Dalam kurun waktu beberapa tahun, harga telur melonjak lebih dari seratus persen harga awal. Entah nilai internal rupiah anjlok—“

Kinar seperti mengejang merasakan sesuatu di pergelangan tangannya. Dia tidak perlu melihat untuk mengetahui itu adalah tangan Emir yang menggenggamnya.

“… Atau entah gimana …,” Kinar menyelesaikan kalimatnya dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar.

Untuk sejenak Kinar menatap bergantian antara wajah Emir dan pergelangan tangannya yang kini terasa hangat.

“Udah ngomongnya?”

Setitik perasaan kesal perlahan muncul dalam diri Kinar. Bukan karena Emir memotong kalimatnya. Kinar kesal karena Emir membuat jantungnya berpacu. Dua kali lebih cepat, karena tangan itu masih di pergelangan tangannya. Tiga kali lebih cepat, karena sepasang mata jernih itu kini menatapnya lekat-lekat. Empat kali lebih cepat, karena sekarang suara bariton pemuda itu berbicara padanya dalam nada yang sungguh menggetarkan. Kinar tidak tahu sampai berapa lama jantungnya bertahan sampai akhirnya meledak.

“Udah?” Tanya Emir lagi.

Kinar masih terdiam menatap wajahnya, lalu beralih ke pergelangan tangannya.

“Ugh, sorry.” Buru-buru Emir melepaskannya.

Kesunyian melingkupi atmosfer di antara mereka. Kinar menggunakan kesempatan itu untuk menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen. Sementara itu, sambil menenangkan jantungnya, Kinar memunculkan wajah Bim Bim dalam kepalanya.

Oh ya, Bim Bim!

Tadi Kinar sedang sibuk memikirkan segala kemungkinan mengapa Bim Bim tidak segera membalas pesan singkat yang dikirimnya. Ya, sudah lebih dari satu bulan terakhir ini pemuda itu sulit dihubungi. Pesan singkat jarang dibalas, telepon pun tidak jarang tidak terjawab. Kalaupun akhirnya mereka bisa mengobrol, Bim Bim selalu terdengar terburu-buru.

Tapi Kinar selalu menepis pikiran buruk yang muncul. Positive thinking, mungkin Bim Bim hanya sedang sibuk dengan kuliahnya.

Dan pikirannya seketika buyar saat Emir menyapanya tadi.

Gadis itu merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel. Nihil. Bim Bim masih hilang.

* * *

“Mm, sorry yang tadi. Serius, aku nggak bermaksud—“

“Nggak apa-apa. Aku paham kok perasaanmu. Pasti tadi kamu udah ketakutan, kalau-kalau aku jadi gila, kan?”

Sejenak, Emir hanya terdiam. Detik berikutnya, tawanya menyembur. Tidak menyang-ka kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulut dengan ekspresi sedatar itu. Kinar sendiri terlihat tidak peduli.

“Hahaha …,” Emir sudah mulai menguasai diri. “Nggak nyangka. Bisa juga kamu.”

“Apa?”

Emir mendecakkan lidah. “Nevermind. Sebenarnya aku lebih kaget waktu kamu tau-tau ngoceh nggak jelas. Mesir lah, sereal lah, sticky notes lah. Ujung-ujungnya sampai nilai rupiah.”

Aku aja kaget, gimana kamu? Kinar mengingat kembali ketika dia mengoceh tidak karuan tadi. Seingat Kinar, itu adalah kali pertama dia bertingkah seperti tadi. Kinar merasa kepalanya penuh dan tiba-tiba Emir membuka pembicaraan. Kata-kata pemuda itu seperti ayunan kapak yang mengenai dinding kayu bendungan yang sudah hampir pecah. Kinar langsung saja berceloteh, tanpa benar-benar menyadari apa yang sedang dikatakannya.

Emir membetulkan posisi duduknya. “Eh, Nar, kalau boleh tau, kamu kenapa jauhin aku?”

Kinar terlihat kaget.

“Seumur-umur, belum ada yang memperlakukan aku kayak gini. Aku cukup sadar diri dengan pendapat orang yang bilang aku tampang preman.” Kinar setengah mati ingin membantahnya, tapi dia diam saja. “Tapi kupikir aku nggak berbuat salah yang sampai bikin kamu sebegitu bencinya sama aku. Aku pengen tau. Aku udah tanya Rangga tempo hari, tapi dia bilang supaya aku tanya langsung sama kamu.”

Sunyi. Emir menunggu Kinar bicara.

“Aku nggak benci sama kamu.”

“Lalu?”

Kinar menarik lengan bajunya sampai siku. “Kamu cuma agak mengerikan buatku.” Lalu menyadari kalimatnya barusan, buru-buru Kinar meralat. “Bukan, bukan. Maksud aku bukan secara fisik. Ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan fisik.”

“Buatku lebih masuk akal kalau kamu menilai secara fisik.”

“Nggak, nggak,” Kinar menggeleng kuat-kuat. “Itu malah sama sekali nggak masuk akal. Aku nggak hidup di zaman apartheid, atau zaman berlakunya Indische Staatsregelling.”

“Jangan mulai ngomong hal-hal absurd lagi,” Emir menyela.

“Oke,” Kinar langsung setuju. “Jadi ….”

Yang semula terdengar mantap, Kinar berubah menjadi ragu. Entah mengapa akhir-akhir ini dia sering lepas kendali. Analoginya, Kinar menjadi seperti api yang bisa tiba-tiba berkobar jika disiram minyak tanah. dalam kasusnya, Emir adalah si minyak tanah.

“Jadi?” Emir menunggu.

“Aku nggak tau, kasih tau kamu itu suatu tindakan yang tepat atau nggak.”

“Setidaknya itu bisa menjelaskan semuanya. Sekaligus sebagai bayaran atas sikapmu selama ini.”

“Aku bersikap begitu juga gara-gara kamu,” Kinar bergumam pelan.

“Sorry?”

“Nothing,” tukas Kinar cepat. “Begini aja. Aku tanya dulu sama kamu.”

“Apa?”

Kinar menghela napas. “Kamu sadar nggak, akhir-akhir ini aku mulai banyak bicara sama kamu?”

 

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s