Vice Versa: Antara Benci & Cinta 15

“Memangnya salah, kalau kamu mulai banyak bicara? Lagipula, kulihat sebenarnya kamu bukan orang pendiam, cenderung cerewet malah,” ujar Emir santai. Dan itu pendapatnya yang sebenarnya mengenai Kinar. Cerewet.

“Dengan catatan, kepada orang tertentu dan situasi tertentu pula,” Kinar mengoreksi.

“Oke.”

Kinar menarik lepas ikat rambutnya. Dia menyisir dengan jemari, lalu mengikatnya kembali. Kali ini rambutnya diikat di sebelah kiri bawah.

“Kamu benar. Aku cerewet. Hanya butuh orang-orang yang tepat, dan banjir kata akan keluar dari mulutku.” Kinar tersenyum sinis, lebih pada dirinya sendiri. Matanya menerawang. “Jauh lebih parah, aku orangnya meledak-ledak.”

“Aku benci bilang ini. Seperti mengumbar kelemahan terbesarmu kepada musuh. Tapi kamu pantas untuk tau. Kalau kamu tanya kenapa aku menjauhimu, jawabannya adalah karena kamu sainganku,” kata Kinar, masih dengan senyum yang sama. Hanya saja kali ini dia menatap Emir.

Kinar tidak tahu apa yang membuat dirinya akhirnya memutuskan untuk bicara pada Emir. Yah, mungkin yang dibutuhkannya saat ini memang teman bicara. Sesederhana itu. Dan satu-satunya tersedia—dan sepertinya sama sekali tidak keberatan—adalah Emir.

“Saingan? Terus kalau saingan, kamu jauhi semua, gitu?” Bagi Emir, pemikiran sema-cam itu agak tidak masuk akal. Jika dipikir ulang, mungkin malah tidak ada orang yang bukan ‘saingan’ di dunia ini. Seandainya semua orang punya pola pikir yang sama dengan Kinar, Emir tidak tahu akan jadi seperti apa dunia.

Kinar mendesah, sudah tahu bahwa pasti Emir akan semakin memberondonginya dengan pertanyaan.

“Kamu nggak tau ceritanya, sih,” Kinar tidak mau kalah.

“Memangnya ceritanya apa?”

“Kok kamu kepo?”

Hari ini, sudah dua kali Kinar bilang dirinya ‘kepo’. Tapi dengan dua nada yang berbe-da. Siang tadi, datar seperti Kinar yang dikenalnya awal kelas sebelas. Malam ini, terdengar lebih beremosi. Tapi terasa lebih bersahabat. Emir lebih suka yang kedua.

“Kamu kalau kasih tau kok setengah-setengah sih?” Emir mengeluh.

“Aku nggak niat kasih tau, ya. Kamu yang tanya.”

“Kan aku harus tau, sebelum memutuskan bakal maafin kamu atau nggak.”

Kinar memicingkan mata. “Sejak kapan aku minta maaf sama kamu?”

Emir tidak langsung menyahut. Kinar sejak tadi memang tidak sekalipun mengatakan kalau dia meminta maaf soal sikapnya yang belum-belum. Lagipula, kelihatannya gadis itu sama sekali tidak berniat minta maaf.

“Tinggal jawab, apa susahnya sih?”

“Masalahnya ada pada siapa yang nodong aku pakai pertanyaan itu.”

“Lho, aku kan temanmu. Masa belum tau?”

Mendengar kata ‘teman’, Kinar terhenyak. Dia bilang apa tadi? Teman? Kinar bahkan sudah lupa rasanya benar-benar punya teman. Atau malah, dia lupa seperti apa itu ‘teman’ yang sesungguhnya. Kebanyakan teman-temannya di sekolah hanya sebatas tahu nama, atau kenal yang kadar kedalamannya tidak lebih dari kolam main balita di kolam renang.

“Aku nggak merasa kenal kamu.”

Emir mengernyit. Jika Kinar menatapnya seolah dia alien dari Mars, seharusnya gadis itu bercermin. Kinar yang alien, dari Venus. Terbayang kan, seperti apa anehnya alien dari Venus, yang bisa hidup di planet dengan perbedaan temperatur siang-malam yang sebegitu besar?

“Ini kalau nggak disebut ‘kenal’, terus apa?”

Kinar menatap Emir sejenak. Setelah beberapa detik, dia mengalihkan pandangan. “Tauk ah. Susah ngomong sama kamu.”

Emir mengerjap. “Bukannya kebalik ya …?”

* * *

Jika Emir tidak salah hitung, ini adalah kali kelima Kinar mengecek ponsel.

“Kamu lagi nunggu SMS?”

“Iya.” Ekspresinya sedikit gusar.

“Siapa? Pacar?”

Kali ini Kinar menggeleng. “Bukan.”

Jika pertanyaan itu dilontarkan sekitar delapan bulan yang lalu, Kinar pasti akan menjawab ‘iya’. ‘Iya’, karena saat itu dia masih berpacaran dengan Bim Bim.

Berbicara soal pacar, Emir ingat bahwa dia ingin menanyakan sesuatu pada Kinar. Lantas memori yang satu itu segera menyerobot ke barisan dan depan dan otomatis terputar kembali dalam benaknya.

“Oh ya, kamu pacarnya Mas Bim Bim?”

Kinar yang sedang asyik memelintir ujung rambutnya seketika menghentikan gerakan.

“Kamu tahu Bim Bim?” Dia balas bertanya.

Emir mengangguk. “Dulu dia satu tempat les musik sama aku. Waktu masih di Malang. Kita juga sempat gabung di band yang sama. Band bentukan guru les gitu.” Emir mengedik-kan bahu kepada kenangan lamanya. Dia mendongak, setelah sempat tertarik memperhatikan sandal berlabel penginapan, lalu bertanya. “Terus kalian apaan?”

“Manusia lah!”

Pemuda itu memutar bola mata. “Hubungannya …, Mbak. Masa harus detail sih? Kamu kan, pintar. Harusnya langsung nyantol.”

“Iya. Aku nggak mau salah tafsir.” Bibir Kinar mencebik sedetik. “Kalau hubungan, kita sebetulnya nggak berstatus apa-apa.”

“Lah, terus yang kulihat tempo hari itu apa?”

“Yang mana?”

“Sekitar dua bulan lalu, akhir Agustus, aku lihat kalian berdua jalan di Paragon.”

Hari Sabtu itu Bram meminta Emir menemaninya membeli baju untuk persiapan perjalanan bisnis ke Singapura. Emir sempat syok, karena baginya saling teman-menemani dalam urusan berbelanja baju itu identik dengan urusan perempuan. Atau jika tidak, biasanya bersama pasangan. Tapi setelah ayahnya menambahkan bahwa mereka akan makan di luar sesudahnya, Emir langsung mengiyakan.

Dia sedang berjalan-jalan di antara rel-rel gantungan baju di sebuah butik ketika tidak sengaja matanya menangkap sekilas sosok yang dikenalnya. Emir sudah tahu sejak lama Bim Bim pindah ke Semarang, tapi belum pernah sekali pun bertemu dengannya sejak dia sendiri pindah ke Kota Atlas itu. Bermaksud menyapa, Emir keluar butik, meninggalkan Bram yang sedang sibuk memilih kemeja.

Bim Bim tidak sendiri. Pemuda itu menggandeng tangan seorang gadis dalam balutan terusan coklat tua. Mungkin pacarnya, pikir Emir. Dia mempercepat langkah untuk mengejar mereka. Namun seketika langkahnya terhenti.

Gadis yang bersama Bim Bim menoleh untuk menatap wajah pemuda itu. Emir jadi bisa melihat wajahnya dari samping.

Kinar.

“Jangan bilang kamu adiknya Bim Bim,” kata Emir, curiga.

Kinar menggeleng lagi. “Nggak berharap jadi adiknya orang cakep. Nanti nggak seru, nggak bisa digebet.”

“Tapi katamu tadi, kalian juga nggak pacaran.”

“Sekarang memang nggak, tapi dulu iya.”

Tidak sampai tiga bulan sejak awal perkenalan mereka, Kinar akhirnya jadian dengan Bim Bim. Kinar tentu senang sekali, orang pertama yang menjadi pacarnya adalah seseorang seperti Bim Bim. Bim Bim sendiri tidak kalah bahagia, sampai dia rela melewatkan kesempatan bermain futsal bersama teman-teman demi menyambangi rumah Kinar di malam Minggu.

“Kalian putus?”

Kinar mengangguk. “Aku kena tegur.”

Sayang hubungan mereka tidak bertahan lama. Bukan karena orang ketiga, atau pun alasan perasaan yang memudar. Bim Bim masih tetap menyayangi Kinar. Begitu pula sebaliknya. Hanya saja ada pihak yang tidak terima.

Kinar ditegur pihak sekolah karena hubungannya dengan Bim Bim.

“Saya melihat kamu sering pulang bersama dengan Bim Bim. Pernah juga ada guru yang melihat kalian jalan bersama. Saya tidak melarang kamu pacaran. Saya sendiri pernah muda dan pernah merasakan yang seperti itu. Tapi tolong kamu lihat lagi posisi kamu. Kamu adalah aset sekolah. Akan sangat mengecewakan jika nantinya prestasimu menurun hanya karena pikiran yang bercabang,” saat itu Santi sebagai guru pembinanya yang menyampaikan teguran.

“Dan cuma gara-gara itu, kalian betulan putus?” Selain aneh dan ambisius, Emir mendapati Kinar adalah seseorang yang ternyata terlalu taat pada pihak sekolah. Jangan-jangan sampai saat ini belum ada satu pun pelanggaran yang dibuatnya. Yang paling remeh sekali pun—membuang sampah sembarangan misalnya.

“Sebenarnya bisa aja lanjut. Tapi kita berdua sama-sama jengah sama tatapan guru-guru. Ketemu mereka rasanya selalu tertuduh. Ya udah, akhirnya aku bilang ke dia mending kita putus, dan lanjut tanpa status ‘TAKEN’,” Kinar berargumen, menekankan pada kata ‘taken’.

Meski tidak paham-paham amat, Emir mengangguk-angguk saja.

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s