Vice Versa: Antara Benci & Cinta 16

 

“Tapi ya, kupikir awalnya juga nggak mungkin kamu pacaran sama Bim Bim.”

Kinar memicing. “Kenapa?”

“Hm …,” Emir bergumam, menyandarkan punggung pada sandaran ayunan yang terbuat dari besi dan sama sekali tidak nyaman. “Yah, gimana ya …? Mantan-mantan aku sih, masih lebih cantik dari kamu.”

Dadanya serasa ditusuk pedang es. Kinar tahu seharusnya dia tidak merasa begitu. Seharusnya dia bersikap biasa saja sebagaimana dia menghadapi anak-anak di sekolahnya. Seharusnya dia bisa dengan santainya berujar, Emir who?

Tapi saat ini, entah mengapa dia merasakan nyeri dalam rongga dadanya.

Beberapa bulan mengenal pemuda itu, Kinar pikir Emir orang yang menyenangkan. Dia termasuk orang yang jujur, terlalu jujur hingga kadang menyakitkan. Beberapa kali Kinar mendengar pemuda itu mengomentari Rara atau Dino. Apa adanya. Dia juga tampak tidak berusaha menggunakan majas eufimisme—majas penghalusan.

Dia baru saja menjadi korban kata-kata pemuda itu.

“Cantik kan, relatif. Kamu anak Fisika, pasti paham banget kan, konsep relativitas?” Nada Kinar menyindir.

“Ha-ha-ha,” Emir tertawa garing.

Lalu tahu-tahu Kinar mendengus. “Kamu sama aja sama mereka.”

“Mereka siapa?”

“Cewek-cewek di sekolah, teman-teman Bim Bim. Yah, nggak semuanya sih. Tapi ada yang bilang seperti itu.” Kinar mengedikkan bahu, mengatakannya dengan nada sambil lalu.

Emir tidak menyahut. Dia memperhatikan kotak roti bakar di tangannya. Terlalu asyik mengobrol, dia lupa dengan roti bakarnya.

“Tapi ya, Mir—dengerin!” Kinar memerintah, membuat Emir kembali menatapnya. “Setelahnya aku menyimpulkan, Bim Bim nggak sepicik orang-orang itu.” Setelah mengata-kannya, Kinar mengalihkan pandangan ke lampu depan penginapan yang menjadi pusat gerombolan laron.

“Berarti aku termasuk dong?” Emir menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk.

Kinar melirik Emir sekilas. Sorotnya seperti menilai. Kemudian dia mengalihkan pandangan lagi. “Ya, mungkin.”

Sunyi. Mereka kembali diam.

Malam ini adalah pembicaraan yang aneh bagi mereka. Setelah berbulan-bulan, baru kali ini mereka berbicara panjang lebar mengenai sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan olimpiade. Dan yang mengherankan, pembicaraan beberapa detik lalu seperti mereka sedang memaki satu sama lain, hanya dengan nada yang berbeda.

Kinar sudah terbiasa dengan bagaimana orang berpendapat tentang dirinya. Urusan pelajaran, Kinar memang jagonya. Tapi dia bukan ahlinya di bidang asmara. Jika ada kelas yang membahas soal asmara, bisa jadi Kinar adalah murid yang tidak pernah lulus ujian. Kinar cukup tahu itu. Namun baru kali ini dia mengenal seseorang yang secara langsung, di depan wajahnya, mengatakan Kinar kurang cantik.

Seorang Emir.

Walau memasang tampang datar, Kinar merasa ada lubang yang terus membesar dalam hatinya.

Setelah sekian lama, Kinar mendapati otaknya memiliki kesulitan memahami hatinya. Hari ini. Malam ini.

* * *

“Kalau aku bilang sih, kamu jangan kebanyakan mikir.”

Dalam keheningan yang lama, akhirnya Emir lebih dulu angkat bicara dengan menawari Kinar roti bakar. Kini keduanya sedang asyik menikmati roti bakar isi keju. Masih terasa nikmat meski tak lagi hangat.

“Soal?”

“Tapi yah, kamu udah terlalu terkenal pintar sih,” Emir melanjutkan, seperti tidak mendengar Kinar.

“Soal apa sih?” Kinar kini terdengar mendesak.

“Soal saingan dan whatever you call them.”

Kinar hanya bicara sedikit soal itu. Tapi Emir sendiri tidak membutuhkan banyak penjelasan. Pernyataan Kinar tentang alasannya menjauhi Emir, nilai sembilan puluh yang dikatakannya buruk, dan kenyataan bahwa gadis itu membuka buku Biologi di tengah-tengah camp olimpiade Fisika. Itu semua sudah hampir lebih dari cukup untuk membuat Emir mengerti.

“Terus, menurut kamu, harusnya aku gimana?” Kinar mengulurkan tangan meraih kertas kardus roti bakar, menggunakannya untuk menyeka minyak di jemarinya.

“Ya udah, let it flow. Kamu cuma perlu melakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan. Dan pakai insting. Biasanya insting jarang salah.”

“Kata siapa?” Kinar tidak percaya.

“Kataku barusan. Soalnya aku begitu. Lagian Einstein juga bilang tentang kelebihan intuitive mind dibanding rational mind.”

Kinar tahu benar kata-kata Einstein yang dibicarakan Emir. Dulu ada pajangan di ruang kelas PKn di SMPnya yang berisi quote itu, lengkap dengan gambar Einstein.

“The intuitive mind is a sacred gift and rational mind in a faithful servant. We have created a society that honor the servant and has forgotten the gift.”

Kinar tidak menyahut. Dia seketika punya katertarikan pada sepasang sneakernya. Baru setelah beberapa menit, dia bersuara. “Nggak matching.”

Sebelah alisnya terangkat. Here it goes, kata-kata Kinar yang sulit dimengerti, batin Emir.

“Antara minat, cita-cita, dan keinginan orangtua.” Kinar berhenti. Dia mendongak. “Itu kata-kata Keenan di novel Perahu Kertas.” Kinar mendesah, teringat akan salah satu novel favoritnya. “Dari awal aku bisa baca novel remaja, aku pikir yang namanya berjuang meraih mimpi itu cuma akal-akalannya penulis aja. Fiksi, nggak ada di dunia nyata.” Setelah mengambil jeda beberapa detik, tahu-tahu Kinar mendengus, antara geli dan miris. Emir sampai menatapnya bingung. “Tapi mungkin memang aku aja yang selama ini terlalu banyak berdiam diri dalam kandang. Aku jarang keluar sampai nyaris nggak tau apa-apa tentang dunia tempatku tinggal sekarang.”

Kini gantian Emir yang mendengus. “Memangnya selama ini kamu tinggal di mana? Gua hantu?” katanya, bernada sarkasme.

Emir sama sekali tidak menyangka sarkasmenya malah ditanggapi ringan oleh Kinar. “Iya, gua hantu di mana cuma ada aku dan dunia kecilku. Tapi daripada gua hantu, lebih ke gelembung buram. Aku hidup sama orang-orang lainnya, tapi ada selapis gelembung buram yang melingkupi aku.” Gadis itu lalu menatap Emir lekat. “Aku bisa lihat mereka, tapi nggak jelas. Begitu pula sebaliknya.”

Jika Kinar bicara gelembung buram yang membatasinya dengan dunia luar, kini seolah ada gelembung transparan berisi udara bernama kesunyian yang membungkus mereka. Kinar sudah menutup buku Biologinya sejak tadi, dan sekarang dia asyik menarik-narik ujung plastik pembungkus sampul depannya.

“Eh, Mir,” seketika gadis itu mendongak. “Sorry ya, kalau aku malah ngoceh nggak jelas.”

Pemuda itu mengangguk. “Kamu kan memang aneh.”

Kinar hanya tersenyum samar.

“Kamu masih mau lagi, roti bakarnya?” Tawar Emir. “Kalau nggak, aku balikin dulu ke teman-teman. Tadi aku asal bawa aja.”

Kinar menggeleng.

“Aku … kasih ke mereka dulu ya.” Emir turun dari ayunan. Baru beberapa langkah, dia berbalik. “Oh ya, aku punya sesuatu buat kamu, biar kamu nggak sedih.”

Kinar menatap kepergian Emir dengan dahi berkerut.

* * *

Tak lama kemudian Emir kembali. Tangannya menggenggam sesuatu berbentuk balok seukuran kotak kacamata. Dari kejauhan, ditambah pencahayaan yang kurang, Kinar tidak bisa menentukan benda apa itu.

“Cuma ini yang bisa aku bawa.”

Emir kembali duduk di hadapannya, membuat ayunan sedikit bergoyang. Lalu dia mengangkat benda di tangannya lebih tinggi. Kinar bisa melihatnya lebih jelas sekarang.

Sebuah harmonika.

“Kalau lihat harmonika, aku selalu ingat Masku. Dulu, sambil nunggu waktu jemput aku di asrama, biasanya dia duduk sandaran di motor, terus main harmonika.”

“Masmu … di mana?” Mendengar nada sayu saat Kinar membicarakan kakak laki-lakinya, Emir berpikir yang tidak-tidak. Penasaran, dia memutuskan bertanya.

Kinar memicing. “Maksudnya?” Bingung dengan nada bicara Emir.

“Habis kamu ngomong gitu. Seolah dia ada di mana aja,” Emir menjelaskan.

“Oh itu.” Lalu tiba-tiba gadis itu memutar bola mata. “Paling juga sekarang dia lagi main game atau kalau nggak, teleponan sama ceweknya di rumah.” Detik berikutnya ekspresi gadis itu sudah kembali berubah. “Tapi dengar-dengar, dia mau dipindahtugaskan ke Pontianak sih.”

“Oh,” Emir bergumam. “Eh, jadi nggak nih?”

“Apanya? Kan kamu yang tadi bilang mau bikin aku nggak sedih lagi.”

“Ya kamunya malah ngajakin ngobrol lagi sih.”

“Iya iyaaa … Aku diam deh.” Kinar memutar bola mata.

Emir menempelkan sisi harmonika ke mulutnya. Dia mulai meniup. Terdengar intro dari lagu yang dikenal Kinar.

Everything Has Changed.

Kinar memperhatikan bagaimana pemuda itu dengan lihainya menggeser-geser harmonikanya, meniup di lubang yang tepat dengan tempo yang pas.

Sejak hari pertama klub, Kinar sudah tidak pernah lagi memperhatikan Emir. Dan sementara pemuda itu asyik bermain harmonika, Kinar menatapnya lurus-lurus. Menjelajahi garis wajahnya. Kinar tidak pernah tahu memperhatikan anak rambut yang memanjang di sisi wajah seseorang bisa menjadi begitu menarik.

Kinar tahu benar Bim Bim tampan. Pemuda itu juga berbicara dengan cara yang menyenangkan untuk didengar. Bim Bim tahu bagaimana memperlakukan seorang gadis. Bim Bim juga jelas-jelas sangat baik.

Namun malam ini, Kinar seperti menemukan kata ‘tapi’ dalam diri Bim Bim.

‘Tapi’ yang tidak bisa Kinar jelaskan. ‘Tapi’ yang sebaliknya malah membuat Emir tampak lebih dibanding Bim Bim, dibalik segala kurangnya dibandingkan dengan Bim Bim.

Membingungkan.

Satu lagu selesai. Begitu suara harmonika lenyap ditelan sunyi, yang terdengar ada suara kerik jangkrik atau deru mobil yang lewat sesekali.

“Udah jam sebelas. Mau balik kamar?”

Kinar mengangguk. Keduanya lantas berjalan beriringan masuk penginapan. Kamar mereka tidak jauh. Emir memutuskan mengantar gadis itu sampai depan kamarnya.

“Makasih ya. Udah mau jadi tempat sampahku malam ini. Lagunya juga,” kata Kinar.

Emir tersenyum. “Iya. Jangan sedih lagi ya, Aneh.” Dia mengacak sekilas rambut Kinar yang sekarang dibiarkan tergerai bebas.

Jangan sedih lagi ya, Aneh.

Kata-kata itu seketika terngiang di benak Kinar. Setitik kehangatan muncul dalam dadanya, semakin lama semakin membesar dan menyebar ke sekujur tubuhnya. Membuat jantungnya berdebar, tapi kali ini rasanya menyenangkan.

Dan sebutan itu. Aneh. Entah mengapa Kinar menyukainya.

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

3Tips-a_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s