Vice Versa: Antara Benci & Cinta 17

 

Sebelum memejamkan mata, Kinar menyempatkan diri untuk mengecek ponselnya. Setengah berharap ada pesan dari Bim Bim, yang mungkin bisa membantunya mengembalikan kewarasannya.

Sejenak tadi, Kinar teringat Bim Bim. Pemuda itu semakin lama semakin tidak diketahui keberadaannya.

Mereka bukan sepasang kekasih, tapi bagaimana pun juga hubungan mereka melibatkan asmara. Dalam hubungan asmara, jarak merupakan suatu mimpi buruk. Tapi Kinar tidak percaya. Asalkan saling sayang, jarak antar belahan dunia pun bukan masalah.

Kinar lupa, jika di tempat baru tentu banyak hal baru yang tampak menarik. Hal-hal itulah—baru dan dekat—yang sering menyita perhatian hingga tak jarang membuat lupa pada yang berada ratusan kilo jauhnya. Apalagi jika hubungannya mirip gaya magnet, tanpa ada benang apapun yang mengikat keduanya.

Dan sekarang, Bim Bim berada ratusan kilometer darinya. Sibuk dengan dunia barunya. Kinar di sini juga menemukan sesuatu yang baru muncul dalam dunianya.

Kinar meneguk ludah. No new message.

Lelah. Kinar memilih tidur. Dia masih punya hari esok yang menanti untuk dihadapi.

Malam ini, tidak sengaja cadangannya kebahagiaannya seperti diisi ulang. Dia tidak mau menyia-nyiakannya sedikit pun, terlebih lagi dengan kemungkinan—yang mendekati seratus persen—akan adanya masalah.

* *

 

Aku tidak tahu bagaimana caramu mengubah televisi hitam putih ini menjadi berwarna.

Kinar menjadi orang pertama yang tiba di kelas. Minggu kedua ini dia semakin rajin. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena tidak lama lagi dia akan pulang.

Selain itu ada satu alasan lagi yang—sulit mengakuinya, tapi inilah kebenarannya—meningkatkan moodnya. Alasan yang baru saja melangkah masuk ruangan.

“Hai,” seperti refleks, Kinar menyapa. Detik berikutnya, dia merasakan pipinya memanas. Kinar buru-buru menunduk, menyembunyikan wajahnya.

“Hai,” Emir balas menyapa, diiringi senyum. “Moodmu lagi bagus ya?”

“Lumayan,” jawab Kinar sekenanya.

“Kenapa? Semalam habis ngobrol sama Bim Bim?” Tanya Emir, setengah menggoda.

Jika keadaannya masih sama, tidak diragukan lagi Kinar akan merona. Namun kali ini, dia memasang ekspresi cemberut—yang membuat Emir kaget karena baru kali ini melihatnya cemberut. “Dia kayaknya sibuk banget. Akhir-akhir ini sering ngilang.”

“Yang sabar ya. Risiko menjalin hubungan sama anak kuliah.”

Kinar mendengus. “Kamu kayak penasihat cinta nggak jadi,” gumamnya.

Emir tidak mendengar gumaman Kinar. Saat ini dia sedang mengeluarkan buku catatan dan tempat pensil dari tasnya. Kemudian dia menarik kursi. Dia baru akan menumpukan massa tubuhnya pada kursi ketika tiba-tiba menghentikan langkah. “Kamu kenapa di sana?”

Minggu kedua ini mereka pindah ruangan. Ruangan yang sebelumnya digunakan oleh anak-anak sekolah dasar yang mengikuti pembinaan olimpiade tingkat internasional. Meski sudah memesan lebih dulu, tapi pihak yayasan sekolah Kinar mau tak mau mengalah karena yang meminta adalah Departemen Pendidikan Nasional.

Sekarang mereka menggunakan ruang rapat yang tidak jauh dari ruangan sebelumnya. Tata ruangnya jauh berbeda. Alih-alih memiliki meja dan kursi yang ditata berbaris seperti sebuah kelas, sekarang yang ada adalah sebuah meja besar dengan kursi-kursi di sekelilingnya. Akan semakin sulit melihat ke papan tulis, terutama bagi yang duduk agak ke belakang.

Kinar adalah salah satu yang duduk agak ke bagian belakang ruangan. Dia, karena memilih berjalan paling akhir saat mereka pindah kemarin, harus puas dengan kursi di ujung meja. Posisinya memang persis menghadap papan tulis, tapi jaraknya cukup jauh.

Tapi daripada harus duduk di dekat orang-orang yang dia kenal nyaris hanya sebatas nama, Kinar lebih memilih duduk jauh-jauh, sendiri.

Sebenarnya selain itu, Kinar selalu tidak nyaman jika duduk terhimpit di antara dua orang. Dia leih suka duduk di pinggir.

“Aku—“

Emir sudah lebih dulu memotong. “Duduk sini aja, sebelahku.”

Seandainya yang mengatakannya bukan Emir, Kinar akan menganggapnya sebagai tawaran biasa. Tapi karena ini Emir …. Kinar bertanya-tanya apakah pemuda yang sedang menatap ke arahnya itu tahu. Dia hanya bisa berharap wajahnya atau gesturnya sama sekali tidak membocorkan rahasia mengenai jantungnya yang berdebar kencang dan tubuhnya yang mendadak kaku seperti baru disetrum.

* * *

“Baru ditinggal bentar, tugas gue udah segunung.”

Ini hari pertama Kinar masuk sekolah setelah camp. Belum sempat otaknya beristirahat, organ vital yang dilindungi tempurung kelapa itu dipaksa untuk bekerja lagi. Kali ini bukan untuk mengerjakan satu-dua soal yang jawabannya bisa memakan ruang berlembar-lembar kertas, tapi berlembar-lembar soal yang jawabannya satu-dua kata, atau malah sekadar silang indah.

Tapi tetap saja. Melelahkan.

“Lo ditunjuk jadi ketua kelompok tugas bikin video bahasa Inggris kan?” Rangga berujar sambil menyodorkan buku PKn yang dibukanya pada halaman empat tuluh lima. “Tugasnya ini, yang pilihan ganda doang.” Duduk di sebelah Kinar, dia menjadi orang pertama yang Kinar mintai tolong mengenai tugas-tugas kelas.

Tadi pagi, Rangga memberitahunya soal tugas membuat video untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Mereka satu kelompok, bersama dengan tiga anak lainnya. Deadlinenya sebelum ujian akhir semester—which is sekitar tiga minggu lagi. Kinar merasa kepalanya mau pecah, karena dia juga masih punya hutang tugas-tugas selama dia tidak masuk. Mungkin sebenarnya dia tidak akan sepusing itu jika bukan dia ketuanya.

Kinar menuliskan ‘PR (pilgan)’ besar-besar di sisi halaman sebagai penanda, lalu mencatat mata pelajaran serta halamannya pada selembar sticky notes. Sticky notes itu yang nantinya akan dia tempel di sudut meja belajarnya di perpustakaan rumah saat jam belajar.

“Iya. Heran gue sama gurunya. Gue kan, bisa dibilang nggak ngerti apa-apa—ada PR apa lagi?” Tanyanya pada Rangga.

Rangga mengeluarkan selembar kertas buram yang sudah lecek karena terlalu sering dibuka-lipat dari tempat pensilnya. Dia membuka lipatannya dan meletakkannya di hadapan Kinar. “Nih. Biasanya gue tulis tugasnya di situ. Unless I forgot, everything’s there.” Dia mengedikkan dagu menunjuk catatannya. “Temanya bebas kok, yang penting pakai bahasa Inggris.”

“Kenapa nggak lo aja? Lo kan selera humornya tinggi—sampai kadang ketinggian—jadi bisa invent ide-ide biar videonya seru.” Kinar berbicara tanpa menatap Rangga. Dia sibuk mengopi catatan Rangga.

“Mungkin gurunya mikir, kalau gue ketuanya, bisa-bisa itu video nggak jadi. Lagian gue juga ogah. Males.”

Kinar menghela napas. Dia meletakkan pensil, lalu melipat kedua lengan di atas meja. Dia mengangkat kepala untuk menatap Rangga. “Terus, kita mau mulai kapan?”

“Secepatnya. Anak-anak bilang, langsung kerja begitu lo pulang.”

“Oke oke aja kalau tugas gue nggak segunung,” gerutu Kinar pelan, menggumam.

gerutuan Kinar, atau memang sengaja mengabaikannya. “Nanti gue bilang ke yang lain.”

“ASAP. Pulang sekolah ini, kumpul di kelas dulu. Waktunya udah mepet.”

“Oke.”

Kinar menutup buku-bukunya. Waktu istirahat masih cukup panjang. Dia punya waktu sekitar sepuluh menit sebelum pelajaran selanjutnya dimulai. “Ngga, ke kantin yuk.” Kinar mengajak Rangga, sembari bangkit dari kursinya. Selain ingin membeli makanan ringan, dia ingin jalan-jalan sejenak. Berada di kelas membuatnya jenuh—dan mengingatkannya pada tugas-tugasnya.

“Boleh. Traktir, ya.” Rangga ikut berdiri.

“Ogah. Duit mepet,” sahut Kinar sambil lalu. Dia berjalan lebih dulu keluar kelas.

Di luar, beragam kegiatan dilakukan anak-anak untuk merefresh pikiran. Beberapa anak laki-laki bermain basket di lapangan depan gedung sekolah, sementara anak-anak perempuan memilih menonton dari depan kelas atau sekadar mengobrol dengan teman lainnya. Melihat anak-anak yang bermain basket itu, Kinar berharap tidak ada yang satu kelas dengannya. Dia tidak mau pingsan di kelas karena menghirup bau keringat bercampur parfum yang aromanya sendiri mampu membuat Kinar pusing.

“Sebentar lagi ujian, masih pada lumayan santai, ya,” ujar Kinar. Mengingat ujian, yang muncul di benaknya pertama kali adalah belajar. Bahkan kini sepertinya dia merasa rela-rela saja tidak sempat membaca komik atau novel. Dia harus mengejar ketertinggalannya jika tidak mau kehilangan posisi sebagai peringkat satu paralel.

“Tau sendiri lah, anak-anak. Baru jumpalitan kayak monyet sirkus kalau besoknya udah mau ujian.”

Kinar tersenyum samar, sambil memutar bola mata. Sesungguhnya dia malah senang jika teman-temannya belum sadar bahwa mereka harus belajar. Dengan begitu akan lebih mudah baginya untuk melampaui yang lain. Terdengar jahat, tapi setidaknya Kinar tidak berbuat curang.

Bersambung.

Oleh: Noor Rizky Firdhausy

Gambar: Google Search

 

Hi Sahabat Hawa, ingin dapatin hadiah menarik dengan cara yang sangat mudah. yuk langsung ke HAWA Sosialita, akan ada berbagai contest seru setiap harinya lho yang menunggu kamu disana! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

1Smart-Calendar_600-x-600

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

Instagram: @hawaku @hawavideo
Twitter: @hawaapp
Facebook: Hawa – Aplikasi Wanita
Website: http://www.hawaku.com

Dapatkan Hal Imut, Menarik Dan Artikel Bermanfaat Dengan Mengunduh HAWA di Playstore!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s