Lelaki Lain di Rumah Tanggaku

Di mataku, suamiku adalah pria paling sempurna. Tak hanya mampu merawat diri, suamiku juga pekerja keras, tidak mata keranjang, pendiam, dan sayang dengan keluarga. Siapa yang kemudian tidak jatuh cinta dengannya?

Aku begitu merasa beruntung bisa bertemu dan dipilih olehnya sebagai pendamping hidup. Dia tidak menuntut banyak dariku. Dia tidak pernah memintaku untuk berdandan menor atau seksi layaknya pria hidung belang dan pria genit pada umumnnya. Sebagai perempuan, aku merasa sangat dihargai dan dihormati. Pada masa pacaran kami yang berdurasi setahun pun, dia tak pernah berbuat macam-macam kepadaku dan tak pernah sekalipun meminta hal-hal di luar batas.

Masa pacaran kami berjalan lancar. Dia begitu serius denganku sampai langsung memintaku untuk melanjutkan hubungan ini ke pernikahan sesegera mungkin. Beruntung kedua orangtuanya dan kedua orangtuaku saling menyukai satu sama lain. Rencana resepsi pun berjalan dengan sempurna dan tanpa halangan.

Banyak orang yang berkata bahwa hari-hari menjelang resepsi adalah hari yang sangat berat. Pasangan bertengkar atas hal-hal yang tak penting, atau merasakan kegalauan karena akan menjelang sebuah fase kehidupan yang baru. Tetapi, hal itu tak kutemukan dalam hubunganku. Justru semuanya berjalan dengan lancar. Lagipula, kami memang tak ingin membuat pesta besar-besaran.

Pada saat itu, rasanya aku adalah orang yang paling bahagia di dunia. Jauh di dalam pikiranku, tak kutemukan sama sekali ketakutan dan keraguan dalam melangkah menuju babak hidup yang baru. Aku yakin sekali bahwa bersama suamiku, segalanya akan baik-baik saja.

***

Usai resmi menjadi suami istri, kami dihadapkan pada satu hal yang pastinya juga dialami oleh pengantin-pengantin baru lain: malam pertama. Jujur pada saat itu aku merasa sangat berdebar, begitu pula suamiku. Pasalnya, kami berdua memang orang yang tidak pernah macam-macam. Tidak pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Terbayanglah pada saat itu betapa kaku dan bingungnya kami berdua.

Sebelum menikah, aku mulai membaca pembahasan-pembahasan tentang malam pertama dan hubungan seksual antara suami dan istri. Aku sengaja mempelajarinya agar tidak terlalu kaget dan mengetahui apa yang sebaiknya kami lakukan. Meski begitu, malam pertama memang tidak semenyenangkan yang dibayangkan. Alih-alih romantis, malam itu sangat menegangkan bagi kami berdua. Suamiku terlihat bingung, dan aku pun panik karena takut akan rasa sakit.

Meski begitu, yang semakin meningkatkan rasa cintaku pada suami adalah kesabarannya. Alih-alih marah dan kesal karena aku panik, justru dia membelai rambutku saat aku menangis, seraya berkata, “Kamu nggak capek kan sayang? Kalau capek, kita coba lagi besok. Kamu jangan stress ya..”

Aku tidak tahu mengapa suamiku bisa sesabar dan sebaik ini. Entahlah, sering kudengar cerita tentang lelaki-lelaki lain yang menuntut banyak saat malam pertama, dan merasa kesal karena sang istri kesakitan serta tak mampu melayaninya dengan baik. Berbeda dengan cerita-cerita itu, suamiku justru sangat sabar dan tidak menuntut macam-macam. Bahkan dia membuatku tenang, dengan kesabarannya.

Justru akulah yang ketakutan. Ketika malam pertama itu gagal (karena aku tegang), aku pun langsung mencari informasi dari teman-temanku yang sudah menikah. Salah satu temanku, Elsa, berkata bahwa aku terlalu tegang, sehingga membuat malam pertama itu menjadi gagal.

“Kamu terlalu kepikiran deh, Vi. Kalau terlalu stress, otomatis daerah kewanitaan kita jadi tegang. Rasanya emang sakit banget, tapi tenang aja, enggak berbahaya kok..”

“Tapi aku enggak kelainan kan?”

“Wajar Vi. Aku dulu juga enggak langsung berhasil. Dan waktu berhasil, rasanya memang sakit banget. Tetapi tenang aja. Setelah itu, jadi enak kok.”
Elsa pun kemudian menyarankanku untuk pergi ke dokter kandungan, apabila aku dan suami tak kunjung berhasil melakukan hubungan seksual. Aku pun tak menunggu lama lagi, segera kudatangi dokter kandungan bersama suamiku. Awalnya, suamiku menanyakan apakah hal ini perlu dilakukan. Tetapi kubilang, aku tak mau mengecewakannya, dan aku ingin mendapatkan solusi dari ahlinya.

Saat diperiksa di dokter kandungan, dokter mengatakan bahwa tak ada yang salah denganku. Seperti layaknya pengantin baru lain, aku hanya terlalu tegang sehingga membuat aktivitas malam pertama menjadi tidak lancar. Dokter kandungan pun memberikanku obat pengurang nyeri, untuk dikonsumsi pada saat hubungan seksual, agar aku tak terlalu merasakan perih.

Saat-saat itu jujur menakutkan bagiku. Aku takut tak dapat memuaskan suamiku. Aku juga takut bahwa kami akan kesulitan mendapatkan keturunan karena hal ini. Beruntungnya aku, suamiku senantiasa menyemangatiku. Bahkan dia berkata kepadaku, bahwa aku tak perlu risau tentang masalah anak, karena toh bila memang sudah rejekinya, suatu saat juga kami akan diberikan keturunan.

“Lagipula, kita belum lama menikah..”, ujarnya seraya mengusap rambutku. Ah, bersama suamiku, selalu kutemukan ketenangan. Aku betul-betul tak ingin mengecewakan dia.

***

II

Selang waktu berganti, akhirnya pun kami perlahan dapat menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Rupanya, betul apa yang dikatakan oleh kawan-kawanku dan kolega suamiku: bahwa yang penting adalah masalah relaksasi dan waktu. Banyak pengantin baru yang mengalami hal seperti ini.

Setelah masalah itu selesai, kami menjalani hidup yang normal dan mengenyangkan. Suamiku berangkat kerja tiap pagi dan pulang pada pukul lima. Aku pun juga melewati hari dengan bekerja, hanya saja, jam kerjaku lebih singkat dibandingkan suamiku. Rasanya, aku tak henti-henti ingin bersyukur karena hal ini

Kepadaku, suamiku pun juga cukup terbuka. Dia memperkenalkan kawan-kawannya kepadaku, dan aku suka kepada mereka. Ada pepatah yang bilang, bila kau bergaul dengan tukang parfum, maka kau akan menjadi wangi, tetapi bila kau bergaul dengan tukang kayu bakar, maka kau akan terkena abunya. Suamiku masuk dalam golongan “bergaul dengan tukang parfum”. Kawan-kawannya adalah orang yang baik, bukan para lelaki hidung belang, tidak suka merendahkan wanita, pekerja keras, tetapi sekaligus family-men, yang mendahulukan keluarga di atas segalanya. Tak mengherankan apabila dia juga menjadi orang yang baik, karena tak ada pengaruh buruk dari kawan-kawannya.

Aku pun tak malu memperkenalkan suamiku agar semakin dekat dengan kawan-kawanku. Mereka semua senang kepadanya. Bahkan, salah satu kawanku pun minta diperkenalkan kepada temannya yang mungkin masih lajang dan ingin serius. Suamiku hanya tertawa menanggapi hal ini, karena aku tahu dia bukan mak comblang yang baik.

Selain kehidupan sosial yang menyenangkan, kami pun juga memiliki komunikasi yang baik. Banyak hal yang kami bicarakan, dan membuat aku merasa bahagia di rumah. Salah satunya adalah tentang lelaki dan auratnya:

“Mengapa kamu enggak suka ngeliatin cewek? Soalnya, temen-temen cowokku itu, suka banget lirik-lirik cewek seksi dan kadang, nge-share gambar-gambar gitu di internet..”, begitu ungkapku, memancingnya.

“Aku enggak tertarik sama perempuan seksi…”, begitu ujarnya, membuat hatiku merasa lega dan bahagia entah untuk kesekian kalinya, “Ibu aku perempuan, jadi kenapa aku harus merendahkan perempuan dengan cara seperti itu?”

Aku tahu betul dia tidak hanya bermulut manis belaka. Setiap kami berjalan-jalan, terlihat sekali dia tidak tertarik melihat perempuan-perempuan dengan baju yang minim. Aku tahu betul dia tidak berbohong, karena, sepintar apapun seorang lelaki mata keranjang menyembunyikan pandangannya, pasti akan ketahuan juga. Dari riwayat pencarian di Internet ponselnya pun, tak pernah kutemukan tautan-tautan menuju situs-situs porno atau situs yang berisi foto-foto tak senonoh perempuan. Benar sekali apa yang dikatakan oleh kawan-kawanku: suamiku memang lelaki yang langka.

***

Empat bulan setelah pernikahan, aku merasakan mual-mual yang hebat dan merasakan pandangan yang kabur. Karena tak kuat menjalankan pekerjaan, aku pun memohon izin sehari di kantorku.

Entah mengapa aku merasa bahwa rasa sakit ini adalah pertanda yang baik. Kubeli kemudian testpack yang ada di internet, dan kugunakan saat bangun pagi. Apa yang terlihat di sana sangatlah membuatku bahagia: dua garis, meskipun yang satunya masih samar.

Aku sengaja merahasiakannya dari suamiku sampai dia pulang kantor. Namun, kusuruh dia untuk pulang lebih awal. Dia bertanya apakah alasan yang membuatku menyuruhnya untuk pulang awal, dan kepadanya aku berkata bahwa nanti dia akan tahu.

Sesampainya di rumah, aku langsung memberikannya sebuah amplop. Dengan wajah penuh ingin tahu, suamiku pun membuka amplop tersebut. Raut wajahnya untuk beberapa saat terlihat terkejut saat melihat dua garis yang ada pada testpack tersebut. Tak lama kemudian, dia menatapku dengan pandangan yang bingung. Aku pun menanti reaksi selanjutnya.

Dia kemudian memelukku dan berkata bahwa dia merasa sangat bahagia dengan hal ini. Dia berkata bahwa inilah hal yang dia tunggu-tunggu, dan bersyukur bahwa kami tak perlu diberi momongan lama-lama. Kepadaku dia berkata bahwa dia telah menjadi lelaki sejati.

“Memang Mas adalah lelaki sejati..”, kubilang begitu padanya, “Daridulu tidak ada lelaki sebaik dan seperhatian Mas.”

Ah, suamiku memang lelaki paling sempurna di dunia. Dia tidak hanya memiliki paras yang tampan dan bertanggungjawab dalam kariernya, tetapi juga sangat penyayang dan rendah hati.

Setelah memberi tahu suami tentang kehamilan ini, hari-hariku berjalan lebih indah daripada biasanya. Aku berangkat kerja dengan lebih bersemangat, sungguh aku merasa lebih beruntung daripada orang lain. Suamiku pun lebih sibuk daripada biasanya, maklum sedang banyak kerjaan dari kantor. Lagipula, sepertinya semenjak mengetahui aku hamil, dia memang bekerja lebih rajin. Tak perlu kutebak, hal itu pastilah karena keberadaan malaikat kecil yang akan hadir ke dunia ini. Aku tahu dia suami yang bertanggung jawab.

Pada suatu hari, aku tidak masuk kerja karena morning sickness yang begitu parah. Setelah membuatkan sarapan untuk suamiku yang terburu-buru, aku pun kemudian merebahkan diri di atas sofa sembari menonton televisi. Sebetulnya aku tak merasa nyaman dengna keadaan ini, tetapi, aku tak merasa takut karena banyak perempuan yang mengalami morning sickness, atau muntah-muntah berat pada kehamilan trimester pertama. Yang terpenting, aku tidak gegabah dan selalu menjaga kesehatanku serta kesehatan janinku.

Saat aku akan mengambil cemilan yang ada di atas meja, aku menyadari bahwa salah satu ponsel suamiku tertinggal di atas meja. Ah aku tahu, dia pasti terburu-buru sehingga lupa membawa ponsel yang ini. Lalu kukabari padanya bahwa ponselnya yang satu ini, yang lebih canggih, tertinggal di rumah. Dia tak membalas dan mengangkat teleponku. Ya, mungkin dia masih di jalan.
Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa ingin iseng saja. Suamiku tak pernah menyembunyikan apapun dari aku, termasuk apa yang ada di dalam ponselnya. Tetapi, aku hanya ingin berselancar lebih dalam saja di ponselnya. Tak mengapa bukan, toh aku istrinya?

Aku membuka-buka bagian pesan singkat, messenger, dan galeri ponsel miliknya. Tak ada yang mencurigakan, hanya ada pesan-pesan dari koleganya saja dan pesan-pesan dari grup, yang mayoritas hanya berisi gurauan belaka. Selain itu, di galerinya pun tak tersimpan foto-foto yang aneh.

Aku pun kemudian berselancar ke surelnya. Hanya ada surel-suret langganan, serta surel pekerjaan. Kemudian aku iseng saja membuka drive email yang ada, sekadar iseng lagi, tentunya. Aku yakin tak akan ada apa-apa di sana.

Namun ada sesuatu yang menarik hatiku. Sebuah folder dengan judul “Imaji”. Kupikir, folder itu berisi foto-foto indah yang biasa menjadi wallpaper, atau mungkin tulisan fiksi. Tanpa rasa curiga, kubuka folder tersebut.

Dan apa yang kutemukan di sana sungguh membuat jantungku hampir berhenti.

***

III

Aku tiba-tiba merasa limbung, pusing dalam kadar yang berlebihan. Aku ingin muntah lagi, tetapi, tadi pagi sudah kumuntahkan semua isi perutku sehingga aku tak mampu muntah lagi.
Semua kenangan tentang aku dan suamiku berputar di benakku. Mulai dari pertemuan kami hingga kehamilanku. Rasanya, hal-hal manis itu mulai menjadi getir. Aku tak paham dengan apa yang kulihat ini.

Dalam folder berjudul Imaji tersebut, ada banyak sekali foto-foto telanjang pria, yang kupikir diambil dari internet. Ah, tak hanya foto telanjang, bahkan juga video-video porno tentang pria. Aku tak tahu apa maksudnya ini? Apa yang ada di benak suamiku?

Aku tak langsung menanyakannya. Aku hanya berkata pada suamiku bahwa aku ingin dia cepat pulang. Namun, berbeda dengan pada saat aku bermaksud memberikannya kejutan kehamilan, kali ini, kukatakan hal itu dengan singkat dan dingin.

Jujur, aku tak ingin menuruti kata hatiku sendiri yang berkata bahwa suamiku mungkin tertarik dengan tubuh pria. Ini tak adil. Aku sudah hamil, dan dia memilihku, seorang perempuan, sebagai pendamping hidupnya. Tetapi, aku kalut. Aku tak tahu apa yang sebetulnya terjadi.

Saat sampai di kantor, suamiku menghubungiku. Tetapi, tak kuangkat teleponnya. Kujauhkan diriku dari ponsel. Ini kali pertama aku merasa muak dengan suamiku. Aku merasa jijik membayangkan lagi apa yang kulihat di sana.

Kemudian, aku pun merasa sangat ingin mencari tahu lebih jauh lagi. Dengan menggunakan laptop, aku buka semua media sosial milik suamiku. Kutelusuri riwayatnya dari waktu yang lama, memastikan bahwa yang aku rasakan ini tidak tepat.

Pada linimasa media sosial beberapa tahun yang lalu, kutemukan beberapa sapaan dari pria. Pria-pria yang jelas tak jantan. Aku merasa seperti ditikam berkali-kali. Suamiku tak membalas sapaan-sapaan tersebut, tetapi bukankah orang-orang ini hanya memberi sapaan centil semacam ini hanya pada mereka yang sudah jelas-jelas….penyuka sesama jenis?

Hariku saat itu berjalan lambat sekali. Tak ada satu pun yang menarik hatiku. Dengan lemas, kuelus jabang bayi yang ada di dalam perutku. Aku merasa malang sekaligus bersalah dalam waktu yang sama.

***

Suamiku datang lebih cepat daripada biasanya. Dengan langkah gontai dan malas, kubuka pintu, kusambut dia dengan wajah yang masam. Aku melihat wajah suamiku sangat lelah dan kuyu. Pastilah ini karena aku tak membalas pesannya.

“Kamu kenapa sayang?”, ujarnya dengan lembut. Biasanya, aku akan merasa senang dengan perhatian semacam ini. Namun sekarang, aku merasa muak.

Langsung kubilang padanya untuk segera masuk ke kamar. Tanpa banyak bertanya, dia menurutiku. Dan tanpa buang-buang waktu lagi, aku langsung mengacungkan ponselnya dan membantingnya ke tempat tidur.

“Maksudnya apa mas, foto-foto dan video itu?”

Dia mengernyitkan dahi, “Foto dan video?”

“Nggak usah pura-pura bodoh. Kamu nggak normal.”

Dia diam sejenak. Wajahnya pucat pasi seperti ketakutan akan sesuatu. Aku tak merasa kasihan, justru, aku merasa ingin menendangnya jauh-jauh.

Tak beberapa lama setelah itu, dia memelukku sambil tersedu. Kudorong dan sekuat tenaga kulepaskan pelukkannya. Aku merasa sangat jijik.

“Sayang, ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Sungguh, aku nggak pernah bermaksud menyakitimu. Demi Tuhan, nggak pernah..”

Derai air mataku pun tak dapat tertahan lagi. Aku berharap, dia dapat memberikan penjelasan yang masuk akal.

***

Suamiku memang sempurna. Itu yang dulu kupikirkan dan kubanggakan. Namun semestinya aku sadar, bahwa di dunia ini tak ada kesempurnaan. Bila sesuatu terlihat sempurna, pastilah itu karena ada ketidaksempurnaan yang tersembunyi. Dan hal itu akan sangat mengerikan.

Usai menumpahkan kekesalan dengan menangis tersedu, seperti orang gila, kudengarkan penjelasan dari suamiku. Sungguh, duniaku yang indah kini terpecah belah bak puzzle, tak lagi menyenangkan seperti dulu. Aku merasa ingin sekali memutar waktu, aku merasa malu terhadap orangtua dan teman-temanku.

Kepadaku, suamiku berkata bahwa dia memang memiliki ketertarikan pada lelaki. Hal tersebut terjadi karena dia kehilangan sosok Ayah sejak kecil, yang memang sudah bercerai dengan Ibunya. Entah mengapa, dia tertarik saja dengan sosok seorang “Ayah baru”, yakni kekasih Ibunya, yang memberikan perhatian usai Ayahnya tak ada. Awalnya, dia kagum saja dengan kebaikan lelaki tersebut. Lama-kelamaan, dia merasa ingin menirukannya baik dari segi sifat maupun fisik. Dan setelah hubungan lelaki tersebut dengan Ibunya tak berjalan mulus, dia pun kemudian getol mencari-cari sosok fisik seorang lelaki, baik dari media, maupun dari tempat lain.

Obsesi itu pun berubah menjadi sebuah hal yang sifatnya seksual. Pada saat internet mulai hadir, suamiku gemar mencari-cari gambar lelaki, dan terjebak pada situs-situs yang memuat foto dan video tentang gay. Dia pun semakin ingin tahu, dan tenggelam di dalamnya.

“Sungguh, bukannya aku enggak tertarik sama perempuan. Aku tertarik, sungguh. Aku enggak pernah sayang sama laki-laki, aku hanya tertarik dengan fisik mereka. Tetapi aku sudah mencoba untuk sembuh.”

Dia mengatakan itu sembari bersujud di hadapanku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.

“Aku cinta kamu. Kamu tahu itu kan? Kalau enggak, kita enggak akan menikah, sayang. Kita enggak akan punya anak.”

“Oh, jadi tolok ukurmu sebagai lelaki sejati, hanya dari anak saja? Ya ya ya, sekarang aku tahu..”, tuturku dengan nada yang muak. Dia tak menjawab.

“Kamu bilang mau sembuh, tapi foto-foto dan video itu masih kamu simpan.”

“Aku cuma lupa menghapus, sayang.”

Aku tertawa sinis, “Lupa, atau sayang kalau dihapus? Omonganmu sudah sulit dipercaya.”

Malam itu, aku pun akhirnya tidur di kamar lain. Dia mencoba masuk ke kamarku, tapi tak bisa karena kukunci. Terbesit keinginan di dalam pikiranku untuk bercerai saja. Sungguh, lebih baik aku diselingkuhi dengan perempuan, ketimbang menemukan hal semacam ini.

***

IV

Toh pada akhirnya, aku tak mampu untuk menceraikannya. Saban hari kulihat dia begitu merasa bersalah padaku. Entah untuk menebus kesalahannya atau bagaimana, dia mengambil cuti beberapa hari dan menawarkan untuk mengantarku ke kantor, menungguku di kantor. Dengan ketus selalu kutolak tawarannya. Saat aku pulang pun, sudah ada masakan di rumah.

Aku bisa melihat raut penyesalan dari wajahnya. Tetapi, aku tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku begitu kecewa. Meski begitu, aku tak mampu meninggalkannya. Entah karena aku sebetulnya sangat menyayanginya, atau aku hanya kasihan saja dengan anak yang kukandung ini. Aku tak mau dia kehilangan sosok Ayah dan mengalami hal yang sama dengan suamiku.

Tapi, aku tak bisa hidup begini terus. Selanjutnya, aku dan suami menemui seksolog dan juga psikolog. Awalnya suamiku agak enggan, tapi kubilang kepadanya bahwa bila dia menolak, aku akan pergi. Dia pun akhirnya mengalahkan rasa malu dan menurutiku untuk pergi ke psikolog dan juga seksolog. Waktu dan tenaga jelas habis, apalagi, aku tengah mengandung dan merasa mudah lelah. Tetapi, aku tak mau sesuatu yang lebih buruk terjadi. Aku tak mau suamiku kambuh lagi. Aku juga tak ingin terus-menerus merasa jijik dengan suamiku.

Saat ini, kami telah dalam program. Aku pun mulai bisa memahami, bahwa bukan berarti suamiku tak tertarik dengan wanita. Hanya saja, pikirannya telah lama dirusak oleh pornografi dengan tema homoseksual. Bukan berarti dia tak tertarik denganku. Aku hanya berharap semoga suamiku segera sembuh, dan bisa melupakan segala ketertarikannya pada sesama jenis. Aku pun juga menginterogasinya, dan bertanya apakah dia pernah berhubungan seksual dengan lelaki. Dengan menyebut nama Tuhan, dia berkata bahwa belum pernah. Semua hal itu hanya terjadi di dunia maya saja, dan dalam imajinasinya. Meski menyakitkan, tetapi aku sedikit lega.

Namun yang jelas, aku lebih waspada. Semua teman lelakinya kuamati dan kusaring. Sedikit saja kutemukan ada nuansa “melambai” pada teman lelakinya, langsung kusuruh dia untuk menjauh. Suamiku pun kularang untuk banyak bergaul di luar kantor dengan teman-teman lelaki. Aku tahu, ini mengerikan dan posesif. Namun suamiku harus tahu kalau aku telah dia sakiti dan telah dia bohongi, meskipun mungkin maksudnya baik. Dia hanya ingin sembuh. Tetapi, aku tak terima.

Semenjak saat itu, wajah suamiku tak sebahagia dulu lagi. Namun, begitu pula aku. Aku selalu merasa ketakutan, rutinitas harianku bertambah lagi: mengecek ponsel suamiku. Menyambungkan segala aplikasi messengernya ke laptopku agar bisa kumata-matai. Menyenangkankah, suamiku? Menjadi seperti narapidana? Aku yakin tidak. Tetapi, inilah satu-satunya cara untuk menawar amarahku.

Aku hanya berharap rasa sakit ini segera hilang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s