Roman: Ayah Anakku Kakak Iparku

#1 (Satu)
Sesosok pria itu berjalan dari kejauhan lorong, langkahnya kian mendekat seiring jarum jam yang kian menunjuk pada waktu senja. Aku duduk di sudut tangga lantai 3 yang sepi senyap, hanya ada aku dan dia. Dia, Rimba adalah kekasihku sejak duduk dibangku SMA kelas 3 hampir setiap hari kami berjumpa. Aku dan dia saling mencintai, bahkan saking terlalu cinta aku rela memberikan harga diriku sebagai wanita secara cuma-cuma. Aku memang bodoh, terhanyut dalam jalinan asmara bernama cinta buta. Hanya karena cinta aku rela memberikan segalanya. Hari ini ada kabar yang harus aku berikan padanya, kuharap dengan ini aku dan dia bisa bersatu selama-lamanya.

“Dear, masih capek ya habis kelas?” kataku menyambut kedatangannya. Rimba langsung menyalakan rokok dan berdiri didepanku, ia enggan duduk dan wajahnya suntuk.

“Sini..duduk” Aku memandangnya lembut, ia masih tak peduli.

“Sini, sebentaaar…” Aku menarik tangan Rimba untuk duduk disampingku. Wajahnya yang tegas, menatapku sesaat. Ia lantas menatap keberbagai arah sembari menghela nafas berisi asap. Aku mengenggap tangannya erat dan kuat-kuat menatap.

“Aku hamil…Iya nih kayaknya hamil”  Aku lihat Rimba langsung menatapku, matanya terpejam. Semua asap dikeluarkan dari rongga parunya. Ia menginjak rokok pada ujung sepatunya.

“Kapan? Kok bisa ya?…”Kata Rimba dengan alis sedikit mengkerut. Aku belum menjawab, hanya diam dan tertunduk. Tanganku masih merangkul lengan kirinya. Aku kemudian menyenderkan kepala pada bahu Rimba. Ditanganku sudah ada testpack (+) aku memegang sembari menganyukan benda itu dengan jemariku.

“Gimana nih…” kataku sambil memegang Rimba erat. Matanya seakan mengungkap kebingungan. Tak lama kemudian Rimba menatapku.

“Sabar dulu yah, nanti dipikirin…Sekarang ayo diantar pulang dulu…” Katanya dengan lembut kepadaku.

f00f1cc654872b15d09a83bc9b2d3570

Kami kemudian melangkah menuju lokasi parkir kendaraan. Aku sebenarnya tidak cukup puas dengan jawabannya. Tapi yang aku kenal selama 4 tahun ini berhubungan Rimba memang tidak suka langsung merespon sebuah masalah dengan cepat. Ia selalu memikirkan matang-matang segala keputusan. Dalam perjalanan sempat terselip keinginanku untuk menikah dengannya. Sayang Rimba hanya membalas dingin, ia bilang bahwa semuanya butuh perencanaan, dan pasti ia memikirkan itu semua sebelum aku mengatakannya. Aku lantas diam tak banyak bicara untuk menghindari keributan.

Sesampainya ditempat kost, biasanya Rimba mengantar aku masuk kekamar. Tapi hari itu ia hanya mengantar sampai depan rumah. Bahkan ia tidak turun dari motornya. Aku juga tidak komplain kusampaikan pesan hati-hati padanya selama perjalanan pulang. Hingga tengah malam, ponselku masih sepi akan pesan darinya. Baru sekitar jam 11 malam ia memberi kabar. Aku dan dia jadi sempat ribut, ia beralasan low battery selama bersama teman-temanya. Beruntung kekesalanku terpendam sesaat aku menginggat bahwa aku sedang hamil. Aku khawatir kalau-kalau ia akan meninggalkanku karena kesal oleh sifat curigaku. Akupun meminta maaf dan kami akhirnya berbaikan.

————

Keesokan harinya, sepulang kuliah Rimba mengajakku untuk langsung ketempat kost. Sesampainya disana, ia memintaku untuk meminum obat pengugur kandungan. Cara meminumnya agak sulit dan ekstrim, aku diminta untuk menelan satupil, dan memasukan satu pil lagi kedalam bagian intimku.

Setelah minum obat, Ia bilang bahwa efeknya hanya seperti ketika menstruasi saja, hanya mungkin darah yang keluar lebih banyak. Akupun mengiyakan dan saat itu kami bahkan masih bisa makan dengan tenang, hingga sore harinya Rimba harus pulang karena beralasan ibunya tengah sendirian dirumah.

Sekitar pukul 10 malam, aku yang sedang tertidur seperti merasa mimpi buruk, mimpi perutku dipukul-pukul oleh seseorang dengan sangat kencang dan aku kesakitan. Aku memeluk bagian perut dan setelah sadar , aku terbangun dan sakitnya terbawa kealam nyata. Ya Tuhan, perutku perih lebih sakit dari ketika maghku kambuh, isi perutku serasa dipelintir dan perih`

e4dd626507905eba7435ea0fa820f0b0

Aliran darah mengalir dari kewanitaanku. Dengan keadaan itu aku masih berusaha mencari pembalut dan memakainya dikamar mandi. Aku melihat gumpalan-gumpalan darah keluar dari dalam, sambil menahan sakit aku menangis. Aku mencoba menelfon Rimba namun ia tak menjawabnya. 3-4 jam menahan sakit, perihnya belum luruh juga, mataku sudah tak kuat menahan kantuk namun tak bisa aku pejamkan. Hingga sekitar pukul 4 pagi aku tak sadarkan diri.

Keesokan harinya, kudapati perutku terasa keram. Pinggangku kaku dan keadaan kamarku sudah tak karuan. Bercak darah kudapati mengotori tempat tidur. Aku sebenarya sedih kehilangan janin ini, tapi mau bagaimana lagi, aku dan Rimba memang belum pantas mengemban tugas sebagai orang tua. Aku mengumpulkan semua tenaga untuk membereskan kamar, tak lama Rimba datang membantu.

Ia memberikan perhatian dengan membuatkanku teh hangat dan roti. Aku belum bisa makan namun kuusahakan masih mampu menenggak minuman. Dosaku pasti sudah tak bisa ternilai, apa saja rasanya ingin kulakukan untuk menembusnya. Meski aku belum melihat bagaimana wujudnya tentu sesungguhnya aku sangat menyesalinya.

———-

Syukurnya pendarahanku tak lama terjadi, 2 hari berselang darah perlahan menghilang. Aku kembali beraktivitas seperti biasa, hanya saja perut dan pinggangku sering merasa kaku dan keram. Bahkan sejak kejadian itu aku tak bisa banyak berjalan. 2 minggu berlalu keadaanku yang semula sudah baikan, mulai sedikit ada gangguan. Kepalaku sering pusing dan nafsu makanku hilang.Hingga suatu saat ketika aku berjalan bersama seorang teman perutku rasanya tak karuan, sinyal dikepalaku langsung mengajakku untuk membuang isi makanan dalam kerongkongan.

Aku muntah diwastafel toilet.  Sebentar kudapati diriku dengan wajah lesu didepan cermin. Temanku Puri berusaha menolongku, iapun bilang akan mengantarkan aku pulang jika memang aku tidak kuat melanjutkan kuliah. Tapi sambil berkaca-kaca kudapati perubahan pada bentuk tubuh ini.Pinggulku terasa lebih tebal dan perut ini sedikit menonjol dan kencang ketika dipegang. Aku jadi binggung, ada apa gerangan bukankah dengan jelasku melihat proses penguguran yang kulakukan ??

9069167f8aa7b939d68cbf4944c5171c

Puri sahabat baikku tampaknya curiga, aku kemudian menceritakan apa yang terjadi padanya. Puri lantas mengajakku kedokter untuk memerikasan keadaanku. Akhirnya kami pergi kesebuah rumah sakit, didokter kandungan aku menceritakan ceritanya. Dokter kemudian melakukan tindakan USG kepadaku. Hasilnya, dalam rahimku masih ada janin yang sedang tumbuh, hah bagaimana bisa!?? Puri memelukku erat, isi otakku merangkai cara bagaimana aku bisa mengabarkan ini pada Rimba. Aku harus apa…?

II

#2 (Dua)

Dokter menjelaskan, bahwa apa yang aku alami kemarin hanyalah proses pembersihan sisa darah haid yang menempel pada dinding rahimku. Sedangkan janin yang ada tetap tumbuh bahkan menguat. Mendengar kebenaran ini aku kian merasa bersalah, isi otakku merangkai cara untuk memberitahukan ini segera pada Rimba. Malam harinya selama dikamar kost aku hanya berdiam tak fokus melakukan banyak hal.  

Beberapa kali aku mencoba untuk mengirim pesan pada Rimba namun aku belum mampu menyampaikannya. Usai kuliah, keesokan harinya saat senja kami bertemu disebuah kedai kopi dibelakang kampus. Aku tau kabar ini akan membuatnya kacau dan kami akan segera bermasalah. Aku dan Rimba duduk berhadapan, kusishkan rambut sisi kanan dibalik telinga.

40793addb8d99de0ce466834b2afd8ed

“Kenapa ayo minum?” Kata Rimba, matanya menjurus pada cangkir espressoku. Aku hanya menjawab dengan sedikit gelengan kepala, tanganku lantas mengenggam telapak tangan kanannya yang ada diatas meja. Rimba membalas ia mengelus ruas jariku dengan jempolnya. Bibirnya yang tipis dan manis tersenyum, ia kembali bertanya. “Kenapaa…?”

Sealur dengan tatapannya Aku bersuara “Dengerin, aku masih hamil. Yang kemarin tuh belum gugur…” resahku. Mendadak, posisi duduk Rimba berubah. Tubuhnya menjauh, ia menarik kepalanya sedikit kebelakang. Tatapan matanya mirip orang curiga, kedua tangannya kini bersidekap.

“Kan, kemarin udah. Kamu pakainya benar gak sih? Saya beli 3 juta lho itu, ceweknya Davin juga kaya gitu bisa. Masa kamu nggak, kalo bener makenya gak begini”Nadanya yang tinggi berusaha ditekan mencegah orang lain mendengar.

“Bener atau nggaknya aku make. Seenggaknya aku udah nurutin kamu! Kamu gak tau sakitnya seperti apa…!” jawabku tak kuat menahan kesabaran. Aku sangat kesal namun masih mampu membendung kesedihan. Mendengar penjelasanku Rimba dan aku memberanikan diri untuk datang kerumah orang tuanya. Aku bertemu ibunya an kami membicarakan soal ini. Sayang, respon dari ibu Rimba sangat tak baik. Ia mengatakan bahwa anaknya masih ada tangung jawab lain, dan belum siap menikah.

Ibunya ingin aku tetap dibiayai namun untuk menikah secara resmi tampaknya belum bisa dilakukan saat ini. Tapi diluar itu semua ada satu kalimat yang sangat menyinggung perasaanku. “Rimba kalo nggak dicolek gak akan begini kok” katanya halus seketika perasaanku terluka. Tak lama berselang aku memilih pulang. Lebih baik aku hidup sendiri dari pada harus menikah dengan orang yang tak punya nyali. Sepanjang jalan aku menangis dan menyesali keadaan ini. Namun akan lebih sakit lagi jika aku tak dihargai.

——–

Keesokan paginya, saat hendak berangkat kekampus. Aku kaget dengan kehadiran Rimba yang telah menunggu didepan pintu kamar. Saat aku buka ia langsung masuk dan menutup pintu. Aku sempat tersenyum dan berpikir kedatangannya adalah kabar baik untuk hubungan kami. Tapi saat itu berbeda, ia datang dengan bawaan hasrat yang liar. Ia menggerayangi tubuhku dengan cara yang tak biasa. “Aku Rindu!” Katanya berdesah ditelingaku. Aku belum bisa membalas ‘keinginannya’ aku masih takut untuk melakukannya karena khawatir akan terjadi sesuatu pada janinku yang masih sangat muda. Dengan cepat ia melucuti pakaianku. Menarik celana, dan menggerayangi bagian-bagian vital pada tubuhku.

Aku diangkat, dilemparnya ketempat tidur. Aku kaget, belum siap aku pada posisi yang pas dengan cepat ia melakukan perbuatan itu kepadaku ‘lagi’. Ini sangat tidak biasa, hari itu Rimba terlihat sangat liar seperti serigala yang lapar akan mangsa. Aku bagai boneka yang semudahnya dimainkan olehnya.

7e0683b93145ef060c6bd9f2fdffdf72
Kurasakan dorongan Rimba akanku sangat kuat dan cepat, ia seperti listrik berkekuatan tinggi menyengat dengan getaran yang mencekat. Aku tak sanggup menahan gejolaknya. Aku memintanya untuk berhenti namun ia justru semakin kuat. Aku mengeluarkan kemampuanku untuk bisa lepas. Rimba justru mendekapku makin erat, bagian dadaku dipeluk kencang sampai aku terasa sesak. Aku mendorong kepalanya menjauh, berkali-kali sambil menepuk pipinya. Tapi kekuatannya sulit kusamai. Puas menumpahkan hasratnya, aku melihat bercak darah disekitar kewanitaanku. Aku kaget dan menangis sambil memarahi Rimba.

“Pergi, sana keluar!”kataku sambil melemparkan beberapa bantal kearahnya.

“Pikirlah, kita belum bisa menikah. Kamu juga masih akan kuliah.”

“Aku yang rawat anak ini sendiri Rimba gak apa-apa nggak ada kamu…”

Tanpa banyak bicara, ia keluar dari pintu kamar. Aku masih menangis menahan rasa sakit. Entah apa yang ada dipikirannya sebegitu bencinya ia pada benih yang ditanamnya. Sejak saat itu aku mulai enggan menharap lagi cintanya.

——-

Hari berikutnya aku tidak menemui Rimba, syukur kandunganku masih baik-baik saja. Aku sempat kembali kedokter dan mengeceknya. Selang hari kemudian aku diminta untuk menemui Rimba disebuah tempat biasa kami bertemu. Dengan wajah yang masih pucat aku datang sendiri menemuinya.

Sesampainya disana, disana aku melihat ia duduk bersama seorang pria berkulit putih dengan postur yang cukup tegap, aku mengenal dirinya. Ia, dia Rudi adik Rimba yang usianya 2 tahun lebih muda. Aku menyapa Rudi sembari duduk disamping Rimba. “Rudi, tumben ikut, kamu sudah sehat ? Kataku, Rudi adik Rimba adalah pria dengan penyakit Epilepsi. Sekilas ia tampak normal namun ketika penyakitnya datang, ia bisa kejang sampai tidak karuan.

Meski begitu yang kutau Rimba cukup menyayangi adik yang satu ini.  Aku duduk disamping Rimba, Rudi duduk dihadapan kami. Rimba dan Rudi terdiam, aku sedikit binggung. Rimba kemudian memegang tanganku, ia mengatakan betapa cintanya ia kepadaku. Ia tak ingin aku menjalani ini semua sendiri, untuk itu ia meminta sesuatu kepada adik semata wayangnya untuk melakukan ini hanya karena ia tak ingin aku ada dipelukan orang lain. 

gede

“Nanti jika aku sudah menuruti ayahku. Baru kita menikah. Saat ini kamu dengan Rudi dulu…” Katanya dengan nada lembut, dan meyakinkan. Aku ingat sebagai pegawai negeri sipil ayahnya punya posisi yang cukup ‘mapan’ dipemerintahan. Ada persyaratan khusus bagi mereka yang ingin mengikuti jejak ayahnya. Yaitu berstatus belum menikah diawal karier. Dan itulah yang sedari dulu diidamkan oleh ayahnya, Rimba pewaris jabatan karena Rudi tidak mungkin bisa melakukannya. Rudi menatapku, aku masih ragu. Benarkah setelah waktu yang dijanjikan ia akan kembali padaku ??….

III

#3 (Tiga)

Aku menolak permintaan Rimba, kukatakan bahwa lebih baik aku sendiri saja. Tapi Rimba memohon dan terus meminta, Rudi masih diam saja. Namun Rimba memberikan pejelasan yang akhirnya membuka jalan pikiranku. Ia berkata bahwa akan lebih tidak baik jika orang melihat aku berkeadaan hamil tanpa suami, apalagi jika tanpa ada status menikah. Bagaimana bisa aku menyekolahkan anakku tanpa sebuah akta kelahiran.

Tangisku mulai membasahi kedua mata ini, Rimba kemudian memeluk diiriku erat. Kurasakan dekapannya yang hangat, wangi parfumnya yang khas menusuk lubang hidungku. Membuatku rasanya enggan untuk bangun dan melepasnya. Soal ibunya, Rimba mengatakan tak perlu khawatir karena yang terpenting Rimba bisa menuruti keinginan ayahnya.

582979216539675d3771b5a2950746e1

3 Minggu berselang, Aku dan Rudi menjalani pernikahan sederhana, Rimba hadir sebagai saksi. Sedangkan Nenek Ranti, Nenek yang sudah kuanggap Ibu juga datang menyaksikan pernikahanku. Setelah aku dan Rudi dinyatakan sah, aku kembali ketempat kost seperti biasa. Rimba bahkan masih sempat mengantar dan menemaniku.

Lanjut hari berikutnya semua berjalan seperti biasa, aku menyelesaikan kuliahku sembari membawa janin dalam perutku yang terus bertumbuh. Masuk dibulan ke-4 kehamilanku, saat ini perubahan di tubuhku semakin terlihat. Kini perutku mulai terlihat menonjol dan aku mulai mencuri perhatian orang disekitar.

feff3e2e4e32e8c39908fa7f70a0df35

Aku dan Rimba masih sering bertemu bahkan kami masih sering bercumbu. Aku dan dia memang gila, entah berapa dosa yang harus kutebus karena perbuatanku.Hingga pada suatu hari, semua kesenanganku berubah. Aku dan Rimba salah paham setelah tanpa sengaja Rudi mengirimkan aku makanan. Rimba memang sibuk akhir-akhir ini, ia jarang berkunjung dan komunikasi diantaraku kian berkurang. Rimba yang kesal karena merasa cemburu, mulai jarang menghubungiku.

Dibawah hujan besar sepulang dari kantor aku berteduh di bawah halte bus. Dengan pakaian yang lepek aku duduk sembari menahan udara dingin. Sembari menunggu bus datang, aku membuka ponsel dan melihat media sosial. Sebuah foto menyeruak dibagian halaman depan, ada foto Rimba dengan wanita lain sedang menghadiri acara resepsi pernikahan. Keduanya tampak rapi dan wanita itu terlihat sungguh cantik. Mendengar hal itu, Rimba kemudian menjelaskan bahwa sangat tidak mungkin ia mengajak diriku yang dalam keadaan hamil besar.

1286fa40cdab994ddfe991e9dcec2a3d

“Apa kata temen-teman aku, kapan aku nikahnya kamu dah hamil aja.” Jawabnya ketus. Aku jadi serba salah, Rimba memintaku untuk jangan cemburu dan curiga. Namun aku tak bisa begitu saja tenang, sejak kejadian itu aku da Rimba kian merenggang. Pesanku sering tak dijawab, telfonku jarang diangkat.

Kehamilanku kian membesar masuk bulan ke-8, aku mulai sulit melakukan banyak aktivitas. Rimba hanya datang ketika ia sedang ‘ingin’ bercinta. Hawa nafsunya sulit dibendung, ia sering kali mengajakku berhubungan sekalipun aku telah menolak, ia tetap memaksa. Hingga siang itu kutemui flek darah di celana.  Aku yang panik mencoba mengubungi Rimba namun ia tak menjawab, Syukurnya Rudi datang untuk membawakanku makanan. Kami langsung pergi ke rumah sakit. Setelah menemui dokter kandungan ia memberi masukan untuk lebih berhati-hati saat berhubungan.

Aku melihat bagaimana dokter itu menasehati Rudi dan menanyakan cara kami berhubungan. Rudi terlihat gugup dan dokter itu menertawainya. Meski terlihat lucu sejujurnya aku sangat merasa berdosa. Ini perbuatan Rimba namun harus ia yang menanggungnya.  Selesai mengantarku ke tempat kost, Rudi berpamitan. Namun tiba-tiba saja ia melemas dan terbaring diatas lantai, tak lama ia mulai kejang dan mulutnya mengeluarkan suara tak jelas. Lengan dan tungkainya menggelinjang. Aku panik dan segera meminta pertolongan. Setibanya di rumah sakit, Rudi segera mendapat pertolongan. Beruntung ia segera siuman dan langsung mendapat perawatan.

Rimba dan ayahnya datang kerumah sakit, aku duduk menunggu depan kamar. Selesai menjenguk adiknya, Rimba mengajakku bicara. Ia marah karena menganggapku telah membuat Rudi kelelahan dan lupa minum obat. Aku menjelaskan bahwa keadaanku juga sedang tidak baik dan Rudi baru saja membantuku. Ini semua kebetulan, dan aku tak menduganya.

“Kalo sampe ada apa-apa, kamu yang tau. Kamu yang tanggung jawab!” Bentaknya padaku. Aku tak melawan dan meminta maaf. Namun tak lama berselang tiba-tiba wanita dalam foto kemarin datang menuju kamar Rudi. ia lantas mendatangi Rimba terlebih dahulu

“Adik kamu gak apa-apa? Im worried, kenapa baru ngabarin…” kata gadis itu dengan wajah cemas, ia mendekati Rimba dan langsung memeluknya. Rimba lantas mengajaknya bicara sambil menjauhiku. Disitulah aku tau, Terjawab sudah perubahan sikapnya selama ini, ia menggunakan amarahnya untuk menutupi kesalahannya.

Ia menyalahkanku demi menutupi hubungan barunya. Sungguh  kenyataan yang menyakitkan bagiku. Ditengah keadaanku yang sedang mengandung buah cintanya, ia justru mengunakanku hanya sebagai budak nafsu. Sedangkan wanita itu, datang seperti bidadari. Disanjung dan diperlakukan bak seorang puteri. Hatiku menangis dan tak bisa berkata apa-apa, sungguh hatiku terluka, perasaan cintaku kepada Rimba ternyata sia-sia. Dalam keadaan menangis, tiba-tiba gadis itu mendekatiku dan memelukku.

hqdefault

“Mbak Agni Sabar yah. Semoga Rudi gak apa-apa.“ katanya menenangkanku. Dalam pelukan gadis itu aku memperhatikan Rimba, ia menatapku seakan tanpa dosa, dari kejauhan ia memperhatikanku, ialah Rimba ayah dari anakku yang baru saja mengakui dirinya sebagai kakak Iparku.

#4 (Empat)

Syukurnya, Rudi segera diizinkan pulang setelah siuman. Namun sejak saat itu aku mendapat ultimatum dari Rimba untuk jangan lagi meminta pertolongan Rudi dalam keadaan apapun.  Aku menghabiskan hariku sendirian, dan mulai jarang menghubungi Rimba sejak mengetahui kedatangan wanita itu. Sampai disore itu, perutku mulai kram diselingi beberapa kali kontraksi. Tendangan bayi ini kian kencang mendesak untuk minta keluar. Aku segera menghubungi Rimba, namun ia meminta agar aku segera naik taksi ke rumah sakit baru ia menyusul.

Sesampainya di RS, anehnya kontraski ini berkurang. Paramedis memintaku untuk menghubungi keluarga, jadilah aku menghubungi Rudi. Malamnya dokter menyarankan agar aku melakukan hubungan dengan suami untuk memperlancar persalinan, karena sperma yang masuk bisa memancing adanya kontraksi. Rudi sedikit ragu, ia malu untuk berhubungan denganku.

Tapi aku dan dia pasangan sah suami istri. Dengan perut yang besar aku memancing Rudi agar mampu berhubungan. Setelah berhasil dirinya kemudian mampu berhubungan denganku. Entah mengapa kurasakan kenikmatan yang berbeda. Rudi sangat lembut dan memperlakukanku sebagai wanita yang sesungguhnya.

2a5b3bd86794b9626d77e1f3f7eeeee6293a2

Perutku dipeganginya, kami berdua menikmati tiap denyutan yang terasa. Bahkan berkali-kali kami berciuman. Tak lama setelah selesai berhubungan, aku mulai merasakan kontraksi yang diharapkan. Rudi yang menemaniku sampai proses kelahiranku selesai. Buah hatiku, berjenis kelamin perempuan, Rudi memberinya nama Adigni yang kami artikan Anak dari Rudi dan Agni. Rimba datang. Ia mengetahui yang kami lakukan, wajahnya begitu masam. Ia bahkan tak ingin lama-lama melihat Digni buah hatinya sendiri. “Silakan kamu anggap Rudi ayahnya, toh bayi ini sudah kecipratan benihnya!” kata Rimba kasar dihadapanku dan Rudi. Ia kemudian lantas pergi.

——–

Kehadiran Digni memberikan warna perubahan dalam hidupku, kesedihanku kemarin tertutupi dengan kelucuannya. Pipinya yang gembil, tubuhnya yang gemuk, dan senyumnya yang manis membuat hatiku luluh. Sejak Rimba pergi, Rudi rajin membantu kami, ia yang membiayai semua kebutuhan Digni. Bahkan ia menyebut dirinya dengan ‘Ayah’ ketika bermain dengan Digni.

Melihat segala kebaikannya jujur aku luluh pada Rudi, tapi aku malu untuk berani mengungkapkan kekagumanku, mengingat segala hal yang pernah kuperbuat dimasa lalu. Aku dan Rudi memang hanya membahas Digni kala bertemu, kami sepakat tak membahas Rimba, dirinya memilih hidup bersama kesenangannya.

7 bulan kulalui sudah bersama Rudi dan Digni. Rimba tak lagi memberiku kabar, 1 tahun sudah aku melewati ini. Sesuai apa yang pernah dijanjikan, kami pernah bersepakat untuk menghakhiri pernikahan ini jika Digni telah lahir. Aku sesungguhnya berat, jujur tampaknya aku tak ingin melepas Rudi begitu saja. Bersamanya aku melihat kesenangan selain dari pada seks, rupanya ketulusan adalah rasa cinta yang sesungguhnya. Hingga pada tanggal yang kami rencanakan, aku dan Rudi bertemu. Aku memberanikan diri untuk menanyakan kelanjutan hubunganku dengannya, sesaat Digni tertidur pulas aku dan Rudi bicara. 

Kusampaikan keinginanku untuk bersamanya. Tapi Rudi justru mengabarkanku suatu hal yang tak pernah terduga olehku sebelumnya.

“……….Wanita bukanlah keinginanku.”

“Maksudnya?, terus kamu mau apa?” Aku keluar dari dekapannya.

maxresdefault

“Aku.. Gay… itu sebabnya ayah ibuku mengizinkan aku menikahimu atas keinginan Rimba.”

“…………”

Aku masih bingung, sangat gila dunia ini bagiku. Ya Tuhan kenapa kau hadapkan aku pada kenyataan ini. Aku mencintai dua pria yang membingungkan. Aku memegang wajah Rudi, aku kembali meyakinkannya.

“Rud, ini serius? Atau ini caramu meninggalkan aku?”

“Tidak Agni, inilah aku. Satu hal, aku tak akan meninggalkanmu–Aku tetap suamimu dan ayah dari Digni. Tapi kau harus tau, ada orang lain bersamaku.”

“Dia siapa? Pria juga begitu…?” Kataku yang kebingungan.

Rudi mengangguk. “Nanti suatu saat kukenalkan kau padanya.”

Aku yang tadi bersedih seketika itu juga menghentikan air mata. Entah aku harus bagaimana. Namun disatu hal aku masih bersyukur setidaknya Rudi tidak akan meninggalkanku dan Digni. Jikapun aku tak lagi merasakan cinta sebagai wanita, aku masih bisa menerima asal Digni bahagia dan tidak kehilangan sosok ayahnya.

——-

Aku kembali melanjutkan hidup, bekerja dan menjadi ibu bagi Digni. Akupun berkenalan dengan kekasih Rudi, Pandu namanya. Pandu sudah mendengar cerita tentangku. Dan dirinya bisa menerima kehadiranku. Sedangkan Rimba saat ini ia tengah tak berarah. Kesulitan setelah harus kehilangan kariernya akibat kasus narkoba yang menjeratnya. Ia tak mendekam dipenjara. Namun semakin stress setelah wanita disekitarnya banyak yang meninggalkannya.

Aku sudah tak mau banyak tahu soal Rimba, duniaku telah berbeda dengannya. Setidaknya aku punya Digni yang kini mulai bisa berjalan dan selalu membuatku bahagia manakala melihat senyumnya. Begitupula dengan Rudi dirinya rajin menemani kami, meski diantaraku dan Rudi tak ada keintiman yang tercipta tapi aku cukup besyukur dengan kehadirannya.

——

Malam itu aku sedang bermain dengan Digni didalam rumah, tiba-tiba seorang mengetuk pintu. Aku segera membuka pintu yang kukira itu Rudi, tapi ternyata itu adalah Rimba.

“Agni……” Ia tersenyum dan langsung melihat kebelakangku, tepatnya ke arah Digni.

“Anaku…..” Ia segera melenggang masuk. Aku membiarkannya, kupikir apa salahnya jika Digni merasakan pelukan dari ayahnya. Kulihat Rimba menciumi Digni, sayang Digni justru menangis, kulihat Rimba caranya menciumi Digni juga begitu liar. Aku bahkan mencoba meraih Digni dari pelukannya.

“Rimba, biar sini Digni aku gendong” Aku mengangkat kedua tangaku yang siap menerima Digni. Tapi Rimba terdiam dan menatapku dengan tatapan kosong. Ia lalu mengacungkan jari telunjuknya kemudian menempelkannya pada bibirnya.

“Eee.. Eehh Ssshhhht…..”

Aku tersadar mulai ada yang tak beres dengan pria yang satu ini. Aku mencoba mengambil Digni, tapi pelukan Rimba semakin keras. Digni bahkan seperti kesakitan.

“Rimba… Jangan!!! LEPASIN GAK!!” Kataku dengan nada keras, satu tangan Rimba lantas menjambak rambutku. Aku balik memukul wajahnya tanpa mengenai Digni. Tiba-tiba Rimba melepaskan pelukannya pada Digni dengan mudah ia melempar Digni seakan bayiku adalah boneka. Saat hendak menangkap Digni, Rimba mendorongku keras. Aku yang tersungkur ditahan olehnya dengan kedua tangannya.

Ia membuka celananya aku tau apa yang akan ia lakukan. Aku berusaha melawan dengan memukul Rimba menggunakan sepatu. Saat ia sibuk memegangi kepala aku sempat bangun namun Rimba menarik satu kakiku. Aku berteriak tapi tak ada yang mendengar mungkin karena rumah baru ini jauh dari tetangga.

Rimba kembali mencoba menaklukanku dengan menampari wajahku berkali-kali, bahkan ia balik memukul kepalaku dengan benda disekitar. Mataku mulai buram, kepalaku sangatlah sakit. Samar-samar kudengar tangisan Digni pecah. Anakku sayang, kenapa kamu harus merasakan ini. Sementara itu Rimba mulai membuka celananya dan mencoba memasukiku dengan cara liarnya. Aku masih berusaha menolak, tapi tenangaku seakan habis. Bahkan pandanganku kian buram. Tuhan inikah balasanku bagi wanita sepertiku..

hqdefault (1)

“—–DORR!!!———” Suara tembakan terdengar begitu keras, bau bubuk mesiu menelusuk dalam hidungku. Cipratan darah mengenai kepalaku. Brugh–Rimba jatuh menimpaku. Kemudian kulihat Rudi memegang pistol, tatapan matanya begitu buas dan berbeda dari Rudi yang kukenal. Ia lantas melihat kearah Digni yang tengah tersungkur sembari menangis. Dengan pistol ditangan ia mendatangi Digni, mengangkatnya dan menciumnya. Kulihat Rudi membelai kepala Digni dan melakukan tindakan untuk mendiamkan tangis sembari menggendongnya. Rudi bahkan menepuk-nepuk pundak Digni pelan. Kemudian ia melihat kearahku sambil tersenyum.

“Rud…. Kenapa harus seperti ini……” 

Stefan_322.2

————– Aku lantas tak sadarkan diri.

———————————————————

Malam itu adalah satu peristiwa yang akan kukenang seumur hidupku. Pada kejadian itu Rudi menembak Rimba, ia berniat menyelamatkanku. Rimba tewas ditempat akibat luka tembakan dibagian kepala. Sedang Rudi kini mendekam di penjara akibat perbuatan baiknya. Ia memintaku untuk menjaga Digni dengan baik sampai dewasa.

Kuyakinkan pada Rudi bahwa aku tak akan melupakan kebaikannya padaku maupun Digni. Kini aku menjalani kehidupanku hanya berdua dengan Digni. Untuk menenangkan hati, aku dan Digni hijrah ke suatu pulau kecil di sekitar Kalimantan.  Disitu aku bekerja sebagai seorang guru, memulai lagi hidupku menjadi sosok yang baru. Aku tak ingin Digni mengenal kejamnya pergaulan bebas perkotaan sepertiku.

3514113_orig

Rudi dan Rimba adalah bagian dari hidupku, darah mereka adalah darah anakku. Berangkat dari pengalaman ini, aku tak mudah mengenal pria, biarlah kujalani kehidupanku begini saja, meski aku bukan wanita yang berlimpah akan cinta, tapi aku yakin bahagia dengan jalanku saja. 

SELESAI.

Hak Cipta : Hawaku.com 

Penulis : @ariefitrie

Terima kasih Sahabat Hawa sudah membaca Romansa Hawa. Tunggu Cerita Roman lainnya di Aplikasi Hawa Setiap Hari Selasa dan Sabtu ya. 

… Jangan Lupa Love and Comment …

Hi Sahabat Hawa, Ayo download Aplikasi Hawa di Googleplay dan dapatin hadiah menarik dengan cara mudah. Yuk masuk ke HAWA Sosialita, ada berbagai contest seru setiap harinya yang punya banyak hadiah buat kamu sebanyak-banyaknya ! Untuk kamu yang belum memiliki HAWA, langsung saja klik link dibawah gambar contest ya. Buruan jangan sampai ketinggalan!

Tidak hanya itu, dapatkan juga berbahagai hal menarik di aplikasi khusus wanita ini yakni: Tips-tips bermanfaat, Kalender pintar dan Solusi dari para dokter ahli mengenai semua masalah kamu.

Menjadi Wanita Indonesia yang Selangkah Lebih Maju, Dengan Fitur-fitur Dari HAWA!

Salam Cinta,

HAWA

INSTAGRAM: @HAWAKU @HAWAVIDEO

TWITTER: @HAWAAPP

FACEBOOK: HAWA – APLIKASI WANITA

WEBSITE: HTTP://WWW.HAWAKU.COM

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s