6 Kesalahan yang Dilakukan Ibu Milenial

Beda zaman tentu beda pula pola asuhnya. Setidaknya ini yang dirasakan ketika kita menjadi orang tua baru bagi anak. Terkadang sebagai ibu yang hidup di era digital seperti sekarang, kita merasa di satu sisi sebagai orang tua berusaha memahami bagaimana cara berpikir anak dan berpikir melakukan pendekatan yang dapat diterima oleh anak. Sampai ada pula titik dimana segala keinginan anak diwujudkan dengan mudah. Padahal hal-hal seperti ini rentan dilakukan orang tua pada anak mengingat anak juga perlu belajar nilai-nilai kehidupan yang kedepannya berdampak bagi masa depan anak. Berikut 5 kesalahan yang kerap dilakukan ibu milenial.
 

 
1. Dibutuhkan Konsistensi 
 
Menjadi ibu milenial dihadapi berbagai macam tantangan. Misalnya dalam menghadapi kemauan anak. Tak sedikit ibu yang ingin segala hal berjalan mulus, beres, dan tanpa hambatan padahal dengan menuruti setiap kemauan anak akan berbahaya di masa depan. Anak juga butuh serangkaian aturan saat melewati rutinitas bersama sang ibu di rumah agar anak bisa berkembang optimal. Untuk menjalankan nilai ini dibutuhkan konsistensi agar anak dapat memahami bahwa semua yang ia inginkan tak selalu dapat diwujudkan dengan mudah.
 
2. Merasa Bisa Semua Sendiri
 
Informasi yang bertebaran di internet memiliki kecenderungan para ibu untuk tidak ingin bertanya. Misalnya ibu punya target kemudian menekan diri agar target tercapai. Namun sebagai ibu milenial tidak tanya dulu dan melakukannya sendiri. Bila tidak terpenuhi, ibu milenial rentan stres. Untuk itu perlu saling mengedukasi sesama ibu di masa milineal ini. Terbuka dan konsultasi bila kita merasa ada hal yang tidak dapat diselesaikan sendiri. Ingat bahwa anak juga butuh peran ayah sebagai pendamping meski mungkin intensitas ayah di rumah berbeda dengan ibu. Jadi ibu milenial jangan sungkan untuk komunikasi dengan pasangan mengenai anak karena anak merupakan tanggung jawab orang tua.
 
3. Ibu Segala Tau
 
Seorang ibu pasti berupaya menjadi yang terbaik bagi anaknya. Ibu milenial perlu memahami bahwa menjadi ibu bukanlah dengan kesempurnaan. Saat anak berdisuksi A, ibu bisa menjawab, begitu pun seterusnya. Menjadi ibu yang baik sebenarnya juga cukup namun ibu milenial tentu perlu terus belajar bersama anak saat mendampingi mereka.
 
4. Tidak Siap 
 
Semua ibu milenial mudah mencari informasi di internet. Namun ibu milenial perlu menyesuaikan dengan kondisi dan perlu menakar informasi yang masuk. Misal sebagai contoh ketika ingin memilih tempat untuk melahirkan. Ibu milenial cenderung tidak siap saat apa yang dipilihnya tidak sesuai. Lanjut Vera,”Ibu jadi stres karena tidak siap dengan segala kemungkinan yang terjadi,” Jadi ibu milenial harus mempersiapkan risiko dan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Konsultasikan dahulu tempat melahirkan yang sesuai bersama pasangan dan jangan mengambil keputusan sendiri. Dengan lebih terbuka bersama pasangan, tentu segala bentuk risiko juga akan dipikul bersama.
 
5. Jangan Mengabaikan Perasaan Anak
 
Anak marah, sedih, takut merupakan kewajaran. Hindari marah dan cobalah masuk ke dunia anak. Terbuka dan memahami apa yang dirasakan anak akan membuat ibu milenial belajar bahwa anak juga perlu dihargai dan merasakan cinta. Beri pelukan saat anak marah dan sedih tentu membuat anak merasa tenang. Komunikasikan pada anak dari hati ke hati sehingga anak merasa terlindungi, percaya pada ibu, dan tentu merasa aman. 
 
6. Anak = Ibu?
 
Wajah boleh mirip namun anak merupakan individu yang berbeda. Hindari mendorong anak melakukan sesuatu hanya karena ibu ingin melakukannya di masa lalu namun belum terwujud. Fokus pada karakter unik sang anak dan biarkan anak memilih apa yang diinginkannya selama itu hal positif. Dukung terus dan hindari memberi reward berupa gadget. Hindari gadget sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilannya. Beri reward berupa hal lain misalnya liburan bersama, nonton bioskop bersama atau aktifitas lain yang bisa dilakukan anak bersama keluarga.
 
 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s