Kisah Haru : Surat Pertama & Terakhir Untuk Bunda

Scroll down to content

datangnya-musim-hujan-bisa-buat-suasana-hatimu-jadi-murung

Tes.. tes.. tes.. tetes hujan perlahan-lahan turun dan akhirnya menyentuh tanah, langit masih terlihat mendung dan tak terlihat sinar kemilau sang mentari yang muncul dibalik hamparan padi selalu tersenyum dengan hangat kepadaku. 

ilustrasi-air-hujan.jpg

Kriek.. terdengar suara pintu kamar tuaku dibuka “Bunda…” panggilku, wanita paruh baya itu menatapku dengan senyum terlukis di wajahnya, ia mendekatiku dan akhirnya duduk di sampingku “Kamu cepat sembuh ya Niken.. kamu harus bersekolah kembali” ucapnya seraya mengelus rambut pendekku yang selalu rontok setiap harinya dengan kasih sayang.

Aku dan Bunda hidup sederhana disebuah rumah pedesaan tempat dimana aku dibesarkan. Ayah sudah lama meninggal, mengharuskan bunda menjadi Tulang Punggung keluarga demi kehidupanku untuk bisa bersekolah. Aku ingat dulu bunda sempat pinjam uang ke tetangga dan sempat pinjam alat-alat menjadi Penjual minuman Es di tempat aku bersekolah. Tentu aku tidak malu.. aku bangga dengan Bunda.

Sudah hampir sebulan aku selalu menderita seperti ini, setiap hari rambut panjang yang selalu kugerai rontok dan perlahan-lahan menipis hingga akhirnya aku harus merelakannya untuk dipotong pendek. “Niken, bagaimana ini bunda tidak memiliki uang utuk biaya operasi mu..” ucap bunda sambil menitikan air mata. “Nggak papa bunda… niken tau yang operasi hanya 70 persen yang hidup bunda.. niken nggak mau bunda kehilangan niken dan niken nggak mau kehilangan bunda, lagi pula biaya operasi sangat mahal.. lebih baik kita tabung ya bunda” ucapku, kulihat air menggenang di kedua pelupuk mata bunda dan akhirnya membentuk aliran sungai kecil yang membelah kedua pipi bunda,

2.jpg

“Bunda jangan menangis” ucapku mengusap pelan kedua pipi bunda “bunda baik-baik saja niken.. sebentar lagi teman sekolahmu Ani bakalan datang untuk menjenguk kamu” ucap Bunda. “Bunda jangan sedih ya.. bunda nggak boleh nangis karena keadaan niken.. bunda harus janji” pintaku “bunda janji.. sekarang kamu istirahat sayang.. bunda tinggal dulu” ucap bunda seraya pergi dari kamarku, “Ya Allah… angkatlah penyakitku..” pintaku memohon.

SAAT HUJAN.jpg

Tak lama kemudian kudengar isak tangis di depan pintu kamarku dan rasa ingin tau ku terlalu besar untuk mengetahui siapa di sana. dan ternyata Bunda.. Aku melihat bunda diujung lorong, sambil melihat rintik hujan yang mulai reda. Namun aku terkejut melihat bunda rambutnya sama denganku, katanya Bunda memotong rambutnya untuk menyemangatiku, Bahwa bunda pun sama-sama berjuang sepertiku. “Bunda..” ucapku pelan, kudengar bunda menangis tidak mungkin suara Ani.. aku mendengar bunda menelfon seseorang, bahwa aku tidak akan mungkin bisa hidup lagi walaupun dengan jalan operasi “ya Allah.. cobaan apa lagi yang kau berikan untukku” ucapku menangisi keadaanku.

Tok.. tok.. tok..

“Niken.. ini aku Ani..” ucap Ani seraya mengetuk pelan pintu kamarku, kuhapus air mata yang menggenang di kedua pelupuk mataku dan aku memilih untuk membukakan pintu untuk sahabat baikku itu “Hai.. Ani, kamu datang juga aku udah lama nungguin” sapaku “Wah.. Niken kamu tampak lebih sehat dari sebelumnya dan kurasa kamu bakalan sembuh sebentar lagi” ucap Ani “ya.. semoga” ucapku. Aku tau Ani hanya ingin memberi semangat untukku. “kok kamu kaya gak ada harapan? Semangat yaa Niken” tanya Ani “Nggak kok.. pagi ini dingin jadi nggak semangat buat ngelakuin apa pun” jawabku pelan “mending kita jalan-jalan aja gimana” usul Ani. “Ide yang bagus” ucapku pelan. “Tapi kita kemana ya Niken?” Ucap Ani. “Bagaimana jika ke taman tempat kita bermain saat kita kecil dahulu” usulku, kemudian Ani menyetujuinya. Tempat masa kecil kami dulu adalah taman ayunan di dekat danau, danau yang banyak sekali ikannya.

ayunan.jpg

“Dulu.. di sini kita sering main ayunan ini ya Niken” ucap Ani kepadaku seraya duduk di atas ayunan. tapi aku hanya diam.. 

“dulu juga kita di sini sering ketawa sering nangis aku juga suka iseng sama kamu ya Niken..” lanjut nya. aku masih tetap diam. 

“Niken.. kamu kenapa sedih terus??” tanya Ani. 

Akupun mulai membuka suara.. “Ani kamu tau kan aku nggak bisa hidup lebih lama lagi” jawabku menatap Ani. “kamu nggak boleh gini Niken.. kamu harus kuat kamu pasti ada harapan buat hidup kok” ucap Ani menyemangatiku dengan serius. “kuharap aku masih diizinkan hidup buat bunda” harapku menatap langit. “udah sore pulang yuk” ajakku kepada Ani, kepalaku mulai sakit aku sangat sensitif kelelahan, itu yang kurasakan saat ini, mungkin nanti aku takkan melihat wajah bunda dan sahabatku dan mungkin aku akan bertemu dengan Ayah dan melepas kerinduanku bersamanya selama ini.

kanker-darah-pada-anak.jpg

Di rumah aku hanya bisa berbaring dan berusaha terlihat baik-baik saja di depan bunda tapi.. keadaanku semakin memburuk hingga akhirnya aku juga harus dilarikan ke rumah sakit dekat Kantor Kepala Desa “Bunda gak boleh sedih” pintaku seraya mengusap pipi bunda yang berlinang dengan air mata “Bunda tidak akan sedih Niken.. bunda akan berusaha menghadapi semua ini dengan tegar” ucap bunda “bunda.. Niken mungkin gak bisa nemenin bunda lagi Niken gak bisa meluk bunda lagi Niken gak bisa masak bareng bunda lagi” ucapku “nanti Niken bakalan sama ayah jadi bunda gak perlu khawatir sama niken Bunda cukup mendoakan Niken ya bunda.. bunda juga bakalan niken doain” lanjutku

“Ani..  makasih udah mau jadi sahabat aku.. aku titip bunda.. kalian jangan lupain aku ya” pintaku “Niken kamu gak boleh ngomong gitu” ucap Ani kepadaku. “aku berterima kasih sama kamu..” ucapku sebelum akhirnya aku dibawa malaikat pergi jauh, kulihat bunda, dan Ani menangis tapi aku tak bisa berbuat apa-apa aku hanya bisa melihat dan akhirnya mereka semua menghilang dari pandanganku.

Sebelum aku masuk Ruang Operasi, aku menulis surat untuk bunda yang kutitipkan kepada Ani, surat itu berisi..

“Bunda sayang…, jika bunda sudah membaca surat ini berarti Niken sudah bertemu dengan Ayah dan Tuhan.. Niken minta maaf, tidak bisa menemani Bunda lagi.. maaf Niken selalu merepotkan Bunda dan membuat Bunda cemas.. Niken gabisa membalas semua kebaikan bunda.. Bunda ingat kan sewaktu Niken kecil dulu kita jualan bareng dan Bunda sering meminjam Alat untuk berjualan es keliling ke tetangga, bahkan sampai menyewa.. Niken tidak tega bunda harus menyewa dan menunggak biaya. Niken dahulu berharap kita tak perlu menyewa lagi.. Niken gamau bunda sedih terus..

Bunda selama Niken sekolah Niken berjualan Alat Tulis untuk meringankan kebutuhan kita nantinya, Niken sengaja menabung.. walaupun tidak seberapa.

Bunda.. Niken hanya bisa memberi hadiah untuk Bunda blender ini dari hasil kerja keras Niken sewaktu di sekolah. Karena Niken tau tidak bisa hidup lebih lama lagi untuk membantu Bunda berjualan.. Semoga Bunda suka ya..

imgpsh_fullsize_anim (1)imgpsh_fullsize_anim (2)

yes

Niken sayang Bunda…”

Bundapun menangis membaca surat yang telah Aku titipkan kepada Ani..

Dan Sore itu juga jasadku dimakamkan deraian air mata mengiringi kepergianku “Semoga kamu tenang dan bahagia di sana niken” ucap Ani bersamaan sebelum pemakaman berakhir dan sebelum mereka takkan pernah melihatku lagi. Bunda Memeluk Nisan Makamku yang bertulis ”Niken Sri Putri Bin Muhammad Fudin Fathur”

Aku bertemu ayah di Surga

ayah-5

-SELESAI-

HAWA SAHABAT TERBAIK WANITA INDONESIA

ads 6 alt1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: