Life Story : “Perasaan Seorang Wanita dan Ibu” (2/2)

Scroll down to content

Screenshot_9

Untung saja anakku tidak pernah memberontak sama sekali. Dia anak manis, sabar dan bisa menerimaku sebagai ibu yang sebenarnya masih tak layak dipanggil ibu.

Setelah resmi bercerai dengannya, aku dan anakku hanya tinggal berdua saja di rumah sederhana dan bertubuhkan papan-papan biasa yang tak ber-cat. Aku mulai mempelajari ilmu-ilmu agama, yang sebelumnya tidak pernah aku lirik sedikitpun. Mulai melaksanakan sholat lima waktu, meski terkadang masih sering bolong. Mulai mengenakan kerudung meski belum syar’i.

Aku menyekolahkan anakku di salah satu sekolah islam yang ada di kota ini, agar bekal akhiratnya jauh lebih banyak dibanding aku ibunya. Anaku lambat laun semakin dewasa, saat dirumah ia tiba-tiba memeluku dan minta maaf, entah kenapa anaku menangis dipelukanku saat itu. Dalam hatiku berucap “Maaf nak ibu belum bisa jadi yang terbaik…”

Pernah suatu hari, aku mengikuti seminar keislaman dan diakhir acara. Ada seorang ustad yang berkata, jika ada yang punya masalah dan ingin konsultasi silahkan datang di kantor kami. Aku mengambil kertas selembar di dalam tas dan meminjam pulpen wanita muda yang ada di samping kananku, lalu aku catat dan simpan baik-baik.

Besoknya, aku pergi konsultasi dengan muka ceria berharap ada solusi yang kudapatkan dari konsultasi ini. Sesampai di sana, aku mulai menceritakan masalah hidupku, mulai dari hamil di luar nikah, menikah dengan menggunakan nama orang lain di buku nikah, sampai masalah perceraian dengan suamiku.

Ustadz itu mengeluarkan kalimat yang sangat menusuk di hati “Pernikahan ibu TIDAK SAH”
“Jadi, selama ini bisa dianggap aku berzina dengan lelaki yang aku anggap sebagai seorang suami itu?”
“Iya” jawab ustadz dengan lembut
“Astagfirullah Al’Adzim” Ujarku di depan ustadz itu.
Aku menangis sesal tiada terkira, rasa berdosa semakin menghantuiku. Hati ini semakin gelisah, resah dan tak ada rasa tenang di dalam hati. Sesal itu benar-benar membaluti jiwaku.

Astagfirullah.. Astagfirullah.. Astagfirullah.. Luapan air mataku semakin tak terkendali.

Lalu ustad itu berpesan “Ibu sholat taubat dulu, perbaiki sholat lima waktunya dan laksanakan sholat tahajjud. Allah Penerima taubat, Siapapun ibu dimasa lalu tidak akan menjadi halangan untuk memperbaiki masa depan ibu”
Ustadz itu kemudian mengeluarkan sebuah hadits yang artinya:
“Allah turun ke langit dunia pada 1/3 malam yang terakhir, lalu ia berfirman: Batangsiapa yang berdoa kepadaKu pasti Aku kabulkan. Barangsiapa yang memohon kepadaKu pasti aku beri dan barangsiapa yang meminta ampun kepadaKu pasti Aku ampuni”. (HR.Muslim)
Dalam deraian air mata, aku mengangguk. Sebagai tanda ‘Aku siap melaksanakannya’.

Aku ingin mencari jalan kebahagian. Menyelamatkan hatiku yang telah lama tenggelam dalam genangan dosa karena keselamatan hati adalah jalan bagi keselamatan agama dari dosa-dosa, juga jalan bagi kecintaan terhadap orang lain. Inilah kebahagian hakiki dunia dan akhirat.

Aku pernah membaca sebuah hadits yang artinya:
“Tidak akan masuk ke dalam api neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu ibu (Yang sudah di minum oleh anaknya) kembali ke tempat asalnya” (HR.at-Tirmidzi).

Ya Allah sungguh aku menangis karena menyesali perbuatanku, aku takut akan adzab-Mu. Terimalah taubatku. Disepertiga malam aku bangun untuk mendirikan salah satu sunnah yang begitu dahsyat fadillahnya yaitu Qiyamul’lail. Bukankah sepertiga malam itu Allah mengampuni orang-orang yang meminta ampunan dan mengabulkan doa orang-orang yang memanjatkan doa.

Aku memilih meninggalkan dekapan malam dan merajut tali-tali kerinduan dengan Allah yang selama ini tak pernah aku jumpai. Aku bermunajat kepada-Mu, agar mengampuni dosa-dosaku yang begitu banyak, menghapus kegelisahan yang mengimpit di dada, menganugrahkan kenyamanan di dalam hati dan memberikan jodoh terbaik untuk anakku.

Sebenarnya, aku malu meminta yang muluk-muluk kepada-Mu karena ibadahku tak berarti apa-apa dengan nikmat yang Engaku berikan selama ini. Ya Allah, sungguh aku berharap Engkau mengabukan doaku. Aamiin

Besoknya, hati ini terasa ringan sekali. Sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang diselimuti dengan kegelisahan dan rasa bersalah. Kali ini bagaikan semua darah kotor yang adal di dalam tubuhku diangkat sekaligus. Tiap hari aku isi hari-hariku dengan ibadah dan bekerja sebagai pedagang ikan di pasar tradisional. Aku tak ingin meninggalkan ibadah-ibadah yang diperintahkan-Nya. Kelihatannya sangat sederhana tapi jika dilaksanakan dengan khusyuk maka akan terasa nikmat ibadah itu.

Satu keinginanku saat ini yang begitu besar yaitu melihat anakku menikah dengan laki-laki yang baik. Jangan sampai masa laluku diulangi oleh anakku. Maka, setiap selesai sholat fardu dan sholat tahajjud, aku selalu mengulangi doaku.

Kini, terasa ringan untuk bangun mendirikan sholat tahajjud, mungkin sudah menjadi kebiasaan. Sepertiga malam adalah waktu berdoa yang mustajab. Tetesan air wudhu menjadi seni tersendiri, menikmati alunan dzikir yang terlisankan dengan ikhlas dan khusyuk, menambah indahnya keheningan malam. Aku pun mendirikan sholat tengah malam yang aku rasakan manfaatnya, langung mengena di hatiku yang paling dalam. Sungguh!!

Ketenangan, kebahagian dan kenyamanan sudah terpatok di singgasana hatiku, menjalani hari-hari dengan wajah ceria dan senyum merekah tanpa pernah mengingat lagi dosa-dosa di masa laluku. Anggap saja, itu pelajaran yang paling berharga dan tak perlu diulangi lagi, hanya perlu diperbaiki.

Kurang lebih satu bulan kemudian, ada yang melamar anakku. Dari keluarga yang baik-baik, laki-laki itu seorang PNS, dan ketaatannya kepada Allah tidak diragukan lagi. Orangtua laki-laki itu, tidak pernah mengungkit latarbelakang kehidupan anakku. Pernikahan itu pun terlaksana dengan penuh khidmat dan sungguh sangat banyak kesyukuran kuhaturkan kepada Sang Pemilik Jagad Raya ini.
Kali ini, aku menangis bahagia, terharu dan kupeluk anakku dengan erat. Dia pun menangis dan berkata “Terimakasih, untuk doa-doa ibu selama ini”. Tangisku semakin memecah..

Apa ini jawaban dari doa-doa yang terlisankan, sungguh aku sangat merasakan betapa nikmatnya berdoa disepertiga malam. Sholat tahajjud dengan khusyuk dan berdoa dengan meneteskan air mata pengharapan kepada Sang Ilahi. Malam-malam yang telah berlalu menyimpan pesan tersendiri, malam penuh kemesraan dengan sang Ilahi dalam bingkai ketakwaan. Sungguh sangat nikmat dan menawan. Menyambut kedatangan Allah pada sepertiga malam terakhir dengan wajah bersinar disertai panjatan doa sebagai penyempurna malam itu.

-SELESAI-

Baca Cerita lainnya di Aplikasi Hawa.  

Ayo Download di Playstore Kamu Sekarang Juga Yaa!  

ads-11alt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: