Life Story : “13 Hadiah Untuk Sahabat”

Scroll down to content

Namaku adalah Michelle. Mungkin aku sangat beruntung karena aku memiliki sahabat bernama Adelia. Kami bersahabat sejak usia 5 tahun. Sudah 8 tahun kami bersama. Rumahku dan Adel pun bersebelahan lebih tepatnya kami bertetangga. Mulai dari Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) pun kami selalu bersama. Bahkan kini kami duduk di kelas yang sama.


Adel sangat perhatian terhadapku. Adel seringkali mengorbankan kepentingan pribadinya demi aku yang sangat dihargainya. Adel tidak jarang meluangkan banyak waktunya demi kepentingan sahabatnya. Seperti halnya Adel, aku juga bersikap yang sama terhadap Adel. Aku sangat perhatian dan selalu memastikan sahabat tercintanya ini dalam keadaan baik-baik saja. Tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik selalu kami lewati bersama. Sepertinya kami lebih dari sekedar sahabat. Rasa sayang kami tak dapat diungkapkan melalui kata-kata. Suka dan duka selalu kami lewati bersama.


Suatu sore, ketika aku dan Adel pulang sekolah kami mampir ke salah satu Mall. Kami pun mengelilingi Mall tersebut. Langkah kaki kami terhenti di depan toko Aksesoris yang benuansa serba putih. Karena Adel sangat menyukai warna putih. Kami pun memasuki toko tersebut.
“Ingin deh rasanya bisa beli semua barang di sini..” Adel sangat menyukai semua barang yang dijual di sini.
“Emang uangnya cukup del?” Aku menggelengkan kepalaku melihat tingkah laku Adel.
“Eng.. nggak.. hehe.”
Kami hanya membeli bandana biru dan sepatu putih. Karena Adel menyukai warna biru dan aku sangat menyukai warna putih. Kami memang selalu membeli barang yang sama. Barang-barang kami yang kembar pun banyak sekali. Akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang.

Ketika aku sampai di rumah, aku baru menyadari bahwa hari ini tanggal 30 April. Berarti 1 Minggu lagi Adel akan ulang tahun. Adel sering sekali memberiku kejutan dan hadiah pada saat ulang tahunku. Tetapi, aku belum pernah memberi kejutan padanya, hadiah pun tidak. Aku hanya memberi ucapan “Selamat Ulang Tahun Adel.” dan itu pun aku mengucapkannya tidak pernah tepat di hari ulang tahunnya. Namun Adel tetap saja sabar dan menyayangiku.

Aku membuka kotak yang berisi semua hadiah Adel. Di sana terdapat album fotoku dengan Adel, bandana berwarna putih, bingkai foto kami, sepatu berwarna putih, buku diary berwarna putih, dan masih banyak lagi. Aku pun membuka lembaran demi lembaran album foto kami. Di dalamnya terdapat berbagai pengalaman yang aku temui bersamanya. Dari halaman pertama hingga terakhir berisi foto-foto kami. Mulai dari Play Group hingga kini. Tak terasa air mataku jatuh. Aku menangis tersedu-sedu baru menyadari Adel yang sangat perhatian kepadaku. Aku sangat beruntung dan bersyukur memiliki sahabat sebaik Adel.

Keesokan harinya, seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan Adel. Karena jarak rumah dan sekolah tidak terlalu jauh, kami pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda. Ketika istirahat tiba, aku dan Adel pun bergegas pergi ke Kantin untuk membeli makanan.
“Michelle kok cuma beli air mineral?” ucap Adel heran.
“emm.. nggak apa-apa kok, tadi di rumah aku udah makan. Jadi masih kenyang..” Ucapku berbohong sambil menahan lapar demi mengumpulkan uang untuk membeli hadiah untuk Adel.
“aku tahu kok kamu lapar, mata kamu nggak bisa bohong..” Adel menatapku dengan tajam.
“ya sudah, kamu makan roti punyaku saja. Nanti kalau kamu sakit gimana..” Adel memberikan rotinya kepadaku. Ya Tuhan Adel begitu perhatian kepadaku. Dia tidak ingin melihat sahabatnya kesakitan, meskipun kini ia sangat lapar. Tak terasa air mataku pun perlahan menempel di pipiku.
“ya ampun Michelle, kamu kenapa nangis?” Adel mengambil tisu dan mendekatkan tisunya ke pipiku hingga air mata itu hilang. Aku pun langsung memeluk Adel.
“makasih ya del, kamu selalu perhatian dan ada buat aku..” Aku pun membagi dua roti tersebut dan memberikannya kepada Adel.

Saat aku pulang ke rumah, aku dan Adel melihat sebuah toko bernuansa putih dan biru. Entah kebetulan atau tidak nuansa toko tersebut sama seperti warna favorit kami. Ketika Adel melihat topi berwarna biru, sepertinya dia ingin membeli topi tersebut. Aku pun sampai di rumah. Dan langsung bergegas ke kamar. Aku melihat celengan ayam yang tidak seberapa isinya. Lalu ku pecahkan celengan tersebut. Aku langsung bergegas pergi ke toko tersebut menggunakan sepeda. Lalu aku pun masuk ke dalam toko tersebut. Dan mengambil sebuah topi berwarna biru. Aku pun langsung bergegas ke kasir untuk membelinya.

Ketika sampai di rumah, aku baru ingat bahwa Adel suka sekali merajut. Aku berencana ingin membuat rajutan syal, gelang, dan kalung. Aku pun langsung mengambil sisa uang yang aku belikan topi. Dan langsung bergegas membeli benang rajutan. Di rumah aku langsung merajut benang tersebut. Aku baru sadar kalau aku tidak bisa merajut. Jadilah aku memanggil Kakakku untuk mengajariku bagaimana caranya merajut. Setelah 30 menit aku memperhatikan Kakakku aku baru mengerti bagaimana merajut.

Aku langsung mengambil benang berwarna putih. Aku sengaja membeli benang berwarna putih. Setelah 2 jam akhirnya selesai mengerjakan rajutan tersebut. Dan langsung menyimpan rajutan dan topi di lemari. Keesokan harinya, aku sengaja membuat 2 sandwich, jadi di sekolah aku tidak akan lapar lagi. Dan 1 untuk Adel. Aku pun selalu membawa bekal agar tidak lapar.

Tiga minggu pun berlalu. Aku sudah membeli 12 hadiah untuk Adel yaitu topi, syal, gelang, kalung, komik, bingkai foto besar yang berisi foto kami, album foto kami, boneka teddy bear, cokelat berbentuk love, kaos couple yang bertuliskan nama kami, jam tangan, buku diary. Tetapi, aku bingung untuk membeli 1 lagi hadiah. Ketika aku pernah bermain ke rumah adel, adel dan keluarganya cukup sederhana. Adel biasa membantu ibunya berjualan jus buah.. namun sayang blender yang ia pakai sudah rusak. dan kau tau? Keluarga Adel belum sempat membelinya.

Aku berinisiatif kado terakhir ke 13 untuk Adel adalah membelikannya sebuah blender.. untuk bisa digunakan berjualan dirumah memenuhi kebutuhan ia dengan ibunya. Karena Ayahnya sudah meninggal, Adel dan Ibunya harus mencari uang sendiri. Untung saja aku pernah Download Aplikasi Hamee dan disana menjual Blander Portable yang sedang ramai digandrungi kalangan Ibu Rumah Tangga.. Aku yakin Adel pasti menyukainya. Kebetulan aku sudah lama menjadi member di Hamee, sebenarnya Hamee membantuku juga mendapatkan penghasilan tambahan dari berjualan produk. Aku pun bisa beli Blender dengan mendapatkan Harga khusus yang cukup murah yaitu Rp 192.000 kalau bukan member aku harus bayar hingga 300.00an kau pastinya paham sekelas Anak SMA seusia ku belum mampu mengumpulkan sebanyak itu. Namun beruntunglah aku sudah menjadi Member Hamee..

Aku langsung mengambil sisa uangku, tetapi tinggal 100 ribu lagi. “masih kurang 92.000” batinku. Aku pun pergi ke gudang. Di sana terdapat barang-barang bekas. Aku pun mengambil barang-barang yang masih bisa untuk dijual dan akhirnya aku menemukan sebuah benda antik. Dan langsung bergegas ke toko jual beli barang bekas. Aku menjual barang tersebut dan mendapat uang 
“sepertinya cukup untuk membeli Blander..” Batinku.

Keesokan harinya aku langsung order di Aplikasi Hamee untuk membeli Blander Portable berwarna Biru. Harganya benar Rp 192.000 Berarti uang ini cukup untuk membeli blender tersebut. Aku langsung transfer untuk membayarnya, ternyata sudah Free ongkir padahal jarak Jakarta – Jawa Timur sangat jauh. Entahlah dari dulu menggunakan Aplikasi Hamee selalu dimudahkan dan memang banyak discount untuk membernya. tidak bohong, kamu bisa menggunakan nya sendiri.

Cukup 3 Hari, Blender itu telah sampai di Alamat rumahku daerah Jawa Timut dan Tak lupa aku membeli 13 kertas kado berwarna putih dengan motif berbeda. Di rumah aku langsung membungkus 13 kado tersebut. Blender ini aku membelinya warna Biru sesuai warna favorit kesukaan Adel.


Keesokan harinya, aku tidak pergi bersama Adel. Aku berniat untuk mengerjainya. Di sekolah pun kami tidak menyapa sama sekali. Teman sekalasku pun begitu. Tetapi Adel tidak menyadari bahwa hari ini hari ulang tahunnya. Pulang sekolah pun aku tidak bersama Adel. Karena aku terlalu girang, saat aku menyeberang aku tidak melihat kanan kiri. Alhasil ada mobil yang melaju sangat kencang dan menabrakku. Untung dia tidak kabur. Dan langsung membawaku ke rumah sakit. Darah berceceran dimana-mana. Orangtua, Kakak, dan Adel sangat cemas. Dokter menjelaskan bahwa aku hanya terkena luka ringan. Adel pun masuk ke kamarku.

“maaf, kamu siapa ya?” aku pura-pura Amnesia.
“aku Adel sahabat kamu masa tidak ingat?” Adel kaget saat mendengar ucapanku.
“Adel?! Aku tidak pernah mendengar nama itu..”
Karena kecewa Adel pun pulang ke rumahnya. Aku harus sampai rumah Adel lebih dulu untuk memberinya kejutan. Untung saja lukaku ringan dan tidak terlalu parah, jadi aku diizinkan untuk pulang. Aku meminta orangtuaku untuk membantuku pergi ke rumah Adel. Kami pun sampai lebih dulu. Dan langsung mempersiapkan semuanya. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang tak lain adalah Adel. Adel pun masuk ke rumahnya. Kami sengaja mematikan lampu agar tidak ketahuan.
“1..2..3.. SURPRISE!!!”
“Happy Birthday Adel..” 
Kami berteriak bersama. Adel pun kaget. Dia meniup lilin dan membuka setiap kado dariku. Terakhir dia membuka blender yang aku bungkus rapat-rapat. Aku melihat raut wajahnya senang sekali… Dia langsung memberikan Blender tersebut kepada Ibunya.. Tante Mira pun senang sekali dan terharu, kini Adel dan Ibunya bisa berjualan kembali bahkan bisa digunakan keseharian dan sangat praktis dibawa kemana saja. Terimakasih Hamee..
Kami semua pun larut dalam kebahagiaan.
 
-TAMAT-
Cerpen Testimoni product Hamee
by Michelle Putritian
 

 
Love Hamee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: