Kisah Roman : “Wanita dan Istri Untuk Suamiku” (1/5)

Scroll down to content
“Apapun yang terjadi pada kita esok hari itu karena apa yang kita lakukan hari ini”.

Kiranya itulah nasehat dari Almarhum ayahku yang masih kuingat sampai sekarang sebelum ia meninggal 4 tahun yang lalu. Usai Ayah meninggal, ibuku menikah dengan seorang bujang bernama Jack. Jack dan ibu saat ini mengelola usaha Ayah berjualan bahan pokok di kedai swalayan Paris, France.

Sepulang sekolah, aku segera membantu ibu di kedai swalayan menjaga adikku Tina anak dari hasil pernikahan ibu dan Jack. Ada hal yang kurasakan namun enggan kuberitahu pada ibu, Jack sering kali menggodaku diam-diam saat ibu sedang tak bersama kami. Itu sebabnya aku tak betah dan tak ingin berlama-lama ada disini.

Suatu hari aku bertemu teman masa kecilku Albern. Kami mengobrol didepan toko, aku mendengar bagaimana asiknya ia bercerita tentang ibu kota. Meski hanya bekerja sebagai supir, disini ia sukses membangun 1 toko yang lebih besar dari milik ayahku. Sejak saat itu aku tak berhenti memikirkan manisnya Paris, aku ingin bisa sukses disana. Hingga saat yang ditunggu tiba.

18cdd3358c47849984f3a5f4773c6a9b.jpg

Agustus 2001, aku memberanikan diri untuk berangkat ke Ibu Kota Paris dengan modal seadanya. Disana aku dikenalkan oleh Chika, teman Albern. Berijasahkan SMU, aku melamar pekerjaan sebagai recepsionist. Senangnya aku saat dikabarkan diterima oleh pihak perusahaan. 3 hari berselang aku bekerja disebuah kantor Perusahaan Industri dekat Sungai Saine Paris. Ketika Mulai senja sungai itu selalu indah dipenuhi turis mancanegara. aku bisa melihatnya dari kejauhan di lt 12 kantorku.

Suatu pengalaman baru bagiku, bekerja disebuah lingkungan yang dipenuhi oleh orang-orang berpendidikan tinggi. Mereka semua terlihat rapi dan bersih. Setiap ada yang baru datang aku tersenyum dan mengucapkan selamat pagi. Ada satu orang yang paling ditakuti dikantor ini, yaitu Pak Bram Immanuel sang bos. Pertama kali aku bertemu kulihat dirinya sangat garang, bertubuh tinggi tegap, ia berasal dari German, dan bermata tajam. Saat aku mengucap selamat pagipun ia tak membalas.

“Kalo sama dia hati-hati salah-salah sedikit bisa dipecat.” kata Juli, rekan satu meja recepsionistku. Sejak saat itu aku langsung takut dan cukup tegang saat bertemu dengan Pak Bram, begitu ia disapa.

——-

Selama aku bekerja disini, setiap siang istri Pak Bram datang untuk mengantarkan makan siang. Tapi berbeda dengan hari itu, hanya supirnya yang datang dan menitipkan makanan kepadaku untuk diantar ke ruang Pak Bram. Jujur aku takut, tapi demi menjalankan tugas aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan Pak Bram.

Keesokan harinyapun seperti itu, aku hanya mengantar sampai Pak Bram memanggilku.

725bdb4b9b20928e846abf1a58df4b1a.jpg

“Maaf, coba kamu kesini sebentar…” katanya padaku, aku mendekati meja Pak Bram.

“Dari kemarin hanya diam saja, siapa namanya?

“Angelia pak…”jawabku sambil sedikit senyuman.

Pak Bram hanya tersenyum, namun sejak saat itu kulihat ada yang berbeda. Pak Bram selalu tersenyum saat datang dan menyapaku. Sampai suatu saat aku diajak bicara oleh Pak Bram, ia menanyakan apa saja tentangku mulai dari keluarga dan alasanku datang ke Paris. Mendengar ceritaku ia tertarik bahkan katanya aku boleh menjadi sekertaris pribadinya jika aku mau. Sempat menolak, namun karna kebaikannya aku pun meneriman.

Tiga bulan bekerja aku sudah menjadi Sekertaris banyak yang Iri, namun kata Pak Bram aku jangan mempedulikannya. Bahkan dimataku ia adalah sosok yang berbeda, tak seperti apa yang orang lain katakan. Namun disinilah masalah baru dimulai, bermain api aku dan Pak Bram mulai menjalin hubungan. Ia beralasan bahwa Istrinya bermasalah dan ia merasa dipermainkan.

Tiap kami bertemu ia selalu membicarakan soal perceraian. Terayu oleh bujuk rayunya, aku jatuh pada pelukannya. Aku dan Mas Bram, begitu ia kupanggil sekarang mulai diam-diam memiliki ikatan. Sampai saat yang paling aku khawatirkan terjadi 2 bulan setelah kami dekat aku hamil, segeralah aku memberitahu hal ini pada Mas Bram.

Alangkah senang hatiku saat mendengar Mas Bram bahagia akan kabar kehamilanku. Ia berjanji akan segera menikahiku. Tapi kutunggu-tunggu 3 bulan berselang janji itu belum terealisasikan juga. Perutku kian membesar dan aku mulai dicurigai orang sekitar kantor. Setiap aku mengatakan, ia selalu berdalih aku bakan menyaksikan sendiri istrinya masuk keruangan dan bermesraan dengan Bram.

21a6a3326185017d6ad1502822f610f5.png

Suatu saat akupun cemburu dan kami berdua bertengkar. Ia mengatakan masih mencintaiku namun meminta aku bersabar. Karena stress keesokan harinya dikantor, kuasakan rasa melilit dan perih dibagian perutku. Akupun bergegas kekamar mandi, disini aku semakin tidak karuan. Kutemukan darah mengalir deras dari bawah perutku, tak lama berselang sebuah gumpalan darah keluar, dan rasanya begitu sakit.

Diam-diam aku mencari kerdus didapur, ku lap darah dibagian paha menggunakan koran. Aku juga memasukan gumpalan itu kedalam kardus. Lalu kuletakan begitu saja dikamar mandi. Sayang ketika hendak berjalan darah menetes disepanjang langkahku, perutku juga masih sakit. Aku akhirnya tersungkur dan ditemukan oleh beberapa karyawan.

——

Sejak kejadian itu aku menjadi bahan omongan kantor, demi menyelamatkan kariernya Bram memutuskan memberhentikan aku. Aku diberi sejumlah uang untuk memulai kehidupan yang baru. Berjanji masih mengunjungiku ternyata perlahan Bram menghilang. Akupun menjauh dari lingkungan yang dulu, mengubur malu bersama serpihan sakit hatiku. Aku berjanji tak ingin mengenal pria lagi.

5236fbe351444ac8a6974e6eb6be0096.png

Dari sana kini aku menetap didaerah, di Menara Eiffel dekat pusat kota. Aku bekerja sebagai seorang Waiters. Banyak orang yang lalu lalang berganti memenuhi meja makan. Sampai siang itu dari luar restoran, kulihat seorang pria muda menangis sambil menelfon seseorang. Pria itu menutup telfonnya dan tertunduk.

Lama kuperhatikan, pria itu tak kunjung keluar juga siang berganti menjadi senja. Tampaknya aku harus menegurnya. Perlahan aku mendekati mejanya dan memanggilnya. “Maaf mas….” Pria itu tiba-tiba mengangkat wajahnya, matanya memerah dengan wajah menahan amarah.

1e3d798ab5ffff912bfa2258087f9245.jpg

“Hi Lady, I wanna die… Please Help me” katanya, kulihat darah bertetesan dari pergelangan tangannya….Aku tertegun, segera melangkah keluar namun ia menahan tanganku. Ada apa dengan pria ini, aku masih belum mengerti. ?

Kelanjutannya di Romansa Hawa Setiap Selasa & Kamis

Baca juga cerita roman lainnya di Tips-Asmara- Roman

imgpsh_fullsize_anim (10).jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: