Kisah Roman : “Angelia and Paris” (3/5)

Scroll down to content

18cdd3358c47849984f3a5f4773c6a9b.jpg

#3 Tiga

Setelah mempertimbangkan tawaran tersebut, 2 hari kemudian aku mendatangi rumah kediaman pasutri yang kutemui di puskes. Mendekati alamat Jl. Mawar no.5 kudapati rumah berpagar hitam yang begitu hijau dan asri. Disekitar halam rumah terdapat tumbuhan yang hijau, dan rumput yang berkilau. Dari penampakannya persis seperti ciri rumah yang si bapak itu katakan. Akupun mendekat dan mengetuk pintu dari luar. Langsung saja pria bernama Dewo tersebut keluar.

   “Wah, Mbak Angelia..akhirnya ayo mbak mari masuk.”

Dengan langkah pelan kumelihat sekeliling isi rumah pak Dewo, begitu sepi dan senyap. Meski begitu tersirat olehku bahwa mereka adalah orang berada terlihat dari barang-barang mewah dan deretan bingkai foto yang memperlihatkan perjalanan mereka diluar negeri. Melihatku cukup terpelongok, Pak Dewo memintaku untuk duduk.

Katanya sang istri sedang beristirahat, maka sembari itu ia memberitahukanku perihal keseriusanku bekerja dan hal apa saja yang akan aku lakukan selama disini. Katanya, ia akan bekerja dari pagi hingga sore namun terkadang bisa malam karena sering lembur untuk mengejar bonus sebagai biaya pengobatan. Pak Dewo juga memberikanku buku catatan seputar hal-hal apa yang istrinya sukai dan tidak. Setelah panjang lebar menjelaskan sedikit pertanyaan mengundang rasa ungin tauku.

“Usia kami 37 tahun, menikah 7 tahun yang lalu. Yang saya tau dia pribadi yang sehat dan rajin. Bahkan ia tidak lepas dari olahraga, tapi Tuhan punya rencana lain belum dikaruniai anak istri saya sudah mendapat cobaan duluan. Yah, begitulah hidup kita semua tidak ada yang tau…”Jawab Pak Dewo sambil merenggangkan rongga jemarinya. Kemudian ia mengajakku melihat keadaan sang istri dikamar.

Kusaksikan Mira tengah terduduk diatas kasur, tubuhnya bersandar pada sebuah bantal. Ternyata ia telah terbangun dan melempar senyum padaku. Aku lantas menundukan sedikit kepala membalas senyumnya. Kedua kakinya terbujur kaku, tangannya diletakan diatas paha. Wajahnya yang cantik, harus terusik dengan letak bibir yang sesempurna biasanya. Pak Dewo, duduk mendekati istrinya, ia membelai rambut sang istri kemudian mencium keningnya.

 “Kamu kenapa tidak tidur…Penasaran ya sama cewek ini?”kata Pak Dewo menghibur.

Kulihat Mira mengangguk seakan tersenyum tak sabar untuk berkenalan denganku, mendengar kode dari Pak Dewo, aku lantas mendekat dan bersalaman. Meski susah Mira berusaha menebar senyumnya padaku.

 “Sayang, saat aku bekerja kamu bisa dengan Angelia. Dia akan ikut dengan kita tinggal disini, menemani kamu.” Kata Dewo, kemudian mereka berdua berpelukan. Melihat suasana tersebut aku sedikit terharu ternyata ketulusan cinta itu memang ada. Aku berkhayal mendapatkan pria seperti Pak Dewo, entah kapan? Bermimpipun aku sudah senang.

——-

Mulai dari hari itu juga aku mencoba merawat Mira dibimbing oleh Pak Dewo,  Mira tubuhnya telah mati rasa dari pinggag hingga kaki. Kedua tangannya bisa digerakan namum belum maksimal, ada banyak obat yang harus dikonsumsi untuk menjaga kestabilannya. Akupun dengan rutin memberikannya. Dalam hal makanan, ibu Mira masih cukup pandai memilih rasa, pernah satu kali masakannya cukup keasinan, iapun memberikanku saran bagaimana memasak dengan benar sesuai keingginannya. Jika kesulitan bicara ia menulis dengan tangan kanannya.

Ketika pulang bekerja, Pak Dewo sering membawakanku makanan. Bahkan ia memintaku untuk makan bersama dimeja makan. Ibu Mira rupanya sangat suka dengan Kebab Turki yang dijual di kedai sepinggir jalan Paris, dimalam hari meski lelah ia masih sempat menyuapi istrinya yang mengunyah dengan sangat pelan tersebut. Tak henti-hentinya aku salut dengan sikap Pak Dewo kepada sang Istri.

——–

Disuatu siang, aku diminta oleh Pak Dewo untuk menemaninya berbelanja disupermarket. Aku berjalan dibelakangnya sambil mendorong troli. Tiba-tiba seseorang menemuk pundak pak Dewo dan menyapanya.

“Dewo…Haha, apa kabar. Haduh-Haduh sudah lama tidak ketemu”

Kata pria tersebut, Ya Tuhan apa-apaan ini dia itu Bram, Bramantyo pria yang melukai masa laluku. Aku berusaha menunduk, sayang wajahku terlanjur terlihat. Bram terlihat berusaha mencari wajahku.

 “Hm, Siapa ini Wo manis betul..”

“Oh, kenalin ini Angelia. Perawat Istriku, aku sengaja ajak dia agar dia bisa tau bahan-bahan apa saja yang biasa ku belikan untuk Mira. Angelia, ini Bram teman kuliah dulu, dia pebisnis sukses”

Bram terlihat tersenyum, bahkan dengan sengaja ia terus mengikuti kami berbelanja sembari mengobrol ini itu dengan Pak Dewo. Aku berharap segera pergi menjauhinya hingga diujung pertemuan, Bram mengatakan sesuatu pada Dewo.

“Wo kau ini kan pandai soal otomotif aku ada niat buka usaha lagi, bisakan kita ngobrol dirumahmu soal ini.”

  “Ya, tentu saja. Ajak sekalian istri dan anak-anakmu”

“Hhh…tampaknya tak usah Wo, aku ni lagi membujang saat ini. Ya nanti kita ngobrol ya”

Oh Tidak, Bram akan datang kerumah Pak Dewo. Sejak pertemuan itu aku tak berhenti memikirkan Bram, aku takut berubungan dengannya lagi. Sampai dihari yang dijanjikan aku berniat untuk pergi namun Pak Dewo melarang dengan alasan ingin aku menemani Mira saat Bram datang. Terpaksa aku menuruti.

Hari itu, Bram datang. Seperti ia yang dulu pria itu terlihat rapih dengan parfum yang wangi. Kulihat, ia masih sama terlihat dingin dengan suara yang lembut. Sesudah pertemuan itu Bram kian sering bertemu dengan Dewo, sampai suatu hari ia mencuri waktu datang kerumah tanpa sepengetahuan Pak Dewo, saat aku membuka pintu ia beralasan ingin berbicara denganku.

Aku menurutinya dan kami bicara di teras. Bram menjelaskan rasa sedihnya kehilanganku, tak hanya itu sang istri ternyata terbukti selingkuh dan hubungan mereka berakhir di kursi persidangan. Dengan wajah memelas, Bram meminta aku kembali pada pelukannya. Bahkan dengan jelas ia mengukapkan keinginannya untuk menikahiku.

 “Angelia, bukankah ini sudah takdir kita kembali bertemu. Izinkan aku membayar semua dosaku. Aku mencintaimu, menikahlah denganku Angelia. Kau akan bahagia, aku bisa menunjukan bukti perceraianku dengannya. ”Kata Bram serius sembari menatapku. Aku meyakini perkataanya namun aku masih takut untuk kembali percaya, tangannya memegang tanganku. Aku menatapnya dalam-dalam. Kurasakan denyut jantung ini kian berdebar, aku memang tengah sendiri saat ini, tapi aku takut untuk memulai lagi. Aku menitihkan air mata, Bram kemudian memeluk.

“Tenangkanlah pikiranmu dulu, aku janji akan membahagiakanmu”

——–

Disuatu siang aku sedang membereskan kamar Mira, kulihat Mira melamun didepan jendela. Melihatnya begitu aku mendekati dan mengajaknya untuk melihat majalah atau menonton televisi, tapi itu semua berubah saat kulihat ibu Mira menitihkan air mata. Aku memegang tangan Mira dan berusaha menenagkannya. “Saya tidak apa-apa, saya kasihan—dengan Dewo.”katanya dengan susah payah diiringi air mata. Melihat hal itu aku ikut terenyuh.

“Saya tidak—bisaa—kasih dia apa-apa. Dia sangat baik sama saya“ tambahnya.

Pada kalimat itu, aku ikut menangis. Aku binggung harus melakukan apa tapi aku sangat mengetahui kegelisahannya. Ditengah kesulitan yang ia rasakan aku jadi ingat masa laluku yang dengan mudah mejual cinta dan harga diri untuk pria tak berarti, Bramantyo. Mira menatapku, ia memegangi tanganku. Ia lantas mengatakan suatu hal yang tak terduga olehku sebelumnya.

“Ange lia…Kau s-sudah sangat baik padaku. Aku percaya padamu ketimbang Dewo bersama wanita l-lain” katanya dengan tatapan mata sendu, seakan mengharapkan sesuatu.

 “Menikahlah dengan Dewo, aku rela Angelia…dimadu bila itu denganmu. Berikan ia keturunan, aku tak bisa lagi memberikannya apa-apa”

Aku menggelengkan kepala, bagaimana mungkin aku bisa menyakiti hati wanita sebaik ini. Bagaimana bisa aku merusak kebahagiaan rumah tangganya. Ia menggambil tanganku, memegangnya erat. Ia masih terus meyakinkanku.

“Aku sudah bicara dengan Dewo, dia setuju bila ini keinginanku. ”ungkapnya lagi.

Seketika itu juga aku tak bisa berbicara, apa yang harus kulakukan saat ini. Keputusan apa yang harus kuambil, bagaimana caraku mengungkapkan kebingunganku. Mira begitu malang dirimu aku sedih bila harus meninggalkanmu, tapi jika aku tetap disini dan menikahi suamimu. Akankah itu lebih baik untukmu ?

Baca kelanjutannya di Romansa Hawa “Selasa & Sabtu”

Baca juga Roman Sebelumnya di TIPS-ASMARA-ROMAN

6cb17551e8947c4db8d108775f1252e9

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: