Kisah Roman : “Angelia and Paris” (4/5)

Scroll down to content

# 4 (Empat)

Aku tak bisa berhenti memikirkan permintaan Mira, sedang aku juga binggung akan permintaan Bram sejujurnya ada keinginanku untuk dinikahinya. Ya, siapa sih yang tidak mau diperistri oleh suami kaya dan penyabar? Tapi sayang bukan hanya itu tujuan hidupku, aku juga ingin bahagia dan merasakan cinta yang seutuhnya. Tentu bayang-bayang masa laluku dengan Bram akan selalu menghantui kemanapun kami pergi,  belum lagi hubungan antaranya dengan mantan istri juga anak-anak. Tentu itu menjadi salah satu bahan pertimbanganku.

51696cd3783d741eb8e4a03342ec83c6.jpg

Menikah dengan Pak Dewo bukanlah suatu keinginanku, aku memang kagum akan sosok pria tersebut. Tapi melihat kebaikannya kepada Mira tentu sulit rasanya bagiku dengan mudahnya menerima permintaan tersebut. Ya Tuhan, rindu aku rasanya merasakan kebahagiaan yang kurasakan bersama Alex. Tapi sudahlah mungkin itu tak akan pernah kuraih lagi..

Sejak permintaan tersebut Bram tak berhenti menghubungiku lewat telfon rumah Pak Dewo, sedang Mira lebih banyak diam kala melihatku tak lagi kulihat senyumnya saat kami bersama. Mungkin ia takut aku akan menolak keinginannya.

Sampai pada suatu hari aku rasa inilah saatnya untuk memutuskan. Aku menemui Bram kukatakan bahwa aku tidak bisa menikahinya karena Mira. Bram, kemudian mengatakan bahwa Dewo tidak akan membahagiakannya karena ia tentu akan lebih sayang pada Mira.

4e80ee01ad293232429533f76610ddc7

“Biarlah Bram anggap saja ini penebus dosa atas apa yang pernah kita lakukan dulu”

Beberapa waktu bicara, Bram mulai terlihat kesal. Ia belum bisa menerima keputusan yang kukatakan. Bram kemudian memutuskan untuk pergi dan sempat mengancam bahwa satu saat ia akan kembali, banyak kegundahan muncul dalam pikiranku.

Akankah ini hal yang salah, atau ini keputusan yang tepat untuk masa depanku. Entahlah setidaknya aku mencoba membahagiakan seseorang yang sangat membutuhkan.

——

Aku dan Pak Dewo melangsungkan pernikahan sederhana dirumahnya, ditengah hari pernikahan Mira ikut menyaksikan detik-detik sahnya aku dengan suaminya. Kulihat Mira tak menitihkan air mata selayaknya saat ia memintaku untuk menikahi Dewo. Sejak hari itu aku dan Pak Dewo justru tidak bersikap selayaknya suami istri. Kami bahkan cendrung dingin dan saling enggan berbicara. Aku mengerti mungkin ada rasa menyesalnya melakukan ini kepada Mira.

Mira masih tidur dalam satu kamar dengan Dewo sedang aku sendiri tak berbeda dari biasanya. Sejak menjadi istri Dewo aku diizinkan untuk ikut mempersiapkan kebutuhan Dewo seperti menyiapkannya baju kerja atau sarapan hal yang biasa ia lakukan sendiri sejak Mira sakit. Suatu pagi, Mira yang berkursi roda sudah siap didepan meja makan, sedangkan Dewo baru saja turun dan kemudian mencium kening istrinya dilanjut duduk.

Aku telah menyiapkan nasi goreng buatanku diatas meja makan. Saat kami makan bersama, Dewo tiba-tiba berceletuk.

“Hm, ini enak sekali persis buatan ibu saya dirumah…” kata Dewo dengan lahapnya. Sedang Mira terpana melihat suaminya, perasaanku merasa tidak enak. Mira bahkan berhenti makan dan memilih untuk kembali kekamar sendiri dengan kursi roda otomatisnya.

Seharian Mira mendiamkan aku, lantas menjelang sore kala langit mulai berwarna kemerahan. Aku mengajak Mira untuk membersihkan diri karena air hangat telah kusiapkan. Mira terus duduk menghadap keluar jendela. Ajakanku kekamar mandi diacuhkannya.

9506d6075e9a6a6dd6ebf0940fdd9d5e.jpg

“Dia tidak pernah mengatakan itu padaku selama 7 tahun kami menikah—-Dewo sangat suka nasi goreng buatan almarhum ibunya. Tapi aku tidak pernah mendapat pujian darinya seperti itu” katanya dengan tatapan mata kosong.

“Mungkin itu hanya kebetulan. Nanti yah kita membuat nasi goreng bersama. Biar Mas Dewo seneng kalo tau itu buatan kamu” kataku sambil tersenyum. Tiba-tiba Mira berubah, dengan wajah penuh amarah ia mengatakan.

“Bagaimana aku memasak jika keadaanku seperti ini! Apa kau mengejekku!”

Seketika itu juga aku kaget, aku lantas mencari cara menenagkan hati Mira.

“Kau pasti mulai mencintainya bukan?… Aku tau bagaimana Dewo meperlakukan wanita yang disukainya. Aku tau bagaimana rasanya jadi dirimu, dan setelah ini kalian pasti akan meninggalkanku…” katanya diawali dengan amarah dan cukup tenang diakhir perkataan. Aku cukup tidak menerima perkataanya darinya bagaimana bisa ia yang memintaku untuk menikahi suaminya namun ia juga yang saat ini cemburu dan memarahiku.

“Mira sejak aku menikah dengan Dewo tak sekalipun aku tidur satu ranjang dengannya. Ia selalu bersamamu dan aku tidak pernang menganggu. Aku telah menuruti keinginanmu lantas kenapa kau seperti sekarang…”

Sejenak Mira terdiam, ia menitihkan air matanya. Ia menunduk lalu mencoba kembali berbicara.

“Dewo yang ingin menikahimu.. ia yang memintaku untuk mengizinkannya. Ia menyukaimu, aku terpaksa mengatakan itu agar kamu mau menikahinya…” kata Mira dengan derai air matanya. Aku tak mengira akan hal ini, aku terdecak sesaat tak tau harus mengatakan apa. Mira terus menangis, aku tau persis apa yang dirasakannya. Aku mendekati Mira, dan berbicara didekatnya.

“Aku tak akan menyakitimu, Dewo tetap milikmu dan aku tak akan merebutnya”

ff08d382c29f48e46946c21590ce7930.jpg

Kami berdua terdiam, sambil terus memikirkan apa yang akan terjadi didepan. Aku dan Mira tentu punya pemikiran yang berbeda, tapi tentu aku tak ingin ini semua berlangsung begitu lama. Secepatnya aku akan mengembalikan kebahagiaan mereka.

—–

Malam telah begitu larut, kulihat Dewo baru kembali kerumah sekitar pukul 12 malam. Ia terlihat sangat kelelahan, dan langsung bersantai disofa ruang tamu. Aku datang dan membuatkannya teh hangat. Kubuka sepatunya dan memijat permukaan kakinya dengan lembut saking menikmatinya ia bahkan menghela nafas panjang dan menyenderkan kepalanya disofa. Bagiku inilah saat yang tepat untuk melakukan kewajibanku sebagai istrinya.

14d395ae82573c68f627a1f53558c2cfAku mendekati wajah Dewo, memandangnya dalam-dalam dan melihat kepolosan wajahnya menghadapiku. Kukecup bibirnya yang masih membisu, sampai aku duduk dipangkuannya dan membiarkan kami berdua masuk kedalam pelukan yang lebih hangat.

Dewo mulai sedikit aktif ia berani mendekatkan kepalanya pada bagian dadaku, sampai kurasakan kenikmatan pada bagian itu ia mengulum lembut. Lanjut kami beralih pada bagian intim yang teramat vital. Kami berdua sama-sama memuaskan satu sama lain dengan cara yang begitu variatif. Hingga akhirnya kami berdua bersatu dalam gairah yang amat membuncah. aku diatasnya dan memainkan peranku, berulang kali dewo memasukannya kedalam diriku hingga kita melebur bersama dalam lautan kenikmatan. Kurasa ini kenikmatan yang berbeda dari sebelumnya, kurasa inilah puncak kerinduannya akan hubungan intim yang terpendam.

Male hands stroking female back, passionate couple making love,

Selesai melakukannya aku lantas kembali kekamar untuk beristirahat. Namun tiba-tiba kudengar suara benturan yang cukup keras, disusul dengan suara Dewo yang memanggilku. Ternyata itu Mira, kulihat ia kejang dan kemudian tak sadarkan diri. Dewo panik dan segera membawanya kerumah sakit. Sambil menunggu Mira didalam ruang ICU, Aku melihat raut kesedihan dalam wajah Dewo. Aku berusaha menenangkannya dengan duduk disebelanya. Sampai tiba-tiba Dewo berbicara.

“Ia melihat apa yang kita lakukan. Hhh.. ini semua salahku, Aku sangat takut kehilangannya” kata Dewo dengan raut kecemasan. Aku tak bisa bicara apapun tiba-tiba dokter keluar dari ruang ICU. Dewo lantas berlari dan menjenguk Mira. Aku tak berani melihatnya, aku takut Mira kian bertambah kesal. Aku memilih kembali kerumah Dewo.

Sejak kejadian itu, Dewo rupanya sering mencuri waktu untuk berhubungan denganku. Kami sering melakukannya secara mengumpat saat Mira tidak mengetahuinya. Bagiku tak apa, karena jikalau sampai aku hamil aku ingin agar anak ini bisa menghibur Mira, semoga saja.

Sampai hari itu tiba, aku hamil dan segera mengabarkan ini pada Dewo. Ia senang bukan main, bahkan ia menciumiku dan memeluku. Aku ikut bahagia melihat kesenangannya. Tapi itu semua berubah manakala aku mendengar pembicaraan antara Dewo dan Mira.

“Siapa yang kau pilih aku atau bayi itu, biar aku yang pergi dan kau bersama dia dan bayinya” Seketika itu juga aku terdiam mendengar perkataan Mira.

Bayi ini begitu berharga buah cintaku, aku tak ingin kehilanganya tapi Haruskah kehadiran bayi ini merusak rumah tangga mereka? Jikapun harus pergi, aku yang akan meninggalkan mereka sebagai bentuk tebusan kesalahanku dimasa lalu… biarlah bayi ini meramaikan rumah tangga mereka asal, Mira bisa bahagia…

Baca Romansa HawKelanjutannya pada hari Jumat

di Hawa Tips-Asmara-Roman

imgpsh_fullsize_anim (10)

HAWA SAHABAT TERBAIK WANITA INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: