Kisah Roman : “Angelia and Paris” (5/5) [ENDING]

Scroll down to content

#5 (Lima)

Kemarahan Mira membuatku merasa bersalah, kehadiranku seakan menambah luka didalam hatinya. Aku sangat mengetahui kondisi kejiwaanya, ia pasti rapuh dan hancur mengetahui kehamilanku. Sebagai wanita tentu ia khawatir rasa cinta Dewo akan terbagi kepadaku dan bayi ini. Aku hanyalah wanita kedua, sungguh pernikahan ini terjadi lantaran rasa sayangku pada Mira. Bukan maksudku mengambil Dewo darinya, aku hanya ingin membahagiakannya.

Aku berbicara serius dengan Dewo, ia minta agar aku tetap disini bersama dengan Mira. Mira sudah diajak bicara olehnya untuk bisa menerima keadaan ini. Aku lantas menawarkan Opsi agar Dewo mencari perawat lain saja, dan membiarkan aku tinggal ditempat yang tak sama. Dewo menolak dan bilang akan segera mencari cara menyelesaikan semuanya. Aku melihat kegundahan diwajah Dewo, aku tau bagaimana kebimbangan dihatinya.

08be911bcdb8eb141e519751499b981f.jpgBukan hal yang mudah menyakiti wanita yang sudah dinikahinya sejak 7 tahun lamanya. Tapi tak dipungkiri ia tentu merindukan hadirnya buah hati dalam mahligai rumah tangga ini. Sejak kejadian itu hubunganku dengan Mira kian merenggang. Ia tak ingin ditemui olehku, kembali Dewo yang mengurusnya. Hanya ketika Dewo bekerja aku menaruh makanan dikamarnya. Mira tak lagi berbicara dengaku. Akupun sejujurnya kesepian dengan kesendirian ini.

Sepulang kerja terkadang Dewo mengajakku berbicara, ia menanyakan soal keadaan dan kehamilanku. Bahkan ia juga memegang perut ini sembari merasakan gerakan sikecil. Rona senyuman tergambar jelas diwajahnya. Tapi aku tau semua itu terbatas manakala ia sadar akan kehadiran Mira. Sampai siang itu Dewo tengah bekerja, seperti biasa hanya aku dan Mira yang ada didalam rumah.

Kulihat makanan diatas kasur, Mira belum dimakan juga, akupun terpaksa menghampirinya lantaran khawatir maghnya kambuh. Aku kemudian membawa piring makanan kearah Mira aku berniat menyuapinya. Aku membuka plastik penutup yang merekat diatas piring. Seusai mengambil sesuap nasi aku menyodorkan pada Mira. Mira masih terdiam dan tak menjawab.

—PRAAAAANGGGG!!— Mira membalikan piring ini kearahku, piring kaca lantas terjatuh dan pecah seketika. Tak hanya itu, Mira bahkan mengoyak rambutku dan menampar wajahku. Aku tak melawan aku hanya mencoba menahannya untuk kembali kekursi roda.

“Kau apakan Dewo. Lacur kau!!!” katanya mengamuk kepadaku. Sekuat tenaga aku menahannya meski dengan rasa sakit dikepala.

Aku tak tahan lagi, kesabaranku sudah habis sakit hatiku akan ucapannya. Aku berlari keluar dan menangis, ingin rasanya aku mengakhiri semua ini. Sungguh malu hatiku mendengar ucapan Mira yang tak senonoh kepadaku.

—-

Atas apa yang dikatakan Mira padaku, aku tidak pernah melaporkannya pada Dewo. Setiap ia pulang, aku selalu mencoba melayani Dewo dengan baik begitu pula dengan Mira. Sampai kehamilaku kian membesar, dan Dewo sangat menunjukan perhatianya padaku. Dewo mulai berbelanja peralatan bayi dan pakaian. Ia tampak begitu senang dan tak sabar menanti kelahiran buah hatinya. Sedang Mira lebih banyak berdiam diri dan hanya menjalani hari-harinya dikamar sambil membaca buku favoritenya.

Tapi yang kusalut Dewo tidak pernah membedakan kami berdua ia selalu sayang pada Mira dan tetap memperlakukan Mira layaknya cinta sejatinya. Dewo begitu lembut dan sabar akan sikap Mira yang sering memarahinya dan berkelakuan yang membuat aku dan Dewo perlu bekerja keras menenangkannya. Sampai pada akhirnya hari itu tiba, Aku melahirkan bayiku. Ia adalah putri cantik yang kami beri nama Nirmala. Dewo menyambut kehadiran Nirmala dengan suka cita. Kehadirannya seakan memberi warna baru pada hidup Dewo.

Sayang ditengah itu semua, Dewo sakit keras. Ada masalah diparu-parunya yang terus membuat Dewo menderita akibat daya tahannya yang terus menurun. Aku dan keluarga Dewo sepakat membawa Dewo kerumah sakit. Dewo menjalani perawatan disana. Namun disaat yang bersamaan, Mira mengalami pembengkakan pada tubuhnya, rupa-rupanya   ada kerusakan pada ginjalnya. Terpaksa Mira menjalani cuci darah dan perawatan dirumah sakit.

bb1dd0ba6a7d1e6c20d4360a4479308f.jpgSaat inilah kurasa adalah waktu yang tepat untuk menunjukan ketulusanku pada Mira. Aku mengajukan pendonoran ginjal untuk Mira. Dewo sebenarya menolak tapi aku meyakinkannya karena tentu kita sama-sama tidak ingin kehilangan Mira. Dengan berat hati Dewo mengizinkanku, kami berdua akhirnya melakukan operasi transpaltasi ginjal. Syukurnya operasi berjalan dengan sukses. Mira dan aku sama-sama menjalani perawatan sampai keadaan kami membaik.

Cukup lama menjalani rangkaian transpaltasi hingga selesai selama 2 minggu aku tidak mengetahui keadaan Dewo. Aku dan Mira akhirnya mendatangi Dewo untuk menunjukan bahwa oprasi berjalan lancar. Aku mendorong Mira dengan kursi rodanya, kami lihat Dewo tengah berbaring dikamar rawat dengan tubuh yang mulai mengurus dan hidung berlapis oksigen. Mira mendekat pada sosok yang dicintainya itu. Ia menangis dan meminta maaf atas segala kesalahannya pada Dewo. Dewo mengelus tangannya pada Mira, Dewo menitihkan mulai menitihkan air mata.

4e2f345951eaaaf5ef9e61609af1e083.jpg

“Mas, bagaimana bisa aku hidup tanpa kamu mas…” kata Mira haru, Dewo tak menjawab. Ia lantas melirikan matanya padaku. Akupun mendekat dan mengelus kepala Dewo.

Saya sudah senang, yang penting kalian berdua baik…” kata Dewo dengan pelannya, ia kemudian melanjutkan.

“Angelia, jaga Mira jaga Nirmala…” kata Dewo padaku. Aku dan Mira larut dalam keharuan. Begitu besar pengorbanan yang Dewo berikan pada kami berdua terutama Mira. Demi kelanjutan hidup sang istri ia bahkan pernah merelakan 1 ginjalnya untuk Mira seperti apa yang aku lakukan saat ini. Tak lama dari itu Dewo menghembuskan nafas terakhirnya. Mira sangat terpukul atas kepergian Dewo begitupula aku.

Namun ada satu hal yang dititipkan oleh Dewo kepada ku yaitu sepucuk surat yang mengungkapkan isi hatinya

5e19c02782a247cbcb22858c98e6ceb3.jpg

Aku laki-laki paling bahagia….

Bahagia? bagaimana bisa? Iya aku memiliki dua istri yang luar biasa, keduanya memberikan kesan kehidupan yang membuat aku berbahagia. Mira 10 tahun yang lalu kita bertemu kau begitu manis dan menarik perhatianku. Sifatmu yang bijaksana dan cerdas membuatku kagum dan begitu ingin memilikimu. Sampai akhirnya kita menikah dan menjalani hari-hari bahagia. Mungkin kau kira semuanya berubah saat musibah sakitmu datang. Tapi tidak sayang saat itulah kekuatan cinta kiat dicoba. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku. Sedang kau Angelia, wanita tercantik yang kutemui di Kota Paris aku menyayangimu sangat. Karena kehadiranmu membawa rasa tersendiri bagiku. Kau begitu tulus merawat istriku belum pernah kutemui wanita sepertimu, menikahiku karena ingin membahagiakan Mira. Kehadiran Nirmala tentu sebenarnya memberikan hiburan tersendiri untuknya. Meski ia sering cemburu aku tau sesungguhnya ia menyukai anak kita. Angel, kau dan Mira sudah selayaknya menjadi saudara, kita adalah keluarga bahagia yang akan terus bersama. Jika aku sembuh nanti aku ingin mengajak kalian pergi berlibur melewati senja yang mulai menguning. piknik bersama Nirmala putri kecil kita. Tapi jika aku tiada kumohon jagalah Mira dan Nirmala. Bagaimanapun cara kalian merajut hidup baru tanpa aku kurahap kalian masih bisa bersatu, kaulah wanita untuk istriku…

——

Sejak kepergian Dewo hubunganku dan Mira kian erat. Mira menangis saat tau aku menyumbangkan 1 ginjalku untuknya, ia memeluk diriku erat dan meminta maaf atas segalanya. Tentu aku mengerti perasaanya sebagai rasa terima kasihnya Mira bahkan membebaskan aku untuk bisa tinggal disini baginya Nirmala adalah anaknya juga. Mira berjanji akan membesarkan Nirmala dengan kasih sayangnya. Tersadar akan aku yang masih muda, Mira pun membebaskan jika aku ingin mencari pendamping baru. Tapi aku belum memikirkan itu kebahagiaanku bersama Mira dan Nirmala tentu sudah cukup untuk saat ini.

Sampai pada suatu hari, aku pergi kepinggiran pantai untuk sejenak menenangkan pikiran sambil menikmati suasana debur ombak. Dari kejauhan kulihat seorang pria dengan wajah yang kukenal datang mendekati. Aku melempar senyum padanya, ia melangkah mendekat dan berjalan kearahku.

“Angelia….”

“Randi…..”

Kami berdua melempar senyum, dan bersalaman. Randi duduk dihadapaku kami berdua belum saling bicara hanya saling melempar senyum. Entah apa lagi rencana yang Tuhan berikan padaku. Apapun itu aku akan menjalani kehidupanku. Belum pernah aku merasakan kebahagiaan seperti ini ternyata benar perkataan pepatah itu bahwa “Rencana Tuhan Lebih Indah Dari Keinginan Manusia itu sendiri”  Akankah aku dan Randi kembali bersatu, inikah kebahagiaan yang Tuhan berikan? Entahlah yang pasti Mira dan Nirmala tetap segalanya buatku. SELESAI

Terima kasih sudah membaca Romansa Hawa

Baca juga Roman sebelumnya di Tips- Asmara-Roman

 Sumber FHAWA

imgpsh_fullsize_anim (10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: