Life Story: “Pantulan Cinta Senja di Liuk Rayu” Part 1

Scroll down to content
Screenshot_65.png
Di petang yang cerah, sepasang muda-mudi asyik bercengkrama di tepi jembatan diatas danau yang tenang. Keduanya duduk menjuntaikan kaki ke bawah. Sambil sesekali kaki perempuan berayun pelan di udara.
 
Seorang lelaki menyuap kueh-yang merupakan jajanan tradisional negara Indonesia dengan berbagai varian rasa ke mulut kekasihnya. laki laki itu mengalungi sebuah camera dan diam diam memfoto gadis itu. mereka adalah sepasang kekasih yang sudah terjalin 3 tahun lamanya.
 
“Apa warna cenil yang baru saja kumakan, Mas?”
“Merah muda.”
“Kenapa merah muda?”
“Karena itu cocok untukmu. Warna merah muda cukup mewakili dirimu yang lembut lagi menawan. Anggun dengan sifat khas kewanitaan yang penyayang.”
 
Seruni menunduk. Pipinya bersemu merah. Entah darimana kekasihnya belajar melancarkan jurus godaan maut. Seruni tak mengerti.
 
Di bawah jembatan, mengalir sungai serayu meliuk-liuk dengan air yang tidak deras. Tenang. Batu-batu hitam besar berdiam mematung hayati aliran arusnya.

Senja berlayar menepi pada permukaan air sebening kaca terbias hijau berangsur-angsur tercampuri jingga keemasan bersama pantulan pijar matahari bundar.
Pun biru langit berkolaborasi dengan anggun warna senja. Menyemburat tipis bukti dari kemesraannya.
 
Kendaraan ramai lalu-lalang sesaki jalan di kelok menuju kota Purwokerto. Sesekali gemuruh kereta melintas di jembatan panjang sebelum tiba di Stasiun Kabasen.
 
“Mas Bima… seindah apa senja itu?” Mengalun halus suara Seruni bak putri keraton Yogyakarta.
 
Bima, Abimanyu nama lengkapnya. Kemudian ia menoleh. Dipandanginya wajah ayu kekasihnya. Serupa kaca, bola mata Seruni berbinar-binar jernih diterpa mentari sore. Tiada yang lebih indah dari memandang orkestra senja pada manik hitam bidadarinya. Kerling cinta–begitu Bima menyebutnya.

“Seindah dua hati yang bertemu pada titik rasa…cinta,”
 
Terkagum-kagumlah Bima pada paras menawan Seruni. Lebih-lebih bayu berembus nakal dari arah selatan menerbangkan helaian panjang rambut Seruni-nya.
 
Tangan pemuda itu bergerak menyelipkan helaian surai di telinga Seruni. Menyingkirkan pengganggu pemandangan indahnya.
 
“Ceritakan lebih detil, Mas. Aku ingin melihat senja walau hanya dalam bayang saja.”
 
Bima mengangguk. Diraihnya tangan Seruni yang lebih kecil dari tangannya. Dikaitkannya jemari lentik dengan jemari kokoh miliknya. Hangat. Kebersamaan memang selalu terasa menyenangkan ketimbang sepi yang bergumul dalam hening.
 

“Pejamkan matamu,”

“Kenapa?” Seruni memandang lurus ke depan. “Aku membuka dan menutup mata pun rasanya… sama saja. Tiada beda. Gelap.” Alisnya turun.
“Beda, Seruni,” Bima mengeratkan genggaman. “Lakukan saja apa yang kukatakan.”
 
Kali ini Seruni menurut. Dia tak menginterupsi. Disembunyikan manik hitam di balik selimut kelopak matanya.
 
Giliran Bima memandang langit menakjubkan. Bersih dari gumpalan mega yang menggantung manja padanya. Lazuardi berjingkat pergi. Digantikan kencana berkilau kemerah-merahan.
 
Mata Bima menajam. Kian dipertegas penglihatannya. Berupaya mengirim gambaran yang ditangkap indranya pada Seruni. Bima semakin berkharisma dengan gurat seriusnya. Ketampanannya ditopang rahang yang kokoh.
 
Bibir Seruni terangkat ke atas. Membentuk segaris lengkungan. Seolah ia ikut menyaksikan senja, walau jelas Bima yang melihatnya. Berkat hati yang menyatu, keduanya seakan terhubung. Apa yang dirasakan pasangannya seolah dirasakan yang satunya juga. bima dan seruni saling bertatap, dan bima melayangkan ciuman simpul ke arah seruni. sambil berbisik “Seruni.. percayalah.. kau adalah gadis cantik dan tangguht”

 
Seruni melepas ciuman dari Bima, menoleh ke arah ia berpijak dan memandang senja yang dilihatnya.. ia kagum dengan senja 
“Indah, Mas. Aku menyukainya. Persis seperti dirimu.” Paras Seruni melembut. Sorot matanya meneduh.
“Kenapa?”
“Iya, senja menjelma dalam dirimu. Kalian sama. Selalu membuat pasang mata terpukau dengan diamnya. Namun, di situ letak sisi romantisnya. Tanpa banyak kata…keduanya menunjukkan cinta dengan cara sederhana.” Kekata indah serupa penyair ternama terangkai dari bibir gadisnya.
 
Panas menjalari pipi Bima. Ia malu. Wajahnya memerah. Apa Seruni dendam lantaran dirinya sempat menggodanya dan kini membalasnya habis-habisan?
 
Namun yang jelas, petang ini Seruni menyanjung Bima hingga makin besarlah cinta tumbuh untuknya. Dia merasa berharga. Beruntung, Bima tidak memiliki sayap. Bila ada, mungkin dia akan terbang ke langit ke tujuh.
 
***
-10 Tahun Yang Lalu-
 
“Hiks hiks hiks”
 
Seruni kecil berjongkok di tengah lima orang anak tanggung yang megerumuninya.
 
“Ye, cacat, ye. Jalan aja pakai tongkat kayak nenek tua renta!” Salah seorang diantaranya mengejek fisik Seruni.
 
Sakit. Seruni tak kuasa melawan. Dia tak berdaya berhadapan dengan lima orang anak normal.
 
“Hei, kalau berani jangan sama anak perempuan, dong! Sini, lawan aku kalau betul-betul lelaki!” teriak lantang seorang anak laki-laki yang kebetulan lewat di jalan yang diapit kebun kelapa sawit.
 
Anak-anak berandalan itu berang. Mereka geram menjabani tantangan bocah lelaki yang berusia 10 tahun.
 
-Bersambung-
Karya Harni Haryati
 

Kelanjutannya di Asmara Hawa Setiap

“Selasa & Kamis

imgpsh_fullsize_anim (10)

HAWA SAHABAT TERBAIK WANITA INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: