Ratusan Orang Antre Nonton Gundala di Toronto Film Festival

Scroll down to content
Screenshot_5.png
Untuk pertama kalinya, perfilman Indonesia dirasa siap melanjutkan jagat sinema superhero layaknya format MCU dan DC. Awalnya, penonton skeptis dengan bagaimana caranya film pahlawan super dikawinkan dengan sentuhan lokal. Eksekusinya, Joko Anwar bisa dibilang berhasil mengawali debut jagat Bumilangit dengan film origin Gundala yang patut diapresiasi. Sayangnya, belum semua penonton bisa menerima sajian film berlatar kondisi masyarakat yang kaos ini. Sebagian, justru sangat kecewa.
 

Setelah dipromosikan di berbagai stasiun televisi dan media sosial, film Gundala arahan sutradara Joko Anwar akhirnya tayang pada akhir Agustus 2019. Film ini digadang-gadang bakal jadi awal dari Bumilangit Cinematic Universe yang merupakan jagat terbesar perfilman superhero di Indonesia.

Tinggalkan sejenak gegap gempita BCU yang kelihatannya bakal super serius dengan budgeting yang nggak minimalis ini. Lalu fokus pada Gundala dan kenapa penonton di Indonesia terbagi dua: antara yang skeptis dan optimis, antara mereka yang sebelum pulang tepuk tangan dan mereka yang sebelum pulang nggak paham.

Respons reviewer film lokal memang beragam, pujian film ini rata-rata mengarah pada bangunan cerita yang kokoh dan sentuhan lokal yang bisa menyatu dengan plot

Sebagai film superhero, film Gundala terbilang paling niat karena menyuguhkan segi cerita yang cukup rapat dan mudah diterima semua kalangan. Karena tergolong film origin yang menceritakan asal muasal Sancaka (Abimana Aryasatya) menemukan jati diri petir dalam dirinya, penyajian plot sudah cukup menjelaskan bagaimana kegalauan batin Sancaka sampai pada akhirnya dia mau menolong sesama. Kehadiran tokoh seperti Pak Agung dan Wulan mampu menyokong perkembangan karakter Sancaka menuju Gundala.

Karakterisasi pemeran antagonis cukup apik, sayangnya penyelesaian masalah yang cenderung terlalu cepat bikin kegeraman penonton belum terpuaskan

Pengkor (Bront Palarae) memainkan peran yang cukup krusial. Sebagai penjahat, Pengkor nggak main-main dan dibangun sebagai sosok yang bengis dengan kekuatan nyaris nggak terkalahkan. Namun bagian akhir film ini gagal menempatkan Pengkor sebagai musuh yang layak berhadapan langsung dengan Gundala. Rasanya, belum ada sebuah benang merah yang benar-benar menyebabkan Pengkor terusik akan kehadiran Gundala.

Bukan dengan warna yang cerah dan musik patriotik, pahlawan ala Joko Anwar adalah mereka yang bersinggungan dengan kekacauan yang terjadi di negeri ini. Sentuhan lokal yang porsinya pas

Secara visual, grading film Gundala mengingatkan kita pada kekacauan 1998, hal ini senada dengan beberapa kekhasan dalam film karya Joko Anwar. Dia ingin menempatkan superhero pada permasalahan yang dekat dengan masyarakat, bukan yang terlalu jauh layaknya konflik dalam film besutan Marvel dan DC. Garapan dialog yang rapat dan Indonesia banget juga nggak mengurangi nilai dramatisnya. Meskipun memang, latar belakang waktu dalam film ini tergolong sureal dan nggak berdasarkan kejadian nyata. Setidaknya Gundala bisa menjadi sebuah parameter bagaimana film superhero BCU bakal ditampilkan.

Penonton banyak kecewa dengan garapan keseluruhan film ini yang dinilai bisa lebih bagus. Ataukah mungkin kita terlalu berekspektasi dan terlanjut menghadap kiblat Marvel?


Respons penonton terhadap film Gundala sedikit mengingatkan kita pada bagiamana Wiro Sableng (2017) ditayangkan. Sebagian penonton menganggap film ini begitu baik dengan komedi yang pas hingga aksi silat yang memukau. Tapi sebagian lain justru merasa film ini begitu mengecewakan dengan guyonan yang dipaksa masuk dalam dialog dan editing yang kurang matang.

Begitu juga dengan Gundala, sebagai film yang tergolong punya nafas baru, skeptisme dan pesimisme penonton jelas bakal ada. Tapi hal ini nggak seketika mengurangi jumlah fans yang justru optimis dan menganggap Gundala layak jadi parameter film BCU selanjutnya. Semua tentu tergantung pada persepi kita secara keseluruhan, apakah kita siap untuk memberikan apresiasi pada film dengan garapan super serius dan ‘nggak murah’ ini? Atau justru kita nggak bisa menanggalkan kiblat kita akan superhero Hollywood berkostum memukau dan kekuatan super keren? *Lalu seketika terbayang Thor dengan geledek dan storm breaker.*

Baik atau buruk penilaian kita terhadap film Gundala, apresiasi terhadap kerja sineas tetap dibutuhkan. Setidaknya kita siap untuk menyaksikan sedikit demi sedikit kualitas film lokal diperbaiki

Tim Hipwee Hiburan menilai film Gundala tetap perlu ditonton agar kita jadi saksi bagaimana film superhero lokal tumbuh. Film ini lebih dari sekadar layak untuk ditonton kok! Belum lagi, komik dan deretan karakter yang sudah disusun sejak lama ini menandakan bahwa sosok pahlawan legendaris dari Indonesia memang ada. Mau menilai baik atau buruk tentu bebas dong. Setidaknya tindakan kita menilai secara objektif adalah bentuk apresiasi.

Sahabat Hawa sudah nonton film Gundala belum? Menurut pendapat kamu dengan film ini bagaimana?

Baca tips kehamilan dan cerita wanita lainnya di Aplikasi Hawa! Ayo download Aplikasi Hawa di Google Play sekarang!

ads 6 alt1.jpg

HAWA SAHABAT TERBAIK WANITA INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: