[CERPEN] Menghitung Cinta Pertama

Scroll down to content

hipwee-ben-white-7BiMECHFgFY-unsplash-750x422

Aku nggak berharap kamu nerima aku, tapi aku pengin kamu menyadari kalau ada aku yang mencintaimu.

Jam tanganku masih menunjukkan pukul tiga lebih dua puluh tujuh menit kala aku sampai di halaman indekos. Bukannya menuju ruanganku, aku berbelok ke arah kiri di mana di sana terdapat rumah yang lebih besar dari indekos di hadapannya.

“Assalamualaikum.” Kuketuk pintu rumah tersebut, namun tak ada jawaban sampai aku kembali mengetuknya beberapa kali dan tetap masih belum mendapatkan reaksi apa pun dari pemilik rumah.

Aku menghela napas kecewa. Ini hari Jum’at. Hari yang selalu kutunggu-tunggu. Hari yang selalu sukses membuat jantungku berdegup kencang sekaligus bertanya-tanya.

Yakin tak ada orang di rumah besar itu, aku menyebrang menuju indekos yang masih satu halaman dengan rumah tersebut dan duduk di salah satu kursi yang memang disediakan untuk anak-anak indekos di teras.

Aku akan menunggunya.

Namun, seiring waktu berjalan, yang kutunggu tak kunjung datang. Aku bangkit dari kursi dan akhirnya memegang kenop pintu ruanganku yang terasa dingin dan membukanya.

Bukan, aku bukannya menyerah untuk menunggu. Tapi aku hanya merasa haus dan butuh air mengalir ke dalam tubuhku.

Kusimpan gelas kosong yang selesai digunakan lalu bergegas ke luar lagi untuk menunggu. Namun, baru saja memegang kenop pintu, aku menoleh ke arah meja belajar, tepatnya ke arah empat amplop putih yang tergeletak di sana. Tanganku kuurungkan untuk membuka pintu, lalu segera menghampiri meja belajar dan mengambil keempat amplop tersebut.

Rasanya aku ingin tersenyum. Namun, aku juga merasakan penasaran yang begitu besar. Banyak pertanyaan yang memenuhi otakku. Detik selanjutnya aku memutuskan untuk membuka amplop tersebut dan membacanya.

Untuk kesekian kalinya.

Selasa, 2 Oktober 2018

Hai, ini pertama kalinya aku menulis surat untuk seseorang. Kamu Nada, kan? Senang kalau surat ini bisa sampai padamu 🙂

Aku tidak tahu mau menulis bagaimana, tapi aku hanya pengin kamu tahu dulu bahwa aku ada.

Omong-omong, semangat untuk semester pertamanya di perkuliahan!

 
Selasa, 9 Oktober 2018
 

Kuliah melelahkan, ya? Ayo semangat!

 
Selasa, 16 Oktober 2018
 

Sudah makan? Ayo semangat! Kamu kelihatan capek akhir-akhir ini, supaya kamu semangat, maka akan aku beritahu sesuatu nanti. Sesuatu yang semoga saja kamu senang.

 

Dari seseorang dengan perasaan yang kamu harapkan.

Semua kata demi kata dalam isi surat tersebut selalu berhasil membuatku menyatukan kedua alis namun secara bersamaan rasanya ada kupu-kupu di perutku.

Apa ada seseorang yang…

menyukaiku?

Di pantulan itu ada perempuan berbalut kebaya cantik berwarna toska.

Jika saja si pemakai juga rupawan.

Kata orang, masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan. Tapi tidak denganku. Masa SMA-ku begitu monoton. Jika saja dianologikan dengan sebuah garis, maka hidupku seperti halnya garis lurus. Tidak ada sama sekali hal percintaan yang kudambakan sejak pertama kali masuk SMA.

Kelas 10. Ah, mungkin memang belum saatnya.

Kelas 11. Uhm, mungkin aku terlalu kaku dan kurang menyenangkan.

Kelas 12. Sepertinya aku tidak menarik.

Pesta kelulusan. Belum pernah sama sekali ada yang menyukaiku.

Ya, sekarang adalah hari pesta kelulusan. Banyak sekali topik menyenangkan yang dapat dibahas, tapi aku malah memilih topik yang menyakitkan. Fakta bahwa tidak ada seorang pun yang menyukaiku sampai saat ini.

Aku mengepalkan tanganku dan menatap wajahku lewat pantulan cermin, mencoba untuk tersenyum menenangkan.

Jujur saja, aku sudah memikirkannya di malam sebelum pesta kelulusan. Di dua jam pertama, aku merasa sangat membenci diriku. Di dua jam ke dua, aku merasa khawatir bagaimana kalau tidak ada yang menyukaiku selamanya. Di dua jam ke tiga, aku memikirkan bahwa…

Aku harus mencintai diriku sendiri. Kalau tidak, siapa lagi?

Tak apa jika tak ada yang menyukaiku selamanya. Aku akan tulus jika memang aku ditakdirkan sendiri meski katanya setiap orang punya jodoh, tapi tak ada yang bilang bahwa kita pasti bertemu jodoh kita, kan? Well, yang penting ada yang mencintaiku, yaitu aku.

Jika kau berpikir bahwa aku begitu berlebihan karena baru saja lulus SMA sudah berpikiran seperti itu, maka kau mungkin tidak bisa merasakan apa yang kurasakan.

Tapi, toh, akhirnya, aku akan belajar mencintai diriku sendiri.

Sampai akhirnya, di sinilah aku menerima empat surat (sebentar lagi mungkin akan bertambah) yang membuatku bertanya-tanya, apakah benar ada yang menyukaiku?

Maksudku, orang yang mengirim surat ini tak bilang menyukaiku, tapi kamu pasti paham mengapa aku berpikir seperti itu.

Aku tersenyum, merasa bersyukur dan berterima kasih jika memang ada yang menyukaiku. Sangat senang jika itu benar. bahkan kurasakan kupu-kupu sudah beterbangan di perutku. Sampai akhirnya kupu-kupu tersebut tak mengepakan sayapnya lagi dan mati tergeletak begitu aku mendengar suara pagar dibuka. Aku segera menyimpan keempat amplop yang masih kupegang dan langsung bergegas keluar. Jantungku berdegup kencang. Amplop kelima akan segera berada di tanganku!

Namun kakiku berhenti begitu saja ketika baru saja menginjak teras. Di dekat pagar, kulihat Kak Ana—senior di kampusku yang sama-sama menyewa indekos di sini sedang berjalan mendekat.

“Eh, Nada,” sapa Kak Ana.

Aku balik menyapa Kak Ana. Setelah basa-basi sedikit, Kak Ana masuk ke ruangannya yang kebetulan berada di sebelah ruanganku.

Dengan sangat sadar, aku menghela napas kecewa dan duduk dengan lesu di kursi teras, masih akan menunggu. Hingga beberapa menit kemudian, Bu  Asih, sang pemilik indekos membuka pagar dari luar. Aku langsung berdiri dan menyambut Bu Asih.

“Nggak ke kampus, Nad?”

“Udah pulang, Bu.” Aku terdiam sejenak. “Eum, Bu, hari ini ada kiriman amplop lagi?”

Bu Asih tampak sedikit memasang raut wajah yang… tak bisa kudefinisikan, ia tampak kaget namun khawatir atau takut, entahlah. Sebelum raut wajahnya kembali normal. Beliau menggeleng. “Enggak ada.”

Hatiku langsung kecewa. Sia-sia penantianku daritadi.

“Tapi mungkin memang belum dikirim ke sini aja sama pihak jasa kirimnya.”

Aku mengangguk. “Bisa juga, bu.”

Bu Asih tersenyum, namun seperti senyum yang dipaksakan atau entah apa, kenapa ekspresi Bu Asih kelihatan aneh hari ini? “Ibu yakin kalau suratnya udah dititipin ke pihak jasa kirimnya. Mungkin pihak jasa kirimnya aja yang belum nganterin.”

Aku mengangkat alis lalu tersenyum malu. “Ibu kok yakin banget kalau ada yang pengin ngirimin saya amplop lagi?” Bu Asih bahkan tidak tahu apa isi amplop tersebut.

Bu Asih terdiam sejenak. Lagi-lagi! Beliau memasang eskpresi cemas campur ragu yang… sumpah, ada apa sih dengan Bu Asih?! Tidak biasanya beliau seperti ini. “Kamu tunggu sebentar lagi aja, Nad, mungkin nanti ada.”

Aku mengangguk. Setelah itu Bu Asih pergi ke rumahnya yang berseberangan dengan indekos yang disewakannya, tak lupa aku mengucapkan terima kasih sebelum itu.

Aku kembali duduk. Satu jam lagi. Aku mengingatkan diriku untuk menunggu maksimal satu jam lagi. Jika memang tak ada yang mengirim amplop sampai jam itu, aku tak akan menunggu lagi.

Aku menghela napas. Sungguh tak sabar rasanya menunggu surat itu datang. Biasanya, paket selalu dititipkan ke Bu asih, begitupun dengan amplop putih yang sudah dikirimkan kepadaku sebanyak empat kali. Tapi, kali ini aku akan menerimanya langsung. Jika saja dia memang mengirim surat lagi.

Aku menunggu dan menunggu. Terkadang, aku memikirkan bagaimana isi surat itu kali ini (apalagi setelah dia menjanjikan akan mengatakan sesuatu lewat surat itu). Selain itu, aku juga memikirkan siapa dia. Siapa yang menulis dan mengirim surat-surat itu?

Lamunanku buyar ketika aku mendengar pintu rumah dibuka. Rupanya itu Bu Asih, dengan dua cangkir di tangannya. Beliau lalu berjalan dan menghampiriku. “Masih nunggu suratnya datang, Nad?”

Aku mengangguk sambil tersenyum sopan. “Iya, Bu.”

Bu Asih duduk di sebelahku dan memberikan salah satu cangkir yang ia pegang.

“Eh?” Aku mengangkat alis. Jadi cangkir dengan wangi teh ini untukku?

“Ayo, kita ngobrol dulu, mumpung cuaca sorenya lagi enak.”

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih lalu menerima cangkir tersebut. Kuhirup cangkir berisi teh itu perlahan-lahan. Bu Asih benar, cuaca sore ini memang sedang bagus, matahari terang dan angin berhembus pelan tapi pasti. Sungguh nikmat ditambah secangkir teh hangat.

“Dulu, Ibu itu kumal sekali, sampai-sampai kayaknya gak ada yang suka sama Ibu.”

Aku menoleh heran pada Bu Asih, tiba-tiba saja beliau bercerita.

“Ah, bukan nggak ada yang suka lagi, tapi bahkan Ibu diejek sama teman cowok, sampai-sampai sahabat Ibu langsung beliin bedak dan hal-hal lain buat ngurus muka Ibu.” Bu Asih terkekeh. “Tapi itu bukan kumal. Wajah dan kulit Ibu memang seperti itu. Tak bisa diubah.”

Aku mendengarkan dengan seksama cerita Bu Asih, meski dalam hati bertanya-tanya apa yang mendorong Bu Asih menceritakan hal ini? Pengisi cerita di sore hari kah? Tapi kenapa harus cerita seperti ini?

Mengingatkan diriku yang dulu.

“Tapi, toh, nyatanya, meski Ibu pesimis sampai dewasa dan nggak berani bertanya apakah ada yang bakal menyukai Ibu atau enggak, Pak Dani akhirnya datang juga dan melamar Ibu.” Bu Asih tampak tersenyum malu-malu. Pak Dani adalah suaminya, omong-omong.

Aku tersenyum dan berniat menanyakan bagaimana Bu Asih dapat mengenal Pak Dani sebelumnya. Namun, Bu Asih tiba-tiba memegang tanganku.

“Kalau kamu ada apa-apa, cerita sama Ibu, ya, nak. Semua anak indekos yang pernah tinggal di sini selalu Ibu anggap seperti anak sendiri.” Info untukmu, Bu Asih tak punya anak. Tepatnya, beliau dan suaminya memang tak bisa punya anak. Jadi, Bu Asih ini jauh dari kata Ibu-Ibu indekos galak yang sering ada di cerita-cerita. Ia memang begitu baik pada kami karena telah menganggap kami adalah anak-anaknya.

Aku mengangguk, mengira bahwa nasihat itu hanyalah nasihat biasa.

Sebelum Bu Asih mengatakan kalimat selanjutnya.

“Kamu nggak pengin berhenti menulis?”

Aku mengernyit. “Menulis apa, Bu?”

Ibu Asih tampak memasang raut wajah tak enak. Seperti saat tadi aku pertama kali bertemu dengannya di hari ini. “Kamu nggak pengin berhenti nulis surat buat diri sendiri?”

Aku semakin mengernyit. Apa maksudnya?

“Surat itu… surat yang kamu terima tiap sore lewat Ibu, itu kamu yang tulis dan kirim sendiri kan?” 

Aku menggeleng. “Bu, saya nggak pernah nulis surat pribadi buat siapa-siapa. Apalagi ngirim ke diri sendiri. Itu konyol.”

Bu Asih memasang raut wajah kasihan. “Suatu saat bakal ada yang menyukai kamu. Kamu bisa berhenti, Nada.” Bu Asih meremas pelan tanganku. “Ibu selalu ingat, beberapa minggu ini, tiap hari Selasa, kamu suka bangun pagi-pagi dan pergi ke luar sambil megang amplop. Ibu kira, kamu lagi bertukar surat sama seseorang, mengingat kamu suka nerima amplop di sore harinya.”

Apa? Pergi ke luar? Aku bahkan selalu bangun siang di hari Selasa karena tidak ada kuliah pagi. Bagaimana aku bisa pergi?

“Tapi, suatu hari, Ibu lihat kamu nulis surat itu di teras, dan Ibu nggak sengaja melihat apa yang kamu tulis karena saat itu posisi Ibu sedang menjemur pakaian di dekat teras ruanganmu. Perkiraan Ibu semakin kuat, kalau kamu memang sedang bertukar pesan dengan seseorang yang kamu sukai. Dan balasan surat itu datang di sore hari, mungkin jarak kalian dekat makanya kamu bisa ngirim surat pagi hari dan langsung dapat balasannya di sore hari, Ibu pikir seperti itu.

Ibu bahkan menganggap hal itu adalah hal yang romantis. Anak zaman sekarang mana ada yang masih tukar surat. Tapi, setelah Ibu intip isi surat balasan itu sedikit, ternyata itu bukan balasan, itu surat yang kamu tulis sendiri di pagi harinya, Nada. Itu kamu yang tulis.”

Hatiku mencelos mendengar perkataan Bu Asih.

Bu Asih tampak heran melihatku begitu bingung. “Jangan bilang… kamu nggak sadar apa yang selalu kamu lakukan di Selasa pagi sebulan ini?”

Aku mengangguk pelan. “Ibu pasti salah. Saya selalu bangun siang tiap hari Selasa.”

Bu Asih tampak terkejut mendengar perkataanku.

Diam sejenak. Suasana sekitar kami serasa benar-benar tidak baik. Hembusan angin yang awalnya menyejukan jadi begitu dingin menusuk. Teh yang kami punya masing-masing masih tersisa banyak. Dan teh milikku sudah dingin, aku yakin begitu pula dengan teh milik Bu Asih.

“Ibu mengatakan hal yang sebenarnya, Nad. Kamu menulis surat itu dan mengirimnya untukmu sendiri.” Bu Asih berkata pelan dan lembut, seperti berusaha agar tidak menyinggungku. “Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa melihat rekaman cctv di depan rumah Ibu yang merekam kejadian Selasa pagi.”

Air mataku tiba-tiba saja jatuh. Kukira, Bu Asihlah yang sedikit tidak waras karena perkataannya serasa ngawur, jujur saja. Tapi, Bu Asih bilang ia punya bukti fisiknya. Itu artinya masalahnya ada padaku. Ada yang tidak beres denganku.

Bu Asih memelukku erat begitu melihatku menangis. “Ibu bakal menemanimu pergi ke seseorang kalau kamu mau berhenti.”

Aku tahu, aku tahu apa maksud Bu Asih. Bu Asih menyarankanku pergi ke psikolog atau mungkin psikiater, entahlah.

Dan aku mengangguk, sebagai balasan.

***

Aku termenung. Posisiku sama dengan tadi, duduk di kursi teras. Aku masih menunggu pihak jasa kirim mengantarkan amplopnya. Setelah sama-sama melihat rekaman cctv yang merekam Jumat pagi, aku kembali duduk di sini dengan perasaan yang hancur sembari masih menunggu surat itu karena tadi aku melihat diriku lewat cctv, pergi di pagi hari dengan membawa amplop. Jadi, sudah pasti akan ada surat lain lagi. Begitu menyeramkan melihat diriku sendiri bertingkah tanpa aku sadari tadi pagi.

Aneh rasanya. Beberapa menit yang lalu, aku masih menggebu-gebu menunggu surat itu datang. Tapi sekarang, aku menunggunya dengan perasaan yang berbeda. Perasaan yang menakutkan.

Lalu yang kutunggu datang. Seseorang dari pihak jasa kirim memasuki halaman indekos dan aku langsung menerima amplop yang ia antarkan tanpa banyak bicara.

Aku menatap amplop yang kutunggu sedari tadi. Aku takut membacanya. Ini artinya, secara tidak langsung aku sedang mendengarkan diriku yang lain.

Perlahan, aku membuka amplop tersebut. Rasanya aku lupa bernapas saat membaca isi surat itu.

Selasa, 23 Oktober 2018

Nada, kamu kelihatan semangat banget begitu aku bilang akan menyatakan sesuatu padamu sebelumnya. Kalau gitu, aku bakal ngungkapin sesuatu ke kamu.

Aku suka kamu.

Sebenarnya aku sudah lama memperhatikan kamu. Dan aku bisa jamin kalau aku suka kamu. Ralat, aku cinta kamu.

Aku nggak berharap kamu nerima aku, tapi aku pengin kamu menyadari kalau ada aku yang mencintaimu.

Tangan kananku meremas kertas tersebut. Tak menyangka bahwa yang menulis surat itu adalah aku sendiri. Diriku yang lain. Dan aku tak sadar.

Ada yang lain di dalam diriku.

Ada yang menenangkanku.

Ada yang menghiburku dengan surat cintanya. Surat cinta yang selalu kutunggu.

Aku merasa konyol sekarang.

Bahwa selama ini, sesuai dengan perkataanku di kelulusan SMA.

Hanya aku yang mencintai diriku sendiri.

-Tamat-

Baca tips kehamilan dan cerita wanita lainnya di Aplikasi Hawa! Ayo download Aplikasi Hawa di Google Play sekarang!

ads 6 alt1

HAWA SAHABAT TERBAIK WANITA INDONESIA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: