Kisah Hidup : Suami Pertamaku Menceraikanku Karena Aku Mandul, Tapi Ternyata..

Scroll down to content
test-pack_20160929_152744
Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama dan identitas lain kami kaburkan untuk menjaga privasi.
 
**    
Menunggu lahirnya buah hati memang butuh kesabaran. Setidaknya, itu yang aku rasakan. Berbeda dengan teman-temanku, yang sudah dikaruniai anak pada tahun pertama atau kedua pernikahan mereka, aku harus menunggu hingga lama sekali. Lima tahun semenjak pernikahanku dengan Mas Yudis (bukan nama sebenarnya), kami belum saja mendapatkan momongan.
 
Tekanan dari keluarga sebetulnya tak besar. Kebetulan, keluargaku dan keluarga Mas Yudis tahu bahwa kami sudah berusaha. Namun yang membuatku stress sebetulnya adalah tekanan dari Mas Yudis dan kawan-kawannya.
 
Kawan-kawan Mas Yudis sudah memiliki anak, sama seperti kawan-kawanku. Dan sudah lama pula Mas Yudis terus menerus mendesakku untuk segera memiliki momongan.
 
Tidak ada yang salah denganku. Siklus menstruasiku normal-normal saja, dan saat memeriksakan ke dokter, dokter bilang kandunganku normal. Kubilang pada Mas Yudis mengenai hal itu pada tahun ketiga pernikahan kami. Bukannya memberi solusi atau bersabar, Mas Yudis malah marah. Dia bilang bahwa aku menuduhnya mandul.
 
Beberapa bulan berikutnya, dia masih saja menyinggung mengapa aku sulit memiliki anak. Bahkan dia sempat berkata bahwa bila aku tidak bisa memiliki anak, mungkin dia bisa menikah lagi supaya memiliki keturunan. Aku begitu marah saat itu. Kubilang padanya bahwa kandunganku baik-baik saja dan dokter sudah memastikan hal itu. Saking kesalnya, sampai kubilang bahwa mungkin dia yang bermasalah.
 
Dia sangat marah denganku sampai tidak pulang selama lima hari. Dan setelah itu, hubungan kami pun memburuk.
 
** 
Pada tahun keempat dan kelima, hubungan kami makin terombang-ambing saja. Sepertinya Mas Yudis sudah muak denganku. Dia banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Dia bahkan jarang mengajakku bicara di rumah.
 
Dia menganggapku tidak sempurna sebagai seorang istri karena aku tidak bisa memberikannya anak. Aku sudah tidak tahan sejujurnya. Namun aku masih merasa sayang melepaskan ikatan yang kujalin dengan pria yang kucintai. Mas Yudis dulu tak begini. Mas Yudis dulu adalah lelaki yang baik. Namun memang sifat seseorang baru terlihat jelas ketika kita sudah menjalani hidup lama dengannya.
 
Mas Yudis adalah orang yang tidak mau kalah bersaing dengan teman-temannya. Dia tidak suka melihat teman-temannya sudah memiliki anak dan terlihat hidup bahagia sementara dia belum. Dia cemas apabila tidak ada yang bisa meneruskan gen-nya di muka Bumi ini. Padahal dulu sebelum menikah, sempat kudengar dia berkata bahwa dia tidak mau cepat-cepat memiliki anak. Mapan dulu, baru punya anak, begitu katanya.
 
Memang betul, jangan sampai cinta membutakanmu di awal. Akibatnya, kamu yang menanggung pahitnya.
 
** 
Dan bertambahlah remuk hatiku ketika menemukan bahwa Mas Yudis rupanya berkenalan dengan banyak perempuan muda lewat media sosial dan teman-temannya. Bahkan di media sosial, dia berkata bahwa dia akan segera bercerai denganku. Betapa perihnya hatiku.
 
Saat kukonfrontasi, dia malah marah. Mendiamkan aku kembali. Aku pikir, memang pernikahan ini sepertinya sudah karam.
 
** 
Benar Mas Yudis pada akhirnya menceraikanku. Kedua keluarga menanyakan apakah tak ada jalan keluar, dan kubilang bahwa mungkin menurut Mas Yudis tidak ada jalan keluar. Aku pun terang-terangan berkata pada keluargaku dan keluarganya tentang tuduhan yang disematkan padaku dan tentang perselingkuhan Mas Yudis.
 
Setelah proses perceraian, hidup tak jadi lebih mudah. Aku lebih menutup diri pada pria dan berfokus pada pekerjaan. Aku tak mau disakiti untuk yang kedua kalinya.
 
** 
Namun rupanya,Tuhan berkehendak lain. Aku bertemu dengan seorang lelaki dalam sebuah proyek yang diselenggarakan kantorku. Dibanding suamiku, lelaki itu memang tidak lebih tampan. Namun dari awal, dia memang terlihat baik dan rajin beribadah.
 
Aku tak langsung menyukainya meskipun dia kelihatan tertarik denganku dari awal. Trauma sulit kuhapuskan. Aku tak mau lagi mendapatkan kucing dalam karung, mengira seorang lelaki benar-benar baik padahal tidak.
 
Selama setahun, Dirga (bukan nama sebenarnya), mendekatiku. Berkali-kali pula dia berkata bahwa dia serius ingin melamarku, dan juga tak peduli dengan status jandaku. Sering aku tak mengacuhkannya bahkan berkata tak acuh kepadanya. Namun dia tak mudah menyerah. 
 
Semakin lama aku pun semakin luluh dan merasa mencintainya. Pada saat itu, kupanjatkan tanya pada Tuhan tentang apakah Mas Dirga adalah yang terbaik bagiku atau bukan. Aku begitu galau.
 
Dan keesokan harinya, aku seperti mendapatkan keyakinan.
 
Akhirnya kami pun menikah. Pernikahan tak digelar secara besar, sederhana saja.
 
** 
Sebelum menikah, Mas Dirga sudah mengetahui penyebab perceraianku. Ialah dugaan Mas Yudis bahwa aku tidak bisa punya keturunan. Namun Mas Dirga bilang bahwa anak adalah takdir, dan dia berjanji tak mempermasalahkan itu.
 
Aku pun merasa lega, walau takut tak bisa menjadi yang terbaik untuk dia. Namun bulan-bulan pertama pernikahan, Mas Dirga tetaplah Mas Dirga yang baik. Aku pun bahagia menikah dengannya.
 
Dan ajaibnya, 10 bulan setelah kami menikah, aku dinyatakan positif hamil. Aku merasa sangat bahagia hingga menangis. 
 
** 
Saat ini, buah hatiku bersama Mas Dirga sudah berusia dua tahun. Dia anak lelaki yang sehat. Oh ya, Mas Yudis sudah menikah lagi, dengan perempuan yang lebih muda dariku. Namun dia belum juga dikaruniai anak. Entahlah… Dia pernah menanyakan kabarku dan tak kujawab karena aku tidak mau Mas Yudis datang lagi ke dalam kehidupanku. Yang jelas, aku tidak mau lagi membuang hidupku untuk orang yang egois. Toh, semua akan ada balasannya..

Hawa Sahabat Terbaik Wanita Indonesia

Link Download Hawa: https://l.instagram.com/?u=http%3A%2F%2Fbit.ly%2F2v7DA60&e=ATOFQmVR7KHt0zzNk7bUaKXFL7_0TXynC3N-Q_NLr-VyouAmp778hXkXXN7ecPhdb1Tjd4cTIgs0Y6Ca&s=1

imgpsh_fullsize_anim (7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: