Pengakuan Lelaki: Ketika Menikah dengan Perempuan yang Tidak Dicintai dan Inilah yang Terjadi..

Scroll down to content

Couple on white bed in hotel room focus at feet

Berdasarkan kisah nyata yang diceritakan seorang teman kepada kami
 
Panggil saja saya Dewa, dan saya akan menceritakan sepenggal kisah pernikahan saya yang (dikira) banyak orang, bak negeri dongeng.
 
Bila dilihat dari luar, seolah kehidupan saya sangat sempurna. Orang-orang pun sering berkata begitu kepada saya. Saya menikah di usia yang hampir menginjak kepala tiga. Pada saat itu, saya telah memiliki rumah di kota B, dan usai menyelesaikan studi S2, saya langsung ditawari menjadi dosen di sebuah kampus yang bergengsi. 
 
Tidak hanya itu saja, usaha sampingan saya pun lancar dan banyak pelanggan. Jaringan pertemanan yang luas, membuat bisnis saya berjalan cepat. Istri saya pun memiliki pekerjaan yang bagus di sebuah kantor yang ada di daerah Sudirman. Baru beberapa bulan menikah, kami sudah langsung dikaruniai momongan. Padahal, banyak rekanku yang sudah beberapa tahun menikah, tetapi tak kunjung diberikan momongan.
 
Hanya saja, saya merasa bahwa hidup saya kosong. Pernah ada pepatah dari Eckhart Tolle kalau seseorang kehilangan dirinya, maka dia kehilangan Dunia. Mungkin betul kalau saya memang kehilangan Dunia. Dan saya sebetulnya tahu persis sebabnya, tetapi sebab inilah yang seringkali ingin saya lupakan.

Kalau boleh jujur, perempuan yang saya nikahi, sebutlah namanya Tia, bukan orang yang paling saya cintai. Bahkan sebelumnya, dia yang menyukai saya terlebih dahulu. Kalau boleh jujur, di awal pertemuan saat mengambil S2, saya memang belum menyukainya, tetapi melihat dia cukup manis, pintar, dan baik, saya pikir saya bisa belajar mencintainya.
 
Namun sebetulnya hati saya tidak pernah bisa melupakan seseorang yang dulu pernah jadi kekasih saya. Sayangnya, kami harus berpisah karena orangtuanya tidak setuju bila dia menikah dengan orang yang berbeda suku dengannya. Sebut saja namanya Eva. Saya menyukai dia karena kami nyambung, dan menyukai banyak hal yang sama. Dia pun tipikal perempuan yang introvert, berbeda dengan istri saya yang ekstrovert.
 
Saya memutuskan menikah dengan Tia karena dikejar usia. Waktu itu, belum ada getar cinta yang hebat seperti yang pernah saya rasakan pada Eva. Berbeda dengan Tia yang sepertinya tergila-gila dengan saya. Namun ya sudahlah, toh saya tidak mungkin lagi kembali pada Eva, mengingat dia sudah menikah lebih dulu dengan lelaki lain.
 
Awalnya saya pikir, saya bisa melupakan Eva. Namun ternyata tidak. Semakin saya mencoba mencintai istri saya, semakin saya teringat Eva.
 
Saya hanya merasa sayang pada istri saya karena dia sudah menjadi istri saya. Bahkan saat dia sudah mengandung, sulit rasanya menimbulkan getaran cinta yang hebat. Hati saya masih dimiliki oleh Eva. Setiap hari, saat istri saya melakukan hal-hal yang tidak saya sukai, otak saya seolah tak bisa menolerir hal tersebut. Saya selalu membandingkannya dengan Eva.
 
Belum lagi kalau Tia bilang dia selalu ingin melakukan hal-hal “unyu” dan menunjukkan cinta kami di media sosial. Jujur saya muak dengan kenorakkannya itu. Saya selalu teringat pada Eva yang pendiam dan juga tidak suka “show off” serta tidak berlebihan.
 
Seorang teman dekat pernah berkata pada saya, bahwa keputusan saya menikahi seseorang yang tidak betul-betul saya cintai dari awal memang sudah sangat salah. Wa, namanya cewek, kayak gue nih, bisa belajar mencintai cowok. Tapi kalau cowok mana bisa. Dari dulu, insting cowok ya berburu. Lo harusnya nikah sama orang yang betul-betul bikin lo jatuh cinta. Kalau kayak gini, lo sama aja kayak menyakiti dia.
 
Entahlah. Hingga saat ini, di waktu-waktu luang saya masih sering melihat-lihat media sosial Eva. Tidak hanya itu saja, saya mulai membuka komunikasi dengan menanyakan kabarnya. Saya selalu berharap Eva merasakan hal yang sama dan entah, apa yang akan terjadi pada kami selanjutnya. Beruntung istri saya tak mengetahui hal ini. Namun sampai kapan, saya tak mau memikirkan itu. Yang ada di hari-hari saya hanyalah apa balasan pesan dari Eva di media sosial, dengan cara apa saya bisa bertemu dengannya lagi.
 
Pesan moral: Sebagai perempuan, sebaiknya kamu tidak mulai duluan ya, Sahabat Hawa. Betul memang kalau perempuan itu bisa belajar mencintai, tetapi lelaki tidak. Insting lelaki itu adalah pemburu, dan kalau dia diburu duluan, dia akan merasa bosan dan hanya mencintai secara terpaksa. Cerita di atas bisa kamu jadikan renungan untuk mencari pasangan.
 
 
FHAWA

Yuk Download Aplikasi Hawa di Appstore/Google Playstore sekarang juga! 😉

imgpsh_fullsize_anim (10)

Link Download Hawa: https://l.instagram.com/?u=http%3A%2F%2Fbit.ly%2F2v7DA60&e=ATOFQmVR7KHt0zzNk7bUaKXFL7_0TXynC3N-Q_NLr-VyouAmp778hXkXXN7ecPhdb1Tjd4cTIgs0Y6Ca&s=1

Hawa Sahabat Terbaik Wanita Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: