Kisah Roman: “Demi Anak Aku Rela Berjuang” (8/9)

Scroll down to content
Screenshot_4
Bagaimana bisa seseorang yang telah bertunangan, tega berselingkuh dengan seorang lelaki yang sudah menjadi istri orang! Bisa kubayangkan betapa biadabnya perempuan itu.
 
Perempuan itu, dari foto-fotonya, menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang manis,baik, tidak macam-macam. Namun di balik wajah tak berdosa itu, tersimpan sebongkah hati yang jahat dan serakah. Kalau betul dia sudah memiliki tunangan, mengapa dia tega merebut suamiku? Merebut hatinya?
 
Anin terus menerus menyemangatiku dan berkata bahwa aku harus kuat, demi anakku. Demi anak yang tengah kukandung, aku harus tegar, harus bertahan dan harus kuat menghadapi cobaan ini. Acap kali aku merasa sakit hati dengan suamiku, aku pun kemudian mencoba mengingat anak di dalam kandunganku.
 

Aku mengambil cuti panjang dari kantorku. Untuk sementara aku belum masuk kantor. Aku bilang aku butuh istirahat karena merasa tak enak dan takut terjadi sesuatu dengan kandunganku. Aku hanya ingin rehat sejenak supaya kondisi badanku sehat saja.
***
Keesokan harinya, aku mendapatkan telepon dari nomor yang tak kukenal.
 
“Halo”
“Halo ini siapa ya?”
“Ini Okky, tunangannya Dhea.”
Jantungku serasa berhenti berdegup sejenak.
“Oh, yaa, gimana ya Mas?”
“Maaf menganggu Mbak. Tapi bisa kita ketemuan nggak Mbak?”
“Hah?”, aku terkejut, merasa tak percaya dengan yang aku dengar sekaligus tak tahu apa yang harus aku lakukan.
 
Namun kupikir,kalau aku mau menyelesaikan masalah, atau mengambil keputusan, kupikir tawarannya adalah tawaran yang baik.
 
“Bo, boleh mas… Kira-kira kapan dan di mana ya?”
 
Dia menyebutkan sebuah tempat dan jam, setelah sebelumnya bertanya di mana posisiku. Kusetujui karena tempat yang dia tawarkan tak jauh dari rumah Anin.
 
“Oh ya Mas..”, tanyaku, “Sama perempuan itu juga?”
“Nggak. Saya sendiri. Kira-kira bagaimana?”
Aku menyetujuinya. Sesungguhnya aku hanya malas dan belum tahu apa yang harus aku lakukan saat bertemu dengan perempuan itu.
***
Aku tidak tahu persis seperti apa tunangan Dhea karena foto profilnya adalah gambar abstrak. Namun dari suaranya, sepertinya dia orang yang bisa..dipercaya.
 
Lagipula, kami bertemu di sebuah restoran yang ramai. What worse can it be? Tak masalah. Aku juga ingin sesegera mungkin menyelesaikan masalahku.
 
Aku berangkat setengah jam sebelum waktu yang telah dijanjikan. Aku bukan orang yang suka dengan keterlambatan. Selain itu juga, hatiku gusar sekali.
 
Aku tiba 15 menit sebelumnya. Kukabari tunangan Dhea bahwa aku sudah sampai. Tak lama dia membalas dan berkata bahwa dia sedang di jalas serta meminta maaf bila aku harus menunggu.
 
***
Dia bilang, dia sudah tiba. Sebelumnya kami saling memberi tahukan warna baju dan aku memberi tahu posisiku di mana.
 
“Oh ya, saya lihat.”, ujarnya lewat telepon, “Meja dekat lukisan kan?”, tanyanya kemudian.
“Iya”, jawabku sambil melihat sekeliling. Dan kemudian, seorang lelaki berjalan mendekati mejaku.
Dan sedetik setelahnya, kurasa jantungku betul-betul terhenti sejenak.
***
“Okky????”
Aku lihat wajahnya juga sedikit terkejut, sedikit pucat pasi, tetapi juga sedikit gembira. Aku pun pasti begitu.
“Ka..kamu?”, tanyanya.
Sungguh aku tak percaya. Aku juga tka paham lagi ini takdir macam apa. Beberapa waktu yang lalu aku sempat memikirkannya, dan kini dia berdiri di hadapanku.
 
Kupikir, nama Okky banyak sekali. Kupikir juga ini Okky yang lain. Nyatanya ini adalah Okky yang pernah menjadi Okky-ku di masa lalu. 
 
Betul-betul aku ingin tertawa melihat gurauan yang ditawarkan kehidupan ini.
 

Awalnya kami seolah melupakan pengkhianatan yang dilakukan pasangan-pasangan kami. Kami bercerita banyak hal yang terjadi setelah kami berpisah. Aku belum pernah merasa sebahagia ini, setidaknya setelah menikah.
 
Dengan Okky, pembicaraan seolah mengalir dengan lancar. Tidak ada kepura-puraan atau ketakutan. Minat kami hampir sama. Pun juga kenangan.
 
“Kamu bukannya nggak di Jakarta ya?”
“Kebetulan sih udah pindah lagi ke sini. Tadinya ngerasa beruntung ya, karena calon juga kerja di sini. Tapi yaah..”
“Lo nemu di mana sih cewek begituan?”
“Tong sampah kali. Hahaha”
Kami tertawa bersamaan.
“Enggak. Dia tuh temennya temen gue. Waktu kenalan eh kok nyambung saat itu. Lama-lama dia jadi rada cuek sih, apalagi abis tunangan. Entah kenapa. Bahkan buat persiapan nikahan aja gue yang lebih aktif…”
“Gue lagi bingung. Di sisi lain persiapan udah hampir 50%. Tapi kalau tau gini. Gue harus gimana? Gue bahkan nggak tau salah gue di mana sampe dia tega gitu.”
Dia melanjutkan,”Setelah lo telepon, gue ajak obrol dia panjang lebar. Awalnya dia ngeles. Ngeles terus, katanya si cowo itu, alias suami lo yang ngedeketin. Demi Tuhan waktu itu gue sampe mau rebut-rebutan handphone. Gue pengen samperin suami lo,ajak ribut. Tapi akhirnya gue pikir panjang. Kalau gue ajak ribut, yah, kalau ada masalah kriminal, gue kena dong?”
“Terus, lo tau nggak, pada akhirnya setelah terpojok dia bilang kalau gue sebagai cowok nggak bener-bener memperjuangkan dia! Katanya gue kebanyakan mikir kerjaan, makanya sebagai cewek dia nyari pelampiasan ke mantannya. Tanpa rasa bersalah! In my face! Gila ya, gue kerja juga buat dia.”
 
Okky pun melanjutkan bahwa setelah pertengkaran itu, dia belum berhubungan lagi dengan Dhea. 
“Lo tau Ky, kalau gue ketemu tunangan lo, gue bisa bikin mukanya cacat.”
“Do it. Kalau ini bukan negara hukum. Tapi lo…harus pikirin diri lo sebelum nekat. Pikirin anak lo.”
“Ya..”, aku tiba-tiba merasa ingin menangis.
“Gue nggak tau salah gue apa ke Dhea sampai gue diginiin. Gue udah nyeriusin dia. Gue nggak pernah main-main kalau pacaran, lo tau sendiri kan. Tapi kenapa jadinya begini? Gue heran, apakah iya gue harus keluar kerja?”
“Jangan!!!”, teriakku, “Gila deh lo mending mutusin tunangan lo yang kurang ajar itu daripada lo keluar dari kerjaan lo, dari apa yang lo bangun. Ini passion lo kan? Jangan lo rusak.”
“Lo tau nggak? Saat ini yang bikin gue galau buat mutusin pertunangan ini cuma keluarga.”
“Sama, Ky..”
Perasaan itu pun tumbuh lagi.
***
Kami kemudian menghabiskan waktu lama bersama hari itu. Setelah dari restoran, kami berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari sana.
 
Kami bercerita banyak hal. Menertawakan kenangan kami di masa lalu. Kemudian saling curhat. Dari tawa menjadi duka mengharukan. Namun beban di pundakku seolah lepas setengah.
 
Tidak, kami tak lagi bergandengan tangan seperti dulu. Kami tahu bahwa aku sudah menikah dan sebelum urusan ini selesai aku tak sebaiknya main-main. Namun jujur,aku tak merasa bersalah telah berjalan-jalan dengan lelaki lain, mantanku pula. Mengapa perlu? Toh aku sudah dikhianati 
 
Dengan Okky, sehari terlewati begitu saja, terasa seperti hanya beberapa menit.
 
***
Aku sampai ke rumah Anin ketika jam sudah menunjukkan pukul delapan.
 
Anin sudah tahu apa yang terjadi, dan aku tidak sabar untuk menceritakan kepadanya lebih lanjut.
 
Okky, dia tidak masuk ke rumah. Dia hanya mengantarkanku saja hingga ke pagar. Aku bilang kepadanya, “Kita harus kuat ya.”
Dengan lirih dia mengiyakan jawabanku dan berkata, “Jaga kandungan. Kalau ada apa-apa, feel free to contact .”
 
Aku kemudian mengetuk pintu rumah. Hatiku agak sumringah. Tak sabar untuk menceritakan semuanya pada Anin.
 
Namun betapa kagetnya aku saat melihat bahwa bukan Anin yang membuka pintu.
 
Tetapi suamiku.
 
Kulihat Anin duduk dengan wajah cemas dan juga takut di sofa. 
 
“Enak jalan-jalannya?”
 
Awalnya, aku merasa bersalah. Namun kupikir, bukan aku kan yang salah?”
“Selama ini,kamu selingkuhnya enak?”, jawabku penuh keberanian.
 
Hi Sahabat Hawa tunggu kelanjutan ceritanya Hari Jumat ya 😉

Download Hawa App sekarang juga!

klik link :https://l.instagram.com/?u=http%3A%2F%2Fbit.ly%2F2v7DA60&e=ATPen-c8x3r-lSIryiI_4cXVCOYXim0LBBQp74ZY4jigb6JwmgOOUUyeTc5q9dDR-gpsLkyS23ZJ-lE1&s=1

hawa-promo-blog

HAWA SAHABAT  TERBAIK WANITA INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: